Berkah Bersama Al Quran

0
549

“Selama Al Quran itu masih terpatri dihatimu, Allah Swt tidak akan membiarkanmu hidup menderita Rio  “ ujar Buya Mahmud Pulungan, guru tahfiz di Pesantren Modren Daar al Uluum (PMDU) Kisaran. petuah ini masih terngiang – ngiang di telinga ini sampai saat ini.

Pada tahun 2001, setelah mendaftar di Madarasah Tsanawiyah  PMDU, jauh dari tempat tinggal orangtua.  Saya memulai menghafal Al Quran dibawah asuhan Buya Mahmud, Buya Mahmud sendiri sudah menghasilkan Hafiz-hafiz handal, beberapa murid beliau  berhasil menjuarai Musabaqah Hifzil Quran Nasional dan Internasional. Buya dikenal sangat disiplin dan ikhlas, beliau akan marah jika murid-muridnya bermalas-malasan menghafal Al Quran, beliau juga sangat ikhlas belaiau hanya digaji empat hari dalam seminggu, namun beliau bersedia mendengarkan hafalan al Quran setiap hari.

Ketika masih duduk dibangku kelas I Madrasah Tsanawiyah, Suatu hari saya mengaji Al Quran dengan pengeras suara di Mesjid PMDU, seorang kakak kelas mendatangi saya seraya berkata “kenapa kamu yang membaca Al Quran? bacaan kamu kan belum bagus ”. ucapan ini saya jadikan motivasi supaya lebih giat lagi mempelajari dan menghafal Al Quran, alhasil dengan izin Allah Swt, tidak sampai dua tahun, saya telah menghafal Al Quran sebanyak 18 juz, kemudian Buya Mahmud memberikan kepercayaan kepada saya sebagai Imam tetap Mesjid PMDU, biasanya seorang Imam harus mempunyai hafalan yang banyak dan minimal beerada di kelas I Madarasah Aliyah, karena surah yang kami baca dalam shalat jahar (magrib, isya, subuh) berurut dari Surah Al Baqarah hingga An Naas, namun berbekal hafalan tadi saya dipercaya sebagai Imam meski masih duduk di kelas II Tsanawiyah. Sampai akhirnya ketika saya sudah mengkhatamkan Al Quran saya dipercaya menjadi asisten Buya Mahmud mendengarkan setoran hafalan Al Quran, ketika itu saya masih kelas I Aliyah sebagian santri yang setoran waktu itu adalah kakak kelas saya .

PMDU bukanlah Pondok khusus menghafal Al Quran, layaknya pesantren Modren, PMDU mempunyai seabrek aktifitas santri dari pagi hingga malam hari, Kegiatan belajar mengajar (KMB) dimulai pukul 7.00 pagi hingga pukul 12.00 siang. Kemudian shalat Zuhur dan makan siang, pukul 2.00-3.00 diisi dengan ketrampilan agama selain menghafal Al Quran. Selepas ashar santri bebas beraktifitas kemudian dimalam hari pukul 8.00-10.00 semua santri kembali ke lokal masiing- masing tuk mengulangi pelajaran (muraja’ah).

Meski  aktifitas santri padat, kami yang terdaftar sebagai murid tahfiz, harus menyetorkan hafalan Al Quran setiap harinya, kami mengoptimalkan setiap waktu yang ada, dalam benak kami setiap ada kesempatan kami harus pergunakan waktu itu dengan sebaik-baiknya untuk menghafal Al Quran, karena kami tidak mempunyai waktu yang banyak, kami sendiri mengistilahkannya dengan “curi-curi waktu”, namun dengan keuletan Buya Mahmud dan kegigihan santri-santrinya banyak diantara mereka yang khatam mengafal al Quran 30 juz dalam waktu empat, tiga bahkan dua tahun.

Dalam jangka dua setengah tahun, alhamdulilah saya mengkhatamkan Al Quran pada Bulan Maret 2014, ketika itu saya masih berumur 14 tahun, seteleah itu saya sering mengikuti even-even Musabaqah Hifzil Quran dan Musabaqah Tafsir Al Quran. Dan alhamduliilah saya sering kali menjuarai Kategori 20 dan 30 juz Al Quran. Atau kategori 30 juz beserta tafsirannya. Dari Musabaqah ini saya semakin tertarik mendalami tafsir Al Quran dan ilmu –ilmu yang mendukung tafsir itu itu sendiri, Ditambah lagi nasehat-nasehat guru di Pondok agar saya mengambil Jurusan tafsir jika sudah masuk Perguruan Tinggi.

Tibalah saatnya, tahun 2007 kami resmi menjadi wisudawan PMDU, saya dan beberapa teman mendaftarkan diri tes ke Timur Tengah. Tes pertama diadakan di UIN SUMUT sedangkan tes kedua di Kedutaan Besar Mesir tahun depannya. Ketika mengikuti tes lisan (syafawi) di Kedubes, salah satu syeikh bertanya berapa jumlah hafalan Al Quran saya, “30 juz syeikh” timpalku spontan. Setelah itu dia memuji saya dan memanggil Duta Besar Mesir di Indonesia dan beberapa syeikh yang bertugas pada hari itu. Mereka menanya saya beberapa pertanyaan diluar materi ujian seperti pekerjaan ayah dan ibu, pendapat saya tentang Ahmadiyah dan lain lain.

Setelah menunggu beberapa bulan, akhirnya calon mahasiswa yang lulus diumumkan dan saya termasuk salah satu darinya. 28 Desember 2008, saya tiba di Kairo dan resmi menjadi Mahasiswa Al Azhar, Ramadhan 2009 saya dipercaya menjadi Imam Mesjid di Daerah Damardays, Kairo. Dan pada tahun 2013-2014 menjadi Imam tetap di daerah Roksi. Mengenai perkuliahan, saya sangat tebantu dengan hafalan Al Quran, karena beberapa mata kuliah di Fakultas Ushuluddin sangat banyak membutuhkan dalil Al Quran.

Pada tahun 2011 saya mendapat predikat Jayyid jiddan, lagi- lagi perolehan ini tidak bisa dipisahkan dar nilai mata kuliah Al Quran dan tajwid keduanya sama –sama mendapat nilai 100 (Mumtaz). Pada tahun 2012 saya mengikuti Musabaqah Intenasional antar pelajar Al Azhar  dan saya mendapat predikat ke VII waktu itu. Ditahun yang sama saya mengkhatamkan Qiraat Asyrah (varian qiraat yang sepuluh) dan wisuda Universitas Al Azhar bulan September 2012.

2013 -2014 saya dan beberapa teman dipercaya sebagai imam tetap dan guru tahfiz di masjid At At Taqwa Roksi. Pada tahun ini (2016) insyallah saya diberi amanah untuk menjadi Imam selama ramadhan di Negeri Johor malaysia. Ini semua tetunya berkat  hafalan Al Quran.

“ Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anuge- rahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi”. (Q S Faathir : 39)

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al Quran dan mengajarkannya ” (H.R Muslim)

Kairo, 29 Mei 2016. Oleh :

Rio Gunawan
Fakultas Ushuluddin, Jurusan tafsir (Tesis)
Penerima Manfaat Al Azhar Scholaship 2014-2018.

 

BAGIKAN

LEAVE A REPLY