From Nothing to Something

0
1017

Oleh: Pariman, Psikologi Undip

“Orangtuamu tidak bisa mewarisi apa-apa, hanya bisa mewarisi ilmu,” suara khas baritonnya memecah keheningan sore itu.  Aku dan kedua adikku hanya bisa manggut-manggut mendengar nasihat bapak.

“Bersekolahlah yang tinggi biar nantinya menjadi orang berhasil, jangan seperti orang tua kalian ini orang yang tidak berpendidikan”, tegasnya lagi sambil menyeruput kopi hitamnya.

Bapak memang tidak sempat mengenyam bangku sekolah, sehingga wajar ia tidak bisa baca tulis. Jangankan sekolah, waktu bapak kecil, untuk makan sehari-hari saja susahya minta ampun.

Meski tidak berpendidikan, bapak selalu tampil percaya diri. Pernah ketika pembagian raport di sekolahku dahulu, bapak dengan enteng menjawab “Saya ndak bisa baca tulis,” ketika disodorkan daftar hadir kepadanya. Demikian pula ketika wali kelasku memintanya tanda tangan, ia hanya menyodorkan ibu jarinya untuk cap jempol. “Lah mau apa lagi. Jangan pernah merasa minder,” katanya.

Bersyukur, guru-guru di sekolah juga tidak pernah menyinggung dan mempermasalahkan latar belakang orang tua kami. Yang penting bagi mereka, kami semua rajin belajar, memiliki cita-cita tinggi  sehingga bisa sukses di kemudian hari. “Kasihan orang tua yang sudah banting tulang untuk biaya sekolah kalian.”

Ibuku masih beruntung, ia sempat duduk di bangku sekolah meski hanya tamat SD. Lagi-lagi karena alasan ekonomi. Ketika ia lulus, dan hendak melanjutkan ke SMP, kakek (ayah ibuku) dipanggil menghadap-Nya, disaat yang bersamaan, adik ibu (pamanku) baru lahir. Melanjutkan pendidikan bukan pilihan terbaik ketika itu. Dari ibulah aku belajar membaca dan menulis sebelum masuk sekolah.

Setelah bapak dan ibu menikah, kondisi ekonominya juga tak kunjung membaik. Makan tiwul atau gaplek adalah hal yang lumrah bagi kami. Ketika beras sudah menipis, kadang nasi aking menjadi pilihan alternatif. Aku juga tak asing makan nasi dicampur jagung, singkong rebus, maupun umbi-umbian.

Bisa makan tiga kali sehari saja sudah sangat istimewa bagi kami. Dedaunan yang tumbuh di pekarangan, sambel cabai mentah, dan tempe goreng kerap kali menghiasi meja makan kami. Tapi tidak pernah sekali pun keluar kata-kata penyesalan dan keluh kesah dari mulut kami. Justru masa-masa sulit itu menjadi episode yang mendidik kami sehingga seperti sekarang.

Menggembala kambing dan mencari rumput di ladang adalah tugas sehari-hariku selepas pulang sekolah. Ngangon sapi dan pergi ke sawah untuk mengusir burung yang mengganggu padi juga menjadi aktivitas lainnya. Tak ada les privat layaknya anak zaman sekarang, apalagi main Play Station dan Game Online di Warnet.

Ketika malam, temaram cahaya ceplik (lampu tempel berbahan bakar minyak tanah) membuatku tak konsentrasi belajar, karena sulit membaca buku pelajaran, karena sambungan listrik memang baru masuk ke desa kami ketika aku kelas 2 SMP. Namun demikian, orang tua kami masih bisa lembur bekerja semalaman untuk mengerjakan kerajinan “wakul” (anyam-anyaman dari bambu) dengan lampu sentir itu.

Selain mengerjakan anyaman, pekerjaan pokok kedua orang tuaku adalah menggarap sawah musiman yang disewa dari warga desa. Mereka juga menggarap ladang kerung untuk ditanami tebu.

Kehidupan masa lalu yang menyulitkan itu tidak memberikanku banyak pilihan. Satu-satunya pilihan yang ditanamkan orangtua padaku adalah “sukses”. Tidak ada pilihan lain. Caranya dengan bekerja keras dan tekun berusaha.

Bersyukur semua keadaan yang kualami tidak menjadikan aku takut berprestasi. Guru-guru selalu memberikan semangat sampai-sampai datang ke rumah untuk memberikan dorongan dan dukungan padaku serta orangtua agar aku bisa melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi.

