Evolusi Kupu-Kupu

0
3493

Belajar tentang hidup, belajar dari alam. Di sana tercermin segala pembelajaran tentang kehidupan, misalnya tentang perjuangan. Aku belajar dari kupu-kupu yang berasal dari ulat, hewan yang merupakan hama bagi tanaman. Ia hanya dapat merusak perkembangan tanaman dengan memakan daun yang masih segar, produktif, dan kaya akan klorofil. Banyak yang memburu untuk dibasmi atau menjadi pengisi perut bagi sang predator.

Tetapi tidak semua ulat merupakan hama yang harus dibasmi, ada juga ulat yang menjadi sangat bermanfaat bagi manusia dengan berevolusi menjadi kupu-kupu. Dengan caranya yang khas, ulat bertapa selama beberapa hari menjadi kepompong, menutup diri dari dunia luar hingga akhirnya menjadi kupu-kupu yang elok dengan sayapnya yang indah. Keberadaannya pun sangat ditunggu semua makhluk karena peranannya penting bagi kehidupan, dari hiasan  taman yang menyenangkan setiap mata memandang, hingga membantu proses penyerbukan tumbuhan. Itulah satu dari sekian banyak firman Allah SWT yang telah teraplikasi melalui makhluk ciptaannya.

Kehidupan ulat itulah yang menginspirasiku, berawal dari bukan siapa-siapa dan tidak memiliki apa-apa, di tengah keluarga yang sangat sederhana, aku lahir dan tumbuh besar. Keterbatasan bukan alasan bagiku untuk berhenti mengejar mimpi setinggi-tinginya.

“Tidak ada yang salah ketika kita lahir tak berbekal materi, dari keluarga tak terpandang dan memiliki banyak kekurangan, tetapi akan menjadi salah ketika kita meninggal dalam kemiskinan”, pikirku.

Di tengah hidup yang penuh dengan keterbatasan, aku tetap bersyukur karena berada di lingkungan yang baik dan agamis. Tepat di samping rumahku berdiri pesantren tempat belajar para santri dari berbagai daerah, juga tempatku menimba ilmu agama sejak kecil hingga remaja.

Memang benar bahwa lingkungan yang baik akan menghasilkan pribadi yang baik. Satu pemahaman yang kudapatkan setelah melewati proses kehidupan hingga menggapai satu dari sejuta impian. “Sesungguhnya kehidupan kita saat ini merupakan investasi di masa depan, kebaikan yang kita lakukan saat ini adalah manivestasi menuju hidup yang lebih baik di masa yang akan datang.” Keyakinan itu pula yang tertanam kuat dalam diri ketika harus mengerahkan semua kemampuan dan berjuang keras untuk menyelesaikan pendidikan. Maka pada tahun-tahun terakhir ketika menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah, aku lebih banyak menginvestasikan waktu luangku dengan fokus pada tujuan.

Tahun-tahun terakhir ketika menyelesaikan pendidikan menengah adalah tahun emasku dalam berusaha. Karena pada tahun itu, aku berada di persimpangan jalan, belum tahu ke mana harus melangkah. Maka, pada tahun itu semua usaha lahir batin untuk meraih masa depan kukerahkan. Secara lahir, hampir setiap hari kulihat papan pengumuman yang berisi informasi, baik tentang lowongan pekerjaan ataupun beasiswa untuk melanjutkan kuliah di Perguruan Tinggi.

Aku kerap kali browsing di warnet (warung internet) dekat sekolah, sesekali curi-curi waktu di tengah sibuknya menghadapi ujian akhir. Aku  juga mengontak para alumni yang sudah sukses dibidangnya masing-masing untuk meminta saran dan nasihat.

“Masa depan merupakan misteri, tak seorang pun tahu,” itulah kalimat yang terpatri dalam jiwa. Maka secara batin usaha yang kulakukan adalah menyempurnakan ikhtiar dengan lebih mendekatkan diri kepada-Nya, Sang pemilik kehidupan. Tak lupa menjauhi segala hal yang dilarang-Nya, apapun itu.

