Best Practice: Waste Management ala City of Vancouver

310

Oleh: Karina Oriza Herastuti, Mahasiswa Semester 6, Perencanaan Wilayah dan Kota, Universitas Gadjah Mada

Salah satu dari 8 elemen perwujudan Green City adalah aspek Waste Management. Green lifestyle pun turut memberi andil dalam perwujudan Green City terutama pada aspek Waste Management tersebut. Segunung pengetahuan dan juga perhatian mengenai gaya hidup “hijau” telah dimiliki oleh para pemuda-pemudi, termasuk pejuang kampus. Tidak hanya teori, tetapi juga prakteknya pun tengah digalakkan oleh berbagai pihak mulai dari individu, komunitas, hingga instansi demi mewujudkan misi kota untuk menjadi greener city.
City of Vancouver, salah satu kota di British Columbia, Canada dengan grand concept-nya yakni Greenest City, tengah menjadi percontohan bagi kota-kota di dunia. Adanya pertambahan penduduk, dan bertambahnya aktivitas ekonomi kota seharusnya memicu terjadinya pertambahan produksi sampah oleh kota tersebut. Namun, data faktual dari Canada Ministry of Environment menyebutkan bahwa yang menjadikannya sebagai salah satu kota percontohan dengan waste management yang baik adalah karena keberhasilannya dalam mengurangi total jumlah sampah yang diproduksinya dalam kurun waktu 5 tahun yakni 2008-2013 sebanyak 18%.

Salah satu kunci keberhasilan City of Vancouver bukan hanya dari prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) yang selama ini digembar-gemborkan pada khalayak umum, melainkan juga konsistensi dan sifat saling mengawasi oleh pemerintah dan masyarakat Vancouver. Zero waste bukan hanya menjadi teori bagi Vancouver, melainkan juga menjadi suatu prinsip yang mendasari perilaku masyarakatnya dalam menjaga lingkungan kota mereka. Lebih dari sekedar melakukan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle), Kota Vancouver menambahkan prinsip Repair sehingga menjadikannya sebagai prinsip 4R berbasis alur yakni Repair > Reduce > Reuse > Recycle.

Dalam pemisahan jenis sampah pun, Kota Vancouver tidak menganggap remeh. Masyarakat Kota Vancouver telah mengetahui berbagai persyaratan terutama mengenai pengolahan sampah organik. Secercah ilmu yang dapat kita pelajari dari pengetahuan yang mereka miliki adalah bahwa tumpukan sampah di TPS (Tempat Pembuangan Sementara) dan TPA (Tempat Pembuangan Akhir) yang berisi sisa makanan produk sifat picky-eater yang kebanyakan orang miliki, jika tidak ditangani dalam kurun waktu seminggu akan menghasilkan gas methana yang dapat memicu perubahan iklim wilayah. Terlebih jika hanya dikubur dan terdekomposisi secara anaerobik.

Pada tahun 2009, Kota Vancouver menginisiasikan sebuah program yang cukup replikatif untuk diterapkan di skala rumahan, yakni Green Bin Program. Misi yang disuguhkan oleh program ini adalah dengan mengumpulkan dan memisahkan sampah organik (terutama sisa-sisa makanan dari rumah tangga) dengan sampah non organik. Sebelum Green Bin Program dilaksanakan, dalam pengangkutan sampah rumahan, truk pengangkut selalu menyatukan sampah dalam satu truk yang tidak terpisah dan menumpuknya tanpa pemisahan terebih dahulu di TPA. Namun secara bertahap, pemerintah berhasil merubah kebiasaan yang struktural ini dengan cara pengangkutan sampah berkala dan per jenis barangnya. Kini sampah organik diangkut dengan frekuensi 2 kali lipat lebih intens daripada pengangkutan sampah non-organik dan menyediakan truk sampah yang berbeda dalam pengangkutannya. Sampah organik yang dikumpulkan kemudian dibawa menuju tempat pengolahan kompos secara massal agar sampah dapat diyakini terolah dengan baik oleh pemerintah. Selain itu, untuk penanganan sampah non-organik, pemerintah mengupayakan adanya increnator dengan tujuan agar dapat sekaligus menjadi pembangkit listrik untuk kebutuhan kota serta pemberian insentif bagi pihak swasta yang berkenan mengimplementasikan salah satu atau keseluruhan prinsip 4R terhadap sampah-sampah non-organik tersebut (kini Kota Vancouver telah menamakan program tersebut sebagai Extended Producer Responsibility).Demi menunjang efektivitas program, maka sejak tahun 2010, Kota Vancouver membersamai terlaksananya Green Bin Program dengan pemberlakuan ketetapan hukum dari pemerintah kota agar mengantisipasi terjadinya pelanggaran oleh masyarakatnya.

Vancouver bisa menjadi salah satu contoh kerjasama yang baik antara masyarakat dan pemerintah kotanya. Komunitas dan pemerintahan berjalan searah dan bersifat saling mendukung. Kekompakan itu pun berujung pada konsep Green City yang terealisasikan dengan baik dalam kurun waktu 5 tahun. Di samping itu, demi meningkatkan pemahaman masyarakat Vancouver, pemerintah kota menerbitkan City of Vancouver: Greenest City 2015-2020 Action Plan yang berisikan segala strategi dalam mencapai Greenest City pada 2020 sesuai dengan 8 elemen yang dimiliki oleh Green City.


***


Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044
SHARE