FIGUR : Investasi Ilmu Berorganisasi

0
384

Oleh: Evie Kusnindya

PASAR merupakan salah satu tempat yang jarang disambangi para remaja pria. Namun hal ini tak berlaku bagi Eka Anzihory. Mahasiswa Fisika FMIPA Universitas Sebelas Maret (UNS) angkatan 2011 ini hampir saban hari bergelut dengan komunitas pasar tradisional. Baginya, pasar dan lingkungannya adalah hal yang sangat dia akrabi. Ia tak canggung bergaul dengan para bakul, buruh panggul maupun komunitas pasar tradisional lain. Bahkan di Pasar Ledoksari atau Klewer, para pedagang sangat familiar dengannya.

Ya, sebagai salah satu pegiat komunitas Aku Cinta Budaya Indonesia (ACBI), Eka memang banyak belajar di pasar-pasar tradisional, untuk selanjutnya komunitas tersebut mengenalkan nilai-nilai budaya itu melalui berbagai kegiatan, misalnya ACBI Goes to School, ACBI Snack dan lainnya. ”Banyak sekali budaya di pasar tradisional yang sudah dilupakan atau tak diketahui masyarakat umum. Misal nilai gotong royong dan budaya nyumbang di kalangan pedagang yang berbeda dengan kebiasaan umum,” kata peraih beasiswa Baktinusa tahun 2011 itu.

Eka, yang juga peneliti di UNS Medical Instrumentation, itu memang aktif di berbagai kegiatan dan organisasi. Selain ACBI, ia juga aktif di komunitas Ayo Belajar yang dirintisnya bersama sejumlah aktivis. Komunitas ini memfokuskan pada pengembangaan nilai kepemudaan dan kebudayaan. Komunitas tersebut, menurut Eka, banyak menghadirkan ruang-ruang diskusi dengan bahasan utama kepemimpinan. ”Di komunitas itu, kami belajar bersama menginternalisasi nilai-nilai kepemimpinan dan kepemudaan terutama dari pemikiran tokoh tokoh nasional,” kata mahasiswa yang pernah menyabet juara I dalam Debat Ilmiah Nasional Voice Up Your Mind di Undip pada 2014 itu.

Menjaga idealisme adalah kebanggaan tersendiri bagi Eka. Baginya, idealisme yang berhubungan dengan investasi kebaikan merupakan harta yang sangat berharga, melebih materi. ”Saya berharap ilmu dari berbagai kesibukan dan kegiatan yang saya ikuti bisa bermanfaat untuk saya pribadi maupun lingkungan. Sebab sebaikbaiknya manusia adalah yang bermanfaat untuk lainnya,” kata pemuda kelahiran Tasikmalaya, 2 Mei 1993 ini.

(Evie Kusnindya-43)

SUMBERsuaramerdeka.com
BAGIKAN

LEAVE A REPLY