Great Wall of Koto Gadang

361

Sebuah Kisah tentang Pembinaan Etos Padang yang Membangkitkan Asa.

Menyandang predikat sebagai negarawan muda, merupakan sebuah kehormatan sekaligus tanggung jawab yang besar bagi para Etoser (penerima manfaat beastudi Etos). Agenda pelatihan serta pengembangan diri menjadi suplemen wajib yang dikonsumsi setiap harinya. Beragam aktivitas guna menunjang skill dan kemantapan Etoser yang diselenggarakan oleh pembina dikreasikan dalam berbagai bentuk kegiatan yang disusun dengan kurikulum sesuai kebutuhan masing-masing angkatan.

Irsyad dan Taufik, pembina ikhwan Etos Padang ini sudah bersiap-siap tidak kurang sejak akhir tahun 2015 merencanakan pembinaan ini bersama manajemen Etos padang dan tim alumni sebagai panitia penyelenggara. Mulai dari tahap survei, rapat koordinasi hingga persiapan peralatan demi terselenggaranya event yang ‘bergizi tinggi’ bagi para Etoser. Menyeruput secangkir teh hangat, pagi itu Taufik langsung saja bergegas menyusul Irsyad yang lebih dulu menuju halte pasar baru tempat Etoser menunggu bus keberangkatan, mereka belum sarapan.

Mengangkat tema “Sosioleadership dan Survival Challenge”, Beastudi Etos Padang mengawali tahun 2016 dengan pembinaan gabungan yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Dilaksanakan selama 2 hari, bertempat di Ngarai Sianok Nagari Koto Gadang, Kabupaten Agam, Etos Padang sukses menghadirkan suasana pembinaan yang seru dan sarat dengan nilai-nilai. Dipihnya Ngarai Sianok bukan dengan tanpa alasan, lembah yang indah dilihat dari puncak panorama ini telah mendunia, Lobang Jepang (destinasi sejarah pembantaian kolonial) menjadi saksi bahwa tanah ini pernah melahirkan K.H Agus Salim, Menteri Luar Negeri RI pertama yang “menghoyak” PBB dan membuat mati kutu para pemimpin dunia dengan pidato-pidato nya, “Pendekar” bangsa yang diceritakan bersepeda keliling Jakarta guna mencari rumah kontrakan, kendatipun berstatus pejabat tinggi negara, negarawan sejati yang tak pernah mati.

Mengusung semangat K.H Agus Salim dipadu dengan keindahan bumi kota wisata Bukittinggi, Peserta pembinaan yang terdiri dari Etoser aktif angkatan 2013, 2014 dan 2015 berjumlah sebanyak 69 orang, ditambah panitia yang terdiri dari manajemen daerah bersama alumni jumlah mereka mencapai 85 orang, semuanya larut dalam tekad untuk membawa keberkahan dalam kebersamaan pembinaan kali ini.

Hari pertama dimulai dengan berangkat menuju Ngarai Sianok menggunakan bus kampus pada pukul 07.00 Wib pagi, menempuh waktu hingga 4 jam perjalanan disebabkan kondisi bus yang tiba-tiba rusak tidak menghalangi Etoser untuk menikmati pembinaan dengan semangat. Untung saja Supir Bus, Pak Alfian cukup berpengalaman dan cekatan menaggulangi segala kondisi. Pembinaan kali ini memang tidak biasa, dilaksanakan selama 2 hari di alam terbuka, Etoser harus meninggalkan sejenak kasur empuk di asrama untuk tidur di dalam kemah-kemah yang disediakan. Seusai mendirikan tenda, Toilet darurat, dapur dan makan siang bersama, dilanjutkan dengan materi pertama yang dimulai pukul 16.00 Wib, Etoser bergerak menuju kawasan pusat kota Bukittinggi yaitu Jam Gadang untuk berburu profil targetan yang akan diliput, sekaligus mensosialisasikan tema Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) kepada masyarakat dalam materi pembinaaan Sosioleadership Challenge. Sebelumnya, Etoser yang terdiri dari 10 kelompok dengan masing-masingnya berjumlah 6-7 orang dibagi kedalam kelompok kecil yang beranggotakan 2-3 orang. Kelompok kecil inilah yang diminta untuk meluapkan skill komunikasi mereka bersama masyarakat dengan sangat mendalam meliput profil tokoh targetan serta memberikan edukasi dan berbagi pendapat mengenai MEA.

