Budaya Matrilineal dan Merantau dalam Suku Minangkabau

0
11664

Oleh: Irfan Teguh Prima – Ilmu Ekonomi UI – Baktinusa 5

 

Salah satu suku bangsa yang bisa kita temui di banyak tempat di Indonesia adalah suku Minangkabau. Meskipun Suku Minangkabau bukanlah sebutan yang tepat bagi mereka yang memiliki darah keturunan dari seluruh daerah yang terletak di Provinsi Sumatera Barat modern, akan tetapi masyarakat umum lebih familiar dengan sebutan ini. Masyarakat Minangkabau sebenarnya memiliki sangat banyak suku yang beragam dan berada di daerah Sumatera Barat, dari puluhan suku yang terdapat di tanah Minangkabau terdapat beberapa kesamaan yang kemudian mendefinisikan bagaimana kehidupan Suku Minangkabau di mata masyarakat umum. Apabila kebanyakan studi tentang budaya masih membicarakan mengenai budaya yang bersifat kebendaan, maka dalam artikel ini saya mencoba sedikit membahas budaya masyarakat Minang yang bersifat ‘abstrak’ namun sangat mendefinisikan cara hidup masyarakat Minang itu sendiri. Sehingga masyarakat umum bisa mengetahui bagaimana perkembangan dan gaya hidup serta berupaya menjadi dinamis dengan perkembangan zaman yang ada.

Masyarakat minangkabau menganut sistem kekerabatan matrilineal. Sistem matrilineal adalah suatu sistem yang mengatur kehidupan dan ketertiban suatu masyarakat yang terikat dalam suatu jalinan kekerabatan dalam garis ibu. Seorang anak laki-laki atau perempuan dalam keluarga merupakan bagian garis keturunan/klan yang dibawa oleh darah ibu mereka. Ayah dalam keluarga inti tidak dapat memasukkan anaknya ke dalam sukunya sebagaimana yang berlaku dalam sistem patrilineal yang dianut oleh mayoritas suku lainnya di Indonesia. Dengan kata lain seorang anak yang terlahir dengan latar belakang orang tua Minangkabau akan mengikuti suku ibunya. Asal-usul sistem matrilineal dan merantau sampai saat ini belum dapat dijelaskan dengan bukti empiris dan hanya dapat dijawab oleh cerita-cerita mitos, asal-usul mengapa suku Minangkabau memegang sistem matrilineal menjadi menarik untuk diketahui karena tidak banyak suku di Indonesia, bahkan di dunia, yang mempraktikkan sistem ini. Sistem matrilineal, bersama dengan kebudayaan merantau, telah mengakar dalam kebudayaan Minangkabau sejak lama dan kedua hal ini termasuk faktor dominan yang membentuk masyarakat Sumatera Barat hingga sekarang.

Secara singkat, sistem matrilineal diartikan sebagai susunan kekerabatan garis keturunan ditentukan berdasarkan garis ibu (Ensiklopedia Indonesia, 1984: 2173). Namun apa sebenarnya sistem matrilineal ini? Garis keturunan ibu yang seperti apa yang dimaksud? Untuk mampu menjawab pertanyaan tersebut tentulah dibutuhkan penelitian mendalam mengenai aspek kehidupan masyarakat Minangkabau itu sendiri. Meskipun menggunakan sistem keturunan dari garis darah ibu, tidak ada sanksi hukum yang jelas mengenai keberadaan sistem matrilineal ini, artinya tidak ada sanksi hukum yang mengikat bila seseorang melakukan pelanggaran terhadap sistem ini. Sistem ini hanya diajarkan secara turun temurun kemudian disepakati dan dipatuhi, tidak ada buku rujukan atau kitab undang-undangnya. Namun demikian, sejauh manapun sebuah penafsiran dilakukan atasnya, pada hakekatnya tetap dan tidak beranjak dari fungsi dan peranan perempuan itu sendiri.

