Ayo Jajan Di Pasar!

313

Oleh: Nabila Nurul Chasanati.

Kita saat ini menyadari bahwa setiap 100 meter tak jauh dari rumah kita sudah berdiri minimarket-minimarket untuk memenuhi kebutuhan harian kita. Orang tak perlu lagi pusing memikirkan bagaimana ia harus berkutat pada ketidaknyamanan, karena minimarket selalu dibuat nyaman dan lengkap. Tentu ini pula yang akan mengancam eksistensi pasar tradisional. Pemerintah sudah memberikan regulasi yaitu Perpres 112 tahun 2007 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern maupun Peraturan Menteri Perdagangan yang mengatur pembenahan pasar tradisional tetapi hal itu seolah belum cukup untuk melindungi pasar tradisional.

Menumbuhkan daya beli masyarakat terhadap pasar tradisional akan mengembalikan keberlanjutan usaha masyarakat. Hal ini bisa mengangkat perekonomian kaum marginal. Di satu sisi, pasar tradisional merupakan cermin dari kebudayaan terdahulu. Pendayagunaan potensi pasar tradisional di era globalisasi yang tentu saja bersaing dengan ritel-ritel modern dan swalayan besar tentu saja membutuhkan inovasi untuk mengembangkan potensi tersebut. Memberdayakan pasar bukan berarti hanya mengembangkan usaha kelas menengah kebawah, secara ekonomi tetapi juga meningkatkan beberapa aspek lainnya. Seperti dalam kehidupan sosial masyarakatnya dan melestarikan budaya bangsa.

Melihat anak muda, mahasiswa dalam melakukan pembenahan pasar tradisional mungkin sedikit sekali. Tetapi hal itu ada. Gerakan Aku Cinta Budaya Indonesia  yang menjadi gerakan sosial untuk menumbuhkan daya beli masyarakat untuk setidaknya mengeksistensikan lagi  keberadaan pasar tradisional. Langkah besarnya, dari cara mengeksistensikan kembali pasar tradisional dengan melakukan re-branding jajanan pasar misalnya, memungkinkan untuk meningkatkan wisata belanja. Dari sektor wisata belanja inilah yang akan dibidik untuk mengembangkan sektor pariwisata. Pengembangan pariwisata biasa akan berkorelasi pada aspek pelestarian budaya daerah. Pengembangan pariwisata tentu dengan tujuan utama untuk meningkatkan pendapatan daerah. Hal ini pula dalam jangka panjang yang akan meningkatkan pelayanan pasar tradisional untuk lebih baik lagi dan mampu bersaing dengan ritel modern maupun Mall-Mall besar.

Fokus pada gerakan ACBI ini adalah menumbuhkan produktivitas masyarakat golongan menengah ke bawah untuk tetap menjaga eksistensi jajanan pasar agar tetap selalu ada. Menggalakkan kampanye akan sia-sia hasilnya jika tidak ada implementasi nyata dari kontributor gerakan sosial itu sendiri. Kampanye dan iklan tentang snack jajanan pasar di kalangan mahasiswa sendiri mampu menumbuhkan daya beli meningkat dan secara tidak langsung berimbas pada kesejahteraan penjual jajanan pasar. Gerakan sosial selalu mempunyai kendala bagi mahasiswa adalah kekonsistensian. Untuk menjaga kekonsistenan pada mahasiswa yang menginisiasi gerakan sosial ini dibutuhkan tidak hanya sekedar komitmen. Dalam hal ini gerakan ACBI lahir untuk meningkatkan kekonsistenan ini diuji oleh masyarakat kampus yang menjadi partner gerakan sosial tersebut.

Lewat gerakan jajan di pasar inilah yang menumbuhkan daya beli masyarakat. Dari sinilah kita sebagai mahasiswa merasa dipicu nilai hanggarbeni hamungkrubi—merasa memiliki dan merawatnya. Oleh karena itu, pasar tradisional dalam hal ini jajanan, jadikan hal itu sebagai suatu kebutuhan. Sama halnya kebutuhan bulanan kita, nah hadirnya gerakan sosial ACBI berupaya untuk meningkatkan konsumtifitas terhadap jajanan pasar. Agar tetap lestari!


***


Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044
SHARE