Berkaca Pada Negara Tak Bersumberdaya

493

Oleh: Suli Hendra, BA5 IPB

“Tongkat, kayu, dan batu jadi tanaman”, begitulah petikan lirik lagu Koes Ploes yang tidak asing lagi di telinga kita. Peribahasa yang menggambarkan betapa suburnya negeri ini. Lahan produktif terbentang luas dari Sabang hingga Merauke. Banyaknya tanaman komoditi dunia diekspor oleh Indonesia, seperti minyak sawit, coklat, manggis dan beberapa produk lainnya. Tidak hanya itu produk pangan di Indoesia pun sangat melimpah diantarnya adalah beras, dengan beberapa wilayah yang merupakan lumbung padi nasional, seperti produksi di daerah Jawa Timur sebanyak (1,1 juta ton), Jawa Tengah (779 ribu ton), Jawa Barat (540 ribu ton), Sulawesi Selatan (490 ribu ton), DKI Jakarta dan Banten (86 ribu ton), Lampung (69 ribu ton), Sumatera Selatan (68 ribu ton), D.I. Yogyakarta (66 Ribu ton), dan D.I. Aceh (46 ribu ton), (kompas.com).

Papua adalah daerah yang memproduksi sagu dengan jumlah terbesar di Indonesia, Menurut catatan departemen kehutanan luas hutan sagu yang ada di Papua mencapai 4.769.548 Ha. Pulau Sumatera dan pulau-pulau lainnya juga mempunyai potensi pangan yaitu umbi-umbian yang mengandung karbohidrat hampir setara dengan nasi. Banyaknya potensi pangan yang ada, wajar jika Indonesia merupakan negara yang subur dan mempunyai kekayaan sumberdaya alam yang melimpah.

Selain pangan dan produk pertanian dari hasil bumi, Indonesia merupakan negara yang mempunyai jumlah batu bara terbesar. Muhammad Hatta mengatakan bahwa cadangan baru bara yang ada di Indonesia dan bisa ditambang mencapai 9 miliar ton atau 1,2% dari keseluruhan total cadangan batu bara dunia. (kompas.com). Cadangan batu bara terbanyak ada di Kalimantan dan Sumatera.

Anugerah dari Sang Pencipta yang membanjiri bumi pertiwi lainnya adalah lautan. Indonesia memiliki garis pantai terpanjang keempat di dunia dengan garis pantai lebih dari 95.000 kilometer dan mempunyai lebih dari 17.000 pulau. Lautan Indonesia seluas 5.176.800 km2 (kompasiana.com), dengan luas lautan tersebut menjadikan Indonesia memiliki jumlah sumberdaya laut yang sangat besar, beragamnya jumlah ikan, karang laut, rumput laut, air laut, mikro alga laut dan masih banyak lagi kekayaan laut lainnya.

Pertanyaanya: “Apakah dengan lahan yang subur, rakyat Indonesia sudah makmur dan sejahtera?”, masihkah Indonesia impor beras dari negara asing?; Apakah dengan laut yang luas masih kurang bagi Indonesia untuk memproduksi garam sendiri? Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2014 total garam impor selama Januari mencapai 278 ribu ton.

Apakah bangsa yang “katanya” eksportir terbesar hanya bisa menjual produknya dalam bahan mentah? Sedangkan olahannya dijual kembali oleh negara asing ke Indonesia dengan harga berlipat ganda. Teringat realita tentang Swiss yang merupakan negara produksi coklat terbaik dan terkenal di dunia. Ketika orang akan mencari coklat mana yang paling enak maka jawabannya adalah Swiss. Tapi apakah kita tahu bahwa Swiss merupakan negara yang kurang subur dan bahkan untuk tanaman kakao pun tidak bisa tumbuh di negara tersebut. Tapi faktanya Swiss bahkan dijuluki sebagai Negara Coklat. Miris memang dengan potensi sumberdaya yang melimpah namun masih banyak masyarakat yang sengsara.

Berkaca pada negara yang tak bersumberdaya merupakan pukulan yang selalu menghantam pikiran, kenapa tidak? Tanpa sumberdaya alam, mereka dapat menjadi negara yang terkenal dengan produk yang ada, tanpa sumberdaya mereka bisa menjadi negara kaya dan sejahtera, Singapura misalnya. Singapura yang baru berdiri sejak 1959 setelah memisahkan diri dari Malaysia sekarang pertumbuhan perekonomiannya jauh di atas Indonesia dan bahkan di Asia Tenggara. Dibandingkan dengan Indonesia, Singapura merupakan negara kecil yang luasnya hanya 710 kilometer persegi atau setara dengan separuh dari luas Danau Toba di Sumatera Utara. Sehingga ketika kita telaah lebih dalam sumber daya manusianya pun jauh lebih kecil dari Indonesia yaitu hanya sekitar 5 juta jiwa.

