Cafe Tradisional Jadikan Pangan Lokal Dikenal dan Diburu Remaja

865

Oleh: Syuga Eugenia Invicta

Bukanlah rahasia bahwa Indonesia tidak hanya dikenal melalui wisata alamnya namun juga wisata kulinernya. Terdapat 410 kabupaten dan 98 kota tercatat per Mei 2013 oleh Departemen Dalam Negeri dan Badan Pusat Statistik (BPS) dimana hampir setiap kota ataupun kabupaten memiliki ciri khas kuliner yang digemari masyarakat domestik maupun mancanegara. Masakan Indonesia memiliki cita rasa tersendiri. Hal ini dikarenakan adanya rempah-rempah, santan, dan gula jawa pada komposisinya sehingga dinilai dari tingkat kegemaran konsumen, masakan Indonesia mampu menduduki peringkat atas dunia. Namun sayangnya, dengan bergesernya zaman maka mulai bergeser pula penerimaan konsumen terhadap makanan tradisional yang ada. Pada era serba cepat ini masyarakat lebih memilih membeli fast food yang tidak menyita banyak waktu di sela-sela kegiatan mereka. Banyak pula masyarakat yang mengunjungi tempat makan ala asing dengan dekorasi unik untuk menghabiskan waktu berbincang atau hanya sekedar bermalas-malasan. Tempat makan ini lebih digemari karena keunggulan estetika, kenyamanan, dan kecenderungan dalam menawarkan inovasi pangan kepada pelanggan.

Makanan tradisional, yang umumnya tercipta karena pengaruh kearifan lokal di daerah tertentu, kini mulai jarang ditemukan terutama di daerah perkotaan. Di kota-kota besar, jajanan tradisional dijual dalam stock terbatas dan hanya ditemukan di pasar ataupun toko  roti tertentu saja. Hal ini diungkapkan oleh Tri Ratna Sari (19), mahasiswa semester VI progam studi Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Sebelas Maret (UNS), “Kalau di daerah saya, di Magetan, masih banyak orang yang jualan.Tapi di Solo, apalagi Jakarta, sudah susah. Kalau beli untuk acara kemahasiswaan, kita sebagai panitia harus pesan dulu karena stocknya terbatas. Itupun susah dan bingung carinya dimana”. Tidak hanya oleh Tri saja, beberapa mahasiswa lainnya menyampaikan keluhan yang sama.

Danar Praseptiangga, S.TP., M.Sc., Ph.D, dosen Ilmu dan Teknologi Pangan UNS menuturkan, “padahal sesungguhnya makanan tradisional memiliki potensi sebagai pangan fungsional, contohnya tempe”. Pangan fungsional adalah pangan yang karena kandungan komponen aktifnya dapat memberikan manfaat bagi kesehatan. Kini persepsi yang timbul di masyarakat adalah tujuan makan bukan sekedar agar kenyang, melainkan untuk mencapai tingkat kesehatan. Oleh karena itu, ditinjau secara teoritis, makanan tradisional yang berbasis pangan fungsional seharusnya mampu bersaing dengan fast food ataupun makanan mancanegara. Contoh makanan tradisional yang merupakan pangan fungsional antara lain adalah jadah dan badheg yang merupakan olahan ketan, getuk dan gendolo sebagai olahan singkong, tempe, lemper, kue lepet jagung, wedang ronde, jamu beras kencur, dadih, serta tempoyak.

Melalui gambaran ini, kita menjumpai keadaan dimana masakan tradisional bukanlah sekedar warisan leluhur yang harus dilestarikan, tetapi juga merupakan potensi pangan fungsional yang sedang gencar-gencarnya disosialisasikan kepada masyarakat dunia terkait betapa pentingnya manfaat yang dapat dirasakan konsumen ketika mengkonsumsinya. Namun sayangnya, kini makanan tradisional sulit diakses dan mulai ditinggalkan generasi muda akibat rendahnya promosi dan publikasi dibandingkan makanan non-tradisional. Karena jumlah peminatnya menurun maka jumlah produksi produk pangan tradisionalpun menurun. Maka, apa yang dibutuhkan saat ini adalah suatu cara untuk memperkenalkan kembali (re-branding) aneka makanan tradisional kepada masyarakat, khususnya para generasi muda di kalangan perkotaan yang tidak semuanya pernah mencicipinya. Sebuah inovasi yang mengikuti pergerakan zaman tanpa perlu meninggalkan aspek kearifan lokal yang terkandung di dalamnya.