Dengan menerapkan satu formula bahwa kesuksesan itu berbanding lurus dengan keimanan. Kuyakini juga bahwa kebaikan itu memiliki koneksi yang kuat dengan proses pencapaian hasil. Jika dalam berjuang kita meng-halal-kan segala cara maka hasilnya akan menjadi bom waktu yang setiap saat akan meledak dan menghancurkan diri kita. Hal inilah yang menjadi pedomanku untuk menjadikan setiap detik bernilai ibadah dengan memperbanyak doa disetiap kesempatan dan mematri dalam diri bahwa “Sesungguhnya bersama kesulitan pasti ada kemudahan.” (Al-Insyirah : 5)

Menyempurnakan Ikhtiar

Bagaikan ulat yang hendak menjadi kupu-kupu, ia harus melewati masa kepompong beberapa saat sebelum akhirnya bermetamorfosis dengan sempurna. Satu pelajaran yang kuaplikasikan dalam hidup bahwa usaha lahir batin tidak cukup tanpa adanya kesabaran. Apalagi kesabaran merupakan modal utama ketika ikhtiar telah disempurnakan. “Tidak ada bilangan waktu berapa lama batas kesabaran, semakin kita bersabar maka hasilnya akan semakin maksimal.” Kalimat bijak inilah yang menjadi penyemangatku dalam berjuang meraih masa depan.

Kusempurnakan ikhtiar dengan menambah intensitas belajar dan berlatih menyelesaikan berbagai tipe soal. Meskipun banyak aktivitas di luar kegiatan akademik, aku tetap fokus untuk menembus Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Kutempuh jalan dengan belajar mandiri karena tidak memiliki dana untuk mengikuti kursus ataupun bimbingan belajar intensif. Siang malam kupelajari soal dengan baik, serta menanyakan kepada mereka yang lebih mengerti ketika ada hal yang tidak kupahami. Di samping itu, meminta restu ibu dan memperbanyak kebaikan disetiap kesempatan mutlak kulakukan. Kuterapkan satu formula yang mengajarkan bahwa proses itu lebih penting daripada hasil. Hal ini yang membentengiku untuk tidak membabi buta dalam bertindak.

Setelah semua proses ikhtiar telah kujalani, selanjutnya kupasrahkan hasilnya kepada Sang Pemilik Kehidupan. Berdoa untuk meminta hasil yang terbaik itu pasti, selain harus mengurangi segala aktivitas yang dapat merusak ikhtiar. Dalam situasi harap-harap cemas antara lolos atau tidak, aku mencoba menenangkan diri sambil membayangkan kemungkinan terburuk ketika aku tidak diterima, juga memikirkan langkah selanjutnya bila diterima disalah satu perguruan tinggi. “Tuhan akan memberikan apa yang kita butuhkan walaupun mungkin bukan hal yang kita inginkan.

Sampailah pada saat yang menegangkan, pengumuman kelulusan SNMPTN. Info yang ter-update telah tersedia di situs resmi universitas yang bersangkutan. Bergegas kukayuh sepeda seorang diri di tengah gelapnya malam dengan bekal uang 15 ribu rupiah. Kutempuh jarak yang cukup jauh mencari warnet (warung internet) di pusat kota. Bismillah, dengan perasaan deg-degan kubuka pelan-pelan situs resmi universitas pilihan pertama, ternyata nihil. “Belum rejeki”, gumamku dalam hati.

Manusiawi, merasakan kecewa itu pasti, tetapi rasa kecewa itu segera terobati setelah kudengar bisikan kecil yang merasuk dalam jiwa,“Sabar..sabar..masih ada alternatif.” Kulanjutkan dengan membuka situs universitas pilihan kedua. Kumasukkan nama lengkap dan nomor ujian, kutelusuri satu persatu nama yang tertera sesuai urutan alphabet hingga akhirnya kutemukan nama Muhammad Habibilah. Alhamdulillah, sontak terucap rasa syukur dalam hati.

Aku bergegas pulang untuk memberi tahu kabar baik ini kepada ibu. Sepanjang perjalanan, sambil mengayuh sepeda, aku terus mengucap syukur dan merasa sangat bahagia atas nikmat yang kudapat. Satu proses telah selesai, saatnya fokus pada langkah selanjutnya.