Alhamdulillah, sedikit demi sedikit kini aku mulai mewujudkan keinginan orang tuaku dahulu. Walau tidak menjadi guru seperti keinginan bapak, aku sempat mengajar di salah satu kampus di Semarang, menjadi trainer di sekolah bisnis, pembicara seminar, menulis di koran, narasumber di radio, bintang tamu di televisi, pemakalah dalam temu ilmiah, dan aktif berbagi inspirasi di blog www.parimansiregar.blogspot.com juga jejaring sosial dan sebagainya. Setelah lulus SMA favorit di Sragen, aku melanjutkan studi S1 Psikologi di Undip Semarang, dan kemudian mendapat kesempatan untuk kuliah S2 di UGM mengambil profesi psikolog klinis.

Semangat itu “Etos”

“Terbatas bisa teratas? Yakinlah ANDA BISA! Jadikan keterbatasan sebagai spirit untuk melejit, berkelit di saat sulit, Pariman Siregar ini buktinya. Mengamalkan ilmunya untuk meluarbiasakan dirinya, MASTER from MINDER,” demikian Solikhin Abu Izzudin, Motivator dan Penulis Buku Best Seller ZERO to HERO dalam cover belakang Buku MASTER from MINDER.

Aku masih ingat betul pertanyaan retoris ibu di penghujung kelas 3 SMA, “Nak, kamu jadi mau melanjutkan kuliah? Bapakmu tidak punya uang yang cukup.”

Sebuah pertanyaan yang sebenarnya ingin mengukur sejauh mana tekadku dalam mewujudkan cita-cita, kuliah. Jawaban dari pertanyaan ibuku sekaligus sebagai penguatan atas kepercayaan diri beliau dalam berusaha membiayai kuliahku.

“Insya Allah, aku akan melanjutkan kuliah. Soal biaya, aku yakin ada jalannya.” jawabanku ketika itu.

“Baiklah kalau begitu, ibu hanya bisa mendo’akan, semoga engkau diberi kemudahan”, balasnya menguatkan keyakinanku.

Tahun berganti Sungguh menarik ketika pulang ke rumah. Rasa syukur itulah yang kami rasakan saat mengenang dialog-dialogku dengan ibu dipenghujung SMA dulu. Dulu sepertinya tidak mungkin terjadi, tetapi sekarang semuanya telah terlampaui. Ada saja jalan saat kesulitan datang. Ada saja kemudahan ketika ada keyakinan ke-Maha Besar-an Tuhan, Allah SWT.

“Semarang, Universitas Diponegoro dimanakah letaknya?” Aku dan beberapa temanku sama-sama baru pertama kalinya ke Semarang. Kami belum pernah datang ke sana apalagi naik bus sendiri. Berbekal secarik kertas rute perjalanan, kami berangkat bersama.

Terminal Banyumanik,” nama yang selalu kuingat-ingat selama perjalanan. Alhamdulillah, kami sampai tujuan tanpa halangan bahkan mendapat banyak kenalan dan tempat penginapan.

Aku hanya memiliki keyakinan pada Allah SWT. Aku tidak tahu harus menemui siapa, tinggal di mana, jika uangnya kurang bagaimana. Pertanyaan seperti “Biaya kuliah, sumbangan akademik, buku-buku, biaya kontrakan dari mana aku dapatkan?” melintas dipikiran ketika itu, tapi segera kusingkirkan. Sebagai seorang Pramuka yang pernah digembleng mentalnya, pantang mundur jika sudah bertempur.

Kepalang basah, semua sudah terlanjur, tidak ada gunanya mundur. Jalan satu-satunya adalah kuatkan tekad dan keyakinan, pasrahkan pada Tuhan. Benar saja, aku tidak mengira menjadi bagian dari kafilah mahasiswa penerima Beastudi Etos Semarang. Satu dari sekian ratus penerima Beastudi Etos di 11 Perguruan Tinggi Negeri Indonesia kala itu.

Selama tiga tahun kami dibina dan ditempa. Bersama dengan teman-teman Etoser lainnya, kuliahku dibiayai, mendapatkan bimbingan setiap hari, mulai dari kepemimpinan hingga entrepreneurship.

Tidak seperti sekarang, pembukaan pendaftaran Beastudi Etos saat itu dilaksanakan saat registrasi ulang di kampus. Bermodalkan informasi selembar guntingan iklan di sebuah surat kabar yang dikirimkan kakak kelas saat SMA, aku bertekad mendapatkan kesempatan emas itu. Informasi itu sebenarnya dikirim untuk temanku sesama takmir masjid di sekolah. Ya, hampir satu tahun, tepatnya saat kelas 3 SMA, aku tinggal di masjid sekolah untuk menghemat ongkos dan kos. Kami tak perlu membayar, tapi hanya mengurus masjid (bersih-bersih, mengurus uang infaq, mengurus Jum’atan, menjaga sarana dan prasarana serta kegiatan agama).

