Belajar dari Bengawan Solo

26

Kepemimpinan adalah ekspresi dalam berbagai sentuhan. Ia adalah soal manusia tapi juga situasional, ia adalah ilmu tapi juga seni. Mari kita simak bagaimana Gesang mengisahkan kekagumannya pada keindahan Sungai Bengawan Solo dalam karya seni berjudul “Bengawan Solo”.

    Bengawan Solo … Riwayatmu ini
    Sedari dulu jadi ..  Perhatian insani
    Musim kemarau … Tak s’brapa airmu
    Di musim hujan air … Meluap sampai jauh
    
    Mata airmu dari Solo, Terkurung gunung seribu
    Air meluap sampai jauh, Akhirnya ke laut
    Itu perahu …. Riwayatmu dulu
    Kaum pedagang selalu …. Naik itu perahu

Filosofi air, pancaran kepemimpinan yang cair

Air telah menjadi menjadi sumber inspirasi untuk membentuk sifat dan perilaku pemimpin yang efektif. Simaklah kisah Ramayana yang menceritakan adegan dimana Sri Rama memberikan wejangan ajaran kepemimpinan Astabrata kepada Wibhisana sebagai Raja Alengka Pura menggantikan kakaknya Rahwana.

Seorang pemimpin hendaknya mengikuti sifat-sifat Dewa Indra yaitu sebagai dewa hujan. Hujan adalah sumber kemakmuran, karena tanpa hujan tumbuh-tumbuhan tidak dapat hidup. Seorang pemimpin hendaknya seperti hujan yaitu senantiasa mengusahakan kemakmuran bagi rakyatnya dan dalam setiap tindakannya dapat membawa kesejukan dan penuh kewibawaan.

Inilah lakunya Hyang Indra yang hendaknya kau ambil. Ia mendatangkan hujan dan menentramkan dunia. Sifat dan lakunya Hyang Indra itulah hendaknya kau ambil, (kau turuti), hendaknya kamu menghujankan hadiah yang banyak hingga merata pada segenap rakyat.

Hal senada dapat dipetik dari ajaran Lao Tzu tentang kepemimpinan yang berguru juga pada filosofi air. Pemimpin yang bijaksana adalah seperti air. Dari mengamati gerakan air, pemimpin telah belajar bahwa dalam bertindak, waktu adalah segalanya. Seperti air pemimpin itu mengalah, karena pemimpin tidak memaksa, kelompok tidak membenci atau melawan.

Kepemimpinan yang dicerahkan adalah pelayanan, bukannya mementingkan diri sendiri. Pemimpin semakin bertumbuh dan tahan lebih lama dengan mengutamakan kesejahteraan semua orang ketimbang kesejahteraan diri sendiri semata-mata.

Kecerdikan tertinggi adalah seperti air; air itu cerdik memberikan faedah kepada segala benda tanpa  berebutan dengannya, berdiam pada tempat yang tidak disukai orang, maka dengan demikian mendekati “Jalan”. Cerdik memilih kediaman yang rendah , cerdik menenangkan hatinya, cerdik menjalankan perikemanusiaan, cerdik dengan kejujuran, cerdik memerintah dengan aturan, cerdik menggunakan kemampuan dalam urusannya, cerdik menunggu waktu dalam gerakkannya. Justru karena tidak berebutan, maka tidak membuat kesalahan.

Sosial Media, Pancaran Kepemimpinan Mengalir Sampai Jauh

Kepemimpinan adalah soal perilaku, demikian kata Kouzes & Posner dalam bukunya “Leadership Challenge”. Karena kepemimpinan adalah perilaku, maka ia bermula dari sebuah gagasan tentang kepemimpinan. Gagasan kepemimpinan adalah sebuah pesan yang dapat diteruskan dari satu orang ke orang lainnya, dari pemimpin kepada pengikut.

Setiap dari kita terlahir sebagai manusia dengan keunikan masing-masing. Di jurusan pendidikan, saya banyak belajar bagaimana memahami diri sendiri serta memahami orang lain. Manusia memiliki kecenderungan untuk mencari orang yang mirip dengan dirinya, tetapi ketika berbicara tentang seni memimpin, kita seharusnya mengisi team kita dengan orang-orang yang bisa mengisi kekosongan kita.

Manusia yang baik adalah manusia yang berusaha mengisi kekosongan hati dari manusia lainnya. Dengan meniru sifat air, kita seharusnya bisa menjadi penolong bagi manusia lainnya yang sedang bermasalah atau kekurangan. Tentu, jika sifat air yang kedua ini benar-benar kita teladani, kita selalu memiliki waktu untuk melengkapi kehidupan manusia lainnya. Artinya, kita menjadi manusia yang senang menolong dan suka berbagi. Karena sebenarnya, batin kita terisi setelah memenuhi kekurangan dari saudara kita. Ketiga, air selalu mengalir ke muara.

Tak peduli seberapa jauh jaraknya dari muara, air pasti akan tiba di sana. Sebenarnya saya tidak setuju dengan orang yang menggunakan pepatah “hiduplah mengalir seperti air” untuk menguatkan gaya hidup yang tidak punya arah dan serampangan. Justru sebenarnya dengan kita meniru air yang mengalir, kita seharusnya punya visi kehidupan.

Hal utama yang patut diteladani dari perjalanan air menuju muara adalah sikapnya yang konsisten. Bayangkan, ada berapa banyak hambatan yang dilalui oleh air gunung untuk mencapai muara?

Taburkanlah benih, agar pohon tumbuh.

Taburkanlah Benih Kepemimpinan, Agar Gerombolan Pemimpin Berikutnya Tumbuh. Konfusius yang hidup lima abad sebelum Masehi berkata : Jika rencana anda satu tahun, tanamlah padi, jika rencana anda sepuluh tahun, tanamlah pohon, namun jika rencana anda seratus tahun, didiklah manusia.

Mendidik manusia sama dengan memimpin begitu kira-kira kata Anies Baswedan. Kepemimpinan adalah perilaku, karena itu ia dapat dipelajari. Kepemimpinan adalah gagasan, karenanya ia dapat ditularkan. Kepemimpinan adalah sikap, karena itu dapat diteladankan. Kepemimpinan adalah karakter, karena itu ia sepantasnya dibentuk.

Tugas pemimpin adalah membereskan masalah, membangun kapabilitas organisasinya dan menumbuhkan pemimpin-pemimpin baru di sekelilingnya. Hal itu hanya terjadi ketika seorang pemimpin memutuskan untuk mengembangkan pemimpin-pemimpin baru melalui tangan kepemimpinannya, lalu menindaklanjuti keputusannya dan melangkah hari ini juga untuk mendidik setidaknya satu orang pemimpin potensial yang ada dalam jangkauannya.

 

We Are Leaders

www.beastudiindonesia.net

SHARE