Berkah Pelamban Tareh Sungai Boding

624

Oleh: Sephartono

Peluh masih mengalir deras di wajahnya. Sesekali ia menyeka dengan lengan bajunya yang telah usang karena jarang diganti. Sejenak berhenti, mengatur nafas, kemudian ia mengayuh kembali sepeda tuanya menembus gelap dan dingin yang menyergap.

Setiap hari, selepas Shalat Shubuh, Abah keluar menuju ladang karet untuk menyadap getah. Ia harus melalui jalan terjal bebatuan, melintasi rawa dan pelambun tareh (jembatan kayu yang sudah terkelupas kulitnya karena termakan usia) yang membentang di atas sungai Boding. Tak banyak uang yang ia hasilkan, tapi semangatnya untuk menghidupi keluarga dan menyekolahkan anak-anaknya agar sukses dikemudian hari mengalahkan segalanya.

Aku memang terlahir dari keluarga sederhana di Desa Tanah Rekah, desa kecil di Kabupaten Mukomuko, Bengkulu. Desa Tanah Rekah kini sudah berganti nama menjadi Desa Tanah Harapan. Ya, Kabupaten Mukomuko yang semula menjadi bagian dari Bengkulu Utara memang “tanah harapan” bagi warga di luar Bengkulu yang dimobilisasi oleh Kolonial untuk menggarap lahan di sana. Daerah ini menjadi tujuan utama transmigrasi dari Jawa dan berbagai daerah lainnya.

Ayahku memang luar biasa, ia mau berbuat apa saja demi kemajuan anak-anaknya. Tak lekang ingatanku ketika Abah hilir mudik, mendatangi tetangga dan sanak keluarga di kampung untuk mencari pinjaman uang demi membiayai sekolahku. Oleh karenanya, jerih payah ayahku tak akan kusia-siakan. Sejak kecil aku bertekad untuk menjadi anak yang berprestasi. Setiap waktu kumanfaatkan untuk belajar demi prestasi di sekolah. Alhamdulillah, hasil rapor pertamaku di SD aku menempati ranking kedua. Tak puas dengan posisi itu, aku menggeber semangat belajarku, hingga akhirnya bisa menyalip ke ranking pertama. Prestasi itu dapat kupertahankan hingga tamat SD.

Selepas SD aku berhasil mendapat kesempatan mengenyam pendidikan di SMP favorit, SMPN 1 Mukomuko. Sekolah ini terletak di ibu kota kabupaten, dan aku harus bersepeda sekurang-kurangnya 4 kilometer untuk mencapai sekolah. Meski bangga, sempat juga aku minder ketika pertama kali kujejakkan kaki di sekolah ini. Kulihat banyak calon teman-temanku yang berasal dari keluarga kaya, mereka diantar dengan motor atau mobil ke sekolah, mereka anak pejabat kabupaten, sementara aku hanya anak penyadap getah dan untuk ke sekolah hanya dengan sepeda butut pemberian ayahku. Lebih-lebih banyak pula anak berprestasi di sekolah ini.

Tapi perasaan itu tak lama menghinggapiku. Tekadku untuk menjadi yang terbaik diantara teman-temanku tertanam kuat di sanubari. Tiada hari tanpa belajar, tiada waktu luang yang kubuang percuma selain untuk belajar. Dan lagi-lagi, aku tak ingin menyia-nyiakan kerja keras orang tuaku di kampung. Alhamduillah, Allah membalas jerih payahku dengan prestasi. Di semester pertama aku meraih peringkat 2 di kelas. Dan seterusnya, aku meraih juara 1 di kelas. Aku juga menjadi juara umum di sekolah ketika kelas 2 semester 2.

“Tidak hanya itu bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian, Sep Hartono juga sebagai juara pertama Olimpiade Sains Fisika Tingkat Kabupaten Mukomuko yang akan berangkat ke Bengkulu beberapa minggu ke depan. Mohon doanya mudah-mudah beliau bisa mengharumkan nama Kabupaten Mukomuko di tingkat Provinsi Bengkulu,” demikian pengumuman oleh Ibu Sri Utami, Kepala SMPN 1 Mukomuko yang tak pernah kulupakan.

Selepas tamat SMP, masalah laten kembali menyapa. Keluargaku dibuat bingung karena biaya untuk melanjutkan ke jenjang SMA tidaklah murah. Jangankan untuk biaya sekolah, untuk kebutuhan sehari-hari saja kami harus pandai-pandai berhemat. Aku bahkan kerap kali menyelam sungai untuk mendapatkan lokan (sejenis kerang yang hidup di air tawar) untuk dijual menambah uang sakuku. Akhirnya, pinjaman uang tetangga kembali menjadi andalan. Abah rela menahan malu karena harus kembali berutang. Semua dilakukan untukku. Tak terasa air mata ini meleleh melihat perjuangan ayahku.

