Everything Happens For A Reason

619

Oleh: Fadhilatul Laela, Penerima Manfaat Bakti Nusa 6 IPB

Inilah kisahku, aku yang tak pernah menyangka bisa berada di Institut Pertanian Bogor. Aku yang selama 18 tahun tak pernah berani hengkang dari kampung halaman. Aku sang pemimpi yang selalu ditertawakan orang. Aku yang selalu dijuluki ‘bejo’ bila lolos tes atau memenangkan perlombaan. Inilah aku, Fadhilatul Laela, gadis desa yang kini merantau ke kota. Dan inilah kisahku, semoga dapat menginspirasi siapapun yang membacanya.

Aku lahir di sebuah desa kecil di pinggiran Kota Tuban, aku berasal dari sebuah keluarga sederhana. Dari rahim seorang wanita yang aku juluki ‘wanita paling tabah sedunia’ dan dari ayah yang selalu aku doakan kesembuhannya. Masa-masa yang masih dapat kuingat adalah ketika aku berusia 2,5 tahun ketika sepupu pertamaku dari keluarga ayah lahir. Saat itu keadaan keluargaku baik-baik saja, semua berjalan normal. Ayahku bekerja sebagai peternak ayam potong dan ibuku biasanya membantu ayahku mengurus ayam-ayam di kandang. Masih kuingat dengan jelas ketika ayahku menjadi imam dari ibuku dalam setiap sholatnya. Masih terekam dengan rinci saat ayah dan ibuku mengajarkanku kata ‘bismillah’, masih dapat aku lafalkan hingga sekarang bacaan al-fatihah dan surat-surat pendek lain yang setiap malam mereka ajarkan padaku. Dibalik pintu gubuk sederhana kami yang terbuat dari triplek, ayah dan ibu menuliskan abjad dan angka, mereka mengajarkanku menulis dan membaca. Sungguh masa kecil yang indah dan tak akan terlupakan untuk selamanya.

Namun, kata ‘happily ever after’ itu hanya ada dalam dongeng bukan? Begitu pula dengan hidupku, kebahagiaanku, keharmonisan rumah tangga ayah ibuku, tiba-tiba direnggut seketika. Berawal dari keberangkatan ayah ke kota gudeg, Yogyakarta. Masih tergambar jelas dalam memoriku saat aku dan ibuku mengantarkan ayah pergi ke Jogja, ayah menaiki sebuah bus di pertigaan Jalan Manunggal meninggalkanku dan ibuku. Aku yang saat itu berusia tak lebih dari empat tahun hanya bisa bertanya dengan polosnya, “Ayah mau ke mana Bu?” Ibu hanya menjawab, “Ayah penataran ke Jogja”. Hanya itu jawaban yang aku tahu karena setelah itu aku seperti tidak mengenali ayahku lagi. Ya, penataran di Jogja itu seperti merenggut ayahku. Ayah memang pulang, tapi dalam keadaan yang sama sekali tidak aku inginkan. Bahkan, keluarga yang membawa pulang ayahku pun tak berani membopong ayahku ke rumah kami. Mereka merawat ayah disebuah tempat yang mereka sebut ‘sanggar’. Saat pulang dari penataran, ayah sama sekali sudah tidak dapat diajak berkomunikasi. Fisiknya memang terlihat sehat, namun dia tidak pernah berkata sepatah katapun. Tidak pula mandi, tidak bekerja, tidak menjawab satupun pertanyaan dari keluarga yang menjenguk. Pernah suatu ketika dia pergi sendirian ke jalan raya dan ketika ditanya dia menjawab,“Saya mau menemui presiden”. Sungguh jawaban yang tidak masuk akal, oleh karena itu semenjak kejadian itu orang-orang menyebut Ayahku gila. Tentu saja keluargaku tidak tinggal diam, mereka membawa ayahku berobat ke mana-mana tapi tidak ada satupun dokter, orang pintar, ustadz yang mampu menyembuhkan ayahku.

