Belajar Membangun Komunitas

0
656

Membuat sebuah komunitas memang bukan perkara mudah. Pasalnya pasti banyak suka dan duka yang dirasakan. Namun dengan perjuangan dan niat yang ikhlas, akhirnya ketiga tokoh pembicara dalam Tunas Indonesia pada Sabtu (11/8) dapat dengan sukses mengembangkan komunitasnya masing-masing. Siapakah mereka?

Ditengah kondisi remaja yang acuh tak acuh pada keadaan lingkungannya, ketiga tokoh yang berlatar belakang berbeda berbagi tips untuk memajukan komunitas yang telah dibentuk kepada siswa SMA. Dengan mengangkat tema “Pengembangan Komunitas Masyarakat”, Hall C Asrama Haji Surabaya menjadi saksi semangat dari siswa SMA yang tertarik mendengar pengalaman dari ketiga pembicara tersebut.
Walaupun berasal dari latar belakang akademisi, Drs Soeharjupri Msi dosen Jurusan Matematika FMIPA ITS ini tak enggan untuk membentuk komunitas bisnis. Jiwa bisnis yang telah tertanam dalam diri Soeharjupri membuatnya tetap konsisiten menekuni bisnis tersebut.

Salah satu hal yang membuat Soeharjupri dapat mengembangkan komunitas bisnisnya yaitu karena nilai-nilai agamis tetap dipertahankan sebagai pondasi dasarnya. “Saya menyeleksi dengan baik pegawai yang akan bergabung dengan bisnis saya. Pertanyaan pertama yang benar-benar saya perhatikan yaitu tentang sholat tepat waktu,” jelas Jupri. Dengan komunitas bisnis dan jejaring perusahaan yang ia miliki, mampu memberdayakan ratusan karyawan dan masyarakat disekitarnya.

Lain hal dengan pesantren yang dibangun oleh Gus Khosyi’in. Keikhlasan adalah poin terpenting yang selalu ditanamkan pada dirinya. Pasalnya, pesantren yang didirikannya itu dikhususkan untuk anak yang kurang mampu. Karena itulah yang membuat lelaki bernama lengkap Gus H. Khosyi’in Kocoworo Brenggoloi ini terus istiqomah dalam mengembangkan pondok pesantrennya.

“Tiga hal dasar yang membuat pesantren saya berkembang, pertama terus mengingat Allah secara mendekat dan mendasar,” ujar pria yang kharismatik dan terkena dengan kedermawanannya. Dengan terus mengingat Allah seseorang akan terhindar dari maksiat. Selanjutnya yaitu melatih diri menjauhi ajakan syetan. Hal tersebut dapat dikuatkan dengan rajin melakukan ibadah. Terakhir yaitu menanamkan keyakinan terhadap adanya dunia dan akhirat.

Gus Khosyi’in pun mengajarkan kepada seluruh santri yang ia ajar sikap dermawan dan peduli pada masyarakat. Setiap santri wajib untuk turun ke masyarakat didaerah terpencil. Minimal selama satu bulan mereka mendampingi masyarakat untuk melakukan perbaikan-perbaikan terutama dibidang  keagamaan.

Berbeda lagi dengan pengembangan komunitas yang dilakukan oleh seniman Cucuk SP.  Berawal dari kepedulian terhadapa anak jalanan dan juga seni , maka dibentuk komunitas  kecil, saat ini sudah banyak yang bergabung dengan komunitas tersebut.  

Selain sebagai seniman ia juga dikenal sebagai penulis, maka ketrampilannya dalam menulispun ia tularkan kepada komunitasnya. Secara perlahan namun pasti, dengan motivasi yang ia bangun komunitasnya pun tertular keahlian menulisnya.

Dari ketiga tokoh ini para peserta mendapat banyak pengetahuan mengenai pengembangan komuntas masyarakat. Pesertapun  terlihat  cukup antusias, hal ini terbukti dari banyaknya pertanyaan serta lontaran ide-ide segar dalam sesi tanya jawab. (sha)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY