Cabuk Rambak

0
569

Cabuk rambak merupakan salah satu makanan tradisional Kota Surakarta. Makanan tradisional ini dibuat dari ketupat yang diiris tipis-tipis ditambah saus wijen yang dicampur dengan kelapa parut, kemudian ditambah dengan karak (kerupuk yang dibuat dari nasi kering). Makanan tradisional yang biasanya disajikan dengan pincuk daun tersebut saat ini sudah tergolong langka. Makanan ini biasanya dapat kita jumpai hanya di tempat-tempat tertentu, biasanya di pasar-pasar tradisional. Setelah berjualan di pasar tradisional, adakalanya penjual berkeliling ke kampung-kampung untuk menjajakan dagangannya. Akan tetapi sayangnya saat ini banyak yang tidak mengenali makanan tradisional ini. Sehingga keberadaannya sudah hampir punah.

Salah satu penjual cabuk rambak adalah Mbah Sukinah, yang sehari-harinya menjual cabuk rambak di Pasar Ledoksari. Sebagai follow-up kegiatan ACBI Berbagi yang dilaksanakan awal tahun kemarin, ACBI mengadakan kegiatan kunjungan ke rumah Mbah Sukinah yang terletak di Desa Kalikebo, Gondangrejo, Karanganyar. Berdasarkan wawancara dengan beberapa warga setempat juga ternyata di desa tersebut ada beberapa penjual cabuk rambak. Resep pembuatan cabuk rambak mereka ketahui turun temurun dari orang tua mereka.

Kegiatan kunjungan dilaksanakan pada hari Sabtu, 30 Januari 2016. Adapun tujuan kegiatan tersebut adalah belajar cara pembuatan Cabuk Rambak. Pukul 14.30 WIB, tim ACBI membantu pembuatan cabuk rambak di rumah Mbah Sukinah. Tahap-tahap pembuatan saus wijen cabuk rambak antara lain: menyangrai kelapa parut dan wijen hingga benar benar kering berwarna kecoklatan, setelah itu menumbuknya dengan menggunakan lumpang tradisional, lalu menambahkan gula jawa, kemudian menambahkan bumbu-bumbu lain seperti cabe, bawang putih, daun jeruk purut dan juga kemiri. Sembari membuat saus wijen, Mbah Sukinah biasanya membuat ketupat beras.

Usai membuat cabuk rambak bersama kami sedikit berbincang-bincang dengan mbah Sukinah terkait kebiasaan beliau membuat cabuk rambak. Meskipun di desa tersebut ada beberapa penjual cabuk rambak, namun karena makanan ini langka dan banyak yang mencari, sehingga beliau selalu rame pembeli utamanya hari minggu.

Melalui kegiatan tersebut, Bakti Nusa UNS ingin mengangkat bahwa masih ada orang-orang yang peduli terhadap makanan tradisional cabuk rambak. Selain itu kegiatan tersebut juga membuka mata kami, bahwa tak jauh dari peradaban kampus UNS, terletak desa yang tersembunyi, namun di dalamnya kaya akan orang-orang yang menjaga makanan tradisional ini.

BAGIKAN

LEAVE A REPLY