Bangkit dengan Nyala Lilin Daerah

270

Oleh: Rio Alfajri.

Bulan Mei ini Indonesia akan memperingati momen spesial. Dalam sejarahnya kebangkitan nasional mengambil peran penting dalam terbentuknya Indonesia. Kebangkitan nasional adalah sebuah momentum di mana bangkitnya rasa persatuan, kesatuan, dan nasionalisme. Ini ditandai dengan perjuangan merebut kemerdekaan yang tidak lagi bersifat kedaerahan, melainkan justru dalam bingkai nasionalisme. Salah satu yang menjadi peristiwa monumental adalah berdirinya organisasi Boedi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908.

Refleksi Kebangkitan Nasional ini sudah sewajarnya tidak hanya dimaknai secara simbolis saja. Harus ada pemaknaan yang lebih mendalam dan implementatif pada kehidupan Nusantara dewasa ini. Pertanyaan yang berikutnya muncul adalah apakah Indonesia harus bangkit kembali dan jika iya seperti apakah cara yang tepat agar kebangkitan tersebut bisa terjadi selaras dengan perkembangan percaturan politik global dewasa ini?

Untuk pertanyaan pertama sudah jelas bahwa bangsa ini sedang butuh momentum baru untuk bangkit dari keterpurukan. Masalah-masalah seperti korupsi yang terus merajalela, kemiskinan, hingga pembangunan yang tidak merata sudah menjadi alarm nyata bahwa bangsa ini harus segera bangkit. Tentu untuk merefleksikan semangat kebangkitan ini harus dipilih strategi yang tepat. Salah satu hilir dari masalah yang ada di Indonesia adalah kesalahan perspektif dalam melaksanakan pembangunan.

Fokus pembangunan Indonesia seringkali diarahkan pada wilayah-wilayah yang tidak tepat sasaran. Secara langsung ini akan berdampak pada terus tumbuhnya kemiskinan dan pembangunan yang tidak merata. Menurut data yang dimiliki World Bank, meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia terus naik, ketimpangan Indonesia terus meningkat. Dalam jangka waktu 15 tahun koefisien gini Indonesia meningkat dari 0,30 ke angka 0,41. Tidak heran mengapa daerah kota terus terbangun sementara potensi daerah semakin terpendam. Bahkan 60% kemiskinan berada di pedesaan (Prof. Cahyono Agus, 2015).

Momentum Kebangkitan Nasional ini harus dimanfaatkan untuk bangkit dengan membangun daerah. Potensi daerah di Indonesia sungguh sangat banyak. Sayang sekali apabila potensi ini tidak termanfaatkan dengan baik. Di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua terhampar sumberdaya yang belum terkelola dengan baik. Sebenarnya pemerintah sudah mencoba mengimpelementasi program pembangunan daerah ini. Namun, hal itu terkesan tidak berjalan karena kurangnya keinginan untuk membangun daerah yang hadir dari masyarakat khususnya generasi muda. Putera-puteri daerah ini banyak berpindah ke luar kota (Urbanisasi) bahkan hingga ke luar negeri menjadi TKW.

Kebangkitan Nasional dewasa ini harus dimaknai sebagai persatuan pemuda-pemudi Indonesia untuk membangun Indonesia melalui daerah. Jika pada zaman penjajahan dulu, perjuangan bersifat kedaerahan justru ditinggalkan, dewasa ini perjuangan membangun daerah justru harus diutamakan oleh pemuda.

Program Nawacita yang diusung oleh Presiden Joko Widodo memberikan 9 ciri utama sebagai landasan mendasar dalam pembangunan desa secara terpadu dan menyeluruh. Oleh karena itu, para pemudalah yang harus menyambut momentum kebangkitan ini dengan nyala lilin di daerahnya. Indonesia akan terang bersinar di dunia bukan karena megahnya Jakarta dan kota lain di Pulau Jawa saja, tetapi juga karena ada pelita di seluruh daerahnya.


***


Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044
SHARE