Meskipun belum banyak disadari oleh warga local sebagai pewaris makanan tradisional tersebut, kini telah muncul pencetus ide kreatif yang mampu melacak pentingnya pelestarian terhadap eksistensi pangan local dan potensinya sebagai pangan fungsional. Kepekaan tersebut dimanfaatkan sebagai peluang bisnis yang mampu mensinergikan antara pemilik bisnis, pemerintah, dan masyarakat. Ide kreatif tersebut adalah Café Tradisional. Tujuan dibangunnya café tradisional adalah memberikan suatu wadah publikasi dan pengembangan makanan tradisional dengan target utama kawula muda.

Para remaja memiliki rasa keingintahuan tinggi dimana mereka mudah sekali tertarik dengan hal-hal baru yang inovatif. Kehadiran café tradisional yang menyuguhkan menu aneka masakan tradisional dengan dekorasi yang unik akan dengan mudah menarik perhatian kawula muda. Pilihan dekorasi café tradisional beragam, antara memberikan nuansa lampau sehingga pengunjung seolah-olah mundur kedalam dimensi waktu era penjajahan sampai pasca Indonesia merdeka, atau dekorasi modern yang fresh dan nyaman seolah mereka mengunjungi suatu tempat makan yang elit dan berkelas. Kebiasaan remaja akhir-akhir ini adalah hunting foto untuk diposting di media social sehingga café tradisional secara tidak langsung memfasilitasi proses publikasi makanan tradisional kepada masyarakat luas.

Café tradisional sendiri pada umumnya menonjolkan menu tertentu yang akan diulas segi kesehatannya. Ulasan tersebut dapat dalam bentuk fisik misalnya tertera pada menu, pamflet, dan gambaran pada dinding café, serta dalam bentuk non-fisik misalnya melalui penyampaian pelayan ataupun media sosial. Café tradisional berembel-embel kesehatan dengan hidangan menu berbasis pangan fungsional akan membidik masyarakat lanjut usia yang memiliki ketertarikan dan kesadaran kesehatan yang tinggi, walaupun tidak menutup kemungkinan akan menarik perhatian generasi muda yang peduli kesehatan.

Keunggulan lainnya dari café tradisional adalah mampu membangun relasi dengan pemerintah karena menonjolkan makanan tradisional nusantara. Adanya dukungan dari pemerintah, mampu menjadikan café tradisional tertentu sebagai ikon wisata kuliner daerah. Rujukan destinasi wisata oleh pemerintah akan membantu café tradisional dalam berkembang. Melalui perkembangannya, suatu café tradisional dapat merekrut putra daerah sebagai tenaga kerja yang mengolah maupun menciptakan inovasi pangan. Inovasi bentuk, tampilan, maupun fortifikasi pada makanan tradisional sangatlah penting agar tampil sesuai masanya tanpa perlu merubah cita rasanya dan menambah manfaat kandungan di dalamnya.

Café tradisional di daerah Surakarta salah satunya adalah Sego Kalong yang terletak di jalan Madukoro nomor 19 Keratonan. Sego Kalong menawarkan menu olahan ketan dan susu yang dapat dicampur dengan sereal, oreo, ataupun keju. Selain itu ada pula menu minuman seperti jamu beras kencur ataupun kunir asem. Dekorasi yang diterapkan di café Sego Kalong adalah konsep jaman dahulu lengkap dengan mesin kasir manual, permainan dakon, foto-foto tua, dan alat makan yang terbuat dari tanah liat. Selain itu ada pula café Wedangan Nggone DW yang menjual berbagai jenis wedangan. Di kota besar seperti Jakarta, terdapat café bernama Waroeng Satoe dan Kafe Betawi. Apabila di Jogjakarta terdapat café Ramintendan di Bekasi terdapat café Si Abah, kota Bandung dapat menyuguhkan café tradisional bernama Dapoer Ndeso.

Telah bermunculan café tradisional di penjuru Indonesia yang memiliki aksi pelestarian makanan tradisional. Meskipun belum menjamur seperti café nuansa mancanegara, café tradisional merupakan peluang bisnis menggiurkan yang patut dicoba. Café tradisional merupakan salah satu upaya pelestarian makanan tradisional yang berfokus pada publikasi dan berfungsi sebagai tempat pengembangan inovasi pangan lokal. Kehadirannya mampu memberikan suatu gambaran nyata tentang apa yang harus dilakukan oleh masyarakat Indonesia dalam perubahan era yang semakin ganas yaitu turut lahir dan berkembang dalam arus perubahan tanpa perlu melupakan kearifan lokal. Target pencapaian dari kemunculan café tradisional adalah mampu melengkapi makanan tradisional dalam daftar menu yang ada dan mewujudkan kecintaan masyarakat terhadap makanan tradisional Indonesia.


***


Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044
SHARE