Ibuku hanyalah lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Ia sekarang harus berjuang sendiri menghidupi kami yang tinggal berdua, aku dan adik perempuanku. Meskipun pendidikannya di bawah standar, beliau bercita-cita menjadikan anak-anaknya orang yang sukses dan berpendidikan tinggi. Pekerja keras dan pantang menyerah, jiwa itulah yang beliau miliki. Beliau tularkan sifat itu kepada kami agar kelak menjadi orang yang sukses dunia akhirat.

Keesokan hari kukabari pihak penyedia beasiswa yang sebelumnya menyatakan bahwa aku akan dapat beasiswa dengan syarat harus lulus seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri. “Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?” (QS.Ar-Rahman:11). Teringat akan firman-Nya, kupahami dan kurenungkan hingga tak terasa meneteslah air mata ini. Aku yang bukan siapa-siapa, dari keluarga yang sangat sederhana dengan kemampuan pas-pasan bisa menjadi bagian dari salah satu mahasiswa perguruan tinggi negeri ternama di pulau jawa.

Kekuatan Kata-Kata

Sang kepompong mulai  melepaskan serat-serat pembungkusnya dan muncullah kupu-kupu kecil yang siap untuk terbang. Itulah perumpamaan hidupku ketika mulai memasuki dunia kampus. Kuawali kehidupanku sebagai seorang mahasiswa dengan menetapkan beberapa target dan rasionalisasinya. Karena program beasiswa yang kudapat hanya 3 tahun, sedangkan rata-rata mahasiswa resmi menyandang gelar sarjana harus menyelesaikan studi lebih dari 3 tahun, maka kutetapkan harus lulus minimal 3,5 tahun dengan kerja sambilan ketika sudah tidak mendapat beasiswa sebagai penyambung hidup pada tahun terakhir kuliah.

Tidak hanya lulus cepat, tetapi juga harus cumlaude (lulus dengan pujian) serta cepat mendapat pekerjaan. Di samping itu, aku juga menetapkan harus mendapat soft skills dengan mengikuti organisasi dan memperoleh juara pada perlombaan yang sesuai dengan kemampuan yang kumiliki.     Target itu kupatri erat dalam jiwa, kulafadzkan dalam setiap doa, serta kuingat selalu dalam setiap kesempatan.

Cara itu cukup ampuh dalam memotivasiku ketika mengalami masa-masa sulit atau saat terjatuh, tentunya dengan menjaga kesehatan iman dan kebersihan jiwa. Target itu pula yang mengantarkanku melewati saat-saat luang untuk mengisinya dengan kegiatan yang lebih bermanfaat. Karena kuyakini bahwa waktu luang merupakan waktu yang paling berbahaya dalam hidup. Banyak orang terlena disaat memiliki banyak waktu luang yang mengakibatkan terbunuhnya target-target yang telah ditetapkan. Waktu tidak memiliki toleransi, sedetik pun waktu yang terlewat tidak akan dapat diputar kembali.

Kesungguhanku dalam dunia kampus terbukti saat aku menyelesaikan studi. Dibidang akademik, dari 7 semester yang kujalani hanya sekali Indeks Prestasi-ku tidak mencapai cumlaude namun masih tetap di atas 3. Dan di akhir perkuliahan, aku lulus dengan predikat cumlaude dengan masa studi hanya 3,5 tahun. Tidak hanya itu, aku juga memenangkan berbagai macam perlombaan dari tingkat fakultas hingga tingkat nasional serta mencapai jabatan yang cukup strategis dalam organisasi. Pengalaman lain yang kudapatkan adalah menjadi asisten dosen serta tentor dari salah satu lembaga bimbingan belajar. Inilah bukti bahwa waktu yang kuinvestasikan memberikan hasil, inilah bukti bahwa kata-kata tentang target yang kutetapkan diawal perkuliahan.

