335 Hari Memimpin IAAS UNS, Rumah Para Pemuda Pejuang Pertanian, dengan Bimbingan Bakti Nusa

217

Tahun 2013 adalah awal saya, Syuga Eugenia Invicta, berkenalan dengan International Organization of Student in Agricultural and Related Sciences (IAAS), sebuah asosiasi terbesar di dunia yang bergerak di bidang pertanian dan ilmu terkait. IAAS bermarkas di Belgia dan terdiri dari 45 negara anggota. Di Indonesia sendiri, IAAS berada di 8 Universitas yaitu UNS, IPB, UNPAD, UB, UNDIP, UGM, UNRAM, dan ULM dengan lebih dari 800 member aktif. Kami terdiri dari berbagai disiplin ilmu dan bertanggung jawab untuk menciptakan word class member dengan pemahaman akar rumput untuk bergerak mengkoneksikan pemuda, petani, dan stakeholder pertanian termasuk pemerintah dan lembaga-lembaga swasta melalui program-program kerja kami. Saya bergabung dengan IAAS karena saya percaya melalui IAAS saya mampu mewujudkan mimpi saya sedari kecil yaitu mengubah dunia. IAAS memberikan lingkungan global yang saya butuhkan untuk berkembang dan bertindak nyata untuk membawa pangan Indonesia khususnya yang berasal dari lahan pertanian untuk lebih merdeka. Awalnya saya berada di departemen Human Resource and Development yang mengajarkan saya memanajemen manusia termasuk bagaimana memotivasi mereka bahwa mereka dapat melakukan sesuatu untuk memberikan pengaruh bagi khalayak luas. Melalui departemen HRD pula saya mengurus seluruh member IAAS, mengikuti program seluruh departemen, dan memahami tugas masing-masing dari mereka di tiap departemen, Maka pada tahun kedua saya menantang diri saya untuk lintas departemen yaitu memimpin departemen Exchange Program yang beranggotakan 16 orang karena hal berbau exchange dan relasi global adalah passion saya. Disana saya memiliki networking yang lebih luas karena mengontrol exchange yang terjadi antara IAAS se-Indonesia, belajar bekerjasama dengan orang-orang yang lebih tua dan expert di perusahaan dan perkebunan tujuan exchange, serta meningkatkan kemampuan public speaking terutama dalam bahasa inggris.

Awalnya saya ingin mengakhiri karir berorganisasi saya karena dorongan untuk lebih fokus dalam akademik dan mempersiapkan diri menjadi Mahasiswa Berprestasi. Namun, saya merasa masih banyak hal yang ingin saya lakukan untuk IAAS, untuk pemuda diluar sana, dan juga pangan maupun pertanian Indonesia, bahkan dunia, yang tidak mungkin saya lakukan hanya dengan duduk di kelas mengikuti perkuliahan. Saya memiliki banyak ide dan diluar sana banyak anggota IAAS yang mempercayai saya, lalu apakah kepercayaan itu harus saya hiraukan? Tidak. Akhirnya dengan bermodalkankan nekat dan janji pada orang tua bahwa saya akan lebih berprestasi, saya mencalonkan diri sebagai Local Committee Director (ketua umum) IAAS Universitas Sebelas Marert (UNS Periode 2016/2017). Maka sejak hari dimana saya terpilih, saya akan menjadi kepala dari sebuah keluarga beranggotakan 93 orang-orang berbakat milik Fakultas Pertanian UNS. Pada saat yang sama saya menyelesaikan sisa masa bakti sebagai Exchange Account Manager of Business Development Department AIESEC UNS. Sejak awal saya sadar setahun kedepan akan menantang, namun saya percaya akan luar
biasa dan worth it.