Tak banyak prestasi akademik yang kubanggakan. Aku hanya menempati posisi 4 pada semester pertama dan 6 pada semester kedua. Saat itu aku lebih aktif dikegiatan ekstra kurikuler seperti klub sepak bola dan RISMA (Remaja Islam Masjid). Tapi hikmahnya, pertandingan demi pertandingan dalam liga pelajar atau pekan olah raga daerah (POPDA) yang kuikuti dapat menjadi “penghasilan” untuk menambah tabunganku. Saat itu, uang jajan yang diberikan orang tuaku hanya Rp 10 ribu/pekan.

Aktivitasku di EksKul ternyata membuat prestasi akademikku terus menurun. Akhirnya kuputuskan untuk berhenti dan fokus belajar pada mata pelajaran. Benar saja, peringkatku kembali terkatrol meraih 3 besar di semester pertama kelas XII.

***

Mak, apakah setelah tamat SMA aku bisa lanjut kuliah?” tanyaku kepada ibuku di suatu sore. Terus terang ketika teman-temanku tengah asik mempersiapkan diri dan merancang memilih kampus mana yang disukai, aku malah didera kebingungan. Aku sadar, ekonomi orang tuaku pas-pasan, sulit rasanya bisa membiayai kuliahku yang kudengar mahal.

“Bukan mak dan Abah tidak mau menguliahkanmu, tetapi mak tidak memiliki uang untuk membiayai kuliahmu. Daripada nanti setelah masuk kuliah kamu harus terputus di tengan jalan, lebih baik tidak sama sekali,” tukasnya.

Lesu. Aku hanya terdiam mendengar jawaban ibuku. Aku hanya bisa pasrah, tak mungkin aku memaksa mereka untuk kembali berutang, sementara utang sebelumnya juga belum lunas terbayar.

Hari kelulusan semakin dekat, informasi dan tawaran PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan) dari berbagai kampus tak menarik minatku. Sementara teman-temanku yang menduduki prosisi 10 besar di kelas tengah sibuk menyiapkan berkas persyaratan penerimaan mahasiswa jalur undangan ini. Namun guruku sepertinya memperhatikanku, atas sarannya aku ditekankan unutk mengikuti jalur penerimaan ini. Saat itu, Universitas Andalas Padang yang memberi tawaran.

Mak, ada informasi PMDK dari UNAND Padang. Apakah aku boleh mengambil kesempatan ini?” kataku kepada ibu sesampainya dari sekolah.

“Kalau mau coba-coba, silahkan,” katanya setelah beberapa sat terdiam.

“Kalau hanya coba-coba, ndak bisa Mak. Kalau seandainya aku diterima dan tidak jadi kuliah, maka sekolah akan diberi sanksi untuk tahun selanjutnya,” timpalku.

Mak hanya terdiam. Tapi sejurus kemudian ia kembali berkata, “coba aja dulu, barangkali nanti kita ada rezeki untuk membiayamu.”

Sebenarnya aku tak tega menyampaikan ini kepada ibuku, tapi aku tak mau menyia-nyiakan kesempatan yang datang kepadaku. Aku pun menyiapkan semua berkas pendaftaran yang dibutuhkan. Aku memilih jurusan Ilmu Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian di pilihan pertama, dan Agronomi di pilihan kedua. Aku sengaja memilih jurusan tak popular, karena menurutku biaya di Fakultas Pertanian tak semahal fakultas lain.

Selepas Ujian Nasional, sambil menunggu pengumuman PMDK, kumanfaatkan waktuku membantu Abah menyadap karet di kebun. Rupiah demi rupiah hasil sadapan getah kutabung, tak banyak memang, tapi setidaknya ada usaha untuk bekal nanti. Ketika di kebun inilah aku mendapat informasi bahwa aku diterima di UNAND. Segera saja kucari kebenaran informasi itu ke sekolah, dan Alhamdulillah, aku memang diterima di jurusan yang kuinginkan.

Waktu pendaftaran ulang bagi mahasiswa baru yang diterima melalui jalur PMDK UNAND semakin dekat. Tapi Abah belum juga memiliki uang yang cukup untuk biaya pendaftaran ulang dan ongkos keberangkatanku ke Padang. Kami sekeluarga berkumpul untuk mencari solusi atas permasalahan ini. Setelah berdiskusi cukup lama, akhirnya ayah menawarkan solusi untuk menjual sebidang tanah kosong kami yang jauh dari kampung. Solusi ini disetujui oleh ibu dan kakakku. Hatiku semakin miris karena keluargaku semakin terbebani dengan kuliahku.

