Diskusi dan Peluncuran Buku “Belajar Merawat Indonesia untuk Kepemimpinan Alternatif”

419

Bicara kepemimpinan di Indonesia, sering kali diidentikkan dengan persoalan kekuasaan politik. Jadi, mencari dan menjadi pemimpin dipersepsikan bahwa kita tengah mengulas siapa-siapa yang bakal duduk sebagai bupati, gubernur, hingga presiden. Inilah sebuah penyederhanaan wacana sebagai imbas pendeknya sumbu berpikir kita dalam menatap proses penting di balik kepemimpinan itu sendiri.

Salah satu hal menarik pula adalah harapan munculnya kepemimpinan alternatif, yang tentunya kelahirannya tidak hanya berporos pada proses politik seperti sekarang ini, yang menjadikan partai politik sebagai satu-satunya sarana pemunculan para pemimpin bangsa.

Dalam rangka memotret realitas dan fenomena di atas, para penerima manfaat beasiswa BAKTI NUSA (Beasiswa Aktivis Nusantara) Beastudi Indonesia menulis sebuah buku yang berisi gagasan dan pemikiran mengenai hal ini. Buku yang berjudul “Belajar Merawat Indonesia untuk Kepemimpinan Alternatif” menampilkan bagaimana kepemimpinan alternatif itu bisa hadir.

Bertepatan dengan peringatan Sumpah Pemuda, maka pada tanggal 29 Oktober 2012 dilaksanakan Diskusi dan Peluncuran Buku Belajar Merawat Indonesia untuk Kepemimpinan Alternatif. Bertempat di Gedung Juang 45 , Jl. Menteng Jakarta, hadir para pembicara yang sangat relevan dengan tema yang diusung.

Hadir sebagai pembicara pada kesempatan kali ini, yakni Burhanuddin Muhtadi, selaku dosen, peneliti dan juga pengamat politik, selain itu hadir pula Lukman Hakim Saifuddin selaku politikus muda yang kini menjabat sebagai Wakil Ketua Umum MPR RI dan juga turut sebagai pembicara yakni Ahmad Juwaeni, selaku Direktur Eksekutif Dompet Dhuafa.

“Pemimpin alternatif itu  minimal memiliki tiga kriteria, Muda dalam arti berjiwa semangat, enerjik dan visioner, lalu berkarakter maksudnya jujur tidak korupsi dan terakhir, Breakthrough berani melakukan terobosan” ungkap Ahmad Juwaeni menggambarkan kepemimpinan alternatif.

Di lain sisi Burhanuddin Muhtadi mencermati mengenai budaya kepemimpinan yang sekarang muncul, “Sekarang ini muncul pemimpin yang populis namun tidak berkarakter, dan sebaliknya ada yang berkarakter namun tidak populis, maka tugas kita semua untuk mem-push tokoh-tokoh itu sehingga muncul di permukaan” ungkap peneliti dan dosen UIN ini.

Sedangkan Lukman Hakim Nasution, mengungkapkan bagaimana para calon pemimpin yang hadir pada acara itu bersikap optimis“ Kita harus lepas dari bayang-bayang masa lalu, dengan itulah kita bisa menjadi pemimpin masa depan, dan ingat , jam terbang itu tidak bisa dibeli meski reputasi bisa dibeli” ungkap Wakil Ketua Umum MPR periode 2009-2014 ini.


***


Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044
SHARE