COVER STORY: Bedah Anatomi Tubuh, Nyali Koas Diuji

171

Dokter-dokter yang sekarang mengenakan seragam putih bersih, dan kerap berada di ruangan nyaman ber-AC, dulunya harus menempuh proses panjang. Bahkan, tidak sedikit melewati momen-momen mengerikan.

Debby Silvitasari cekatan melayani pasien di tempat praktiknya kawasan Sriwedari, Kota Solo. Dokter cantik lulusan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya itu tak luput dari yang namanya bersentuhan dengan mayat.

“Dulu itu sekitar 120 mahasiswa dihadapkan puluhan cadaver (mayat yang telah diawetkan, Red). Seingat saya, satu cadaver untuk praktik lima sampai delapan orang mahasiswa,” ujarnya belum lama ini.

Suasana bertambah horor ketika di dalam laboratorium anatomi terdapat berbagai potongan organ manusia. Seperti jantung, paru-paru, lidah, dan lainnya yang disimpan dalam toples kaca bening berbagai ukuran.

Karena saking takutnya, lanjut Debby, ada seorang kawannya jatuh pingsan. Beruntung, dia bisa bertahan dan mengikuti mata kuliah tersebut hingga akhir. Namun, setelah itu, dokter gigi yang juga mantan model ini sulit tidur karena terbayang-bayang mata cadaver yang melotot.

“Kalau mual sih tidak. Cuma wajah cadaver itu terbayang sampai berhari-hari. Untungnya tidak mempengaruhi pofesi saya saat jadi model,” bebernya.

Masuk pertemuan kuliah kedua, Debby tidak lagi berhadapan dengan cadaver utuh. Melainkan hanya potongan-potongan saja. Seiring berjalannya waktu, cadaver tidak lagi menyeramkan dan rekan-rekan Debby lebih berkonsentrasi mempelajari jaringan tubuh manusia.

“Melihat cadaver memang cukup seram. Tetapi justru itu yang membuat kita jadi lebih kenal dengan anatomi manusia. Kalau asalnya dari mana (cadaver, Red), sayang kurang tahu. Tapi katanya dari rumah sakit dr. Soetomo,” beber Debby.

Terpisah, Elian Devina, mahasiswi kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS) menyatakan, kali pertama melihat cadaver saat masa orientasi mahasiswa.

”Nama kegiatannya tour de lab. Awalnya memang kaget, tapi ya saya kuat-kuatkan. Ada juga yang pingsan. Padahal yang diperlihatkan hanya bagian punggung,” kata dia.

Pada mata kuliah anatomi, Elian kembali bertemu cadaver yang sudah di-insisi (hanya potongan-potongan,Red).”Kami mahasiswa umum tidak diberi kesempatan mengotopsi mayat segar. Kami hanya mempelajari bagian-bagian tubuh. Bagian tubuh yang sudah di-insisi ditujukan mempelajari penyakit,” bebernya.

Bagian apa yang paling sulit dipelajari? Elian mengatakan bagian perut. Sebab, perut terdiri banyak bagian yang berbeda-beda.

Tak jauh berbeda pengalaman mahasiswi kedokteran UNS lainnya Amalia Novia. Tapi dia mengaku bisa tegar. ”Saya merasa biasa saja. Padahal di situ tiap mahasiswa diberi kesempatan berhadapan dengan mayat dalam satu ruang dan sendiri,” kenangnya. (ves/vit/wa)


***


Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044
SOURCEradarsolo.co.id
SHARE