Bumi Karangkobar

551

Oleh: Siti Qulsyum Shofiyani, Universitas Gadjah Mada.

Ketika berbicara tentang gerakan sosial dan kemasyarakatan, saya bingung menceritakan mana yang paling berharga, karena bagi saya semua berharga. Setiap momen bersama masyarakat menempati posisi masing-masing di hati saya. Masyarakat di Jambu, Kaliadem, dan Plosorejo-Cangkringan. Masyarakat di Bantaran Kalicode. Warga jalanan di Sagan. Masyarakat di Gunung Kidul dan Kulon Progo. Luar Jogja, masyarakat di Lereng Gunung Merbabu dan masyarakat penyintas longsor Banjarnegara. Semua istimewa bagi saya. Pekerjaan saya sehari-hari selain seorang mahasiswa sudah terbiasa hidup di tengah-tengah mereka, bukan karena saat itu saya terjebak dalam “kebaikan” sebagai kepala Departemen Sosial dan Kemasyrakatan. Tapi karena saya melihat fenomena mahasiswa kekinian yang sudah jauh hidup dari faktor yang tak disadari membesarkan nama mereka; masyarakat. Saya tidak ingin terjerembab dan berjibaku dengan hanya diktat kuliah, dan diskursus belaka tanpa aksi. Lebih jauh, saya ingin menambang pengalaman sebanyak mungkin dengan dunia yang sesungguhnya. Dunia yang menawarkan angin segar pada kebersamaan dan kebersyukuran.

Saya masih ingat. Kala itu, saya bersama tim melaksanakan misi kemanusiaan yang insyaAllah didasari hati nurani untuk berbagi karena Allah. Saya menuju lokasi longsor Banjarnegara. Perjalanan yang penuh perjuangan karena kendaraan sulit masuk. Hal tersebut tidak lantas membuat kami menyerah. Saya semakin semangat, setiap momen saya abadikan betul dalam memori dan catatan kecil saya. Setiba di lokasi, saya melihat realita. Bagaimana menjadi seseorang yang Allah berikan kesempatan untuk bersabar atas ujian, dan tetap bersyukur dalam keterbatasan. Banyak tipikal manusia yang saya lihat, berbagai jenis ekspresi. Mencoba memahami sekilas, kemudian lebih mendalam, saya belajar. Berbekal sebagai seorang mahasiswa yang menggeluti dunia psikologi serta sering terlibat aktif dalam dunia training dan aktvitas bersama anak-anak, saya diamanahi untuk melakukan BPA (bimbingan psikologis awal) atau lebih dikenal dengan trauma healing pada fase recovery.

Dari Yogyakarta, kami sudah menyiapkan konsep dan program untuk kemudian diimplementasikan di Banjarnegara. Namun, ternyata kondisi lapangan berkata lain. Saya melakukan asesmen awal, dan melihat bahwa belum saatnya program ini dilakukan. Pemerintah belum memfasilitasi penyintas dengan shelter atau posko pengungsian yang menunjang program. Meskipun di sana juga tetap ada posko pengungsian dan dapur umum yang bertempat di desa terdampak, Aliyan, Karangkobar. Tapi saya berpikir lain. Terlebih saat itu juga terdengar kabar bahwa ternyata bukan hanya Jemblung saja yang terkena longsor, melainkan desa-desa lain. Diantaranya ada Giritirta, Sendangarum, Pencil, dan salah satu daerah yang terancam longsor yaitu Slimpet, Tlaga. Dari semua daerah yang saya sebutkan, alhamdulillah saya berkesempatan untuk mengunjungi semuanya. Di Giritirta, Sendangarum, dan Pencil kami memberikan bantuan yang kami bawa dari Yogyakarta dan juga titipan dari KAMMI Pengurus Pusat yang saat itu datang ke Banjarnegara namun belum bisa ke lokasi.