Hingga hampir waktu keberangkatan, tanah kami belum juga laku terjual, akhirnya lagi-lagi ayahku terpaksa meminjam uang pada tengkulak, dengan syarat setelah tanah seluas ¾ hektar itu laku terjual langsung dikembalikan. Sekali lagi, kejadian ini membuat tekadku untuk berhasil semakin kuat. Aku benar-benar tak ingin mengecewakan semua orang yang telah berusaha keras membantuku, mengantarkanku menjadi seorang mahasiswa.

***

Hari demi hari kulalui sebagai mahasiswa baru. Ada rasa bangga, ada pula rasa haru yang menyertai. Bagaimana tidak, aku seorang anak penyadap karet dengan ekonomi sangat lemah dapat juga kuliah di kampus bergengsi di Sumatra. Tapi di sisi lain, aku begitu banyak menyusahkan kedua orang tua, banting tulang peras keringat untuk mecari biaya kuliahku.

Selang beberapa waktu, kehidupan terasa sangat keras di negeri rantau. Segala kebutuhan harus kubeli, terutama kebutuhan pokok seperti makanan, sementara persediaan uangku semakin tipis. Sebenarnya sejak SMA aku sudah menjalani bisnis kecil-kecilan dengan berjualan pulsa telepon seluler, tapi itu tak cukup. Orang tuaku di kampung juga semakin telat mengirim uang, bahkan nilainya juga semakin mengecil.

“Hujan terus mengguyur, jadi Abah tak bisa menyadap karet di kebun,” demikian kata Abah mengabarkan. Aku paham, sejak awal aku memang tidak ingin lebih menyusahkan kedua orang tuaku. Oleh karenanya, berapa pun kiriman uang yang diberikan, kuterima dengan lapang dada.

Aku pun harus memutar otak, bagaimana caranya mencari penghasilan tambahan selain berjualan pulsa. Alhamdulillah, Allah kembali memberi jalan. Aku bisa menjual nasi goreng, lontong gulai, bubur kacang hijau, dan nasi uduk di asrama. Sistemnya aku hanya menjual berbagai jenis sarapan tersebut yang berasal dari salah satu rumah makan dengan keuntungan per bungkus Rp250,-.

Setiap pagi aku harus menenteng bungkusan sarapan berkeliling asrama dari lantai dasar hingga lantai empat. Bagiku hal itu tidak masalah, yang terpenting ada pemasukan untuk bertahan hidup. Selain itu, setiap sore setelah shalat maghrib aku juga berjualan koran lokal, dan salah satu surat kabar nasional dengan sistem yang sama, lumayan, keuntungannya Rp500,- per koran yang terjual. Hal itu yang aku geluti selama kurang dari 1 tahun. Hasil dari usaha tersebut cukuplah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Menjalani puasa, dan makan hanya dengan garam sudah biasa bagiku. Atau jika bisa membeli ikan, kupotong menjadi tiga bagian, agar bisa dimakan tiga kali. No pain no gain, idiom ini sepertinya menjadi kata ampuh bagi orang sepertiku untuk bertahan. Aku yakin, suatu saat akan meraih manisnya hasil jerih payahku selama ini.

Pertolongan Allah memang kerap datang di waktu yang tak diduga-duga. Ceritanya, suatu ketika Rektor UNAND mengajak Menteri Perindustrian RI datang mengisi kuliah subuh di Masjid Nurul ‘Ilmi Universitas Andalas. Alangkah terkesimanya sang menteri melihat ribuan mahasiswa asrama yang shalat berjamaah ke masjid. Saking senangnya hati sang menteri, ia memberikan hadiah satu buah set computer bagi mahasiswa yang paling rutin datang dan aktif di kegiatan masjid.

Allahu Akbar, tak pernah terpikirkan sebelumnya dan bukan perencanaanku, ternyata pembina asrama dengan bukti absensi yang dimilikinya menunjuk namaku sebagai penerima hadiah dari Bapak Menteri.

***

Sejak awal menjadi mahasiswa, sebenarnya aku sudah memburu berbagai informasi beasiswa. Beberapa kali pula aku berkesempatan melakukan wawancara dengan pemberi beasiswa, tapi Allah berkehendak lain, aku belum ditakdirkan untuk meraihnya. Pernah juga aku mengirimkan berkas beasiswa melalui fakultas, tapi ketika kutanyakan kepada petugas, ternyata berkasku hilang. Aku hampir putus asa, rasanya ingin mundur saja dari kampus, berhenti kuliah. Bersyukur pembina asrama menasihatiku untuk bertahan. “Kalau memang nanti benar-benar tidak ada lagi dana untuk bayar semester dua, jual saja komputer pemberian Bapak Menteri itu,” katanya memberi solusi.

