Benarkah Si Petruk sedang Dadi Ratu?

0
4244

Oleh: Christina Indrawati – Baktinusa 5 UNS

“Nalika teko titi wancine wong Jawa ilang Jawane, rusak negarane. (Ketika datang saatnya orang Jawa kehilangan budaya Jawanya maka rusaklah negara)” – Sri Sultan Hamengku Buwono IX

Kutipan di atas sengaja digunakan untuk membuka tulisan ini dengan tujuan pembelaan penggunaan budaya sebagai dasar ulasan suatu masalah. Ketika kita melihat keadaan saat ini budaya Jawa sudah mulai pudar, namun bukan berarti hilang. Banyak diantaranya yang masih bertahan, berinovasi, bahkan digunakan untuk melihat keadaan. Entah asupan ilmu seperti apa yang tokoh-tokoh itu dapatkan dan pelajari pada zaman dahulu hingga mereka dapat merumuskan dan membangun budaya di tengah keterbatasan jika dibandingakan dengan kemudaan dan fasilitas zaman sekarang.

Kisah sejarahnya tanah Jawa dan penyebaran agama Islam tidak akan bisa lepas dari peran wali songo yang berhasil menjadi tokoh bersejarah dengan cara-caranya yang bisa dibilang cerdas. Cara yang mereka gunakan bermula dari mengenal benar siapa masyarakat mereka, mencari media yang tepat dan akhirnya menyampaikan pesan yang diinginkan. Dari sembilan tokoh itu salah seorang diantaranya adalah Sunan Kalijaga yang terkenal membuat cerita-cerita yang ternyata sampai dengan sekarang dipercaya. Hal ini bisa terjadi karena kisah yang dibuat bukan sembarang kisah melainkan kisah yang penuh dengan filosofi.

Adalah punokawan, salah satu bentuk kolaborasi yang diciptakan oleh wali songo untuk “mengakali” pemahaman Hindu yang sudah dimengerti masyarakat dengan Islam yang coba disebarkan. Punokawan terdiri dari Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong ini dimasukan dalam kisah.

Petruk Dadi Ratu

Salah satu karya Sunan Kalijaga adalah Petruk Dadi Ratu (Petruk Jadi Penguasa). Dikisahkan bahwa lakon Petruk Dadi Ratu sebagai sebuah simbol ketidaktepatan seorang pemimpin, atau seorang yang tidak mumpuni menjadi pemimpin dijadikan pemimpin, maka yang terjadi adalah kekacauan.

Petruk yang merupakan pelayan para raja sudah hafal betul dengan model paham kekuasaan di Karang Kedempel dari waktu ke waktu. Negara pada waktu itu sudah carut marut, berbagai aspek kehidupan sudah tidak bersih, permainan kekuasaan terjadi dimana-mana, dan kepentingan rakyat dikesampingkan. Singkat cerita melihat semua itu dan ada kesempatan untuk maju akhirnya Petruk menjelma menjadi Prabu Kanthong Bolong, Petruk melabrak semua tatanan yang sudah terlanjur menjadi “mainstream” model kekuasaan di mayapada.

Karuan saja, Ulah Prabu Kanthong Bolong membuat resah di mana-mana. Maka secara aklamasi disepakati suatu skenario yang berisi persekutuan raja dan dewa dibentuk, guna melenyapkan penggangu tatanan keyamanan segelintir golongan yang sudah terbentuk selama ini. Namun sayang semua usaha gagal, siapapun yang melawannya justru diamuk. Karena kekuasaannya yang semakin kuat diapun menjadi jadi.

Kisah ini berakhir ketika Semar yang merupakan Ayah bagi mereka turun tangan mengendalikan situasi yang sudah semakin tidak terkendali.

Ngger, Petruk anakku! Jangan kau kira aku tidak mengenalimu, ngger!”

“Apa yang sudah kau lakukan, tho le? Apa yang kau inginkan? Apakah kamu merasa hina menjadi kawulo alit (orang kecil)? Apakah kamu merasa lebih mulia bila menjadi raja? Sadarlah ngger, jadilah dirimu sendiri“.

