Darah Juang Kami; (Bukan) Penghuni Menara Gading

0
702

Oleh: Siti Qulsyum Shofiyani, Universitas Gadjah Mada

Di sini negeri kami
Tempat padi terhampar
Samuderanya kaya raya
Negeri kami subur Tuhan

Indonesia. Kawah candra di muka. Bak surga dunia, di negeri ini segala apapun bisa dijumpai. Terik matahari pagi, romantisme sunset, pedarnya bulan, gemerlapnya bintang, riuhnya ombak, sepoinya angin, sejuknya udara, dan segala bentuk kenikmatan alam lainnya. Luar biasa. Berada pada ring of fire akibat pertemuan empat lempeng benua menjadikan negeri ini memiliki banyak gunung api aktif diikuti kesuburan tanahnya. Di Pulau Sumatera dan Jawa terdapat tanah subur dan sangat optimal untuk pertanian. Di tanah Kalimantan terdapat kandungan mineral yang begitu melimpah. Hutan hujan tropis yang kaya akan biodiversitas menyelimuti sebagian besar daratan di negeri ini. Pun lautan luas yang memeluk seluruh kepulauan beserta ikan-ikan sehat dan kaya akan protein melimpah di dalamnya. Betapa luar biasa kekayaan alam Indonesia.

Sungguh, tidak semua negara memiliki kekayaaan alam sedahsyat ini. Benar memang. Kayu saja jadi tanaman di negeri ini. Sekali lempar, tumbuh. Tanahnya subur sih. Ditambah posisi Indonesia di garis khatulistiwa dengan dua musim yang seimbang. Nikmatnya panas, hujan. Ah, beruntung. Negeri lain, bahkan untuk sekadar merasakan nikmatnya mentari pagi mereka kesulitan. Atau cuaca yang terlalu terik sehingga siang nyaris 20 jam dengan suhu panas. Indonesia, ideal. Kekayaan kandungan isi perut bumi? Tak perlu diragukan lagi. Minyak bumi, gas alam, batu bara, tambang, emas, bahkan sekelas uranium pun ada. Pasti kas negara semakin gendut dengan banyaknya masukan dari para penduduk negeri yang pandai mengelola sumber daya alam ini. Logikanya. Sejatinya. Nyatanya? Tunggu dulu.

Di negeri permai ini
Berjuta rakyat bersimbah luka
Anak kurus tak sekolah
Pemuda desa tak kerja
Mereka dirampas haknya
Tergusur dan lapar

Potret Indonesia kian hari kian memburuk. Permasalahan multidimensional, multisektor, tampaknya akan menjadi rutinitas yang mendorong pada “Ah, biasa saja. Santai”. Padahal kondisi yang berlarut-larut ini kemudian menjadikan negara semakin carut marut. Entah siapa dalang di balik semua ini. Apakah rakyat yang sulit diatur atau mereka, perampok-perampok berkedok pemimpin. Heran. Bagaimana mungkin Indonesia si negeri konglomerat dengan tumpah ruahnya kekayaan menjadi negara miskin tak terkendalikan. Heran. Logika orang terkece dengan IQ lebih dari 150 pun nampaknya akan berbelit memikirkan bagaimana pola ini bisa terjadi. Apakah kelalaian elit, kelumpuhan sistem, atau rakyat yang membangkang. Entah. Pun demikian, tetap saja yang tertindas kaum bawah.

Sejenak berpikir. Kontemplasi. Menilik sedikit saja, permasalahan apa saja yang ada di negeri ini. Luar biasa, dalam waktu yang sedikit kita pasti mampu menyebutkan dengan bejibun persoalan. Memang begitu. Jika permasalahan di-analogi-kan dengan perputaran jarum, maka Indonesia lebih canggih dari itu, sebutlah mungkin kipas angin saking banyak dan cepatnya kasus yang merebak. Pendidikan masih dibingungkan dengan kurikulum yang tak karuan. Entah sampai kapan anak negeri akan dijadikan kelinci percobaan kurikulum dari tahun ke tahun. Apalagi ketidakmampuan pemerintah mewujudkan bahwa pendidikan adalah hak seluruh anak Bangsa. Tak perlu ditanya, biaya memang selalu rangking satu. Lagi, kesehatan yang tak berujung selesai dengan ketidakadilan dalam pelayanan. Pertanian yang katanya Indonesia adalah negara agraris, tak ada bukti. Penyokong perekonomian terbesar dipinggirkan, Indonesia lupa akan identitasnya. Indonesia sebagai negara maritim? Lupakan saja. Pantas saja kemudian rakyatnya bingung. Indonesia kaya, tapi cari kerja susah. Mau bikin lapangan pekerjaan, sulit. Tak ada ilmu, tak sekolah. Tak ada uang, tak ada modal. Bak lingkaran setan, mana awal mula kesalahan sulit dicari. Beginilah kira-kira kondisi negeri.