Perjuanganku masih sangat keras, kami hanya diizinkan tinggal di asrama mahasiswa selama 1 tahun. Setelah prosesi perpisahan dengan rekan-rekan asrama lainnya, aku bingung, hendak di mana aku tinggal. Uang yang kumiliki tak cukup jika harus membayar sewa kos. Tapi lagi-lagi Allah menunjukkan kuasa-Nya, di tengah kebingunganku, tiba-tiba ada tawaran dari ketua pengelola asrama untuk tinggal di rumah makan miliknya dan bantu-bantu di sana. Tanpa pikir panjang, kuterima saja tawaran itu. Yang penting aku bisa berteduh tanpa harus mengeluarkan uang sedikit pun.

Tapi, kesibukanku di rumah makan, melayani pembeli, membersihkan meja, hingga mencuci piring, membuatku abai terhadap tugas-tugas kuliah. Akhirnya setelah tiga bulan lamanya, aku memutuskan mengundurkan diri. Terlebih, aku mendapatkan tawaran tinggal di Wisma Assyabab Forstudi (Forum Studi Dinamika Islam) tanpa uang muka. Maha Suci Allah, aku dipertemukan dengan saudara-saudara yang selalu menguatkanku untuk selalu tegar menghadapi ujian dari Allah, dan terus memotivasiku untuk meraih kesuksesan.

Skenario Allah memang luar biasa, dari sinilah aku mendapat informasi bahwa Beastudi Etos Dompet Dhuafa membuka kesempatan beasiswa karena ada penambahan kuota. Dan setelah melalui berbagai rangkaian seleksi, akhirnya aku juga diterima menjadi bagian dari Etos. Aku pun harus tinggal di asrama khusus Etoser—demikian sebutan kami—yang letaknya tak begitu jauh dengan asrama Assyabab.

Rasa bangga dan suka cita hadir menghiasi hari-hariku sejak diterima sebagai bagian keluarga besar Etos. Nuansa kehidupan terasa berubah dengan dinamika yang ada di asrama. Tinggal satu rumah dengan saudara-saudara yang berasal dari berbagai fakultas, berbagai daerah, dan berbagai perilaku. Harmoni kehidupan di asrama terasa bagaikan aku berada di Asrama Mahasiwa UNAND dahulu, akan tetapi di Asrama Etos memiliki nilai lebih. Nilai lebih yang disuguhkan Etos selain dari perbaikan finansial yang kuterima setiap bulan, ia juga memberikan bimbingan yang maksimal kepada para Etoser. Kami dibekali berbagai pembinaan, mulai dari agama hingga soft skill, dididik untuk menjadi mahasiswa yang mandiri, produktif dan visioner.

Kami juga dibekali dengan materi keorganisasian, entrepreneurship, akademik dan sosial. Pembinaan di bidang entrepreneurship misalnya, telah membuka pemikiranku untuk menjadi seorang pengusaha, dan implementasi yang telah pernah aku lakukan adalah pernah berjualan beras, berjualan roti, berjualan makanan ringan. Bahkan timku pernah memenangkan even nasional sebagai Proposal Program Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan yang didanai oleh Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional dengan judul “Menyulap Limbah Sabut Kelapa Menjadi Cocomesh Sebagai Media Tanam Dalam Arsitektur Pertamanan”.

Lebih dari itu, buah dari pembinaan di bidang akademik, aku mampu menyelesaikan perkuliahan aktif pada semester 7, dan Alhamdulillah pada 17 Juni 2013 aku memperoleh gelar Sarjana Pertanian. Alhamdulillah, beberapa prestasi juga berhasil kutorehkan setelah menjadi Etoser. Pada tahun 2011 aku terpilih sebagai “The Best Student Award Fakultas Pertanian Universitas Andalas” dan “The Big Ten Best Student Award Universitas Andalas”. Apa yang aku dapatkan tersebut merupakan buah dari kerja keras, perjuangan dan pengorbanan. “Semua yang telah aku raih, kupersembahkan untukmu ibu dan untukmu ayah. Insya Allah hari esok anak kampung ini akan mengukir sejarah baru untukmu!!!”.

“Segala Puji Bagi Allah Tuhan Semesta Alam, Terima Kasih Pelamban Tareh Sungai Boding”


***


Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044
SHARE