Ekonomi Kreatif, Meningkatkan Daya Saing Indonesia dalam Menghadapi MEA 2015

296

0leh: Adi Angga Sukmana, Mahasiswa STEI SEBI Depok

Implementasi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)

Sejarah aktivitas ekonomi dunia mulai tergambarkan sejak meletusnya revolusi industri di Inggris antara tahun 1750-1850 Masehi [1]. Revolusi Industri identik dengan nama James Watt sebagai salah satu tokoh inti dari revolusi ini. Kemudian revolusi ini menyebar ke Eropa barat, Amerika Utara, Jepang sampai keseluruh dunia termasuk Indonesia. Sebelum era Industri, aktivitas ekonomi masyarakat dunia masih sangat bergantung pada produk-produk pertanian yang diolah oleh tenaga manusia.

165 tahun setelah revolusi industri lahir di Inggris, dunia masuk ke dalam era aktivitas ekonomi yang sangat jauh berbeda, bahkan dunia sedang beranjak ke dalam era ekonomi yang benar-benar baru. Disadari ataupun tidak, Indonesia kini masih berada di dalam abad informasi. Lihat saja tren yang sedang menjamur saat ini. Toko online di mana-mana, ramainya media sosial (Facebook, Twitter, LINE, Instagram, PATH, dll), juga fasilitas wifi di mana-mana. Sedikit banyak cara baru aktivitas ekonomi semacam ini telah membantu Indonesia berdiri kembali setelah dilanda krisis global di tahun 2008. Krisis ekonomi yang berawal di Amerika Serikat pada 2007 telah menyebarkan dampaknya keseluruh negara di dunia tak terkecuali Indonesia. Hal ini ditandai dengan perekonomian Indonesia yang masih berada diangka 6,1% di 2008. [2]

Perkembangan ekonomi global akhir-akhir ini memberikan sinyal akan pentingnya peningkatan kemandirian dan daya saing sebuah negara di dunia internasional, apalagi Indonesia akan dihadapkan dengan implementasi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), yang pelaksanaannya akan dimulai pada 31 Desember 2015.

Pemberlakuan MEA dapat dimaknai sebagai harapan akan prospek dan peluang bagi kerjasama ekonomi antar kawasan dalam skala yang lebih luas, melalui integrasi ekonomi regional kawasan Asia Tenggara, yang ditandai dengan terjadinya arus bebas (free flow): barang, jasa, investasi, tenaga kerja, dan modal. Ini juga akan menjadikan kawasan ASEAN yang lebih dinamis dan kompetitif.

Dengan hadirnya MEA, Indonesia sejatinya memiliki peluang untuk memanfaatkan keunggulan dengan meningkatkan skala ekonomi aggregate, sebagai dasar untuk memperoleh keuntungan, dengan menjadikannya sebagai sebuah momentum untuk memacu pertumbuhan ekonomi. Bagi Indonesia, MEA akan menjadi peluang  karena hambatan perdagangan akan cenderung berkurang bahkan perdagangan antar negara ASEAN menjadi bebas tanpa hambatan. Hal tersebut akan berdampak pada peningkatan ekspor yang pada akhirnya akan meningkatkan GDP Indonesia.

Namun sebaliknya, pemberlakuan MEA 2015 akan dapat menjadikan kita sebagai konsumer, yang ditandai dengan hanya menjadi pasar impor. Apabila tanpa persiapan yang matang dalam meningkatkan produktivitas, efesiensi, dan daya saing. Apalagi saat ini Indonesia adalah pengimpor pangan yang sangat besar. Jika tidak mampu meningkatkan produksi pangannya secara mandiri, Indonesia akan terus mengalami defisit neraca perdagangan yang berdampak pada melemahnya nilai Rupiah.

Produktivitas yang tinggi mencerminkan daya saing tinggi dan daya saing tinggi berpotensi menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Untuk bisa menjadi negara dengan daya saing tinggi harus ada beberapa yang harus terpenuhi diantaranya meliputi infrastruktur, kualitas birokrasi, stabilitas ekonomi makro, serta pendidikan,[3] yang kesemuanya bermuara pada upaya meningkatkan daya saing ekonomi.

Ekonomi Kreatif

ekonomikreatif

Kreativitas akan menjadi aktivitas ekonomi mendatang, menggantikan fokus kini pada informasi. Menurut sejarah, agrikultur, perindustrian, dan informasi adalah merupakan hal yang dominan dalam aktivitas ekonomi manusia. Prediksinya menempatkan kreativitas dalam paradigma kategori historis yang membentuk sejarah ekonomi manusia dari sejak permulaan waktu. Maka, seperti halnya revolusi industri menggantikan agrikultur sebagai aktivitas ekonomi dominan, kreativitas pun akan menggantikan abad informasi sebagai fokus dominan ekonomi global (Nomura Research Center)[4].

