Bermimpilah, Berusahalah

295

Bermimpilah maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu. (Arai, Sang Pemimpi)

Ibu, sosok wanita yang sangat kusayangi hanya bisa tersenyum dan menangis dalam hati ketika tetangga-tetangga mencibir keinginan untuk menyekolahkan anak-anaknya hingga bangku kuliah. Salah seorang tetangga berkata, “Opo yo iso nyekolahke anake tekan kuliah, lha wong utange we durung dibayar (Apa bisa menyekolahkan anaknya sampai kuliah mana hutangnya saja belum dibayar)”. Ibu kala itu hanya berdoa supaya Allah mengizinkan anak-anaknya mengenyam bangku kuliah dan menjadi orang sukses di masa depan.

 

Keluarga yang Luar Biasa

Ibu telah lama menjadi single parent sejak Ayah meninggal saat aku kelas 6 SD. Sejak saat itu ibu menjadi tulang punggung keluarga kami dengan berjualan nasi kuning dan bubur kacang hijau. Penghasilannya memang tak seberapa, tapi ibu memegang erat-erat wasiat Bapak agar kami –empat orang anaknya— bisa mengenyam pendidikan hingga bangku kuliah.

Waktu terus bergulir mengantarkan sebuah masa dalam kehidupan. Kakak pertama telah berhasil menjadi guru lulusan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dan sejak saat itu ia membantu ibu untuk menyekolahkan ketiga adiknya. Selang dua tahun Kakak kedua pun menyusul kakak pertama menjadi seorang Sarjana Ekonomi dari Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS). Disusul kakak ketiga yang pada 2009 menjadi Sarjana Psikologi dari Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY). Sebuah nafas lega bagi ibu seorang tamatan SD yang akhirnya mampu mewujudkan satu per satu wasiat bapak.

Tinggallah aku yang saat itu masih bimbang. Aku tahu keluarga akan berusaha membiayai perkuliahanku meski dengan berbagai keterbatasan yang kami miliki. Namun di sisi lain aku tidak mau membebani mereka yang telah memiliki banyak kebutuhan dan tanggungan untuk dipenuhi. Sudah sejak lama aku ingin bekerja sehingga bisa hidup mandiri. Tapi ibu dan ketiga kakakku selalu melarang. Mereka selalu memintaku untuk sungguh-sungguh dalam belajar dan tidak perlu memikirkan uang sekolah. Aku memang patut bersyukur karena Allah memberikan begitu banyak kemudahan dalam pendidikan. Sejak SD hingga SMA aku menerima beasiswa dari orang tua asuh melalui Rumah Zakat. Donasi yang aku terima setiap sebulan sekali cukup membantu paling tidak dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari dan buku-buku sekolah.

 

Berjuang Meraih Mimpi

Salah satu cita-citaku adalah mendirikan rumah sehat Diabetes Mellitus (DM) khusus bagi orang yang kurang mampu dalam perawatannya. Aku berharap orang-orang yang kurang mampu dapat menikmati kualitas hidup yang lebih baik dengan perawatan yang optimal. Hal  yang memotivasi untuk mewujudkan cita-cita ini adalah kepergian bapak. Bapak meninggal akibat komplikasi penyakit Diabetes Mellitus (DM) yang berdampak pada terganggunya fungsi ginjal dan jantungnya. Saat itu uang yang kami miliki habis digunakan untuk berobat karena bapak harus menjalani terapi medikasi yang kompleks. Jatuh sakit dan terhimpit biaya adalah situasi yang cukup membekas di hati. Sehingga aku pun ber-azzam bahwa cita-cita untuk memiliki rumah sehat ini harus diwujudkan.

Aku pun memilih Program Studi Ilmu Keperawatan sebagai  pilihan pertama saat mendaftar Ujian Masuk (UM) UGM. Aku masih ingat, jantung ini berdebar saat menelusuri satu per satu nama di daftar pengumuman UM di surat kabar pagi itu. Harap-harap cemas dan berdoa dalam hati semoga namaku tertera di sana sebagai peserta yang lolos ujian masuk. Beberapa menit kemudian aku menemukan nama Erviana Dewi Muslikhah berada di antara ratusan nama yang tertera di halaman koran itu. Allahu Akbar! Tak bisa kubendung rasa syukur yang mendera hatiku. Maka refleks aku mencium lantai tempatku berdiri, sujud syukur. Aku pun segera meghambur ke pelukan kakak serta ibuku. Betapa berartinya pengumuman kelulusan ini, karena bagi warga di desaku UGM merupakan kampus yang hampir mustahil digapai. Kata orang, aku ibarat punguk yang merindukan rembulan.