Bunda relakan darah juang kami
‘Tuk bebaskan rakyat
Mereka dirampas haknya
Tergusur dan lapar
Bunda relakan darah juang kami

Di sinilah kemudian serakan individu yang bernama mahasiswa dituntut “melek” dalam membaca realita sosial yang terjadi di lapangan. Bukan mereka yang ogah menengok ke belakang, bukan mereka yang hanya sibuk dengan diktat bangku perkuliahan, bukan mereka yang berbusa dengan dialektika semata, bukan mereka yang habiskan waktu tuk habiskan uang orangtua, bukan mereka yang meroket dengan tahta kesombongan, bukan mereka yang santai menyaksikan rakyatnya tercekik, bukan mereka nyaman dalam kemegahan menara gading. Bukan.

Mahasiswa. Hari-hari esok adalah milik kita. Terciptanya masyarakat sejahtera. Dipahami atau tidak, disadari atau tidak, seharusnya hal tersebut sudah terpatri dalam jiwa mereka yang katanya—intelektual muda. Menarik memang berbicara tentang mahasiswa. Penuh warna, penuh dinamika. Ruh perjuangan sejatinya membersamai setiap langkah yang bernafaskan ishlah (perbaikan). Ruh perjuangan sejatinya membungkam segala pemikiran yang tak berjiwa keadilan. Ruh perjuangan sejatinya menafikkan segala aktivitas yang tak ada nilai guna bagi Bangsa. Di sinilah mereka.

Mahasiswa, (bukan) penghuni menara gading. Tidak ada sekat dinding tebal antara kaum perlente dan borjuisme intelektual dengan kaum marjinal dan proletarian. Sadis menyebutnya seperti itu. Tidak. Tepatnya, mahasiswa masyarakat. Mahasiswa adalah bagian dari masyarakat. Mahasiswa berdetak bersama masyarakat. Berdenyut dengan nadi yang seirama. Bernafas dengan frekuensi yang senada. Bersama mereka, masyarakat. Mengentaskan persoalan negeri, memperjuangkan hak-hak penduduk negeri. Mencintai Indonesia dalam keadaan ringan maupun berat. Mahasiswa dan masyarakat satu tubuh. Ketika yang satu terluka, satu lainnya merasakan sakit. Kala tangan teriris, mata menangis. Begitulah, sejatinya. Tak ada lagi yang bisa menghalangi pemuda dan mahasiswa untuk memperjuangkan kestabilan bangsa. Tak ada lagi alasan yang menyurutkan semangat pemuda dan mahasiswa tuk turun tangan dalam membela hak-hak anak Bangsa. Tak.

Pembelaaan atau kemudian yang disebut advokasi adalah keniscayaan yang harus tetap bergulir. Advokasi adalah jalan prioritas penyelamatan keguncangan negeri. Masyarakat adalah nomor wahid dalam urusan pembelaaan dalam negeri. Ancaman, paksaan, siksaan dalam bentuk apapun terhadap masyarakat dan rakyat adalah kebiadaban yang wajib diberantas. Lucunya, masyakarat yang lugu memang selalu dibuat bingung dengan segala tetek bengek “keimutan” kebijakan pemerintah Indonesia. Dalam sektor manapun. Masyarakat dibuat berpikir berputar, dibuat capek dengan aturan yang terkadang tak ada nilai keberpihakan sedikitpun. Lantas keadilan sosial bagi kaum ini pupuslah sudah. Jelas, siapa lagi yang sang advokator segala permasalahan yang menggeruti mereka jika bukan orang yang secara kapasitas keilmuan cukup setara dengan mereka yang duduk di kursi elit.