Saat SMA, aku sempat suatu kali protes pada Allah SWT karena besarnya permasalahan hidup yang kualami. Sekarang, malu rasanya jika sampai melakukan itu lagi, karena begitu banyak kenikmatan yang telah dilimpahkan oleh-Nya. Pada awalnya aku bukan apa-apa, tapi sekarang sudah menjadi jauh berbeda. “from nothing to something”, banyak hal-hal yang dulu seolah tidak mungkin, tapi sekarang semuanya begitu nyata. Berbagai pengalaman yang dulunya tidak mengenakkan ternyata sekarang asyik untuk diceritakan.

Semuanya yang telah dilalui adalah proses pendewasaan yang diberikan Tuhan bagi seorang minder agar suatu saat menjadi MASTER. Aku belajar dari kehidupan dan kegagalan, tapi kemudian aku menjadi guru yang mengajarkan kesuksesan. Semua orang layak untuk menjadi sukses sekalipun kemampuannya terbatas.

Menulislah, Tebarkan Inspirasi

“Nak, Bapak tidak bisa menyekolahkanmu, carilah bekal hidupmu sendiri,” di waktu berbeda bapak kembali menasihatiku.

Hebat betul perjuangan kedua orangtuaku. Aku sempat berpikir kapan bisa membalas jasa-jasa mereka, meski mereka tidak begitu mengharapkan. Lahirlah semua tekad untuk memberikan sesuatu yang membahagiakan bagi mereka. Setidaknya mengabadikan nama mereka sebagai inspirator yang menghantarkanku sampai hingga seperti sekarang.

“Sebelum lulus S1, aku ingin menerbitkan buku,” begitulah semangat itu. Aku ingin menuliskan nama kedua orangtuaku, mengucapkan terima kasih, dan banyak orang yang akan membaca serta terinspirasi dari buku tersebut.

Di penghujung kuliah, terbitlah buku pertama MASTER from MINDER. Sebuah buku yang kudedikasikan sebagai wujud kepedulian untuk membantu orang lain, meyakinkan bahwa mereka memiliki potensi yang luar biasa; potensi yang jauh melebihi apa yang dipikirkannya. Kumpulan dari berbagai pengalaman yang pernah kudapatkan. Saripati inspirasi ketika menjadi trainer di sekolah bisnis untuk anak dan remaja BIZZ4KIDS Semarang, pengalaman menjadi trainer motivasi dan pengembangan diri bersama teman-teman di Quantum Motivation Center (QMC), pertanyaan-pertanyaan selama mengisi “Mutiara Pagi” Trijaya 89,8 FM Semarang, ide-ide selama menangani pembinaan SDM di Beastudi Etos Semarang, dan berbagai pengalaman lainnya.

Semua ide, inspirasi, dan pengalaman tersebut kemudian kupadu dengan berbagai pandangan dari Alqur’an, hadis, psikologi konseling, psikoterapi serta kehidupan para sahabat dan para tokoh.

Dua minggu kutulis naskah buku itu. Saat-saat dalam kondisi sakit, kuhabiskan hari-hariku untuk menuliskan ide dan pengalaman. Jika sudah merasa lelah, aku istirahat, tidur, sholat atau pergi jalan-jalan. Setelah selesai, segera kukirim ke penerbit. Alhamdulillah, lebih cepat dari biasanya, dua minggu kemudian mendapat balasan kalau naskah diterima untuk diterbitkan dengan sedikit perubahan dan tambahan. Akhir 2009, terbilah bukunya dan sudah banyak orang yang mengambil inspirasi dari buku tersebut.

Melalui buku tersebut aku mencoba menguatkan kepercayaan diri dan meyakinkan kemampuan untuk menantang segala keterbatasan. “Jika orang lain bisa, Anda tentu lebih bisa. Awalnya menjadi murid yang baik, belajar dari kegagalan, berikutnya menjadi guru kesuksesan yang mengajarkannya pada banyak orang”,  itulah harapanya.

Setelah berhasil meraih gelas Sarjana Psikologi, kini aku mengambil S2 untuk Profesi Psikolog Klinis di Universitas Gajah Mada. Perjalananku masih panjang, masih banyak mimpi yang ingin kuwujudkan, masih banyak inspirasi manfaat yang harus kutebarkan.

BAGIKAN

LEAVE A REPLY