Ujar Semar dengan nadanya yang khas akhirnya menghentikan tingkah petruk yang sebenarnya niatannya baik namun caranya yang salah karena meskipun dia sakti tapi tetaplah petruk tidak mumpuni untuk menjadi raja.

Jokowi-JK dan Nawa Citanya

Jokowi bersama dengan Jusuf Kalla memenangkan pemilu dengan membawa bendera Nawa Cita sebagai cita-cita pemerintahannya. Nawa cita ini memiliki 9 poin yang sebenarnya bisa dikatakan sudah menyentuh aspek-aspek penting di Indonesia. Diantaranya adalah memastikan kehadiran negara, menguatkan segi maritim, perbaikan tata kelola negara, pembangunan daerah pinggiran, penguatan hukum, pendidikan dan kesejahteraan hidup yang layak, kemandirian ekonomi, karakter persatuan serta produktivitasan di pasar internasional.

Hari ini, ketika kepemimpinan sudah berjalan satu tahun lebih beberapa janji tersebut memang sedang dalam proses realisasi dan tidak sedikit yang belum terjamah, terlalu dini memang untuk menyimpulkan kesuksesan tidaknya kinerja kabinet beliau. Tapi tentu boleh kita menuliskan beberapa hal-hal besar apa saja yang terjadi sepanjang pemerintahan Jokowi-JK ini untuk mengevalusi kasar dalam 3 bidang besar yaitu pendidikan, hukum dan ekonomi.

Pendidikan

Kurikulum. Iya, kurikulum menjadi kontroversi dalam bidang pendidikan. Meskipun, langkah Anies Baswedan sebagai mentri yang bertanggungjawab disektor ini dinilai benar karena kurikulum 2013 adalah kurikulum yang prematur dan tidak dapat merangkul seluruh kalangan pendidikan. Namun hal ini memunculkan kerancuan antara kurikulum 2013 dan 2006, hal ini menjadi sesuatu yang tidak mudah dilaksanakan di lapangan. Mengingat tidak semua sekolah memiliki kemampuan yang sama baik tenaga pendidik maupun siswanya.

Selain kurikulum, ada permasalahan yang masih menjadi poin besar di dunia pendidikan, yaitu pengajar. Pemerataan kualitas, jumlah dan kesejahteraan guru sebagai tenaga pendidik belum teratasi dengan tepat. Bahkan keputusan pemutusan CPNS yang dilakukan tahun 2015 adalah hal yang kurang tepat.

Hukum

Berbicara tentang masalah hukum 2015 tentu semua akan sepakat dengan kasus KPK yang tak kunjung membuat masyarakat tenang. Pasca KPK vs Polri kini yang terjadi adalah pelemahan KPK. Ini bertolak belakang dengan Nawa Cita nomor 4 yang ingin Indonesia bebas korupsi. Tapi, setidaknya diawal tahun 2016 gedung baru KPK sudah resmi dibuka, semoga saja ini bukan hanya gedung yang baru tapi juga gebrakan tindak korupsinya.

Selain KPK dalam bidang hukum yang menarik perhatian adalah regulasi perundang-undangan. Kita tahu bahwa ada sekitar 225 undang-undang Indonesia yang saling bertentangan, tahun ini ditambah lagi perundang-undangan yang semakin membuat para pejabat politik “special” dimata hukum.

Ekonomi

Dalam nawa cita Jokowi-JK banyak yang menyinggung mengenai bidang ekonomi yaitu poin 3, 6 dan 7. Di mana dicita-citakan ekonomi kita mandiri, produktivitas sampai dengan tingkat internasional dan ekonomi desa serta daerah tertinggal diperhatikan.

Kekuatan yang ingin dijadikan tonggak ekonomi oleh Jokowi-JK adalah bidang maritim. Benar memang Ibu Susi sebagai mentri yang berwenang dalam bidang ini menyita banyak perhatian publik karena sikap, kebijakan dan latar belakangnya. Meskipun begitu prestasi dalam bidang maritim patut diapresiasi karena tahun ini ada penindak tegasaan pada illegal fishing, sekitar 37 kapal asing yang telah diputuskan bersalah melanggar batasperairan Indonesia oleh pengadilan setempat.