Seperti organisasi pada umumnya, awalnya, semuanya berjalan lancar dan
membahagiakan tanpa masalah. Kita melakukan perencanaan setahun kedepan
dan merekrut member. Namun, menariknya dari suatu organisasi adalah
ketenangan tidak pernah bertahan lama, dan justru disinilah menariknya,
bagaimana kita bersama menghadapi dan menyelesaikan masalah. Masalah awal
adalah menentukan siapa yang akan berada di team kita. Semua orang memiliki
hak untuk belajar dan pasti ketika mereka mendaftar dalam suatu organisasi
mereka turut membawa mimpi mereka. Namun, kita tidak dapat menerima
semuanya, suatu organisasi memiliki visi dan kita harus menyeleksi siapa yang
paling sejalan dengan visi tersebut. Terkadang orang berpikir mereka tidak baik
karena tidak terekrut, padahal sesungguhnya mereka memiliki peluang lebih besar
untuk menjadi yang terbaik ketika bergabung dengan organisasi lain, karena jika
mereka bersama IAAS mereka akan sulit berkembang karena tidak cocok dan
IAAS tidak dapat memberikan banyak hal kepada mereka. Penempatan dalam
department juga begitu, semua dimasukkan sesuai minat dan bakat mereka, hal ini
juga melalui banyak pertimbangan dan tiap kepala departemen juga akan
mengalami konflik dengan istilah “rebutan anak”. Sebagai seorang ketua, saya
harus bisa menengahi dan bersifat objektif. Untuk itu saya harus memahami track
pendaftar melalui berkas mereka, juga memberi pengertian kepada presidium
tentang keperluan mereka dan pembagian yang adil dalam organisasi.

Selanjutnya banyak sekali hal yang kami lalui, mulai dari membuat event
kerjasama yang besar dengan partner ternama dalam waktu H-1 minggu dengan
panitia hanya 11 orang yang saat itu sibuk dengan praktikum dan ujian hingga
kehilangan kepala departemen. Begitu pula antusiasme member, ketika pergantian
term maka terjadi seleksi alam dan kami mulai kehilangan mereka. Cek-cok antar
member juga sering terjadi terutama dalam kepanitiaan besar. Namun, hal yang
selalu saya tekankan dengan presidium saya adalah, amanah tidak pernah salah
memilih pundak, apapun yang terjadi di depan kalian tidak ada opsi berhenti
hanya ada hadapi dan beristirahat sejenak, kalian pasti akan lelah, menangis,
kesulitan tapi saya jamin kalian akan belajar minimal belajar bahwa kalian lebih
kuat dari semua hal yang menjatuhkan kalian dan kalian kelak tidak pernah
menyesali itu ketika semua sudah usai. Alhamdulillah, kami tidak pernah berhenti
dari berbagai ujian yang kami lalui, kami menyelesaikannya. Meskipun terkadang
kita harus mengalah dari ekspektasi, tapi semuanya selalu dalam batas kepuasan.
Dalam kepengurusan ini kami mencapai berbagai prestasi, mengirimkan peserta
exchange terbanyak di dunia, menerima peserta exchange nasional dan
internasional lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya, memiliki 5 partner
lingkup Jawa Tengah, berhasil menyelesaikan produk desa binaan dan
memasarkannya, menjadi tuan rumah National Congress, mengadakan
International Workshop arranged by student pertama di UNS, menerima 2 kali
kunjungan LC Nasional, dan membimbing anak-anak desa Kemuning. Semua ini
karena kerja keras dan kekuatan bersama, saya selalu bangga dengan 93 orang
hebat di IAAS UNS.

Bagaimana rasanya menjadi ketua? Rasanya sangat melelahkan seperti 24
jam dalam 7 hari kurang, rasanya sedih ketika saya tidak total karena itu
mengecewakan anak-anak IAAS, rasanya marah ketika ada kegiatan dan saya
tidak bisa berada disana mensupport mereka, rasanya sebal ketika saya sudah
melakukan yang terbaik namun tetap menerima respon negatif, namun secara
bersamaan rasanya sangat-sangat menyenangkan ketika saya berkumpul dengan
mereka dan melihat senyum di pipi mereka, rasanya sangat bermanfaat ketika
saya terlibat melakukan sesuatu untuk khalayak umum, rasanya semua
terbayarkan ketika 335 hari berlalu dan saya masih disini bersama mereka semua
dan mengakhiri masa kepemimpinan ini dengan kebersamaan yang masih terjalin.
Jika diminta memilih hal yang paling saya senangi di IAAS itu menjadi jawaban
yang sulit karena semuanya menyenangkan. Namun salah satunya adalah saya
senang IAAS dapat berkontribusi meningkatkan kepedulian, ekonomi, dan
edukasi di desa Kemuning, Karanganyar. Melalui pengabdian desa ini kami
memahami bahwa benar kita dapat membangun Indonesia dari desa dan berbagi
memang merupakan hal yang paling membahagiakan.

