Dari Gerakan Cinta Anak Tani Menuju Indonesia Unggul

495

Oleh : Sohibul Taufik.

Di era globalisasi saat ini, kebanyakan masyarakat pasti banyak memilih jenis pekerjaan yang memiliki pospek cerah bagi dirinya dimasa mendatang. Tidak menutup kemungkinan, kebanyakan orang tua saat ini merekomendasikan anak-anaknya untuk bisa bekerja dan memilih pekerjaan yang prospeknya cerah dan menguntungkan. Ada yang bercita-cita menjadi dokter, dosen, guru, polisi, tentara, dan lain sebagainya. Berbeda halnya dengan petani, profesi sebagai seorang petani dinilai sebagai pekerjaan yang tidak menjanjikan bagi masyarakat dan merupakan pekerjaan rendahan. Sehingga, sangat jarang ada orang yang benar-benar ingin menjadi seorang petani. Akibatnya, jumlah orang yang terjun dibidang pertanian dari waktu-kewaktu mengalami penurunan. Hal ini dipahami juga karena secara umum kebanyakan petani berada pada garis kemiskinan. Hal tersebut didukung oleh data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2010 yang menyatakan bahwa ada 31,2 juta penduduk Indonesia berada dalam kondisi kemiskinan dan 39% diantaranya hidup dari pertanian. Tingkat kemiskinan pada petani tersebut diperparah dengan menurunnya jumlah petani dari tahun-ketahun. Data BPS tahun 2011 juga menyebutkan bahwa jumlah warga bermata pencaharian sebagai petani berkurang 3,1 juta (7,42%) dalam setahun.

Selain itu, hal lain yang cukup mengkhawatirkan bahwa usia rata-rata petani Indonesia saat ini adalah 45 tahun. Artinya petani-petani Indonesia didominasi oleh orang-orang yang tingkat produktivitasnya dalam bekerja tidak terlalu produktif. Bukan hanya itu saja, tingkat pendidikan petani Indonesia rata-rata pada taraf rendah, kebanyakan tidak tamat SD, bahkan tidak bersekolah dan sangat sedikit petani dari lulusan perguruan tinggi. Pernyataan tersebut didukung oleh data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2011 yang menyebutkan bahwa 70% – 80% petani Indonesia hanya lulusan sekolah dasar, bahkan ada yang tidak bersekolah. Kekhawatiran lain yang justru lebih serius datang dari generasi muda yang notabenenya kurang tertarik terhadap sektor pertanian. Hal ini ditandai dengan menurunnya minat lulusan siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) atau sederajat yang memilih jurusan atau fakultas pertanian dibandingkan dengan jurusan atau fakultas bidang lainnya. Bahkan beberapa tahun ke belakang sejumlah lembaga pendidikan yang bergerak pada sektor pertanian menurun secara drastis dan dikhawatirkan akan “gulung tikar” akibat hal tersebut. Kondisi tersebut terjadi akibat generasi muda sekarang mempunyai pola pikir dan cara pandang yang keliru akan pertanian. Selain itu faktor lain diantaranya yaitu kurang gaungnya kebijakan pertanian pemerintah, minimnya ekspose dari media mengenai prestasi kemajuan bidang pertanian dan prospek dibidang pertanian, dan kepercayaan diri dari masyarakat sendiri.

Oleh karena itu, diperlukan berbagai macam solusi yang bisa meminimalisasi kekurangan-kekurangan petani yang telah disebutkan diatas. Salah satunya dengan adannya sebuah gerakan. Gerakan yang bisa merubah paradigma dan persepsi masyarakat, khususnya generasi muda yang masih beranggapan bahwa pertanian itu rendahan, menjijikan, dan bukan prospek pekerjaan yang menguntungkan, dan merangkul semua stekholder, pemerintah, akademisi, maupun stekholder lainnya untuk mewujudkan pertanian yang unggul, lestari, sustainable, dan menjadi prospek kerja yang digemari oleh masyarakat.

Berasaskan pandangan-pandangan keliru terhadap pertanian itu, akhirnya banyak organisasi maupun komunitas yang bergerak untuk meluruskan persepsi tersebut. Salah satunya yaitu Gerakan Cinta Anak Tani (GCAT) yang digagas oleh mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB). Gerakan ini merupakan sebuah gerakan yang dipelopori oleh anak muda sebagai cermin atas gerakan nyata akan kepedulian terhadap petani dan kaum marginal yang berfokus pada bidang pendidikan. Gerakan ini bertujuan untuk: menjaga anak petani agar tetap berada dalam jalur pertanian, meningkatkan sumber daya manusia pertanian dan akses terhadap fasilitas pendidikan dan pengetahuan keluarga petani, dan membantu anak petani yang potensi agar bisa melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi. Bentuk program gerakan ini diantaranya adalah; program beasiswa kepada anak petani potensial, pembinaan berupa training pengembangan diri, bimbingan belajar dan pendampingan untuk penerima manfaat, melaksanakan pembinaan “sekolah kepedulian” untuk relawan, dan pembentukan komunitas anak tani. Walaupun cakupannya belum menyentuh seluruh penjuru nusantara, sampai sekarang gerakan ini sudah memberikan sumbangsih yang cukup bagus terhadap pertanian Indonesia, khusunya dalam pendidikan untuk beberapa anak petani yang berada di daerah Bogor, Jawa Barat. Adanya gerakan ini juga memacu semangat anak-anak petani untuk terus bisa melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi dan bisa dijadikan rujukan sebagai altenatif bagi pembangunan petanian Indonesia.

