Bermimpi adalah Solusi

0
679

Oleh: Elis Nuraeni, Bakti Nusa Angkatan 6 Regional Bandung

Selamat hari anak nasional!. Inilah fase kehidupan yang selalu diidentikan dengan masa bermain dan bersenang-senang. Sudah menjadi barang tentu bahwa setiap anak bagaikan bahan baku yang dapat dijadikan apa saja. Proses kehidupan, karakter pribadi serta lingkungan akan menjadi sebuah fungsi yang mencipkan kepribadian anak tersebut. Anak-anak tidak hanya berperan sebagai konsumen yang kelak aka menghabiskan Sumber Daya Alam negara saja namun anak anak adalah bibit pengelola bangsa dan negara di kemudian hari.

Dewasa ini dunia anak nampaknya tak lagi se-“membahagiakan” dulu. Mari kita komparasi antara generasi 90-an dan generasi abad 21 ini. Teknologi seperti psp, ps dan lain sebaginya tentunya telah akrab dengan tangan tangan mungil anak anak zaman sekarang. Dua orang anak yang sedang menggenggam psp ternyata lebih memilih seru sendiri-sendiri tanpa menghiraukan teman disampingnya. Hal sesederhana ini bukankah senantiasa mendidik anak untuk lebih individualis?. Tidak salah jika gotong royong booming ketika jaman megawati karena pola pribadi bangsa dibentuk dari kebersamaan ketika masa kanak-kanak d era 80-90an. Permainan anak jaman dulu misalnya, lebih melibatkan banyak orang dan interaksi satu sama lain. Petak umpet, galah, dan lain sebagainya.

Sukses suatu bangsa adalah sukses akumulasi individu. Sebaris kata-kata yang selalu terngiang ketika melihat betapa porak porandanya kasus anak atau remaja zaman sekarang. Pornografi, kekerasan seksual atau kasus semacamnya sudah menjadi hal yang lumrah dikalangan penikmat informasi. Artinya, ternyata sukses individulah yang harus kita bentuk saat ini. Kita terkadang terlalu takut untuk merancang masa depan. Takut gagal, takul terlalu muluk-muluk, taku, takut dan takut. Padahal justru kita perlu takut ketika kita tidak bisa merencanakan, tidak bisa lagi bermimpi.

Berbicara tentang mimpi pada anak anak, dimensi tak terbatas yang memang terlau indah untuk dilewatkan. Bukankah seringkali kita tanyakan pada bocah yang duduk di bangku taman kanak-kanak perihal cita cita?. Pengen jadi dokter, jadi pilot, jadi astronot, jadi professor. Mimpi yang semakin hari semakin mengerdil. Dibangku SMP/SMA mimpi itu tak selantang ketika masih tk dulu. Tiba-tiba muncul pertanyaan “aduh kira-kira bisa ga ya? Mungkin ga ya?” dan nada pesimis lainnya. Bahka ketika menjadi mahasiswa mimpi itu semakin menciut “yang penting mah lulus”. Kalo sudah begini, jangan berbicara tentang merubah peradaban jikalau bermimpi saja tidak berani.

Mimpi bagaikan bahan bakar untuk bergerak. Umumnya mimpi menjadi sebuah motivasi pribadi yang memberikan dampak positif. Membangun mimpi ketika anak-anak menjadi sangat penting karena dibalik mimpi itu, ada sebuah pandangan optimisme pemuda masa depan. Tidak akan ada lagi kasus yang berkenaan dengan kriminalitas yang dilakukan anak jika masing-masing anak diarahkan untuk memperjuangkan mimpi. Impian yang dibesarkan oleh orang tua dan lingkungan tentunya akan membuat seorang anak senantiasa menuju apa yang dia impikan. Mimpi adalah solusi bagi permasalahan negara saat ini. Bukan Mimpi bunga tidur namun mimpi yang menggerakkan, mimpi yang menggetarkan hati, dan mimpi yang akan mengubah peradaban.

BAGIKAN

LEAVE A REPLY