Donor Darah

631

Oleh: Erie Sudewo

Dalam gelaran Sociopreneur Camp 2016. Minggu, 07 Agustus 2016

Ba’da Shubuh di Ahad kemarin saya bawa tubuh yang 100 kg ini ke PMI di Kramat Raya Jakarta Pusat. Ngapain? Donor bro, donor darah.

“Wah, HB bapak 17. Darah terlalu kental”. Deeesss… lunglai saya di PMI. Padahal jauh-jauh dari Bintaro ke PMI di Kramat Raya Jakarta Pusat. Padahal sengaja berangkat ba’da Shubuh untuk menghindari macet & antre donor.

Hidup ini aneh. Waktu kecil, guru saya bilang: “makan sayur-sayuran”. Sekarang darah kental akibat makan sayuran, hendak donor ditolak. Yo, opooo rek!

Bapak di sebelah saya sudah donor 70x lebih. Saya cuma bisa iri dan terkagum-kagum. Suatu saat, dokter terkejut karena darah si bapak bersih dan tampak sehat. Jarang ada darah seperti itu, ibarat air yang bening, tanda penuh oksigen.

Dodid Pradono namanya, jelang 60 tahun. Tubuhnya kurus, malah kekurusan sehingga terlihat ringan ketika bergerak dan seolah ia tak punya keluhan. Maklum bro, di usia segitu banyak orang ambil nafas saja ngos-ngosan. Berdiri sengkrang sengkring diganggu asam urat.

“Sudah 18 tahun saya Shubuh di Masjid Al-Azhar,” jawabnya mengagetkan. Dia tinggal di Cipete, Jakarta Selatan, jarak dari rumah ke masjid sekitar 4 km. Maka tiap pukul 4 pagi ia bersepeda ke Al-Azhar. Wajar dia sehat, sebab udara yang paling menyehatkan ya pas shubuh itu.

Sumpah, dia tak sedang hakimi saya. Cuma kisahnya tegas-tegas menegur saya. Jangankan 4 km, lha masjid di belakang rumah yang cuma 150 meter saja jarang saya kunjungi. Apalagi Shubuh berjamaah konsisten 18 tahun lagi.

Tanpa sadar saya banding-bandingkan diri. Beda maqom memang. Beda antara orang beriman dan orang yang merasa beriman. Orang beriman Sami’na Wa’athona, dengar & kerjakan. Sedang yang merasa beriman, dengar dan lupakan.

Sama2 dengar, beda praktik. Dia beriman, saya baru merasa beriman. Dia langsung kerjakan, sementara saya terus saja berandai-andai.

Saya pernah dengar perilaku bisa berubah usai terima transfusi darah. “Betul. Donor darah perlu lebih hati-hati. Sebab darah mudah terkotori penyakit. Akibatnya bisa tulari orang yang terima darah itu,” jelasnya.

Makanan tak halal, minuman keras, rokok dan apapun yang tak thayib bisa buat darah bermasalah. Terlintas Starbuck tempat nongkrong. “Halal gak ya?” nurani saya bertanya.

“Maka sebagian ulama haramkan muslim tranfusi darah yg tercemar akibat hal-hal haram,” pesannya mengejutkan.

“Gimana jika kita buat KDM (Komunitas Donor Muslim)?” usul kang Dodid. Sepakat! Segera saya dorong dia ! menjadi penggeraknya. Ini bukan SARA, ini soal hidup sehat.

Seumur hidup jagai makanan halal dan thayib. Jangan hanya gara-gara butuh darah, diri kita jadi rusak karena pakai darah yang tak jelas asal usulnya.

Tiap Sabtu dan Ahad, rumah ibadah lain adakan donor darah. Sedang masjid, sedikit sekali yang lakukan. “Mustinya kita pakai darah jamaah sendiri. Bukan darah jamaah lain,” gugat kang Dodid.

Di mobil saya berpikir, andai lembaga-lembaga zakat galakkan donor. Andai komunitas pengajian jadikan donor satu aktivitas. Andai masjid yang jumlahnya ratusan ribu juga gerakkan “Jumat Donor Darah”, PMI tentu dibanjiri darah sehat. Sumbangan besar dan selamatkan muslim lain dari keharaman darah.

“Ini jihad,” akal saya berbisik. Jika kita, istri, suami atau anak-anak butuh darah kelak, apakah kita biarkan dialiri darah orang-orang yang liar hidupnya? Darah mereka kotor, terkontaminasi dan tercemar penyakit.

Sembuh belum tentu, tetapi darah yang haram telah merasuk dalam diri kita. Naudzubillah mindzalik. “Kita harus galakkan donor darah yang thayib bro,” saya tancap gas untuk beritahu teman-teman. Bagaimana dengan Anda?

IMG-20160807-WA0002

***

Erie Sudewo adalah tokoh Social Entrepreneur yang tergerak untuk mendirikan Character Building Indonesia pada 2010 dalam rangka berperan membangun Indonesia yang lebih baik.

Kiprah Beliau membangun dan memimpin Dompet Dhuafa Republika, salah satu lembaga nirlaba publik terbesar di Indonesia saat ini, telah menginspirasi banyak lembaga sosial dalam memainkan peran mengatasi kemiskinan di Indonesia. Atas kiprahnya ini, Beliau mendapat anugrah penghargaan The Best Social Entrepreneur of The Year 2009 dari Ernst & Young.

Di tahun yang sama, Erie Sudewo juga memperoleh beberapa penghargaan, seperti Finalis Man of The Year 2009 dari Harian Seputar Indonesia dan Tokoh Perubahan 2009 dari Harian Republika. Penghargaan ini melengkapi penghargaan yang pernah diterimanya sebagai Ikon Sosial 2008 dari Majalah Gatra.

Di tahun 2010, Erie Sudewo meraih penobatan sebagai Tokoh Zakat 2010 dari IMZ. Dan selang 2 tahun berikutnya, Beliau meraih anugrah sebagai Tokoh Pemecah Kebuntuan 2012 dari Majalah Inti Sari.

Beberapa Buku yang pernah ditulis Beliau antara lain Pemulung Zakat; Manajemen Zakat; Politik ZISWAF; Nasib, Nisab, Nasab; dan Best Practice Character Building.


***


Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044
SHARE