Karena keadaan yang tidak memungkinkan akhirnya aku dititipkan dirumah nenekku sedangkan ayahku dibawa pulang kerumah dan dirawat oleh ibuku. Tentu sangat tidak menyenangkan bagiku yang baru memasuki Taman Kanak-Kanak jika kehilangan peran seorang Ayah. Ibuku terpaksa membanting tulang bekerja berjualan pisang dipasar, saat berangkat dan pulang TK pun aku sering dititipkan ke tetangga. Saat perpisahan TK yang seharusnya aku bisa duduk didepan panggung bersama ayah dan ibu, malah hanya bisa melihat dari luar pagar sekolah karena dititipkan ke tetangga. Dan coba tebak siapa yang menemaniku saat rekreasi TK? Justru tanteku karena ibu harus tetap dirumah merawat ayah. Bahkan saat rekreasi aku terpaksa tinggal di bus saat semua temanku menikmati wisata Selecta dan Songgoriti dikarenakan badanku demam. Saat itu semua teman-temanku membeli berbagai macam boneka, ada boneka panda, kura-kura, buaya, hello kitty, dan lain-lain. Dan aku? Merengek dan menangispun tak akan bisa membuatku dibelikan boneka-boneka itu karena tanteku bilang uangnya sudah habis sehingga hal itulah yang menyebabkan badanku demam. Bukan hanya itu, dalam pergaulanpun aku sering dikucilkan gara-gara ayahku dianggap gila. Tentu sangat menyiksa bagi anak kecil sepertiku setiap pulang bermain menangis karena tidak ada yang mau menjadi temanku.

Masa-masa TK yang kurang menyenangkan itu setidaknya sedikit terobati karena nenekku sangat menyayangiku. Beliau selalu melindungiku bahkan memarahi anak-anak yang selalu mengucilkanku, selain itu aku juga punya seorang paman yang sudah menganggapku seperti anaknya sendiri. Beliau sering mengajakku ke alun-alun kota dan menyewa mobil-mobilan untuk menghiburku. Aku tinggal dirumah nenek sampai kelas dua sekolah dasar karena pada saat itu ayahku sudah mampu untuk diajak berkomunikasi. Tapi tetap saja aku seperti kehilangan sosok ayahku yang dulu. Ayah yang dulu selalu menjadi imam sholat ibuku, ayah yang selalu menggendongku ke manapun dia pergi, ayah yang mengajarkanku a-b-c-d dan hafalan surat pendek, dimana ayahku??? Dimana ayahku yang dulu??? Ayah berubah. Sudah tak pernah lagi menjalankan sholat lima waktu, sudah tak kenal lagi dengan bismillah dan al-fatihah, sudah sangat jauh melenceng dari islam, dan kalian tahu? Ayahku selalu membicarakan hal-hal yang tidak ada. Dia mengenalkanku dengan Tuhan, tapi bukan Tuhanku! Bukan Allah. Dia seperti asyik dengan dunianya sendiri, suka bicara sendiri, melamun, dan tidak bekerja. Dia mencoba mengajakku, anak kesayangannya untuk masuk ke dalam dunianya, tapi itu bukan duniaku, ini dunia nyata ayah! Kalimat itu yang selalu terlontar dari hati kecilku.

Masa kecilku mungkin kurang menyenangkan karena hidup dengan keadaan seperti itu telah membuatku menjadi seorang anak yang nakal. Aku hanya tahu bermain dan bermain, tidak mau belajar, tidak mau mengaji, dan penampilanku juga tidak terawat. Baju berantakan, kulit hitam, rambutpun merah karena terbakar sinar matahari. Dan tahukah kalian aku sudah menyiapkan segala keperluanku sendiri semenjak kelas satu SD. Saat teman-temanku yang lain setiap pagi disuapin, rambutnya disisir dan dikepang oleh ibunya, buku dan peralatan sekolah sudah tertata rapi dalam tas. Sedangkan aku? Aku tidak bisa menuntut ibuku untuk melakukan semua itu karena ibu harus merawat ayah dan adikku, ditambah lagi setiap pagi ibu masih harus berjualan dipasar. Tapi justru hal itulah yang membuatku lebih mandiri daripada anak-anak lain terutama dalam hal belajar, jika anak-anak lain setiap hari diperhatikan dan diajari oleh orangtuanya, lalu siapa yang mengajariku? Ibuku tamatan SD yang hanya bisa baca tulis, berhitung dan mengaji. Dan bagaimana dengan ayahku? Sudah aku ceritakan diawal bukan jika orang-orang sudah menaruh predikat ‘gila’ kepada ayahku? Meskipun aku jarang belajar dan tidak ada yang mengajariku, entah mengapa sewaktu SD aku selalu mendapat ranking dikelas, bahkan menyelesaikan TK pun hanya dalam waktu satu tahun. Namun hal itu tidak membuatku berhenti dikucilkan dari pergaulan sosial, pernah sewaktu kelas empat SD aku dimusuhi oleh seorang penguasa kelas sehingga tidak ada satupun orang yang mau menjadi temanku karena takut dengan si penguasa kelas tadi. Bukan hanya itu, sewaktu kelas enam SD teman-teman sekelasku berencana untuk pergi bersepeda ke kota. Tidak ada yang mengajakku namun aku bersikeras ingin ikut, mereka akhirnya mengiyakan. Tapi apakah yang mereka lakukan selanjutnya? Saat aku datang menjemput salah seorang teman, dia berkata bahwa acara bersepeda ke kota dibatalkan. Akhirnya aku pulang dengan tangan hampa, keesokan harinya barulah aku tahu dari seorang teman bahwa sebenarnya mereka jadi jalan-jalan ke kota namun sengaja menyembunyikan sepeda mereka dan berpura-pura tidak jadi berangkat agar aku pulang. Ya, mereka menghindariku, mereka mengucilkanku. Hanya karena aku memakai sepeda butut yang sudah aku pakai semenjak kelas satu SD. Mereka malu jika harus mengajak orang miskin sepertiku, dengan penampilanku yang tidak terawat, dengan sepeda bututku, dengan kondisi keluargaku.

