Belajar Budaya Melayu dalam Persidangan Antarabangsa Historiografi Melayu

91

Oleh: Rizkan dan Mora Akbar.

Etiket atau yang dikenal oleh masyarakat internasional dengan local wisdom memang memiliki keunikan tersendiri di tanahnya masing-masing. Adakalanya, dalam satu negara memiliki etiket yang sama, adakalanya pula dalam satu negara memiliki berbagai etiket disebabkan keragaman masyarakatnya. Keberagaman itulah yang membuat kajian budaya menjadi unik. Terdapat banyak falsafah hidup yang dapat dipetik didalamnya.

Berbicara budaya memang tidak ada habisnya. Dari periode klasik hingga modern, terbentang berbagai fenomena dan sejarah yang unik. Manusia sebagai pengelola peradaban, juga tidak ada habisnya berusaha mempelajari berbagai kejadian di muka bumi ini.

Alasan itu pula kiranya yang menjadikan Fakulti Bahasa dan Komunikasi, Universiti Pendidikan Sultan Idris, Malaysia mengadakan seminar internasional pertama “Persidangan Antarabangsa Pertama Historiografi Melayu”. Seperti yang disampaikan Dr. Norazimah selaku ketua panitia dalam seminar ini, pada sambutannya menyampaikan bahwa di alam Melayu atau negara semenanjung sangat banyak fenomena yang belum terungkapkan terkait budaya dan sejarahnya. Hal ini akan membuat masyarakat Melalyu menjadi rugi dan tidak mampu memperkenalkan pada generasi mendatang terkait budaya Melayu, yang sejati memiliki kearifan lokal untuk mendidik masyarakatnya.

Beruntung, penulis (Rizkan dan Mora Akbar) yang merupakan mahasiswa Universitas Andalas dan juga bernanung di bawah yayasan Pendidikan Beastudi Indonesia, Dompet Dhuafa, Beastudi Etos dapat bergabung dalam kegiatan ini. Penulis membentangkan makalahnya yang berjudul, “Second Language Acquisition (Malay Language) Indonesian Children Through Malaysian Television Programs and Its Relation to Interest of Indonesian Society Buys Television Product (New Marketing Strategy Through in Linguistics)”. Makalah ini merupakan kajian linguistik terapan, yakni psikolinguistik dan bergabung dengan ilmu marketing.

Bersama 71 pembentang lainnya, kami mendapatkan beragam informasi terkait budaya Melayu. Kali ini, tiga negara, yakni Malaysia, Indonesia, dan Thailand menceritakan bagaimana sejarah dan budaya Melayu di ketiga daerah itu. Memang ketiga tanah ini pernah menyimpan sejarah peradaban Melayu yang sangat besar.

HISTIC 2017 ini berlangsung selama 3 hari, yakni tanggal 5—7 Mei 2017. Pembentangan terbagi menjadi empat bilik atau panel. Kami mendapat jatah di bilik 3 dan membentang pada tanggal 6 Mei 2017 pukul 10.30 waktu setempat. Kegiatan yang berlangsung di Hotel Seri Malaysia Kuantan, Pahang, Malaysia ini memperkenalkan penulis dengan keindangan budaya Melayu dari berbagai negeri di Malaysia.

Ada berbagai etiket orang Melayu, khususnya Malaysia yang hadir pada kegiatan itu yang tampak oleh penulis. Misalnya, mereka sangat bangga mengenakan pakaian adat mereka seperti baju kurung. Di sesi formal atau pembentangan, semua perempuan Malaysia, baik pembentang ataupun peserta biasa mengenakan baju kurung. Berbeda dengan seminar-seminar yang ada di Indonesia, yang kebanyakan lebih suka berpakaian modern. Bahkan, pembentang asal Indonesia kala itu juga tidak mengenakan pakaian yang berciri khas Indonesia.

Di sisi latar belakang pembentang, dari negara Malaysia semua pembentang minimal pelajar Phd atau doktoral. Hanya kami yang berasal dari S1. Kemudian, juga terlihat pada sesi tanya jawab, para peserta yang notabennya berasal dari S1, juga kurang berani mengajukan pertanyaan. Artinya, mereka memiliki budaya segan untuk terlalu lugas dalam dunia akademik, karena keasadaran mereka atas taraf akademiknya yang belum tinggi. Jadi, tingkat egoisitas mereka juga sangat rendah dan juga santun dalam pendidikan mereka.

HISTIC 2017 di Negeri Pahang, Malaysia itu, tidak hanya diisi dengan seminar saja. Namun, juga ada pementasan kebudayaan, tarian dan pembacaan puisi Malaysia yang sangat estetik. Selain itu, juga ada kegiatan berpelancong di Teluk Cempedak, Kuantan, Pahang, Malaysia.

3 hari yang sangat berkesan di Pahang. Sebuah Negeri di Malaysia yang ramah dan berkembanga dengan baik, yang mampu melayani tetamu yang berkunjung ke negerinya. Bagi penulis, ini menjadi momentum yang sangat berharga dalam menatap masa depan bidang keilmuan yang penulis geluti, yakni ilmu budaya. Bahwasanya, ilmu dan kegiatan yang bergerak di bidang ini masih diminati dari berbagai penjuru dunia.


***


Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044
SHARE