Apresiasi dan Evaluasi Setahun Kinerja Jokowi – JK

563

Oleh: Muhammad Reza – BA UI Angkatan 5

Memimpin adalah sebuah tanggung jawab yang besar. Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa sesuatu yang paling berat di dunia ini adalah amanah. Memimpin memiliki banyak jangkauan, yang paling kecil adalah memimpin diri sendiri. Lebih besar dari itu kita dapat menyebut beberapa contoh diantaranya memimpin adik kita, memimpin kelas dalam pelajaran, memimpin keluarga, memimpin lembaga kemahasiswaan, dan masih banyak lainnya. Republik Indonesia juga memiliki pemimpinnya, dalam hal ini kepala negara yang disebut Presiden. Periode 2014-2019, Indonesia dipimpin oleh Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Diperlukan niat yang sangat tulus dan nyali yang sangat kuat untuk bisa mengemban amanah tersebut. Tepat 20 Oktober 2014, mereka dilantik untuk memimpin negeri ini.

Setahun telah berlalu, kinerja mereka patut untuk diapresiasi namun juga tidak luput dari evaluasi. Masih hangat di benak kita bahwa pelantikan Presiden dan Wakil Presiden kita ini memberikan banyak sekali harapan di negeri ini akan adanya perubahan baik. Visi dan Misi Presiden dan Wakil Presiden kita ini adalah:

VISI

“Terwujudnya Indonesia yang Berdaulat, Mandiri dan Berkepribadian Berlandaskan Gotong Royong.”

MISI

  1. Mewujudkan keamanan nasional yang mampu menjaga kedaulatan wilayah, menopang kemandirian ekonomi dengan mengamankan sumberdaya maritim, dan mencerminkan kepribadian Indonesia sebagai negara kepulauan.
  2. Mewujudkan masyarakat maju, berkesinambungan dan demokratis berlandaskan negara hukum.
  3. Mewujudkan politik luar negeri bebas-aktif dan memperkuat jati diri sebagai negara maritim.
  4. Mewujudkan kualitas hidup manusia Indonesia yang tinggi, maju dan sejahtera
  5. Mewujudkan bangsa yang berdaya saing
  6. Mewujudkan Indonesia menjadi negara maritim yang mandiri, maju, kuat dan berbasiskan kepentingan nasional.
  7. Mewujudkan masyarakat yang berkepribadian dalam kebudayaan.

Selain itu, mereka memiliki 9 agenda prioritas yang dinamakan Nawa Cita:

  1. Menghadirkan kembali negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga negara, melalui politik luar negeri bebas aktif, keamanan nasional yang terpercaya dan pembangunan pertahanan negara Tri Matra terpadu yang dilandasi kepentingan nasional dan memperkuat jati diri sebagai negara maritim.
  2. Membuat pemerintah tidak absen dengan membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif, demokratis, dan terpercaya, dengan memberikan prioritas pada upaya memulihkan kepercayaan publik pada institusi-institusi demokrasi dengan melanjutkan konsolidasi demokrasi melalui reformasi sistem kepartaian, pemilu, dan lembaga perwakilan.
  3. Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan.
  4. Menolak negara lemah dengan melakukan reformasi sistem dan penegakan hukum yang bebas korupsi, bermartabat, dan terpercaya.
  5. Meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia melalui peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan dengan program “Indonesia Pintar”; serta peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan program “Indonesia Kerja” dan “Indonesia Sejahtera” dengan mendorong land reformdan program kepemilikan tanah seluas 9 hektare, program rumah kampung deret atau rumah susun murah yang disubsidi serta jaminan sosial untuk rakyat di tahun 2019.
  6. Meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional sehingga bangsa Indonesia bisa maju dan bangkit bersama bangsa-bangsa Asia lainnya.
  7. Mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik.
  8. Melakukan revolusi karakter bangsa melalui kebijakan penataan kembali kurikulum pendidikan nasional dengan mengedepankan aspek pendidikan kewarganegaraan, yang menempatkan secara proporsional aspek pendidikan, seperti pengajaran sejarah pembentukan bangsa, nilai-nilai patriotisme dan cinta Tanah Air, semangat bela negara dan budi pekerti di dalam kurikulum pendidikan Indonesia.
  9. Memperteguh kebhinnekaan dan memperkuat restorasi sosial Indonesia melalui kebijakan memperkuat pendidikan kebhinnekaan dan menciptakan ruang-ruang dialog antarwarga.

Sungguh mulia visi, misi dan juga 9 program prioritas yang ingin mereka jalankan. Tentunya kita sebagai warga negara haruslah menjadi warga negara baik yang supportif dan membuat Indonesia menjadi lebih baik.

Setidaknya ada tiga hal yang sangat ingin penulis berikan apresiasi dari satu tahun kepengurusan kabinet Jokowi-JK:

  1. Pembubaran Pertamina Energy Trading Limited (Petral) yang merupakan lahan mafia migas untuk bisa memainkan kelicikannya menjual migas yang ada di Indonesia dan diperkirakan menggagalkan kerugian negara berkisar 2 Trilyun per Tahun.
  2. Pembuatan Pertalite yang akan menggantikan BBM bersubsidi yang sangat merugikan negara selama bertahun-tahun lamanya. Selain itu infrastruktur pekerjaan umum dan transportasi darat maupun laut meningkat secara cepat.
  3. Menggagalkan usaha “mafia” PT. Freeport Indonesia yang terkena kasus pencatutan nama Presiden dan Wakil Presiden RI. Harapannya hal ini bukan hanya dapat dihentikan namun juga dipindahalihkan ke Indonesia.

Namun seperti halnya gading yang tidak mungkin luput dari keretakan, kabinet Jokowi-JK memiliki beberapa evaluasi. Berikut adalah tiga hal yang penulis ingin berikan evaluasi:

  1. Reshuffle Kabinet yang terlampau cepat. Sebuah kinerja memang memerlukan waktu dan setahun bukanlah waktu yang signifikan untuk memperlihatkan bahwa pekerjaannya sudah baik dilakukan atau belum. Perubahan kabinet akan memberikan dampak adaptasi dan penyamaan frekuensi kembali sebagai satu tim. Hal ini dapat dicegah dengan cara yang lebih efektif yaitu pemilihan kabinet dengan lebih cermat pada awal waktu.
  2. Penjagaan tingkat ekonomi di Indonesia yang tergambarkan dari pertukaran Rupiah terhadap Dollar Amerika telah tembus Rp 14 ribu dan hal ini berdampak ke banyak sektor salah satu yang paling merasakannya adalah harga bahan pokok pangan Indonesia.
  3. Penanganan korupsi di Indonesia. Pelemahan KPK merupakan salah satu hal yang harus kita ingat bahwa ini adalah sebuah kemunduran. Bagaimana mungkin kedua pimpinan KPK Abraham Samad dan Bambang Widjojanto diturunkan hanya karena sebuah tuduhan yang sangat lemah. Dalam hal ini, kerjasama KPK-POLRI dalam pemberantasan kriminal patut dipertanyakan. Selain itu pemberian remisi kepada 1.938 koruptor pada Agustus 2014 merupakan hal yang sangat mengecewakan.

Penulis mungkin belum memiliki kapabilitas yang cukup untuk berbicara dan menyalahkan kinerja mereka. Namun penulis sadar bahwa berbuat baik memiliki beberapa cara, salahsatunya adalah memberikan apresiasi dan evaluasi. Semoga segala yang baik dapat dilanjutkan dan segala yang buruk dapat diubah menjadi baik di kemudian hari oleh kabinet Jokowi-JK.


***


Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044
SHARE