Adapun karakteristik dari sistem kekerabatan matrilineal dalam kebudayaan Minangkabau adalah sebagai berikut:

  1. Keturunan diurutkan berdasarkan garis darah ibu, seorang Minangkabau akan masuk ke dalam suku dimana ibunya berasal.
  2. Suku terbentuk menurut garis ibu. Seorang laki-laki di Minangkabau tidak bisa mewariskan sukunya kepada anaknya. Jadi jika tidak ada anak perempuan dalam satu suku maka dapat dikatakan bahwa suku itu telah punah.
  3. Tiap orang diharuskan menikah dengan orang luar sukunya (atau dikenal sebagai sistem eksogami). Menurut aturan adat Minangkabau seseorang tidak dapat menikah dengan seseorang yang berasal dari suku yang sama. Apabila hal itu terjadi maka ia dapat dikenakan hukum ada, seperti dikucilkan dalam pergaulan.
  4. Meskipun perempuan memegang seluruh kekayaan keluarga, pihak yang sebenarnya berkuasa dalam penentuan keputusan hal dalam keseharian dan lingkungan adalah saudara laki-laki tertua dalam keluarga tersebut, yang disebut sebagai mamak. Yang menjalankan kekuasaan di Minangkabau adalah laki-laki, sedangkan kaum perempuan di Minangkabau di posisikan sebagai pengikat, pemelihara, dan penyimpan harta pusaka.
  5. Perkawinan bersifat matrilokal, yaitu suami mengunjungi rumah istrinya.
  6. Hak-hak dan pusaka diwariskan oleh mamak kepada kemenakannya dan dari saudara laki-laki ibu kepada anak dari saudara perempuan.

Berdasarkan kebudayaan matrilineal ini pula kemudian masyarakat Minangkabau memiliki satu kebudayaan lainnya, yaitu merantau. Terkadang ada yang menyalahartikan merantau dengan migrasi. Merantau dianggap sama saja dengan migrasi. Dalam kebudayaan Minangkabau, terdapat perbedaan antara merantau dan bermigrasi. Apakah perbedaan itu? Migrasi dari segi sosial-ekonomi berarti perpindahan orang atau golongan bangsa secara besar-besaran menuju daerah-daerah baru. Penyebabnya bermacam-macam, yakni karena kepadatan penduduk, bencana alam dan perubahan ilmiah, tekanan ekonomi, politik, atau keagamaan (Ensiklopedia Indonesia, 1984; 2241). Rantau, secara bahasa berarti daerah pesisir. Kato mendefinisikan kata kerja rantau yakni meninggalkan kampung halaman (Kato, 2005: 4). Maka merantau berarti pergi ke daerah rantau atau ke daerah pesisir, meninggalkan kampung halaman.

Oleh karena sistem kekeluargaan di Minangkabau, terutama daerah yang berada di daerah pegunungan, di mana laki-laki pada dasarnya tidak memiliki harta dan diharuskan menikah dengan perempuan dari suku selain suku asalnya kebudayaan merantau menjadi mengakar kuat dalam kebudayaan Minangkabau. Apabila pada masa awal abad ke-20 kegiatan merantau masyarakat Minangkabau masih berbentuk upaya mencari kekayaan untuk kemudian kembali lagi ke tanah halamannya, hal tersebut mengalami perubahan dengan semakin besarnya pengaruh kolonialisme Belanda dan Jepang yang mengakibatkan mereka yang merantau belum tentu berniat untuk kembali lagi ke kampungnya. Laki-laki pergi merantau untuk bekerja dengan membawa istri dan anak-anaknya. Orang-orang yang mencari ilmu dan berkuliah telah terpikat dengan daerah rantaunya. Kampung halaman hanya dikunjungi di saat-saat tertentu. Kampung halaman tidak menjanjikan apapun, setidaknya secara ekonomi dan pendidikan. Dan pola merantau yang lebih didasarkan oleh alasan ekonomi lebih menjadi alasan utama dari merantaunya masyarakat Minang dibandingkan alasan awal yaitu dengan tujuan untuk mengembangkan kampung (nagari).

BAGIKAN

LEAVE A REPLY