Aksi Bela Islam dari Negeri Gajah Putih

332

Oleh: Fadhilatul Laela, Penerima Manfaat Bakti Nusa 6 IPB

Dua bulan terakhir, Indonesia dan dunia dibuat takjub dengan bersatunya jutaan umat muslim Indonesia dalam aksi bela Al-Quran pada 4 November dan 2 Desember 2016 atau lebih dikenal dengan aksi 411 dan 212. Aksi ini tentunya bukan tanpa alasan, namun untuk menuntut keadilan kepada pemerintah agar segera memproses hukum salah seorang pejabat yang dinilai telah menistakan agama Islam.

Pasca terlaksananya aksi 411 banyak berita di berbagai media yang terkesan saling menyerang, memojokkan, dan membingungkan masyarakat. Berita yang ambigu membuat masyarakat kesulitan menilai berita mana yang benar, atau sekadar hoax (tidak benar). Dampaknya, terjadi aksi saling serang dan perdebatan sengit di berbagai media sosial yang mengarah kepada isu SARA. Dampak ini pun secara langsung dapat saya rasakan, meskipun saya tidak sedang berada di Indonesia. Hidup di negeri orang, membuat saya selalu berusaha berhati-hati dalam berbicara sehingga tidak menyinggung isu SARA. Apalagi, program AIMS yang saya ikuti menempatkan saya harus tinggal satu kamar dengan mahasiswa non-muslim yang berbeda etnis dengan saya. Selama tiga bulan pertama, semua baik-baik saja dan kami dapat berteman dengan baik.

Namun terkadang perbedaan pendapat maupun kecenderungan politik kearah yang berbeda dapat memutus pertemanan, bahkan persaudaraan. Tidak hanya terjadi di Amerika Serikat saja pasca terpilihnya Donald Trump, namun juga di Indonesia. Pasca aksi bela Al-Quran yang pertama, sikap teman sekamar saya jauh berubah. Dia memilih untuk tidak menyapa dan berbicara kepada saya, bahkan memblokir akun-akun media sosial yang saya miliki, meskipun saya tidak mengikuti aksi 411 secara langsung karena sedang di luar negeri. Tak hanya itu, teman saya yang lain, yang juga seorang muslim, mulai memberikan ceramah-ceramah pembelaan kepada pejabat yang bersangkutan dan menyalahkan muslim yang melakukan aksi bela Al-Quran, dengan alasan toleransi, kerja nyata, anti SARA, dan lain-lain. Padahal aksi bela Al-Quran tidak dilakukan untuk menjatuhkan ras atau agama tertentu.

Dengan adanya sedikit kericuhan yang dipicu oleh segelintir provokator, serta perusakan mini market di waktu yang sama (meskipun pelakunya tidak ada hubungannya dengan peserta aksi 411), justru digunakan oleh segelintir orang untuk membuat berita-berita provokatif yang semakin memperburuk keadaan. Hal ini tentu sangat disayangkan ketika media-media yang seharusnya menjadi sumber informasi terpercaya masyarakat yang netral dan menyajikan fakta, berbelok menyajikan konten provokatif yang semakin meresahkan masyarakat. Aksi 411 sudah memberikan pelajaran berharga bagi banyak orang, sehingga terciptalah aksi 212 yang sangat kondusif, damai, dan menyejukkan umat muslim di seluruh dunia. Hal ini mampu menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang rahmatul lil alamin.

Di balik semua kontroversi tersebut, kejadian penistaan surat Al-Ma’idah telah membangkitkan semangat perjuangan kaum muslimin Indonesia, untuk bangkit dan berjuang membela agamanya. Belum pernah sebelumnya di Indonesia, dapat mengumpulkan lebih dari tujuh juta kaum muslimin dari berbagai daerah berkumpul dan berdzikir bersama untuk mendoakan Indonesia secara bersama-sama. Sungguh membuat takjub umat muslim di seluruh dunia. Aksi bela Al-Quran sekaligus dapat menjadi pemersatu umat Islam dari berbagai daerah maupun ormas yang berbeda. Sekaligus, dapat menjadi pembeda yang nyata termasuk golongan umat yang manakah kita?

Dan diantara manusia ada yang mengatakan,’aku beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian,’ padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang yang beriman. Mereka itu hendak menipu Allah berserta orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri, sedang mereka tidak sadar” [Qs. Al Baqarah: 8-9].

“…..(yaitu) orang yang mengambil orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan disisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah” [Qs. An Nisa’ :139].


***


Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044
SHARE