Dinamisasi Keorganisasian dan Kulturalisme Gerakan Mahasiswa

614

Oleh: Khairunnas Han

Organisasi merupakan wadah aktualisasi intelektual yang sangat populer dikalangan mahasiswa berparadigma kebangsaan. Pembinaan, pembetukan karakter dan pengembangan pemikiran adalah tawaran yang paling mendasar dan paling menarik dari wadah ini. Realitas keorganisasian juga menjadi ladang perbaikan mental yang sangat efektif, karena adanya pengaruh dinamisasi yang tanpa batas. Sehingga daya tahan fisik dan mental akan teruji, dan dapat menterjemahkan karakter dan pemikiran ke arah yang lebih nyata. Karenanya juga lahir gagasan – gagasan besar, yang merupakan produk dari seorang organisatoris yang terbiasa bergelut dan dihadapkan pada persoalan – persoalan teknis maupun sistemik. Sehingga pilihannya hanya menguras semua potensi diri untuk memecahkan masalah, atau menghapus diri dan mundur dari panggung keorganisasian.

Dinamisasi atau perubahan pola pikir dan heterogenitas yang terjadi dalam keorganisasian sepintas memang dipandang sebagai sebuah tekanan yang seharusnya tidak perlu ada, akan tetapi hal yang kemudian harus kita pahami sepenuhnya adalah munculnya dinamisasi ini membuat kita akan terus berpikir untuk menjadi seorang problem solver (pemecah masalah), hal ini dikarenakan sebuah kondisi yang tercipta akan membuat kita terbiasa bekerja dibawah tekanan dan dibayangi oleh masalah – masalah yang ada. Belum lagi munculnya dorongan dalam diri yang menuntut kinerja dengan tawaran pemikiran maksimal dan meminimalkan celah – celah kesalahan. Dan tentu ini akan berbeda dengan orang – orang yang hidup pada zona – zona nyaman, dimana pada kondisi yang nyaman tersebut orientasi dari kinerja lebih kepada sekedar melanjutkan pemikiran sistem lama, dibanding sebuah alternatif sistem bentuk baru. Karena bila berbicara konteks keorganisasian, maka keberhasilan tidaklah dinilai dari figuritas (menonjolnya seorang figur) ataupun bergenning position dari sebuah organisasi. Tapi bagaimana lahir sebuah sistem regenerasi yang produktif dan menjajikan masa depan organisasi yang lebih baik.

Berbicara dinamisasi tidak akan pernah habisnya, apalagi diorganisasi kemahasiswaan yang merupakan medan peperangan dari berbagai ideologi pergerakan. Dan perbedaan – perbedaan ideologi tersebutlah yang akan terus menjadi mentalitas dan inovasi pemikiran – pemikiran intelektual yang terus terbarukan sesuai tuntutan dan kebutuhan bangsa. Lalu selanjutnya yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana bisa dinamisasi ini bertahan secara alami dengan tingkatan idelaisme mahasiswa itu sendiri? Sehingga sebuah pergerakan mahasiswa yang kultural (atas dasar keinginan sendiri dan merdeka dalam berfikir) dapat terbangun dengan kokoh dan beregenarasi dengan baik.

Berbicara pergerakan mahasiswa tentu kita sedang membicarakan puncak dari idealisme peradaban intelektual. Sebuah pola pikir dan bertindak bukan atas kepentingan tetapi justru karena adanya dorongan moralitas. Dan oleh karena itu pergerakan mahasiswa dalam sejarahnya menjadi sebuah kekuatan besar yang menjadi pemerang  kekuasaan yang tidak berorientasi kepada kepentingan publik. Sehingga atas dasar romantisme sejarah tersebut maka lahirlah pemikiran – pemikiran bawah tanah yang mencoba merusak sistem pergerakan yang menakutkan itu. Dimana realitas disetiap harinya banyak muncul keragu – raguan publik terhadap independen atau tidaknya sebuah pergerakan mahasiswa. Dan bila ini tidak disadari dan diantisipasi secara sistemik oleh mereka aktor – aktor organisasi kampus, maka sejarah pergerakan mahasiswa memang akan benar – benar menjadi sebuah romantisme belaka, lalu apatisme (ketidakpedulian) terhadap persoalan – persoalan kebangsaan akan menggiring negeri ini kepada konsep sosialisme, ataupun pola kebangsaan yang identik dengan liberalitas. Hal ini disebabkan karena hilangnya kritisi terhadap pemerintah, sehingga parlemen bergerak atas dasar kepentingan politik meskipun mereka yang ada diparlemen merupakan representasi dari rakyat (kita).