Ketika memasuki SMP, aku sendirian. Tidak ada teman SD yang satu SMP denganku dikarenakan nilai NEM ku lebih bagus daripada yang lain sehingga aku bisa memasuki SMP di kota. Hal ini sesuai dengan doa nenekku yang tidak tega melihatku dikucilkan oleh teman-temanku. Saat itu mungkin bukan saat yang tepat karena ayahku tidak memiliki uang sepeserpun untuk membayar biaya daftar ulangku di SMP yang bernilai Rp 1.000.000,-. Hampir saja aku tidak jadi masuk SMP sampai akhirnya ada pamanku yang mau meminjamkan uangnya. Saat SMP menyenangkan bagiku karena tidak ada yang mengucilkanku, ya karena tidak ada yang mengetahui latar belakang keluargaku. Namun, pengucilan yang telah aku terima semenjak TK hingga SD memberikan efek yang sangat besar untuk hidupku selanjutnya, yaitu masa remaja. Trauma karena sering dibully dan dikucilkan membuatku tumbuh menjadi anak yang rendah diri, pendiam, pemalu, minder dan memiliki kesulitan dalam pergaulan sehingga di SMP aku hanya memiliki sedikit teman dan tidak dikenal oleh guru maupun warga sekolah lain. Ketika duduk di sekolah dasar aku selalu mendapat ranking dan sering diikutkan berbagai macam lomba ke kota kecamatan, sangat berbanding terbalik dengan kehidupanku di SMP yang tidak menonjol. SMP Negeri 6 Tuban tetap berjasa bagiku karena dapat mengantarkanku memasuki salah satu SMA favorit di kotaku, yaitu SMA Negeri 2 Tuban, disinilah bermula kehidupanku yang sesungguhnya.

Bagi kebanyakan orang, masa SMA adalah masa terindah dalam hidupnya, namun bagiku, masa SMA adalah masa yang penuh dengan cobaan dan perjuangan. Akan tetapi, hal itulah yang mendewasakanku, membuatku tabah, kuat, tegar, dan menemukan jati diriku. Aku diterima di SMA Negeri 2 Tuban pada tahun 2010 melalui jalur tes karena pada saat itu di sekolah yang berpredikat SBI dan RSBI memang mengadakan tes untuk penerimaan siswa baru. Salah satu pembeda dari sekolah reguler dan RSBI adalah adanya matrikulasi. Dan aku dipercaya menjadi koordinator matrikulasi di kelasku yang nantinya kepercayaan itu berlanjut sehingga aku kembali dipilih menjadi ketua kelas X.

Sebenarnya ada cerita tragis dibalik semua itu, pada bulan November 2009 Ayahku kembali kambuh ketika adikku opname dirumah sakit karena penyakit muntaber. Selama berhari-hari adikku dirumah sakit, tak sedetikpun ayahku mau melangkahkan kakinya untuk menjenguk bahkan merawat adikku sehingga ibuku yang harus merawat adik sendirian. Aku yang ketika itu selalu mendapat tugas jaga rumah, mengetahui dengan pasti tingkah laku ayahku. Selama berhari-hari hanya diam, melamun, berbicara sendiri, dan ketika diajak berkomunikasi dengan orang lain ayahku menjawab dengan jawaban yang tidak masuk akal. Tidak cukup sampai disitu, ketika adikku sudah pulang dari rumah sakit penyakit ayah bertambah parah. Ayah sering memarahi dan memukuli ibuku dengan sebab yang tidak jelas. Ayah melontarkan tuduhan-tuduhan yang tidak masuk akal kepada ibuku, hal-hal yang aku tahu dengan pasti tidak pernah ibu lakukan. Saat itu rumah terasa seperti neraka bagiku karena setiap hari ayah memarahi dan memukuli ibuku didepan mataku dan tidak ada yang bisa kuperbuat selain menangis. Bahkan pernah ibu sempat menyiapkan baju ingin pergi dari rumah karena sudah tidak tahan dengan perlakuan ayahku, namun ibuku adalah ibu paling baik sedunia. Ibu tidak tega meninggalkanku dan adik-adikku, ibu memikirkan bagaimana nasib kami nantinya jika harus hidup dengan ayah yang gila dan tanpa ibu pula, maka ibu rela dipukuli setiap hari hanya demi aku dan adik-adikku. Saat itu pula aku seperti kehilangan pelindungku karena ayah memusuhi semua keluarga besar termasuk pamanku yang sudah memperlakukan aku seperti anaknya sendiri. Jika sewaktu kecil tempatku mengungsi adalah rumah nenek dan paman, kini aku sudah tidak punya lagi tempat berlindung. Aku harus menghadapi semuanya sendiri, ya sendiri!!!