Bagaimana tips and trick menjadi ketua? Jadi ketua memang harus menjadi
panutan. Kalian harus memacu diri kalian sendiri menjadi yang paling baik,
Banyak-banyaklah belajar dan berkomunikasi, ketua pasti menjadi orang yang
paling dicari untuk diskusi mencari solusi dan juga dari ketualah kenyamanan
berorganisasi itu didapatkan. Kalian harus peka dan harus melihat segala hal
dengan tenang dan objektif karena ketika kalian salah pilih dan tidak ada orang
dibelakang kalian yang membackup maka kalian akan menjadi sumber kesalahan.
Ketua boleh marah, jika kemarahan itu menyadarkan, namun marahnya harus
beretika harus marah yang memiliki dasar dan memberikan jalan keluar. Ketua
harus mau disalahkan, namun ketua juga harus selalu punya penjelasan atas
kesalahan yang ditudingkan itu karena ketua tidak bermaksud superior hanya saja
ketua harus menjaga wibawanya untuk contoh yang baik bagi anggotanya. Jika
kalian sebagai ketua membutuhkan istirahat, berilah pengertian kepada presidium
dan anggota kalian, dan delegasikanlah tugas kalian agar tidak terbengkalai.
Menjadi pemimpin itu memang tampaknya susah, namun semua orang harus
memahami bahwa jiwa kepemimpinan itu ada di dalam mereka, dan mereka
semua dilahirkan sebagai pemimpim untuk tujuan menjadi pemimpin di masa
depan. Kalian hanya perlu mempersiapkan diri lalu menantang jiwa
kepemimpinan kalian untuk bangun. Ingat, WE ARE LEADERS!

Semua ilmu kepemimpinan ini tidak saya dapatkan sendiri, saya selama satu
tahun sejak menjadi Local Committee Director IAAS LC UNS dibimbing oleh
Bakti Nusa dari Dompet Dhuafa melalui Beasiswa Aktvis Nusantara. Beasiswa ini
tidak hanya mensupport saya secara finansial melalui uang pembinaan yang dapat
saya gunakan sebagai penunjang kebutuhan dalam berorganisasi, namu
memberikan saya pelatihan kepemimpinan sehingga saya benar-benar dibimbing
menjadi pemimpin yang mau dan mampu memberikan manfaat untuk umat.
Terlebih saya dapat berkumpul dengan para aktivis, orang-orang berpengaruh di
13 Universitas ternama seluruh Indonesia sehingga saya dapat belajar dari mereka
untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan layak. Bakti Nusa memperluas
wawasan saya, menguatkan nasionalisme, mengasah cara berpikir, dan memacu
kepekaan sosial saya.

Bakti Nusa meyakinkan saya dengan tujuan saya dan ini saatnya kalian
bergabung dengan Bakti Nusa! Ikuti Seleksi BAKTI NUSA 2017, pendaftaran
dibuka sejak 15 Desember 2016-28 Februari 2017. Selain seleksi berkas, aka nada
sesi wawancara dan uji publik. Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, dan
pembimbingan dapat di check melalui website http://www.beastudiindonesia.net,
atau menghubungi saya melalui email syueuvicta@gmail.com terlebih dahulu.
Saya bisa menjadi pemimpin, kamu juga pasti bisa!

syuga4 syuga3 syuga2


***


Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044
SHARE