Dua Rukun Iman

609

Iman adalah engkau beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari akhir, dan beriman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk…” (HR. Muslim)

Dalam KBBI, rukun adalah asas, dasar, sendi, atau sesuatu yang harus dipenuhi untuk sahnya suatu pekerjaan. Sementara rukun iman didefinisikan sebagai dasar keyakinan dalam agama Islam, yaitu percaya kepada Allah, kepada malaikat-Nya, kepada kitab-Nya, kepada para nabi dan rasul-Nya, kepada hari kiamat, dan kepada untung baik dan buruk yang datang dari Allah. Ada enam asas dalam agama Islam, jika didetailkan lagi dalam cabang-cabang iman jumlahnya akan lebih banyak lagi. “Iman itu ada tujuh puluh atau enam puluh cabang lebih, yang paling utama adalah ucapan ‘Laa ilaaha illallah’, sedangkan yang paling rendahnya adalah menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dari jalan. Dan malu itu salah satu cabang keimanan” (HR. Bukhari – Muslim).

Selain iman kepada Allah SWT yang sangat mendasar, dari enam rukun iman dan puluhan cabang iman yang telah diklasifikasikan oleh berbagai ulama, iman kepada hari akhir adalah iman yang paling banyak disebut dalam Al Qur’an dengan berbagai bentuknya. Bahkan dalam 19 ayat Al Qur’an, iman kepada hari akhir disebut bersamaan dengan iman kepada Allah SWT. Misalnya, dalam Al Qur’an surah An Nisa ayat 59, Allah SWT berfirman yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

Penyebutan secara bersamaan memperlihatkan adanya keterkaitan erat, sementara penyebutan secara berulang menunjukkan tingkat kepentingan hal tersebut untuk menjadi perhatian. Misalnya jika  kita perhatikan tentang mendirikan shalat dan menunaikan zakat yang sebanyak 28 kali dalam Al Qur’an disebut bersamaan, sangat jelas keduanya saling terkait dan melengkapi, tidak bisa berdiri sendirian. Para sahabat dan ulama terdahulu banyak mengingatkan bahwa shalat dan zakat diwajibkan bersama, tidak secara terpisah-pisah. Bahkan Abu Bakar r.a. memerangi mereka yang enggan membayar zakat pun mereka masih menunaikan shalat.  “Dan orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan yang beriman kepada Allah dan hari akhir, orang-orang itulah yang akan Kami berikan kepada mereka pahala yang besar” (QS. An Nisa: 162).

Iman kepada Allah SWT mengandung empat unsur, yaitu mengimani wujud Allah SWT, mengimani rububiyah Allah SWT, mengimani uluhiyah Allah SWT, dan mengimani nama dan sifat Allah SWT. Sementara iman kepada hari akhir adalah percaya penuh bahwa semua yang Allah beritahukan di dalam kitab-Nya dan yang Rasul-Nya sampaikan mengenai kehidupan setelah mati adalah benar, yaitu tentang adanya fitnah kubur, berikut azab dan nikmat yang ada di dalamnya. Dan juga tentang adanya hari kebangkitan (yaumul ba’ats), hari pengumpulan (yaumul mahsyar), dibagikannya catatan amal (ash-shuhuf), hari perhitungan (yaumul hisab), timbangan (mizan), telaga (al-haudh), jembatan (ash-shirath), syafa’at, serta adanya surga dan neraka yang telah Allah SWT persiapkan.

Sebagian besar komponen iman tersebut bersifat ghaib, tidak seperti Rasul atau Kitab yang jelas terlihat sosok atau wujudnya. Mengimaninya juga memiliki konsekuensi besar yang terwujud dalam tingkah laku. Kaum kafir Quraisy sebenarnya mengakui adanya (Rububiyah) Allah sebagai pencipta alam semesta melalui nenek moyang mereka, namun menolak menyembah (Uluhiyah) Allah karena kebodohan dan kesombongan mereka. Bisa dibayangkan bagaimana sulitnya mereka mengimani hari akhir dimana ibu lupa pada anaknya atau matahari hanya berjarak 1 mil dari manusia. Belum lagi mengimani tanda-tanda hari kiamat seperti munculnya Dajjal, binatang melata (ad-daabah), ya’juj dan ma’juj, turunnya Nabi Isa a.s. ataupun terbitnya matahari dari barat. Alhasil, pun mereka yang menggelari Muhammad sebagai Al Amin (orang yang dapat dipercaya), kaum kafir Quraisy menolak risalah yang dibawanya, bahkan mencibirnya. Mereka memilih untuk tidak beriman kepada Allah dan hari akhir.

Iman kepada Allah SWT dan hari akhir ibarat hubungan antara iman dan amal shalih yang sebanyak 60 kali disebutkan bersamaan dalam Al Qur’an. Disebutkan dalam sebuah hadits riwayat Ath-Thabrani, Rasulullah SAW bersabda, “Allah tidak menerima iman tanpa amal dan tidak pula menerima amal tanpa iman”. Menariknya, korelasi iman (keshalihan individu) dengan amal shalih (keshalihan sosial) ini sejalan dengan korelasi antara iman kepada Allah dengan iman kepada hari akhir, dimana iman harus selalu terimplementasi dalam amal nyata. Tidak heran dalam berbagai ayat dimana iman kepada Allah dan hari akhir disebutkan bersamaan, juga dicantumkan amal shalih yang menyertainya, misalnya dalam Al Qur’an surah Al Baqarah ayat 177, surah Al Maidah ayat 69, atau surah At Taubah ayat 8.

Dalam sebuah hadits yang riwayat Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia menghormati tetangganya. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya”. Indikator keimanan kepada Allah dan hari akhir yang ghaib, dalam berbagai dalil justru sangat jelas ukurannya. Tercermin dalam aktivitas sehari-hari, termasuk mendirikan shalat, menunaikan zakat, menepati janji, sabar, dan sebagainya. Tidak semua komponen rukun iman punya korelasi sekuat ini.

Iman kepada Allah SWT dan iman kepada hari akhir memberi dampak positif bagi kehidupan manusia, di antaranya sama-sama mendorong sikap teguh, sabar, berani, penuh semangat dan optimisme. Iman kepada Allah SWT akan menguatkan jiwa merdeka seorang hamba, sementara iman kepada hari akhir akan mendorong motivasi produktif untuk beramal. Tidak cinta dunia, tidak takut mati. Memahami hakikat diri beserta masa depan abadi yang menanti, dan mempersiapkan bekal terbaik untuk menghadapinya. Seimbang antara sikap takut (khauf) dan harap (raja’). Banyak mengingat Allah SWT dan meneladani peri kehidupan Rasulullah SAW.

Sesungguhnya pada diri Rasulullah ada teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak berdzikir kepada Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)


***


Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044
SHARE