 

Etos, Lentera Harapan

Meski aku telah menggapai rembulan yang kuinginkan, tetap saja ada kabut tebal kekhawatiran yang menyelimuti impianku. Ya, kabut itu adalah soal biaya kuliah. Kata orang biaya kuliah di program Keperawatan, Fakultas Kedokteran UGM, cukup mahal. Selain harus membayar uang SPP dan BOP setiap semester, harga buku-buku penunjang juga cukup tinggi. Namun aku selalu percaya, pertolongan Allah akan selalu datang bagi hamba-hambanya yang percaya.

Melalui info dari kakak ipar, pertolongan Allah pun benar-benar datang melalui Beastudi Etos. Ibarat lentera di malam gelap, aku merasa menemukan harapan. Dengan azzam yang penuh aku mendaftarkan diri. Tahap seleksi yang harus dijalani cukup panjang.  Ada rasa takut dan cemas yang  sempat menghantui ketika tahu bahwa dari ratusan pendaftar hanya akan lolos 10-15 orang saja. Namun aku berusaha untuk selalu menjaga prasangka yang baik kepada Allah.

 

Menjadi Etoser, Meraih Mimpi

Setapak langkahku dalam mencapai impian kian dekat. Di tengah keterbatasan yang ada, Beastudi Etos kian terang memenuhi harapan dan doa yang kupanjatkan. Alhamdulillah Rabb. Aku masuk menjadi salah satu bagian keluarga Beastudi Etos Jogja bersama dengan 12 orang lainnya yang memiliki latar belakang tidak jauh berbeda denganku. Akhirnya aku pun mendapat panggilan sebagai ‘Etoser’, panggilan khusus bagi penerima Beastudi Etos.

Banyak hal baru dalam lembaran hidupku saat berada di Etos. Asrama yang menjadi tempat bernaung selama tiga tahun telah banyak mendidikku menjadi lebih dewasa. Berada satu atap dengan berbagai karakter dan sifat yang berbeda, membuat warna-warni dalam kanvas kehidupan Etos semakin indah. Suasana kekeluargaan yang dibangun begitu dalam dan erat sehingga tak kan pudar oleh zaman. Lebih dari itu, aku dipertemukan dengan etoser- etoser lain yang tersebar di 11 PTN terbaik di negeri ini. Adanya event Temu Etos Nasional (TENS) seolah memberikan spirit yang luar biasa tentang arti persaudaraan meski kami berasal dari daerah-daerah yang tersebar di berbagai Indonesia. Saya bersyukur, ada banyak mahasiswa dengan potensi luar biasa serta kemauan yang besar untuk mengubah negara ini menjadi lebih baik.

Kami menerima pembinaan yang setidaknya meliputi empat domain yakni agama, akademik, pengembangan diri, dan sosial. Dengan pembinaan itu, setiap etoser diharapkan dapat hidup mandiri dan berkontribusi kepada masyarakat. Meski awalnya merasa ‘terpaksa’ mengikuti program-program tersebut, namun kebiasaan-kebiasaan baik yang terbentuk justru menjadi hal yang paling kusyukuri.

***

Tiga tahun telah berlalu…

Sekarang hampir genap satu tahun aku menyandang status sebagai alumni Beastudi Etos. Ada sesuatu yang hilang dan kurindukan: kebersamaan, hirup pikuk asrama, program-program pembinaan, dan lain sebagainya. Namun justru dari sinilah kehidupan yang sebenarnya dimulai. Tantangan untuk hidup mandiri adalah hal yang harus benar-benar dijalani. Bergaul dan bermasyarakat yang sebelumnya diajarkan lewat desa produktif dengan kegiatan posyandu, mengajar TPA, memberi les privat dan sebagainya kini harus terus dilanjutkan. Pun usaha mengatur waktu dalam sholat berjamaah, tahsin dan  hafalan yang sebelumnya selalu diingatkan oleh pendamping asrama kini harus tetap dijalani dengan penuh kesadaran diri.

Etos telah membuatku mampu meraih mimpi berkuliah di UGM.  Etos telah membuatku menjadi hamba Allah yang jauh lebih baik. Bahkan kini aku pun telah mampu mandiri dengan penghasilan sendiri. Namun aku tak boleh berhenti. Aku terus berlari mengejar mimpi-mimpi lain yang belum tercapai. Tomorrow must be better. Aku berusaha untuk melakukan hal yang lebih baik dari hari ke hari. Maka bermimpilah, berusahalah, karena ada Allah yang kuasanya begitu nyata. Etos, more than Excellent!

Erviana Dewi Muslikhah

SHARE