Berhasilkah Jokowi Mengambil Hati Rakyat?

307

Oleh : Miftakhul Ilmi (Universitas Gadjah Mada)

Terambilnya hati rakyat sudah jelas menjadi keinginan mendasar bagi para pemimpin. Meskipun pemimpin selalu mengusahakannya secara khusus, terlalu banyjn ak atau mungkin semua pemimpin berharap mampu mengambil hati rakyat melalui kebijakan atau segala perilakunya. Diakui atau tidak, kepercayaan akibat terambilnya hati rakyat menjadi apresiasi tak ternilai bagi seorang pemimpin. Terlebih lagi kepercayaan tersebut mampu memperlancar usaha seorang pemimpin untuk mewujudkan visi dan misinya. Begitu pula lah dengan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo atau kerap disebut Jokowi.

Sedari awal, banyak sekali usaha-usaha Jokowi baik langsung maupun tidak langsung, untuk mengambil hati rakyat. Barangkali hampir semua pengikut media sudah tidak asing lagi dengan istilah “blusukan”. Media yang pro terhadap Jokowi berlomba-lomba menyiarkan seolah-olah Jokowi adalah presiden pertama yang berusaha mendekati rakyatnya. Media tersebut pun berusaha menunjukkan bahwa Jokowi adalah presiden yang peduli terhadap rakyat kecil. Bahkan, kata “blusukan” sempat menjadi brand tersendiri untuk seorang Jokowi. Tapi benarkah hati rakyat terambil?

Barangkali iya, khusus bagi rakyat yang menjadi sasaran “blusukan” Jokowi. Sementara yang lain belum tentu. Banyak “blusukan” Jokowi yang dilakukan di DKI Jakarta, sedangkan masih terlalu banyak rakyat yang bosan dengan pemberitaan kota besar nan megapolitan itu.  Rakyat bosan hanya diposisikan sebagai penonton. Bagi mereka, DKI Jakarta adalah tanah penuh drama yang tidak ada habis-habisnya, padahal di tanah mereka pun banyak fenomena yang seharusnya juga masuk dalam pemberitaan nasional. Begitu pun dengan “blusukan”, harusnya Jokowi melakukannya ke tanah-tanah yang jauh dari pemberitaan karena tanah tersebut sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan DKI Jakarta. Sebut saja “blusukan” Jokowi mampu mengambil hati rakyat, baik yang menjadi sasaran langsung maupun mereka yang menonton dari layar kaca. Tapi, selamanya kah hati mereka terambil? Atau jangan-jangan ini seperti mie instan yang nikmatnya hanya terasa ketika disantap dan menghilang seiring kekosongan piring?

Belum genap satu tahun menjabat, Jokowi berani mengotak-atik kabinetnya. Media sempat menyiarkan bahwa reshuffle yang ini seperti tidak ada angin dan tidak ada hujan. Jokowi mengaku bahwa tujuannya ialah mempercepat terwujudnya visi dan misi untuk menyejahterakan masyarakat. Benarkah? Mari kita lihat, dari keempat Menko, hanya satu yang selamat: Puan Maharani. Dan untuk yang ini rakyat Indonesia tidak perlu dijelaskan lagi. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Puan Maharani merupakan putri dari sang kanjeng Megawati. Belum lagi soal dicopotnya Andi Widjajanto yang sebelumnya sempat diserang habis-habisan oleh PDIP karena dianggap menjauhkan Jokowi dari partainya. Ya, rakyat sudah jelas hafal bahwa menuruti Megawati adalah harga mati dan politik balas budi tak pernah mati. Jadi, benarkah Jokowi berhasil mengambil hati rakyat dengan reshuffle kabinetnya?

Nampaknya, kabinet bak papan catur bagi seorang Jokowi. Ia dapat memindahkan pion sesuka hati. Belum genap dua tahun menjabat, Jokowi melakukan reshuffle lagi. Genap setahun masa jabatan saja tidak, bagaimana rakyat bisa menilai dan merasakan kinerja kabinet hasil reshuffle yang pertama. Malahan, di-reshuffle lagi. Terdapat 4 pion yang hanya digeser posisinya dan 9 pion baru yang dimasukkan oleh Jokowi. Berhasilkah Jokowi mengambil hati rakyat melalui reshuffle-nya yang kedua?