Pelemahan Rupiah yang beberapa waktu yang lalu menembus angka Rp 15. 000 menjadi perhatian publik karena angka ini sudah melebihi krisis tahun 98. Meskipun kali ini kita bisa keluar dari melejitnya Rupiah karena cadangan Rupiah kita yang sudah lama kita timbun. Tapi ini tidak bisa dibiarkan, ketergantungan pada mata uang asing yang mampu dengan mudahmenguncang perekonomian negeri adalah indikator bahwa ekonomi negara kita belum kuat.

Ada pula yang selalu jadi bahan diskusi favorit mahasiswa, yaitu BBM. Selama pemerintahan Jokowi-JK ini BBM mengalami drama yang cukup panjang. Mulai dari harga yang dilempar ke pasar, subsidi di cabut hingga yang terakhir ini adalah pengambilan pajak dari sektor yang di subsidi. Padahal kita semua sepakat bahwa harga BBM sangat berpengaruh pada perekonomian karena imbasnya yang secara langsung mempengaruhi sektor riil.

Jokowi dan Petruk

Ketika Jokowi naik kepermukaan banyak kalangan yang mengibaratkan Jokowi adalah Petruk yang dikisahkan oleh Sunan Kalijaga. Itu bukan hal yang aneh mengingat memang Jokowi adalah “orang baru” dikancah perpolitikan nasional yang namanya melejit dengan cepat. Setelah sukses mencuri perhatian dengan kesuksesan menjadi walikota salah satu daerah di Jawa Tengah beliau naik dengan mulus ke panggung politik Jakarta hingga akhirnya ke kursi nomor 1 di Indonesia. Semua berjalan seakan jalannya sudah dibukakan dan beliau hanya tinggal melangkah. Didukung pula dengan postur tubuh yang kurus menjadikannya semakin mirip dengan petruk.

Apabila ditarik kebelakang, memang banyak kejadian aneh yang menyebar dimedia. Seperti Jokowi yang salah menyebut kota kelahiran Soekarno pada pidato beliau diperingatan hari lahir Pancasila, “ketledoran” Jokowi yang tanda tangan berkas tanpa membaca terlebih dahulu, perpres menaikan nilai uang yang salah ditanda tanggani akhirnya banyak merugikan negara, kurang wibawa dengan seringnya menggunakan ucapan “bukan urusan saya” kepada publik ketika isu nasional datang, danyang belum lama adalah kekecewaan masyarakat akan kemampuan berbahasa Inggis yang kurang cakap beliau saat menghadiripertemuan internasional.

Jika berbicara menyentuh rakyat kecil, semangat dan ketekunan dalam bekerja Jokowi memang patut diacungi jempol, tak heran jika kabinet periode ini disebut dengan kabinet kerja. Namun, melihat hal-hal tersebut menjadi bukti sederhana bahwa memang bekal yang dimiliki Jokowi masih kurang.

“Ono titi mongso Petruk Dadi Ratu (Akan datang saat dimana Petruk jadi Ratu)”- Jongko Joyoboyo

Joyoboyo yang merupakan raja kerajaan Kediri yang perkataannya “ampuh” pun pernah mengkisahkan bahwa negri ini akan dipimpin oleh Petruk, orang yang kurang bekal kemampuan namun berambisi jadi penguasa.

Jika benar petruk dadi ratu adalah Jokowi yang sedang naik tahta maka patut kita dukung agar beliau membenahi kecarut-marutan yang selama ini terjadi, karena sepanjang 1 tahun terakhir sudah mulai terlihat perbaikan dibeberapa sektor. Namun harus diwaspadai karena lama kelamaan petruk ini akan membuat “kegaduhan” yang susah dikalahkan. Saat itu tiba, tinggal kita tunggu siapakah Semar yang akan menghentikan langkah si Petruk.

BAGIKAN

LEAVE A REPLY