Barulah pada saat memasuki SMA aku menemukan adanya secercah harapan dalam hidupku yang selama ini suram. Keadaan keluarga seperti itu telah membuatku sangat jauh dari agama. Aku belum mengenal Tuhan, tidak pernah melaksanakan sholat, apalagi mengaji. Surat pendek dan bacaan sholat yang sewaktu kecil begitu lancar keluar dari mulutku, kini lidahku harus memulai lagi untuk melafalkan a-ba-ta. Untunglah ada salah seorang kakak kelas yang prihatin dengan keadaanku, beliau mengajarkanku sholat dan mengaji, mengenalkanku pada Allah dan Islam. Beliau pula yang membuatku sadar untuk menutup aurat sehingga mulai saat itu aku memakai jilbab yang InsyaAllah tidak akan aku tanggalkan sepanjang hayatku.

Hari demi hari, aku semakin mengenal Islam. Bulan demi bulan aku semakin merasa dekat dengan Tuhanku, Allah Yang Maha Esa. Dan mulai saat itu, hal-hal menakjubkan yang tak pernah terpikirkan dalam hidupku mulai terjadi. Selama ini aku sering minder dengan keadaanku dan latar belakang keluargaku, aku selalu menyembunyikan wajahku dan tak pernah tampil di depan umum. Namun sejak saat itu aku mulai diberi tanggung jawab dan amanat dalam kepemimpinan maupun organisasi, diantaranya; aku terpilih menjadi ketua kelas X-B di SMAN 2 Tuban, aku juga dipercaya menjadi sekretaris MPK SMAN 2 Tuban selama dua periode yaitu tahun ajaran 2010-2011 dan 2011-2012. Aku juga mendapat amanah menjadi sekretaris Kader Adiwiyata/Siswa Pecinta Lingkungan Hidup SMAN 2 Tuban selama dua periode yaitu 2010-2011 dan 2011-2012. Selain itu aku memberanikan diri untuk ikut rohis disekolahku yang bernama RISDA meskipun pengetahuanku tentang agama islam masih sangat cetek. Dari situlah aku banyak belajar tentang islam dan bergaul dengan orang-orang yang shalih dan shalihah.

Bukan hanya dalam organisasi namun aku juga sering dipercaya untuk mengikuti berbagai macam perlombaan mulai dari tingkat sekolah, kabupaten, propinsi bahkan nasional. Dari banyak perlombaan yang aku ikuti beberapa diantaranya berhasil menjadi juara, yaitu; Juara II Lomba Karya Ilmiah Remaja Tingkat Nasional di Universitas Airlangga Surabaya tahun 2012, Juara II Lomba Karya Cipta Puisi Tingkat Kabupaten tahun 2012 dan Juara II Lomba Menulis Essay Tingkat Sekolah tahun 2011. Meskipun tidak semua lomba yang aku ikuti berhasil menjadi juara namun aku sangat senang bisa menjadi wakil dari sekolah bahkan kabupatenku untuk dikirim mengikuti perlombaan. Karena selama ini aku tidak pernah keluar dari kota Tuban dan melalui perlombaanlah aku bisa mengetahui keramaian kota Surabaya, indahnya kota Malang, banyaknya pondok pesantren di kota Jombang, dan lain-lain. Hal yang paling berkesan adalah ketika aku terpilih mewakili kota Tuban dalam perlombaan Primagama Road to UI, UGM, ITB karena akhirnya aku bisa melangkah keluar dari propinsi Jawa Timur dan mengunjungi kampus termasyhur di indonesia yang selama ini hanya dapat aku lihat di TV dan Internet saja. Pertama kalinya aku menginjakkan kaki di kampus UI Depok, dengan perjuangan tentu saja karena pada saat itu orangtuaku lagi-lagi tidak punya uang untuk biaya akomodasi yang bernilai Rp400.000,- sehingga terpaksa aku mengubur dalam-dalam harapanku untuk bisa berangkat sampai akhirnya Allah menunjukkan jalan-Nya yaitu aku mendapat bantuan dari pihak primagama sebesar Rp200.000,- dan sisanya bisa dilunasi setelah aku pulang dari UI.