Bukan puncak, hanya saja saya menganggap bahwa ini lebih tinggi levelnya dari sebelumnya. Saya menilai perjuangan saya lebih besar. Saya harus lebih banyak merelakan otak saya untuk berputar semakin cepat dan berpikir keras, dan raga untuk terkuras akan setiap aksi yang kemudian bisa saya lakukan. Saat itu, saya menjadi koordinator tim, membersamai ikhwan–yang kadang—saya tidak habis pikir bagaimana cara berpikir mereka. Tak jarang, perbedaan pendapat terjadi diantara kami. Bersitegang, entah apa yang harus dilakukan. Namun, kemudian buncah dengan solusi segar yang membawa kami pada pemikiran yang sejalan. Menjelang tahun baru, saya berkoordinasi dengan berbagai NGO, ormas, dan aliansi lain untuk merencanakan program tahun baru yang akan diusung. Saat itu dihasilkan bahwa kami akan bagi-bagi tugas. Beberapa NGO bertanggung jawab atas desa A, Ormas lain di desa B, komunitas mahasiswa di desa C, dan lain-lain. Sementara saya dan tim membersamai pengungsi di desa terancam longsor, dusun Slimplet, desa Tlaga, kecamatan Punggelan. Jumlah pengungsi saat itu mencapai lebih dari 500. Namun, karena mereka sudah mengungsi lebih dari 2 pekan sementara pemerintah belum juga merelokasi posko pengungsian ke tempat yang lebih layak, beberapa pengungsi juga memilih pindah dan nebeng di rumah saudaranya yang masih berada di sekitar Banjangnergara.

Bersama tim, saya membersamai warga menghabiskan malam tahun baru saat itu. Bukan untuk merayakan, justru ada misi tertentu, yaitu untuk meng-cover malam tahun baru agar tidak menjadi ajang untuk hura-hura dan lebih dioptimalkan kepada hal-hal kebaikan. Bertanya pada koordinator posko, beliau menyampaikan bahwa malam tahun baru warga akan nonton layar tancap Mahabaratha. Berpikir, bertanya-tanya, “Film macam apa?” Seperti nama Budha atau Hindu, saya kurang tahu. Ternyata film itu memang ada di TV. Hehe. Saya pun kemudian mencoba mencari cara bagaimana agar warga tetap sesuai dengan keinginannya untuk menonton, tapi tontonan tersebut dikondisikan menjadi tontonan yang lebih sarat nilai Islam, atau paling tidak ada nilai edukasi. Ah, ya. Lantas, dari Karangkobar menuju Slimpet—yang disenyalir jalannya mengalami kemiringan 30 derajat, kami membawa segala macam yang diperlukan untuk menonton bersama, mulai dari proyektor, baliho untuk layar, microphone, bahkan sound system yang besar. Dan tentu, kami menonton sesuai apa yang saya pikirkan dan rencanakan. Satu. Saya melakukan sebuah rekayasa.

Selepas sholat maghrib, saya mengajak beberapa anak perempuan di antara mereka untuk mengaji alquran. Kemudian saya perkenalkan mereka dengan tahsin. Antusias. Mereka senang mendapatkan sesuatu yang baru. Dari luar, terdengar bunyi terompet dan suara petasan. Kaget. Siapa? Saya kemudian bertanya dengan segan, “Hm.. teman-teman mau ke luar atau tetap ngaji di sini?” Mereka saling melirik. Saya semakin tegang. Akhirnya, salah seorang diantara mereka menjawab, “Aku mau ngaji bareng Mba saja disini” dan kemudian diikuti oleh teman-teman lainnya. Alhamdulillah. Masih tidak tenang dengan suara tadi, saya kemudian meminta salah satu teman saya untuk melihat siapa aktor di balik suara petasan itu, dan memintanya untuk mengondisikan, atau dengan kata lain “hentikan”. Dua, akhirnya tingkah polah mahasiswa kurang ilmu pasang petasan di saat bencana bisa terkondisikan.