Ekonomi kreatif sendiri didefinisikan dalam beberapa poin berikut:

  • Ekonomi Kreatif adalah konsep yang berkembang berdasarkan aset kreatif yang berpotensi membantu pertumbuhan ekonomi.
  • Ekonomi kreatif mampu meningkatkan pemasukan bagi masyarakat, menciptakan lapangan pekerjaan dan nilai ekonomi yang berasal dari kegiatan ekspor yang dalam waktu bersamaan juga membantu mempromosikan keragaman sosial-budaya serta mengembangkan sumber daya manusia.
  • Kemudian Ekonomi Kreatif juga mampu menguatkan aspek-aspek ekonomi, kebudayaan dan sosial yang mampu berinteraksi baik dengan teknologi, kegiatan intelektual serta tujuan pariwisata.
  • Ekonomi kreatif merupakan aktivitas ekonomi berbasis ilmu pengetahuan (knowledge-based economy) dengan dimensi pengembangan hubungan lintas sektoral baik di level makro maupun mikro di dalam aktivitas ekonomi secara keseluruhan.
  • Di jantung ekonomi kreatif terdapat industri kreatif.

(United Nations Conference on Trade and Development) seperti dikutip pada buku “Creative Economy Report 2010” yang dirilis PBB [5].

Dari pengertian-pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa konsep Ekonomi Kreatif merupakan sebuah konsep ekonomi di era ekonomi baru yang mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan ide dan stock of knowledge dari Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai faktor produksi utama dalam kegiatan ekonominya.

Struktur perekonomian dunia mengalami transformasi dengan cepat seiring dengan pertumbuhan ekonomi, dari yang tadinya berbasis Sumber Daya Alam (SDA) sekarang menjadi berbasis SDM, dari era pertanian ke era industri dan informasi. Alvin Toffler (1980) dalam teorinya melakukan pembagian gelombang peradaban ekonomi kedalam tiga gelombang. Gelombang pertama adalah gelombang ekonomi pertanian. Kedua, gelombang ekonomi industri. Ketiga adalah gelombang ekonomi informasi. Kemudian diprediksikan gelombang keempat yang merupakan gelombang ekonomi kreatif dengan berorientasi pada ide dan gagasan kreatif. [6]

Salah satu ciri pelaku ekonomi kreatif adalah pembentukannya yang dikerjakan oleh tim yang terdiri dari lebih dari 1 orang. Di zaman ini banyak nama-nama baru yang terhimpun dalam satu tim yang mampu mengubah dunia. Diantara yaitu ada Larry Page dan Sergey brin (Google.com), Steve Jobs dan Steve Wozniak (Apple.inc), Chad Hurley dan Jawed Karim serta Steve Chen (Youtube.com).

Seorang yang hebat memang masih bisa bersaing di era modern ini, akan tetapi kehabatan seorang tersebut akan berkali lipat jika digabungkan dalam 1 (satu) tim, dan konsep ini lah yang lebing sering dipakai untuk mencapai sukses yang lebih efektif dan efisien. Selain antar satu tim bisa saling membantu dan menguatkan, juga bisa saling memberi masukan dengan melihat dari sudup pandang yang berbeda-beda, dan dalam pemecahan masalah akan lebih tepat sasaran jika dalam tim.

Daya Saing Indonesia dalam menghadapi MEA 2015

dayasaing

Lalu bagaimana dengan Indonesia ? Kita patut bersyukur upaya untuk terus meningkatkan daya saing secara bertahap di Indonesia telah menunjukkan hasil yang cukup membanggakan, meskipun harus diakui masih terdapat berbagai kekurangan  yang menjadi tugas bersama untuk terus memperbaikinya.

Meningkatnya daya saing Indonesia tercermin dari laporan Forum Ekonomi Dunia atau World Economic Forum (WEF), [7] yang  merilis Indeks Daya Saing Global 2014-2015. Dalam rilis itu dikemukakan, daya saing Indonesia naik 4 tingkat menjadi peringkat 34 dari 144 negara di dunia. Peringkat Indonesia mengungguli Spanyol (35), Portugal (36), Filipina (52), Rusia (53), Brasil (57), India (71), Yunani (81), Mesir (119) dan Pakistan (129). Pada tahun 2012 daya saing Indonesia ada pada peringkat 50, tahun 2013 urutan ke-38 dan tahun ini menempati urutan ke-34

Membaiknya daya saing Indonesia antara lain ditopang oleh pertumbuhan ekonomi nasional di atas 5% per tahun sejak 2005. Di tengah melambatnya perekonomian global. Peningkatan daya saing Indonesia juga banyak didorong oleh kemajuan pembangunan infrastruktur. Meskipun infrastruktur kita masih banyak masalah, namun dalam kurun waktu 5 tahun terakhir progresnya cepat, terutama infrastruktur konektivitas.