Nikmat Allah tentu saja tidak berhenti sampai disitu, pada saat aku kelas XI perusahaan Semen Gresik membagikan formulir pendaftaran beasiswa pendidikan kepada siswa yang memperoleh rangking 1-10 setiap kelas untuk selanjutnya di test dan diambil 20 siswa. Aku yang pada saat itu berada pada kelas unggulan tidak bisa mendapatkan formulir karena berada pada ranking 11. Aku hampir putus asa dan berdoa pada Tuhan untuk memberikan jalan yang terbaik. Lagi-lagi Tuhan menunjukkan kebesaran-Nya. Salah seorang temanku yang mendapat ranking enam dikelasku rupanya tidak berminat untuk mengikuti beasiswa Semen Gresik sehingga formulir harus dipindah tangankan kepada siswa ranking 11 yaitu aku. Setelah melewati berbagai macam test yang panjang dan rumit dengan saingan ribuan siswa dari seluruh kabupaten Tuban, akhirnya aku terpilih menjadi salah satu dari 20 siswa penerima beasiswa pendidikan dari Semen Gresik dengan peringkat 5. Karena hal itulah teman-teman sekelasku menjuluki aku si ‘bejo’ yang bermakna beruntung karena banyak teman-teman yang secara akademis nilainya lebih bagus dariku namun gagal dalam test tersebut. Begitu pula saat aku mengikuti tryout SNMPTN tulis dari ITB aku menduduki peringkat 11 dari total hampir 700 siswa kelas XII se-kabupaten Tuban padahal pada saat itu aku masih duduk di kelas XI.

Seperti yang aku tuliskan dari awal bahwa aku berasal dari keluarga kurang mampu, saat kelas XII ketika semua teman-temanku sibuk mengikuti bimbel disana-sini tentu saja aku tidak punya biaya untuk itu namun Tuhan punya rencana lain dengan meloloskanku sebagai penerima beasiswa Semen Gresik sehingga bisa mengikuti bimbel gratis, begitu pula ketika menjelang SBMPTN banyak teman-temanku yang pergi ke Surabaya untuk mengikuti bimbel di lembaga-lembaga pendidikan ternama. Sedangkan aku? Uang darimana? Namun Tuhan tidak tinggal diam dengan membukakan jalan untukku. Saat itu Primagama menyediakan 15 kursi untuk bimbingan SBMPTN gratis bagi para siswa yang berminat memasuki UI, UGM, ITB. Sekali lagi pasti ada syarat yaitu ada tes tertulis, tes wawancara, dan lain-lain. Pendaftarnya pun cukup banyak, sempat ragu memang namun aku berdoa kepada Allah untuk memberikan yang terbaik dan pada akhirnya aku bisa menjadi salah satu dari 15 peserta terpilih dengan peringkat 6.

Masa-masa SMA terlihat lebih baik memang, namun tentu saja ada banyak cerita dibalik semua itu. Pernah suatu ketika aku ingin membeli makanan di kantin sekolah dan ibu penjaga kantin bertanya, “Adek anak baru ya di sekolah ini? Kok ibu belum pernah lihat?” tentu saja aku tercengang dengan pertanyaan ibu kantin karena saat itu aku sudah duduk di kelas XII yang berarti aku sudah bersekolah disana selama tiga tahun. Namun bukan salah beliau kawan, ibu kantin tidak mengenaliku karena aku hampir tidak pernah menginjakkan kakiku di kantin sekolah. Ya, aku TIDAK PERNAH JAJAN!!! Bahkan harga makanan dikantin saja aku tidak tahu. Bukan karena tidak ingin namun tidak mampu. Sewaktu SMA aku selalu menabung uang sakuku karena pada saat itu aku mempunyai hutang SPP kepada sekolah sebanyak Rp 1.500.000,- dan orangtuaku tidak mempunyai uang untuk membayar SPP ku sehingga uang tabungankulah yang aku gunakan untuk dapat melunasi tunggakan SPP selama berbulan-bulan. Tentu saja uang sebanyak itu tidak bisa dengan instan aku dapatkan karena uang sakuku pun terbatas, itu adalah hasil menabungku semenjak SMP dan uang hadiah setiap kejuaraan yang aku ikuti. Ketika kelas XI aku pun mendapat julukan ‘anak kangkung’ karena setiap hari membawa bekal yang hanya berisi sekotak nasi, kangkung dan tempe. Hanya itulah yang aku punya ketika anak-anak lain bisa makan bakso, soto, mie ayam dikantin, ketika teman-temanku membawa bekal berisi daging, ayam, nugget, udang dan aku setiap hari selama berada di kelas unggulan hanya mempunyai satu menu yaitu kangkung.