Jika diam, komentar tanpa kerja, sama saja. Mahasiswa bukan mereka yang hobi kritik tanpa aksi. Solusi tidak berhenti pada tataran konsep. Perlu eksekutor yang mampu mengimplementasikan gagasan perbaikan tersebut. Di sanalah advokasi kemasyarakatan menemukan arenanya. Bukan hal mudah memang. Berhadapan langsung dengan manusia setengah dewa, mengkritisi kebijakan, menyuarakan keadilan. Sulit. Namun, bukan tidak mungkin. Teringat buku yang berjudul Rakyat Tani Miskin (RTM). Sebuah kompilasi artikel yang menyoroti fenomena petani yang sejatinya adalah tulang punggung perekonomian negara. Nyatanya, tidak. Justru mereka menjadi korban kekeroposan kebijakan yang dilakukan oleh para penguasa negeri. Indonesia yang begitu bangga dengan julukannya “negara agraris” justru meminggirkan produsennya sendiri. Kondisi seperti ini bak pola kemiskinan struktural yang didalangi oleh ketidakadilan dan ketidakberpihakan dalam menjamin kehidupan rakyat tani.

Lagi, tidak banyak memang mahasiswa yang terjun, tapi ada. Mereka yang kuat dan bertahan dengan jalan sunyi, sepi, terjal, bebatuan, tanpa sorot lensa dan untaian pujian tetap jalan menghajar keengganan diri menyapa dan berjuang bersama masyarakat. Hal yang tak lepas dari ingatan penulis adalah bagaimana saat itu kami benar-benar dipusingkan dengan disiplin ilmu yang sama sekali tak dimengerti. Lagi lagi pertanian. Mana lagi? Mata pencaharian yang asyik dan diminati mayoritas masyarakat Indonesia, namun tak ubahnya kulit yang dilupakan kacang. Petani dilupakan oleh penguasa bangsanya. Mereka lupa selama ini makan beras hasil siapa, atau mungkin memang sudah tertarik beras import. Aih.

Ingat. Berpikir bagaimana kemudian petani bisa sejahtera dengan mata pencahariannya. Berpikir bagaimana petani mendapat penghasilan maksimal dari apa yang mereka kerjakan. Berpikir bagaimana dengan “anarkis tapi lembut” memangkas mata rantai distribusi yang terlalu panjang. Dan lagi, bukan mahasiswa namanya jika hanya berpikir. Aksi. Menyuarakan keadilan dan keberpihakan pada petani. Menyuarakan kedaulatan pangan Indonesia. Advokasi terus berjalan. Petani dan masyarakat harus sejahtera sebelum meninggalkan anak cucu beserta bangsanya. Lucunya. Hal-hal konyol seperti jualan beras pun kami lakoni. Biar saja. Biar Indonesia tahu bahwa petani tidak main-main. Biar Indonesia tahu petani adalah pahlawan yang tak terbalaskan. Maka wajar, perlawanan atas ketidakadilan terhadap mereka wajib dilakukan. Dan, tentunya pembelaan yang berujung usai. Mahasiswa.

Padamu kami berjanji
Padamu kami berbakti

Indonesia. Ingin rasanya kami kembalikan wajahmu yang dulu. Ingin rasanya kami kembalikan ruh perjuangan bangsamu yang dulu. Bagaimana tidak, di usia 70 tahun rentamu kau tak ubahnya masih seekor kepompong yang masih terkungkung dalam fragmen diri sendiri. Kau tak mampu terbang, menghiasi peradaban dunia ini. Tapi layaknya metamorfase itu, setitik harap kami step kupu-kupu akan segera kau hadapi. Mejadi sosok yang cantik dan menyejukkan. Bukan bicara lagi tentang persoalan negeri, tapi membantu mengentaskan konflik dunia. Dan di sinilah mahasiswa. Kini saatnya. Jika kemudian menyitir kembali dari lirik lagu aksi mahasiswa “Marilah kawan, mari kita kabarkan. Di tangan kita tergenggam arah bangsa. Marilah kawan, mari kita nyanyikan… Sebuah lagu tentang pembebesan”.

BAGIKAN

LEAVE A REPLY