Sri Mulyani Indrawati (SMI) menjadi nama yang paling kondang dibandingkan nama-nama di kaninet baru. Konon katanya, untuk membawa SMI pulang ke Indonesia, Jokowi sempat melakukan lobbying dengan Presiden Bank Dunia. Media juga sempat ramai dengan surat yang dibuat oleh Presiden Bank Dunia terkait pulangnya SMI ke Indonesia. Menyoal kembalinya SMI menjadi menteri disaat menjabat sebagai Direktur Eksekutif Bank Dunia, banyak rakyat yang mengapresiasi. Sebagian dari mereka menyebut-nyebut ini sebagai bentuk cinta tanah air. Ada pula yang membahas perbandingan gaji antara menteri dan direktur eksekutif. Terlebih lagi bagi mereka yang memang mengakui dengan benar kemampuan SMI dalam hal perekonomian. Mereka menyebut-nyebut prestasi SMI selama menjadi menteri sebelumnya hingga prestasinya di Bank Dunia. Ya, alumnus Universitas Indonesia ini memang tidak diragukan lagi kemampuannya. Sayang beribu sayang, dibalik banyaknya rakyat yang merespons positif, masih ada rakyat yang dengan lugas mempertanyakan apa maksud Jokowi. Tidak semua rakyat bodoh, setidak-tidaknya masih ada dari mereka yang mengingat benar bahwa nama SMI pernah disebut dalam kasus yang nampaknya sengaja dilupakan, Bank Century. Nama disebut-sebut dalam kasus besar, malah mendapat jabatan yang lebih besar, begitulah SMI di kala itu. Lalu bagaimana jika SMI memang benar-benar terkait erat dengan kasus ini di saat Ia menjadi menteri, atau Jokowi memang sengaja tak mau membahas kasus ini setidaknya sampai lengser atau reshuffle lagi?

Jokowi nampaknya menganggap bahwa rakyatnya seperti pria tua beruban yang bahkan namanya sendiri saja lupa. Sayang beribu sayang, nampaknya Jokowi lupa bahwa semakin tua seseorang, maka akan semakin mengingat masa lalunya. Belum cukup “menutup” masa lalu Sri Mulyani Indrawati dalam kasus Bank Century, Jokowi juga “menutup” masa lalu Menkopolhukam (Wiranto) yang dipilihnya ke mata rakyatnya. Barangkali bagi rakyat yang pintar, ini akan menjadi media untuk tertawa terbahak-bahak diiringi tangis terisak-isak. Tertawa terbahak-bahak karena yang menduduki Menkopolhukam justru orang yang dinilai oleh lembaga-lembaga terpercaya sebagai “orang yang paling bertanggung jawab” terhadap banyak tragedi kemanusiaan di Indonesia. Tangis terisak-isak karena ini benar-benar terjadi dan dilakukan oleh seorang presiden yang berjanji akan menyelesaikan kasus pelanggaran berat HAM dalam masa jabatannya. Tak perlu ditanya merebut hati atau tidak, bahkan sudah ada rakyat yang aksi menanggapi hal ini.

Tak berhenti pada Sri Mulyani dan Wiranto, nama ketiga yang seperti menunjukkan bahwa Jokowi sedang ndagel adalah Menteri ESDM, Archandra Tahar. Terlepas dari segala cerita yang sulit diketahui benar dan salahnya, Archandra Tahar diberhentikan dengan hormat di hari kedua puluh menjabat. Sikap pemberhentian ini menunjukkan Jokowi yang mengambil jalan aman. Daripada kontroversi, lebih baik diberhentikan, begitulah sederhananya. Sayangnya, respons masyarakat tak sesederhana itu. Heran beribu heran, bagaimana mungkin terdapat kasus soal kewarganegaraan dalam tubuh kabinet yang jelas menjadi sorotan nasional sampai internasional. Barangkali ini kali pertama dalam sejarah Indonesia, seorang menteri diberhentikan di hari kedua puluh menjabat karena problematika yang seharusnya sudah terselesaikan di tahap awal sebelum resmi menjabat. Konyol, begitulah kata yang tepat untuk menggambarkan fenomena ini. “Baru kemarin jadi, sekarang sudah diganti lagi?”, celetuk salah seorang rakyat.

Dari pemberitaan media mengenai tiga nama di atas saja, sudah mengarahkan posisi hati rakyat akan kemana. Barangkali akan ada pembelaan dari mereka yang pro Jokowi, yakni “Bukankah tidak semua rakyat se-perhatian itu dengan kondisi negara?”. Ya, tidak semua rakyat ingat SMI disebut dalam kasus Bank Century. Tidak semua rakyat mengingat pula bahwa Wiranto harus bertanggung jawab atas banyak tragedi kemanusiaan di Indonesia. Tidak semua rakyat pula mengetahui bahwa harusnya fenomena atas Archandra merupakan kasus pelanggaran Undang-Undang. Tapi justru rakyat yang kurang perhatian itu, yang seharusnya diambil kembali hatinya. Mereka menjadi demikian karena terlalu banyak diberi harapan palsu oleh negara. Berkampanye sini-sana, meyakinkan sini-sana, korupsi juga ketika menjabat. Menjanjikan kemajuan bangsa, rakyat Indonesia juga gini-gini aja. Terlebih lagi soal hukum yang tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Rakyat ini sudah lelah dengan perilaku orang yang mengaku negarawan. Mengikuti prinsip operant conditioning dalam disiplin ilmu psikologi, Jokowi harus segera melakukan extinction untuk mengambil kembali hati rakyat. Extinction paling mujarab yang seharusnya dilakukan oleh Jokowi adalah menunjukkan bukti secara konkrit bahwa pemerintahannya mampun menghadirkan kesejahteraan bagi umat. Alih-alih, Jokowi memilih reshuffle kabinet yang justru memicu banyak pihak untuk merespons negatif. Bukan extinction, malah reinforcement (penguatan atas ketidakperhatian terhadap negara) yang terjadi. Jadi, berhasilkah Jokowi mengambil hati rakyat?


***


Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044
SHARE