Kawan, sebelumnya aku tidak pernah membayangkan untuk bisa berada di kampus rakyat Institut Pertanian Bogor namun sepertinya Tuhan punya rencana untukku. Dulu aku bercita-cita untuk bisa menjadi mahasiswa ITB namun pada suatu malam aku bermimpi akan berangkat ke kota Bandung dan coba tebak apa yang terjadi? Aku justru sampai di depan sebuah gedung tinggi bertuliskan IPB. Awalnya mimpi itu hanya aku anggap sebagai bunga tidur namun semakin hari entah mengapa keinginanku semakin kuat untuk berada di IPB bahkan orangtua pun juga sangat mendukung. Meskipun pada awalnya sempat ditentang oleh beberapa keluarga karena kota Bogor terasa sangat jauh. Di desaku memang sangat jarang ada anak yang berkuliah kalau bukan berasal dari keluarga kaya raya, itupun paling jauh mereka berkuliah di kota Malang. Dan aku yang berasal dari keluarga kurang mampu justru ingin kuliah di kota Bogor. Namun aku berhasil meyakinkan mereka bahwa di IPB menyediakan banyak beasiswa, salah satunya adalah Bidikmisi.

Aku direkomendasikan sekolah untuk mendaftar beasiswa Bidikmisi, tentu saja aku sangat antusias karena aku berharap jika mendapatkan beasiswa Bidikmisi aku bisa melanjutkan ke perguruan tinggi. Hari demi hari berlalu akhirnya pengumuman hasil ujian nasional pun tiba dan betapa kagetnya aku karena nilai NEM ku yang tertinggi di SMAN 2 Tuban sehingga pada saat perpisahan namaku dan orangtuaku dipanggil keatas panggung untuk menerima penghargaan dari kepala sekolah. Akhirnya setelah sekian lama aku bisa membanggakan orangtuaku. Beberapa hari kemudian pengumuman SNMPTN pun tiba, aku membuka web SNMPTN dengan deg-degan dan gemetaran bersama beberapa orang temanku. Dan yang aku lihat di web adalah;

Nama Fadhilatul Laela
NISN 9954255954
Sekolah SMAN 2 TUBAN

Selamat, Anda dinyatakan lulus SNMPTN 2013

Program studi di mana Anda diterima pada SNMPTN 2013 adalah:

PTN INSTITUT PERTANIAN BOGOR
Program Studi AGRONOMI DAN HORTIKULTURA

Betapa leganya hatiku sehingga air mata pun tak terbendung membasahi pipiku. Segera aku peluk teman-teman yang berada disekitarku. Kami terhanyut dalam kegembiraan yang luar biasa karena teman-temanku juga diterima di ITB, ITS, Unair, Unbraw, dan lain-lain. Namun pengumuman Bidikmisi belum juga tiba sampai pada akhirnya keluar surat pernyataan untuk membayar UKT sebesar Rp6.100.000,-. Aku senang bisa diterima di IPB namun juga sedih setelah mengetahui besaran UKT yang harus kubayar. Aku sempat pesimis, bagaimana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu? Ketahuilah kawan, saat itu orangtuaku masih mempunyai hutang sebesar Rp65.000.000,- kepada salah seorang kerabat dan BPKB motorku pun ditahan oleh bank. Sungguh setiap malam aku hanya bisa menangis dan berdoa kepada Allah agar memberi jalan keluar yang terbaik. Oh ya, belum aku ceritakan mengapa orangtuaku bisa mempunyai hutang sebanyak itu. Bermula pada tahun 2000 ketika ayahku tiba-tiba sakit setelah pulang dari Yogyakarta, saat itu ayah masih mempunyai usaha ayam potong yang sebelumnya ditekuninya. Bersamaan dengan ayah jatuh sakit, usaha ayam potong ayahku pun ikut terkena imbasnya alias bangkrut. Ketika harga ayam sedang tinggi, ayam potong dikandang banyak yang mati dan ketika harga ayam rendah, ayam yang dihasilkan malah bagus. Hal itu terjadi selama bertahun-tahun sehingga pada tahun 2004 ayahku memutuskan untuk gulung tikar. Bukan hanya itu, 150 pohon kelapa dikebun yang sudah siap panen pun tiba-tiba mati seketika.