Menurut data BPS (Badan Pusat Statistik) tahun 2015 jumlah penduduk Indonesia berjumlah 252.370.792 jiwa. Indonesia berada dalam posisi menguntungkan, karena pada tahun 2020 Indonesia mendapatkan bonus demografi. Bonus demografi adalah banyaknya jumlah usia produktif yang dapat bekerja. Sedangkan usia muda semakin kecil dan usia tua belum banyak. Banyaknya jumlah penduduk ini akan menjadi dua pertanyaan besar. Pertama apakah akan membawa berkah? Yaitu banyaknya para SDM unggul yang akan membawa perubahan untuk bangsa ini dengan berbagai inovasi dan kontribusinya. Kedua adalah dengan banyaknya SDM Indonesia apakah akan menjadi bencana? Yaitu banyaknya beban negara untuk menanggung kebutuhan rakyatnya.

Singapura dengan SDM yang sedikit, apalagi Sumber Daya Alamnya (SDA) yang sangat jauh dari Indonesia terbang mengangkasa meninggalkan kita. Lagi-lagi kita bertanya, faktor apa yang meyebabkan semua terjadi? Masih adakah cahaya terpancar untuk menerangi negeri yang terperangkap dalam gelapnya keberlimpahan sumberdaya? Lalu solusi seperti apa yang dapat membawa Indonesia menjadi negara sejahtera bahkan menjadi negara adidaya di Asia?

Berkaca pada negara tak bersumberdaya, Swiss dan Singapura merupakan contoh kecil negara maju tanpa modal sumberdaya alam. Kilat kesuksesan yang dicapai merupakan peran besar rakyatnya.

Modal SDA yang bertebaran dipenjuru negeri ini dapat dioptimalkan oleh rakyat indonesia jika mengerti bagaimana cara memahami potensi untuk mengembangkannya. Sumberdaya alam Indonesia dapat dikelola jika sumber daya manusianya mendukung untuk memanfaatkan dan mengembangkannya. Oleh karena itu dibutuhkan sumberdaya manusia unggul dan berkualitas yang dapat mengelola sumberdaya yang ada melalui teknologi canggih dengan hasil yang teruji.

Indonesia dapat dibangun dengan mimpi-mimpi besar para pejuang rakyatnya. Seperti yang disampaikan oleh Marwah Daud yang merupakan anggota DPR RI tahun 1992. “Mimpi besar rakyat Indonesia akan menjadi kenyataan jika masyarakat mampu memaknai mimpi mereka dan diiringi dengan schedule dan langkah pasti dalam mencapainya”. Tidak menutup kemungkinan jika rakyat Indonesia mulai dari sekarang menentukan akan jadi apa dirinya ke depan serta bermanfaat untuk bangsa. Seperti yang dilakukan oleh para penerima manfaat Beasiswa Aktivis dan beasiswa SDM Ekspad, Negarawan Muda dari Dompet Dhuafa tanggal 3 Mei 2015 yang lalu. Aktivis yang berasal dari 8 perguruan tinggi negeri terbaik di Indonesia diantaranya adalah IPB, UI, UGM, ITB, UNPAD, UNSRI, UNS dan STEI SEBI mendeklarasikan sumpah negarawan muda di Monumen Perjuangan Rakyat (MONPERA) Palembang.

Sumpah yang diucapkan bukan hanya sekadar sumpah, melainkan sebuah harapan untuk mewujudkan Indonesia jaya pada ulang tahun emas Indonesia ke-100 tahun, tepatnya tahun 2045. Para mahasiswa tersebut menuliskan impian kedepannya sesuai dengan potensi yang mereka miliki dan berguna bagi bangsa dan negara.

Berkaca dari negara tak bersumberdaya, mindset dan perilaku masyarakat Indonesia harus diubah. Negara maju dapat mencapai kesuksesan dengan mengikuti prinsip dasar kehidupan yang meliputi etika, kejujuran dan integritas, bertanggung jawab, hormat pada aturan dan hukum, menghormati hak orang lain, cinta pada pekerjaan, mau bekerja keras dan tepat waktu. Ketika prinsip dasar ini diterapkan maka kita akan mencapai puncak kejayaan bangsa.

Bangsa yang besar tidak akan bisa maju jika hanya satu atau sebagian kecil saja orang yang memikirkan bagaimana caranya keluar dari zona yang mencekam. Lepaskan sifat egois yang membelenggu dan menghambat kesuksesan masa depan. Indonesia membutuhkan sumberdaya manusia yang berpikiran besar untuk memanfaatkan sumberdaya alam yang juga besar. Potensi sumberdaya alam dapat menjadi senjata untuk membangun Indonesia sedangkan potensi diri dapat menjadi perisai dalam menghadapi permasalahan bumi pertiwi.


***


Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044
SHARE