Alarm: Wahai Pemuda, Perubahan itu Berbahaya !

39

Oleh: Khairunnas (Universitas Sriwijaya)

Bangsa kita pernah beberapa kali mengalami titik balik perubahan, dari mulai bangkit dan  merdeka, hingga menulis sejarah reformasi. Semua lahir dari sebuah proses perlawanan yang berangkat dari persoalan-persoalan kebangsaan, lalu muncul konsepsi pemikiran dari kaum minoritas (para pemikir) yang mencoba menyamakan pandangan dengan kaum  mayoritas (rakyat secara keseluruhan). Dan ingat semua peristiwanya, penuh dengan situasi yang menegangkan dan mencekam. Hingga sekarang pun perubahan itu berbahaya, kaum minoritas (pemikir-pemikir) menjadi “tahanan sejarah”, karna di era ini kehadiran mereka dalam pengawasan dan diikat dengan kepentingan, sekali berontak, ”diperangkap”’, lalu “dibuang”.

Masih tidak bisa ditemukan rumus perubahan yang tanpa perlawanan dan gejolak. Ditengah problematika demokrasi kita, kutub-kutub politik bergerak sangat cepat. Visi-visi perubahan yang diusung oleh para kepala daerah ditantang kepentingan oposisinya masing-masing. Tak sedikit diantara mereka yang eksis membangun perubahan justru tersandung kasus korupsi ataupun kasus-kasus yang bersifat personal/keluarga, dan anehnya hampir dari semua kasus tersebut adalah persoalan-persoalan masa lalu, yang kemudian baru diangkat ketika mereka sedang gencar-gencarnya bersuara dan mendobrak pintu-pintu kepentingan yang selama ini mengganggu jalannya pembangunan. Alasannya sederhana, telah terkumpul barang bukti yang lengkap, lalu siapa sebenarnya yang menginisiasi pengumpulan barang bukti ini.

Arus liberalisasi mengalir semakin deras, penguasaan investasi hingga tenaga kerja impor pun menjadi tantangan ekonomi yang sangat serius. Monopoli perdagangan hingga penyisipan kepentingan bisnis dalam regulasi pemerintahan kian gencar terjadi. Politik dalam bisnis tentu biasa, tapi tidak bisa dikatakan sebagai penyakit kecil bila bisnis menjadi pengaruh yang paling besar dalam setiap proses politik. Isu SARA  juga kian meruncing, seolah datang sebagai arus baru yang memecah bangsa di tengah banyaknya persoalan yang sedang melanda. Sudah terbayangkan bukan? Ketika datang arus baru yang menyebut diri mereka pemuda perubahan? Tentu akan menjadi musuh bersama.

Bila dihitung jumlah perhimpunan pemuda tanah air dewasa ini, tentu sangat menjamur dan bermacam ragamnya. Hanya saja timbul pertanyaannya baru, apa kepentingannya? Sepanjang sejarah pasca reformasi justru banyak perhimpunan pemuda dan mahasiswa menjadi kaki tangan kepentingan politik praktis. Bahkan perebutan kekuasaan di dalam tubuh perhimpunanpun tidak bisa terelakkan dan tidak lepas dari aliran kepentingan yang telah mengakar. Persoalan serius yang sering diremehkan banyak orang, padahal sudah menggambarkan bila pemuda hari ini demikian tentu itu pula lah gambaran Indonesia di masa depan.

Demikian sudah berbahaya, padahal belum masuk pada fase berhimpun mengusung perubahan dan berhadapan dengan kelompok-kelompok kepentingan non-kepemudaan. Sementara perlu dipahami bahwa tak semua pemuda berhimpun, banyak justru yang membatasi diri atau mengambil posisi yang tanpa resiko, sibuk dan menyibukkan diri dengan urusan masing-masing dan larut dalam kompetisi kerja serta fokus pada kepentingan pribadi. Alarm nasionalisme itu harus dihidupkan lagi, menyadari kita sebagai sebuah bangsa. Setelah itu baru alarm kedua yang akan berbunyi, karena pemuda perlu berhimpun dalam barisan yang rapi, karena perubahan itu berbahaya.

SHARE