Ayahku tidak kehilangan akal untuk membangun kembali usahanya, pernah mencoba beternak kambing, sapi, entok namun sama seperti sebelumnya kambing dan entok yang sudah berjumlah puluhan ekor tiba-tiba mati satu per satu. Selama bertahun-tahun sejak tahun 2000 ketika ayah jatuh sakit, tentu kehidupan kami membutuhkan biaya apalagi biaya modal dan  kerugian atas bangkrutnya usaha yang ditekuni ayahku berkali-kali. Tahukan kalian darimana biaya itu berasal? Tentu saja dari pinjaman. Keluargaku pernah mendapat tiga kali pinjaman dalam jumlah besar yaitu sebesar Rp60.000.000,- pada tahun 2001, Rp20.000.000,-  pada tahun 2007 dan yang terakhir sebesar Rp90.000.000,- pada tahun 2009. Tentu mengembalikan tidak semudah meminjam, orangtuaku sudah menjual tanah warisan yang dimilikinya pada tahun 2008 untuk dapat melunasi hutang-hutangnya. Karena hutangnya terlalu banyak, uang hasil penjualan tanah pun tidak cukup sehingga semua perhiasan ibuku dan barang-barang dirumah pun ikut dijual. Sekali lagi, masih tidak cukup untuk dapat melunasi hutang-hutang orangtuaku sehingga pada tahun 2013 orangtuaku masih memiliki tanggungan hutang sebesar Rp65.000.000,-.

Meskipun begitu orangtuaku tidak pernah memutus harapanku untuk bisa kuliah, mereka mendukung sepenuhnya agar aku bisa kuliah bahkan membantu mengurus berkas-berkas yang harus dilengkapi untuk pendaftaran Bidikmisi. Hingga pada tanggal 18 Juni 2013 aku untuk pertama kalinya tiba di Institut Pertanian Bogor kampus Darmaga. Registrasi dan wawancara Bidikmisi berjalan dengan lancar meskipun pada saat wawancara aku tidak bisa membendung air mataku saat menceritakan keadaan keluargaku dan kisah hidupku. Namun lagi-lagi Allah menurunkan rahmat yang luar biasa untukku karena pada tanggal 22 Juni 2013 aku dinyatakan lolos sebagai penerima dana bantuan Bidikmisi IPB.

Nikmat Allah tentu saja tidak berhenti sampai disitu karena saat menempuh kuliah di IPB aku mendapat banyak amanah dalam organisasi diantaranya sebagai Dewan Gedung Asrama TPB IPB 2013-2014, Sekretaris Indonesian Green Action Forum (IGAF) 2014, Sekretaris Departemen Service and Kominfo UKM FORCES IPB 2015, Staff Edukasi Riset dan Inkubasi Teknologi Nano World Indonesia 2015, Pengajar Bahasa Jepang di Rumah Chibi Ikasumi, Sekretaris Departemen Akademik dan Prestasi BEM Faperta IPB 2016. Selain itu aku juga mendapatkan beberapa prestasi diantaranya Juara III Lomba Essay Tingkat TPB IPB 2014, Juara II Lomba Mahasiswa Berprestasi Asrama Tingkat TPB IPB 2014, Juara II Lomba Menulis Cerita Inspiratif Faperta IPB 2014, Juara I Lomba Paper Nasional LIPEN Enjinia Nusantara 2014, Finalis ICONIC PPI Jerman 2014, Juara I Sayembara Menulis FSLDK Indonesia 2014, Penerima Dana Hibah Dikti PKM-T 2014, Penerima Dana Hibah Dikti PKM-GT 2015, Penerima Dana Hibah Dikti PKM-KC 2016, Juara 3 Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional Himatitan Great Event Universitas Brawijaya 2015. Selain itu, aku juga menjadi kontributor penulisan buku Bangku Sekolahku dan Hijab Love Stories pada tahun 2014. Hal yang paling membahagiakan adalah ketika aku dapat mengikuti Six University Initiative Japan Indonesia Service Learning Program (SUIJI-SLP) 2015 selama tiga minggu di Jepang. Ketahuilah kawan, aku sudah berkali-kali lolos seleksi kegiatan Internasional ke luar negeri namun harus gagal berangkat karena tidak mempunyai biaya. Akan tetapi Allah tidak pernah tidur, Allah mendengar doa hamba-Nya dan akhirnya aku bisa berangkat ke jepang dengan dibiayai penuh setelah berusaha sekuat tenaga mencari dana sponsor dan dana bantuan dari universitas.