Tulisan ini bukan sedang mendramatisir keadaan, tapi kenyataannya memang demikian. Karena sejatinya keorganisasian mahasiswa, atau bahkan mahasiswa sebagai objek tunggal memang harus menggiring pemikirannya pada konsep – konsep yang ideal (idealisme). Dan cukuplah realitas yang ada dijadikan sebagai evaluasi dan sampah bila dia benar – benar bertolak belakang kepada konsep idealisme itu sendiri. Karena tanpa idealisme memang tak akan ada pergerakan mahasiswa yang bergerak secara kultural, akan tetapi justru menggesar paradigma moralitas kepada paradigma kpentingan praktis layaknya parlemen yang hidup dari pondasi dan akar – akar partai politik.

Sebuah pesan kepada setiap generasi dan komponen bangsa, bahwa janganlah memandang hina sebuah idealisme hanya karena perhitungan mayoritas dan minoritas. Karena kebenaran bukanlah sesuatu yang secara terus menerus bisa diukur atas dasar kesepakatan orang yang lebih banyak, karena justru idealisme muncul dari dorongan dan keinginan kultural, yang kemudian secara tidak sengaja bertemu dengan orang – orang yang juga memiliki dasar idealisme yang sama. Lalu, baiknya kita sadari sejatinya setiap generasi memang tidak memiliki tingkat idealisme yang sama, tapi tetaplah konsepsi kebenaran menjadi dasarnya. Dan yakinlah perubahan muncul dari idealisme, bukan sebuah penghambaan kekuasaan atau sebuah “nama” pucuk kepemimpinan keorganisasian, karena sejatinya orang – orang hebat itu muncul atas dasar pengaruh dan kebermanfaatannya, bukan karena ia memenangkan sebuah perebutan kekuasaan.

Harapan besar akan selalu tumbuh dan berkembang dalam sebuah dinamisasi keorganisasian kampus. Lalu, kulturalisme pergerakan mahasiswa akan tetap hidup sebagai pondasi demokrasi dan kepentingan publik. Meski banyak cacian dan hinaan kepada mereka yang hidup diatas jalan idealisme, akan tetapi mereka yang bertahan hingga pulang ke pangkuan tuhan, adalah pemenang yang sebenarnya. Bergeraklah atas dasar keinginan yang benar, merdekakan pikiran dari belenggu kepentingan yang merusak moral, lalu berserahlah kepada tuhan atas segala kebenaran yang dia ajarkan, hingga melepas almamater tetaplah beridealisme meskipun dalam bentuk yang berbeda.

Pada akhirnya perbedaan adalah sebuah hadiah yang luar biasa, maka berfikirlah untuk membuat banyak gagasan besar dan menggiring keadaan kepada sebuah perubahan yang lebih baik. Berdinamisasilah dalam kehidupan layaknya seorang khalifah yang membawa ajaran Islam, tak peduli diterima atau tidak, tapi sedikitpun ia tak pernah menyakiti dan memaksa orang – orang yang menghinanya. Layaknya sebuah perjuangan kemerdekaan hingga reformasi ini, semangat pergerakan secara kultural hidup membawa sebuah solusi dari krisis kebangsaan. Dan parlemen pemerintahan bukan musuh yang harus dibunuh, akan tetapi mereka adalah pihak yang perlu terdasarkan oleh betapa hebatnya idealisme kita (mahasiswa) yang mewakafkan diri untuk membela kepentingan segenap komponen bangsa ini. Dan diakhir tulisan ini perjanjian diri dan tuhan atas dasar kebenaran yang telah diajarkanNya, juga sebuah harapan dan do’a untuk kemaslahatan bangsa dan dunia, sungguh baik dikala kita mendorong dan menuliskan nama diri dalam buku aktor pergerakan itu, meski tanpa nama, harta, dan kekuasaan yang semu itu.

SHARE