Bukan Sekedar Pemimpi (n)

73
Foto ketika event Kompas Kampus TV, ketika dipercaya menjadi penanggung jawab acara

Jangan minta Alloh ringankan bebanmu, mintalah ia tuk kuatkan pundakmu….

Seringkali kita mendengar kata pemimpin atau memimpin. Sudah puluhan kali, bahkan ratusan kali pelatihan kepemimpinan digelar dengan sasaran utama adalah anak muda. Katanya, pemuda memang agen perubahan, yang ditangannya ia bisa merubah keadaan. Hal ini menyebabkan banyak anak muda yang berlomba- lomba untuk menjadi pemimpin agar tahu kapasitas dirinya dalam mengorganisir banyak orang dan menciptakan solusi dari sebuah permasalahan.

Anak muda memang identik dengan idealisme yang tinggi dan terjaga, terutama mahasiswa. Mereka yang rela meghabiskan tenaga, waktu, dan fikiran serta uang demi membela apa yang diyakininya benar. Walau tak jarang juga ia melakukan kesalahan. Tapi itu dianggap sah-sah saja, namanya juga lagi belajar. Memang benar, tonggak perubahan ada pada diri anak muda. Mereka memang masih minim pengalaman, makanya ia berani mencoba banyak hal. Sebagai anak muda kita belum tentu menyelesaikan semua permasalahan, tapi setidaknya ikut berbuat menyalakan lilin perubahan daripada hanya mengutuk kegelapan.

Saya bagian dari jutaan anak muda Indonesia dan saya memilih untuk bergerak. Memilih untuk menjadi berbeda dari kebanyakan mahasiswa pada umumnya dengan konsekuensi yang ada didalamnya. Tuntutan untuk belajar lebih banyak, menggunakan waktu yang lebih lama, tidur lebih sedikit, dan mengurangi hangout dengan teman sebaya serta aktifitas kekinian lainnya yang banyak dilakukan anak muda. Saya memilih menjadi bagian kecil dari sekelompok anak muda yang memikirkan bangsanya lalu bergerak dan berkontribusi sesuai dengan kapasitas dirinya.

Pengalaman kepemimpinan saya cukup membekas di hati dan menjadi jalan yang tak mudah dalam perjalanan lika- liku di bangku kuliah. Ketika awal masuk menjadi mahasiswa, ketika status siswa digantikan dengan tambahan maha didepannya, maka saya percaya akan banyak peluang sekaligus tantangan yang harus dihadapi dalam waktu yang bersamaan. Ketika dulu diminta menjadi ketua kelompok dalam orientasi mahasiswa baru dan belajar mengelola teman- teman sekelompoknya, disitulah saya mengerti bagaimana diri kita harus siap ketika ada orang lain meminta kita menjadi pemimpin dari golongan mereka. Kemudian berbagai peluang dan tawaran datang menyambangi. Mulai dari dipercaya menjadi ketua panitia sebuah acara misalnya, ketika harus belajar bagaimana berkomunikasi yang baik dengan banyak pihak serta banyak hal yang harus diurusi, ketika harus memastikan semua acara berjalan lancar sesuai dengan perencanaan diawal dan sedih ketika ada suatu hal yang kurang, disitulah saya belajar bahwa memimpin memang bukan perkara mudah.

Kemudian kepercayaan diri itu semakin tumbuh saat banyak orang mempercayakan sebuah amanah kepada diri ini. Dulu, ketika estafet kepemimpinan di himpunan telah tiba saatnya untuk digantikan oleh generasi selanjutnya, tiba- tiba banyak orang yang menghubungi dan meminta saya untuk maju. Mulai dari teman sepermainan, teman kelas, teman organisasi, kakak tingkat, dosen, dan lainnya yang meminta saya untuk maju ikut dalam pemilihan umum ketua umum Himpunan Mahasiswa Sosiologi (HIMASOS) 2015. Awalnya, tidak ada niatan yang terbersit sekalipun untuk maju dalam pemilu, tapi setelah banyak orang mengharapkan saya untuk maju, maka saya berfikir mungkin ini adalah saatnya saya memimpin dalam skala yang lebih besar, bukan lagi memimpin teman sekelas atau angkatan, melainkan naik satu level setingkat jurusan. Tiba- tiba saya yakin dan percaya diri untuk maju pemilu dan berakhir pada amanah yang harus dipikul di pundak karena telah memenangkan pemilu.

Perlahan-lahan semua berubah. Tiba- tiba saya harus mengerti semua orang yang ada di kabinet saya dan bekerja dengan mereka. Saya belajar menahan dan meredam ego diri dan bekerja untuk kebermanfaatan semua anggota. Ketika banyak orang menghubungi, ketika banyak acara yang harus di handel dan dilaksanakan, ketika banyak tawaran kerjasama dari banyak pihak, ketika banyak masalah yang harus dihadapi, dan berbagai pernak- pernik didalamnya. Hal yang pada akhirnya menyadarkan saya bahwa tugas pemimpin tidaklah ringan, walaupun hanya setingkat jurusan.