Hal yang tak kalah membahagiakan adalah aku dapat menjadi penerima manfaat Beasiswa Aktivis Nusantara Angkatan 6 dari Dompet Dhuafa, beasiswa yang telah aku cita-citakan sejak kakak tentorku yang selalu menginspirasi, Kak Asya FNZ menjadi penerima manfaat Bakti Nusa 4. Awalnya sempat merasa minder karena aku tahu beasiswa ini bukan ditujukan untuk mahasiswa yang kurang mampu secara ekonomi, namun untuk aktivis-aktivis pemimpin kampus. Semakin minder lagi ketika mengetahui teman-teman yang mendaftar memiliki kompetensi dalam berorganisasi dan prestasi yang sangat mumpuni. Namun aku sadar bahwa penyesalan akan terjadi bukan ketika aku gagal, tetapi ketika aku berhenti mencoba dan menyerah sebelum berperang. Oleh karena itu, dengan bermodalkan basmalah aku beranikan diri mendaftar, dan dengan seleksi yang ketat sekaligus mengharu-biru, aku akhirnya dinyatakan diterima sebagai penerima manfaat Bakti Nusa 6. Tak cukup sampai disini, Bakti Nusa telah mengantarkanku bertemu dengan pemimpin-pemimpin kampus besar di Indonesia yang kelak akan memimpin negara ini. Satu minggu yang sangat berkesan dan tidak akan pernah terlupakan ketika aku mengikuti Future Leader Camp di Bandung, karena aku dapat bertatap muka secara langsung dengan pemimpin-pemimpin berbagai daerah Indonesia yang selama ini hanya dapat aku lihat di koran dan televisi, mereka mengajarkan banyak hal serta memberikan wejangan yang sangat berharga untuk kami, calon pemimpin masa depan. Selain itu, aku juga dapat bertemu secara langsung dengan penulis yang karya-karyanya telah menjadi inspirasi dalam perjuangan hidupku yaitu Bapak Ahmad Fuadi, karena kami memiliki background sebagai anak rantau dari desa yang ingin melihat indahnya dunia.

Kawan, perjuangan hidupku memang tidak mudah namun itulah yang akan mejadi “pembeda” antara diriku dengan yang lain. Jika saja hidupku selalu berkecukupan dan bahagia, mungkin sekarang aku akan menjadi anak yang manja. Jika saja Allah tidak memberi cobaan untukku merasakan hidup kekurangan, tentu aku tidak akan tahu bagaimana cara mensyukuri setiap nikmat yang datang. Jika saja Allah tidak menurunkan berbagai cobaan untukku, aku tidak akan menjadi setegar dan sekuat ini. Terimakasih Ya Allah, terimakasih Engkau telah memelihara kehidupanku sampai detik ini, terimakasih atas berkah, rahmat, hidayah dan inayah-Mu yang kau berikan kepada hamba-Mu ini.

Untuk ibu, engkau adalah wanita paling hebat yang pernah hadir dalam hidupku. Sungguh kesabaran, keikhlasan dan ketegaranmu akan selalu menjadi teladan bagiku. Dan untuk ayah, aku selalu mendoakan kesembuhanmu dalam setiap sholatku. Aku rindu engkau yang dulu ayah, aku rindu ayah yang selalu menjadi imam sholat ibu, aku rindu ayah yang setiap malam mengajarkanku membaca, berhitung dan mengaji. Aku ingin engkau kembali ke jalan yang benar ayah, dalam usiaku yang ke-18 ini belum pernah sekalipun aku sholat diimami oleh ayah kandungku sendiri. Hanya satu pintaku untuk ayah, kembalilah pada ajaran islam, kembalilah berpegang kepada Al-Qur’an dan kembalilah bersujud kepada Allah, Tuhan Maha Esa, Tuhan kita semua.

Kawan, inilah kisah perjuangan hidupku. percayalah,“…karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan…” (Al-Insyiroh: 5,6). Seperti judul cerita di atas, “Everything Happens For A Reason” yang artinya segala sesuatu terjadi karena sebuah alasan. Tuhan memberikan kita rezeki, ujian, cobaan tidaklah sia-sia. Namun terdapat makna dibalik semua itu yang kadang tidak kita sadari. Maka bersyukurlah atas setiap hal yang terjadi dalam hidupmu, jangan mudah mengeluh namun berusahalah untuk husnudzan kepada Allah karena sesungguhnya Dia-lah yang mengetahui segala sesuatu.

God didn’t promise days without pain, laughter without sorrow, sun without rain,
but He did promise strength for the day,
comfort for the tears, and light for the way.

SHARE