Sedih memang. Malam itu bahkan saya tak sempat berpikir apapun kecuali bagaimana sama-sama berjuang menyelamatkan desa ini. Terlebih saat keliling posko untuk mengajak sholat berjama’ah di musholla darurat pun tak ada yang mengikuti. Apakah ini pertanda kiamat semakin dekat? Apakah ini penyebab mengapa alam tak bersahabat? Alhamdulillah, meski pun kami belum 100% berhasil meningkatkan semangat ibadah warga, atas izin Allah saat itu kami diamanahi untuk menjadi penanggungjawab seluruh kegiatan di sana. Bahkan, pihak penganggungjawab posko pengungsi pun memberikan sepenuhnya otoritas kegiatan pengungsian kepada kami. Alhasil, berhubung banyak komunitas, NGO, dan ormas yang datang saat itu, berkali-kali saya juga diwawancara oleh berbagai pihak tersebut untuk diminta informasi terkait kondisi warga dan bagaimana ceritanya bisa menguasai warga. Entah, Allah Yang Menggerakan. Tiga, pegang kendali. Kuasai masyarakat.

Pun jujur, saat itu saya cukup was-was karena ini masih di zona merah. Tidak lebih dari 5 meter saja dari lokasi rawan bencana longsor. Menyoroti hal tersebut, saya belum cukup puas. Harus dilakukan tindakan preventif jika sekiranya terjadi longsor susulan. Mengingat kala itu juga masih banyak longsor di daerah-daerah lain yang terus bermunculan setiap harinya. Desa ini desa rawan; terancam bencana. Dengan penduduk lebih dari 500, bukan tidak mungkin Departemen Sosial RI semestinya segera intervensi. Saya dan tim kemudian mendesak pemerintah setempat untuk segera mengkomunikasikan hal ini kepada yang berwenang. Atau jika tidak, kami turun tangan. Dan benar saja, lamban. Mereka luar biasa empati dengan menyalurkan logistik bejibun setiap harinya, tapi tega membiarkan rakyatnya yang berjumlah ratusan itu tidur tertumpuk di sebuah ruangan kecil sekolahan. Miris. Percuma saja banyak makanan, tapi hidup mereka terancam karena bertempat tinggal di lokasi yang tidak lebih dari 5 meter rawan longsor. Jika kemudian Allah jentikkan jarinya sedikit saja untuk membungihanguskan desa tersebut, gugurlah 500 warga saat itu. Relokasi harus ada.

Hari-hari di sana, terus dilakukan pelobby-an dengan pihak berwenang. Tidak berani meninggalkan desa dalam keadaan masih terpuruk secara tempat tinggal. Warga harga mati; harus segera diselamatkan. Pertemuan demi pertemuan dengan berbagai pihak akhirnya menjumpai pada sebuah keputusan. Lahan akan diidentifikasi ulang, apakah benar akan menimbulkan lagi longsor atau tidak. Kemudian, solusi pertama yang paling mudah dan terjangkau adalah dengan dibuatnya Early Warning System (EWS) sebagai alat yang mampu menjadi penanda ketika terjadi pergeseran tanah. Saat itu, warga pun kemudian diajak ke lahan datar yang berada di bawah desa untuk melakukan simulasi jika sewaktu-waktu terjadi kembali longsor. Pencerdasan yang cukup efektif, meski bagi saya saat itu pemerintah belum benar-benar mewujudkan harapan warga.

Dari semua perjalanan hidup saya disana, pelajaran terpenting adalah bagaimana kita mampu membaca dunia masyarakat atas dasar kacamata mereka sendiri, kemudian mengungkapkannya melalui sebuah bentuk aksi nyata. Dan dalam setiap tindakan kita, atasi ketakutan diri, lakukan saja terus perbaikan itu jika dirasa benar berdasar hati nurani dan keyakinan kuat. Bukan tentang seberapa banyak orang yang terpesona dengan apa yang kita ucapkan atau lakukan, melainkan jika ada satu saja diantara mereka yang akibat kita, hati dan setiap langkah berpikirnya bergerak menuju Allah. Dan lagi, terhadap masyarakat kita tumbuhkan rasa keberpihakan dan keadilan untuk kita perjuangkan bersama. Bukan tentang jubah dan gelar pembela kebenaran. Karena bukankah kebenaran harus ditegakkan? Terlebih atas mereka yang tertindas. Dan lagi, tiada yang membesarkan nama mahasiswa, selain mereka tumbuh dari dan bersama dengan masyarakat. Apakah kau tidak mengetahuinya?

SOURCEpic: tegarseptyan.wordpress.com
SHARE