Suatu ketika di sore hari selepas mengakhiri rapat harian lengkap, tiba- tiba salah satu pihak Kompas TV mengontak saya. Tawaran kerjasama dalam bentuk event dan kompetisi kampus dilontarkan ke organisasi yang saya pimpin. Bukan perkara ujug- ujug pastinya, karena ada pihak lain yang telah menjalin jaringan dengan saya sebelumnya yang akhirnya menjadi pihak penyambung jaringan saya dengan pihak Kompas TV. Bukan perkara gampang ketika dipercaya bekerja sama dengan pihak media kelas nasional. Ada banyak hal yang harus diurus dan ada banyak pihak yang terlibat, mulai dari pihak rektorat sampai kepolisian setempat.

Bagi saya, event kerjasama yang cukup besar ini adalah sebuah peluang. Kesempatan besar untuk mempersembahkan sebuah karya bagi mahasiswa Sosiologi dan mahasiswa UNS Solo pada umumnya. Tidak hanya organisasi saya yang berbuat, saya mengajak himpunan lainnya untuk terlibat. Ketika saya memutuskan tidak hanya Himasos yang mengurus acara ini melainkan himpunan- himpunan lainnya yang ada di fakultas saya, bagi saya ini adalah cara belajar seorang pemimpin dalam kolaborasi karya. Ketika mempercayakan sebuah agenda besar untuk digarap dengan orang- orang yang berbeda cara kerja dan cara pandangnya, maka ini adalah sebuah proses memimpin yang berusaha tidak ego terhadap organisasi yang dipimpinnya. Meskipun ini bukan perkara mudah, tapi cukup yakin untuk tidak menyerah.

Ada kelegaan selepas acara berlangsung dan berjalan sukses. Ada rasa bahagia ketika melihat teman- teman dan mahasiswa UNS bisa bergembira ria menikmati acara dan menjemput inspirasi dari pembicara- pembicara yang dihadirkan pada event tersebut, dan ada rasa lelah yng hilang seketika ketika saya menyadari telah berhasil menggabungkan 4 himpunan sekaligus dalam sebuah pekerjaan bersama. Itulah salah satu seni yang saya rasakan ketika sedang memimpin.

Bagi saya, kesadaran memimpin dan jati diri seorang pemimpin haruslah hadir dalam tiap diri individu. Ketika individu tersebut sadar bahwa sejatinya dirinya adalah seorang pemimpin, maka sikap dan perilakunya adalah perilaku yang mencerminkan gambaran seorang pemimpin. Pengalaman memimpin bagi saya adalah proses belajar seumur hidup, karena akan selalu ada pertanggungjawaban yang diminta terhadap apa yang kita perbuat.

Rasa syukur saya bertambah besar ketika saya dipercaya menjadi bagian dari keluarga penerima manfaat beasiswa aktifis nusantara (Bakti Nusa). Bertemu dengan orang- orang yang mengabdikan dirinya untuk kepentingan umat, bukan mendahulukan kepentingan pribadi. Bertemu dengan mereka bagi saya adalah anugrah dan pembelajaran besar untuk selalu berbuat dan bergerak. Mereka yang punya setumpuk kegiatan dan kebermanfaatan yang selalu disebarluaskan, memotivasi saya untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Pengelola yang selalu menggembor- gemborkan kalimat berbagi kebaikan dan melipatgandakan kebermanfaatan, membuat saya sadar bahwa kita hidup tidak sendirian. Rasa minder yang awalnya menganggap diri ini hanya butiran debu, akhirnya berhasil mencambuk diri untuk berbuat lebih banyak hal lagi dan meyakinkan diri untuk bisa melakukan hal itu.

Sungguh, nikmat Alloh yang pantas untuk saya syukuri. Saya yakin, kamu bisa berbuat lebih dari pada apa yang saya perbuat. Langsung saja buka websitenya di http://www.beastudiindonesia.net kalau tidak percaya. We are leaders, karena setiap kita adalah pemimpin dan pemimpin adalah penyelesai masalah, bukan malah menambah masalah. Siapkan dirimu untuk menjadi bagian pemimpin masa depan dan stok perubahan bangsa ini dengan bergabung dalam SELEKSI BAKTI NUSA 2017 “We Are Leaders”.

Didikan dan pendampingan serta arahan bagaimana diri kita disiapkan untuk mengisi posisi strategis dimasa depan adalah proses penempaan jati diri seorang pemimpin. Menjadi para pemangku kebijakan atau penyelesai masalah dengan kontribusi dibidang masing- masing nantinya. Pada akhirnya, saya sadar bahwa seorang pemimpin bukanlah sekedar pemimpi semata. Memang, semuanya harus dimimpikan dan diwacanakan, tapi tidak boleh berhenti disitu. Tugas selanjutnya adalah mengeksekusi mimpi dan menghadirkan solusi. Jangan takut salah dalam berbuat, karena kesalahan itu yang memberikan pembelajaran dan mengingatkan kita untuk tidak melakukan kesalahan yang sama di masa depan. Menjadi sosok pemimpin yang megutamakan masyarakat, bukan memperkaya diri dan bersekat. Saya memilh ambil bagian dari anak muda yang sedang belajar merawat negerinya dan belajar menjadi pribadi yang bermanfaat. Karena pada dasarnya, tangan orang- orang jalanan yang menepuk pundakmu pantas untuk kau bahagiakan.


***


Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2881 2881 26

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044
SHARE