Juga ada beberapa fakta yang dikemukakan oleh McKinsey Global Institute [8]: Bahwa Indonesia hari ini menduduki kekuatan ekonomi peringkat 16 di dunia dan kuat kemungkinan akan duduk manis di peringkat tujuh ekonomi terkuat di dunia pada tahun 2030, dan Indonesia memiliki populasi anak muda yang tumbuh cepat di daerah urban, faktor ini memberi kekuatan tersendiri untuk meningkatkan pemasukan negara.

Fakta di atas tentu memberi peluang yang sangat besar bagi para pelaku ekonomi kreatif di Indonesia. Namun hal tersebut juga bisa menjadi bumerang tatkala pemerintah Indonesia tidak menggenjot dan mendukung kegiatan ekonomi kreatif di Indonesia sehingga ditakutkan konsumen potensial ini akan dipikat oleh produk-produk kreatif dari luar negeri dan pada akhirnya kita hanya menjadi bangsa konsumen seperti yang kita alami selama ini.

Closing Statement

Sebenarnya saya sebagai salah satu dari rakyat Indonesia sangat prihatin mengetahui bahwa banyak aset penting dan strategis semakin dikuasai asing, dan juga sumber daya alamnya dikeruk semena-mena oleh perusahaan-perusahaan asing. Hal ini tidak terlepas juga dari lemahnya pemimpin di negeri ini serta lemahnya kesadaran masyarakat akibat dari pendidikan yang juga rendah.

Pemerintah RI harus terus meningkatkan komitmennya dalam mendukung optimalisasi daya saing guna memacu produktivitas dan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas, terutama dalam hal-hal dasar di antaranya, pengembangan industry, pertanian, kelautan dan perikanan, energi, infrastruktur, pengembangan perbankan, usaha mikro, kecil dan menengah, kesehatan, kewirausahaan, dan perkoperasian.

Kita patut bersyukur upaya untuk terus meningkatkan daya saing secara bertahap di Indonesia telah menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan, meskipun harus diakui masih terdapat berbagai kekurangan  yang menjadi tugas bersama untuk terus memperbaikinya. Beberapa faktor yang harus diperhatikan oleh pemerintah dalam menghadapi MEA 2015 diantarannya:

  1. Pendidikan Tinggi; tidak dapat dielakkan pentingnya pendidikan bagi kemajuan sebuah negara, dengan masyarakat yang terdidik dapat membantu Indonesia untuk menjadi lebih produktif, lebih inovatif dan lebih mampu meningkatkan daya saing dengan negara lain.
  2. Tehnologi; Indonesia sebagai salah satu negara yang sedang berkembang, tentunya memerlukan begitu banyak hal  yang berhubungan dengan teknologi. Untuk sekarang bisa dikatakan dalam semua bidang dari pertanian, infrastruktur, dan kewirausahaan membutuhkan tehnologi untuk mendukung perkembangan negara.
  3. Birokrasi yang baik; Hal ini penting karena untuk saat ini masih belum kondusifnya  dukungan birokrasi dalam mengoptimalkan peningkatan daya saing, terutama terkait dengan mengembangkan kemudahan berbisnis yang sebagai salah satu barometer utama daya saing negara. Kapasitas kelembagaan birokrasi bukan hanya mencakup institusi yang efektif dan efisien, namun juga jajaran staf birokrasi yang berkualitas dan regulasi yang kondusif.

 

—————————

Referensi:

[1] Wikipedia (2014) “Revolusi Industri”, wikipedia, diakses dari http://id.wikipedia.org/wiki/Revolusi_Industri pada tanggal 18 februari 2014.

[2] BI. (2009). Laporan Perekonomian Indonesia Tahun 2008. Jakarta: Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter.

[3] Cahyono, Eddy (2014). “Peningkatan Daya Saing Ekonomi & Peran Birokrasi”, http://setkab.go.id/peningkatan-daya-saing-ekonomi-dan-peran-birokrasi/ pada tanggal 30 Sep 2014

[4] DeLee, (2012) Magic Of Creativepreneur, “Bagaimana Anda Bisa Menjadi Inovatif secara Ajaib Dan Menjadi Seorang Bisnis Enterprneur Sukses dalam dunia Industri Ekonomi Kreatif”, ABNG Publishing.

[5] Rumah Pena, (2012) “Indonesia Tidak Kreatif, Setuju?”, pena gunadarma, diakses dari pena.gunadarma.ac.id/indonesia-tidak-kreatif-setuju, pada tanggal 12 Mei 2012.

[6] http://arifh.blogdetik.com/ekonomi-kreatif/

[7] http://www.kemenkeu.go.id/Berita/peringkat-34-dari-144-negara-indeks-daya-saing-indonesia-kembali-meningkat

[8] Raoul Oberman dkk, (2012) The Archipelago Economy: Unleashing Indonesia’s Potential, McKinsey Global Institute, Jakarta.


***


Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044
SHARE