Benteng Kuto Besak Lambang Perjuangan Rakyat Ampera Nun Indah

358

Oleh: Eka Pertiwi, BA UNSRI.

Kuto Besak adalah bangunan Keraton yang pada abad XVIII menjadi pusat Kesultanan Palembang. Gagasan mendirikan Benteng Kuto Besak diprakarsai oleh Sultan Mahmud Badaruddin I yang memerintah pada tahun 1724-1758 dan pelaksanaan pembangunannya diselesaikan oleh penerusnya yaitu Sultan Mahmud Badaruddin yang memerintah pada tahun 1776-1803. Sultan Mahmud Badaruddin ini adalah seorang tokoh kesultanan Palembang Darussalam yang realistis dan praktis dalam perdagangan internasional, serta seorang agamawan yang menjadikan Palembang sebagai pusat sastra agama di nusantara. Menandai perannya sebagai sultan, ia pindah dari Keraton Kuto Lamo ke Kuto Besak. Belanda menyebut Kuto Besak sebagai nieuwe keraton alias keraton baru.

Keraton ini berdiri di posisi yang sangat terbuka, strategis, dan sekaligus sangat indah. Posisinya menghadap ke Sungai Musi. Pada masa itu, kota Palembang masih dikelilingi oleh anak-anak sungai yang membelah wilayah kota menjadi pulau-pulau. Kuto Besak pun seolah berdiri di atas pulau karena dibatasi oleh Sungai Sekanak di bagian barat, Sungai Tengkuruk di bagian timur, dan Sungai Kapuran di bagian utara.

Tembok ini diperkuat dengan 4 bastion (baluarti). Di dalamnya, masih ada tembok yang serupa dan hampir sama tingginya, dengan pintu-pintu gerbang yang kuat, sehingga ini dapat juga dipergunakan untuk pertahanan jika tembok pertama dapat didobrak. Dibagian dalam di tengah kraton disebut Dalem, khusus untuk tempat kediaman raja, lebih tinggi beberapa kaki dari bangunan biasa. Seluruhnya dikelilingi oleh dinding yang tinggi sehingga membawa satu perlindungan bagi raja. Tak seorang pun boleh mendekati tempat tinggal raja ini kecuali para keluarganya atau orang yang diperintahkannya. Pada saat peperangan melawan penjajah Belanda tahun 1819, terdapat sebanyak 129 pucuk meriam berada di atas tembok Kuto Besak. Sedangkan saat pada peperangan tahun 1821, hanya ada 75 pucuk meriam di atas dinding Kuto Besak dan 30 pucuk disepanjang tembok sungai, yang siaga mengancam penyerang.

Keindahan kota Palembang dapat dinikmati dari sisi benteng yang tinggi, sembari menghirup udara segar dan pemandangan kapal-kapal besar menyebrangi Sungai Ampera, kenangan historis tentang tempat itu melambangkan gigihnya perjuangan mempertahankan kesatuan wilayah Palembang pada zamannya. Semuanya masih tersimpan rapi menjadi museum kenangan yang bisa dilihat oleh anak cucu masyarakat Palembang kelak. Jika dahulu para pejuang berjuang dengan tombak, pistol, dan senjata tajam untuk mempertahankan kesatuan Indonesia maka hari ini perjuangan dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi adalah cara yang paling tepat untuk menjaga eksistensi Indonesia di mata dunia, kelanjutan perjuangan orang-orang terdahulu yang begitu luar biasa.


***


Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044
SHARE