Beberapa upaya yang telah dilakukan oleh gerakan ini dalam memperkenalkan dunia pertanian kepada generasi muda masih belum cukup dan kurang menunjukkan hasil yang maksimal. Beberapa kekurangan yang penulis amati untuk gerakan ini diantaranya yaitu, manajemen pengelolaan siswa (penerima manfaat) masih belum rapih dan kurikulumnya belum tertata, tidak adanya controling terhadap relawan, dan penerima manfaat hanya difokuskan untuk siswa Sekolah Menengah Atas (SMA). Oleh karena itu diperlukan solusi yang efektif, sehingga gerakan ini akan selalu eksis dan booming diseluruh penjuru nusantara, bahkan international

Dari beberapa uraian dan permasalahan di atas, penulis memberikan sebuah gagasan terbaru untuk dapat menjawab dari permasalahan tersebut. Pertama, intensivitas dan ekspose media lebih di-booming-kan lagi, baik secara online maupun cetak. Hal ini dapat disiasati dengan melakukan kerjasama dengan berbagai mitra atau media partner yang mempunyai track record yang baik serta pengemasan publikasi yang unik dan terintergasi. Sehingga ke depannya, gerakan ini bisa dikenal diberbagai daerah di Indonesia, bahkan lebih jauhnya bisa terkenal di mancanegara. Kedua, pembentukan aliansi atau forum dengan perguruan tinggi di Indonesia yang ada jurusan atau fakultas pertanian, dengan konsep awal yang dikembangkan di daerahnya masing-masing. Ketiga, pengembangan penerima manfaat yang tidak terfokus hanya kepada siswa SMA, melainkan bisa juga untuk siswa SD maupun SMP. Kaitannya dengan hal ini, gerakan ini juga bisa melakukan mitra dengan berbagai stekholder pemerintahan seperti kementrian pendidikan dan kebudayaan atau kementrian pertanian dalam menginisiasi terbentuknya Sekolah Dasar Pertanian (SDP) maupun Sekolah Menengah Pertama Pertanian (SMPP). Dengan adanya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 1 Ayat 14 menyebutkan bahwa “Pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut”. Gagasan ini dapat dijadikan sebuah solusi yang terbaik untuk mengatasi permasalahan regenerasi dibidang pertanian.

Di Sekolah Dasar Pertanian dan Sekolah Menengah Pertama Pertanian ini, para siswa akan tetap diajarkan dengan pelajaran-pelajaran umum seperti biasanya, tetapi bedanya adalah pelajaran-pelajaran umum tersebut hanya sebagai basic dalam pembentukan karakter siswa yang pada akhirnya terfokus kepada dunia pertanian. Gagasan ini memang akan sedikit kontroversial dikarenakan minat orang tua untuk memasukan ke SD Pertanian maupun SMP Pertanian cenderung akan sedikit, dikarenakan orangtua apalagi yang berprofesi sebagai petani tentu tidak ingin melihat anak mereka sama seperti yang mereka jalani. Namun, hal itu dapat diatasi dengan pendekatan-pendekatan secara langsung terhadap masyarakat, baik berupa penyuluhan maupun sosialisasi tentang urgensi seorang petani di Indonesia. Program tersebut dapat digencarkan oleh seluruh stekholder, mulai dari pemerintah sebagai pemegang kebijakan, kalangan aktivis penggiat sosial, komunitas-komunitas social movement, tenaga ahli dan intelektual, serta masyarakat yang peduli akan kiprah pertanian. Proses ini memang tidak akan serta merta mendapat respon baik terhadap adanya program ini, namun lambat laun masyarakat pun akan mengerti dan sadar tentang pentingnya nasib pertanian Indonesia selanjutnya.

Terbentuknya SD dan SMP yang diinisiasi oleh Gerakan Cinta Anak Tani dengan basis pertanian ini, diharapkan akan dapat menjadi solusi dari kekhawatiran masyarakat dan permasalahan minat generasi muda yang kurang peduli terhadap dunia pertanian. Artinya, generasi muda bukan hanya mendapatkan ilmu pertanian dimulai dari Sekolah Pendidikan Pertanian (SPP), SPPMA, atau yang setara dengan SMA, tetapi mereka mendapatkan ilmu pertanian sudah dimulai dari Sekolah Dasar ataupun Sekolah Menengah Pertama, dan nantinya akan membuat mereka lebih fokus untuk memilih ilmu pertanian ketika mereka melanjutkan ke pendidikan sekolah yang lebih tinggi. Ke depannya Indonesia tidak perlu khawatir akan kekurangan sumber daya manusia dibidang pertanian, karena dengan adanya program ini, diupayakan akan banyak sumber daya manusia yang berkualitas dan fokus menyelami pertanian. Sehingga, apa yang menjadi kekhawatiran pemerintah maupun masyarakat pada umumnya bisa teratasi dan pertanian Indonesia bisa menjadi basis unggulan dalam pembangunan Indonesia yang unggul.


***


Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044
SHARE