Selepas menanggalkan status mahasiswa, aku putuskan untuk bersaing dengan sarjana-sarjana terbaik se-Indonesia dalam program Indonesia Mengajar angkatan II. Aku memberanikan untuk menginvestasikan satu tahun dari masa yang kumiliki, mengabdi untuk negeri demi kemajuan pendidikan di Indonesia.”Inilah saatnya aku berbuat untuk orang lain,” kataku dalam hati

Kuyakini pula bahwa ketika kita banyak berbuat untuk orang lain, maka kita pasti akan banyak mendapat dari orang lain juga asalkan kita melakukannya dengan ikhlas. Kalimat itulah yang menyemangatiku untuk mengikuti seluruh rangkaian proses recruitment dari awal hingga akhir meskipun harus mondar-mandir ke luar kota. Hingga akhirnya aku terpilih diantara empat ribu pendaftar se-Indonesia sebagai Pengajar Muda angakatan II. Berbagai rasa bercampur baur, antara senang, sedih, takut, dan was-was karena akan ditempatkan di daerah pelosok yang sangat minim fasilitas. Kukatakan pada diri ini, “Jika niat kita benar, pasti Allah SWT akan menolong kita.

Mimpi yang Semakin Nyata

Kupu-kupu itu mulai terbang, diantara bunga-bunga yang bermekaran, sesekali hinggap pada kelopak bunga yang mengandung madu. Begitulah aku selepas menjadi Pengajar Muda. Berbekal pengalaman selama menjadi mahasiswa, hingga menjadi pengajar muda, aku merambah dunia yang lebih luas memasuki dunia para profesional. Tergabung di salah satu konsultan ekonomi ternama, tempat berkumpulnya para ekonom, pakar ekonomi Indonesia dan pencetus kebijakan.

Mereka adalah Prof. Bustanul Arifin pakar ekonomi pertanian, Prof. Didik J. Rachbini pakar ekonomi politik, Prof. Ahmad Erani Yustika pakar ekonomi kelembagaan, Dr. Enny Sri Hartati pakar ekonomi makro, Dr. Aviliani pakar ekonomi perbankan serta masih banyak lagi yang lain. Itulah INDEF, Institute for Development of Economics & Finance.

Menjadi bagian dari mereka merupakan anugerah yang besar, sejalan dengan impianku menjadi salah satu pesohor negeri ini. Bila saat ini merupakan masa keemasan para senior INDEF, maka sepuluh atau lima belas tahun yang akan datang para junior INDEF yang akan menggantikan mereka. Saat itulah aku dan teman-teman setingkat yang akan meneruskan tongkat estafet untuk menyumbangkan pemikiran ekonomi demi Indonesia yang lebih baik. Itulah targetku selanjutnya, merambah dunia yang lebih luas, menjadi ahli dalam bidang yang kukuasai.

Ketika menjadi mahasiswa, segala mimpi masih abstrak dan hanya bisa kubayangkan. Tapi saat ini, contoh itu nyata di depan mata, ia dapat kulihat, kedengar dan kusentuh. Hampir setiap hari aku berinteraksi langsung dengan mereka. Kutahu kebiasaan-kebiasaan mereka yang menjadikannya ahli di bidangnya masing-masing. “Motivasi itu semakin kuat tatkala ada bukti nyata,” gumamku. Tinggal meniru kebiasaan-kebiasaannya, maka kita akan menjadi seperti mereka. Hanya perlu menata diri, mengatur waktu serta melakukan transformasi menuju pribadi yang lebih baik.

Apalagi saat ini aku berada di ibu kota, tempat berkumpulnya orang-orang sukses, para petinggi negeri ini. Ada satu waktu aku bercengkrama dengan mereka, orang-orang yang dulu hanya dapat kutatap via lewat layar kaca. Itulah saatku memperkuat mimpi-mimpi yang belum tercapai, menyegarkan kembali target-target masa depan yang mulai layu ditelan masa. Kutahu bahwa di sini, banyak orang yang terwujud mimpi-mimpinya.

“Kalau mereka bisa, kita pun pasti bisa karena tak ada bedanya antara mereka dan kita, sama-sama tercipta dari saripati tanah. Hanya masalah waktu dan kegigihan kita dalam memperjuangkan impian. Semakin jauh kupu-kupu itu terbang, semakin banyak pula sari bunga yang akan didapat. Begitu pula dengan kita, seberapa besar perjuangan kita, sebesar itu pula hasil yang akan kita dapat.

BAGIKAN

LEAVE A REPLY