Tepat pada pukul 20.00 Wib, Etoser menyelesaikan agenda sosioleadership challenge dan kembali ke Ngarai Sianok. Sehabis makan malam, keseruan pun berlanjut, api unggun mulai menyala menghangatkan dan menerangi kawasan perkemahan yang teramat gelap, maklum pembinaan dilaksanakan didasar bukit tempat dimana replika “Great Wall” yang legendaris menjadi salah satu objek wisata utama di Ranah Minang berada. Agenda malam itu adalah presentasi liputan dan pengalaman yang Etoser dapatkan selama menjalani pembinaan materi pertama. Yogi, Amsar, Rizal dan Just-Be (Panitia Etoser 2012) terlihat sibuk menjaga api tetap membara, sesekali mereka melemparkan bensin ke tengah api untuk memastikan pencahayaan dan dinginya malam tertimpali oleh hangatnya unggun malam itu.

Irsyad memoderatori Etoser untuk presentasi dengan ciamik, sementara Taufik sibuk mengamati setiap kejadian agar berjalan sesuai rencana. Satu per satu cerita inspiratif pun bermunculan. Alif (Etoser 2015) bersama kawan-kawanya bercerita bahwa Ia tadi bertemu sosok yang menghadiahkan kisah berharga, seorang Bapak yang ditemui di The Hills Hotel, Beliau tak lain adalah pemilik saham di banyak perusahaan di Indonesia, mantan prajurit Koppasus ini mencurahkan ilmu dan nasehat yang penuh makna akan betapa pentingkan pendidikan. Sementara itu Arum (Etoser 2014) akhwat yang baru saja terpilih menjadi delegasi forum kepemudaan di Singapore dan Malaysia pada awal 2016 ini, meskipun sedikit terkilir dan kelelahan saat kembali Jam Gadang, namun pengalaman bertemu dengan Ibu paruh baya yang bertahan hidup menggendong anaknya setiap hari dalam jarak yang tidak dekat, mempertahankan hidup dengan kerasnya dunia dan ketiadaan keluarga membuat Etoser cukup terperanga dan menaruh simpati, hampir serupa kisah Dedi (Etoser 2013) Adri (Etoser 2015) dan Mora (Etoser 2014), calon-calon pemimpin masa depan ini berbagi pertemuan bersama seorang janda yang bertahan hidup ditengah keterbatasan fisik dan ekonomi. Bahkan, ada Etoser yang sampai diajak ke rumah orang yang diwawancara, diberikan hadiah hingga foto bersama.

Malam semakin larut, kisah haru, lucu, dan inspiratif pun berlanjut. Etoser seperti tak kenal lelah menghabiskan malam itu berkumpul dalam keakraban dan presentasi yang menggugah sebelum masing-masing tidur didalam tenda sedang beberapa ikhwan berjaga. Sedikit “behind the scene”, awalnya panitia merencanakan jurid malam dari lokasi perkemahan mendaki gelapnya ratusan anak tangga Great Wall of Koto Gadang, namun meciduk wajah kelelahan yang tidak bisa disembunyikan, membuat panitia cukup manusiawi memutuskan bahwa jurid akhirnya belum dilaksanakan dengan alasan fisik dan ‘metafisik’.

Hari kedua, membangunkan Etoser untuk subuh berjamaah di Ngarai Sianok tidak lebih mudah dibandingkan di asrama. Namun, Taufik dan Irsyad agaknya memiliki kiat khusus agar Etoser mau dan mampu menyudahi tidur mereka sebelum subuh tiba. Sehabis sholat, alma’tsurat, dengan tanpa mandi dan belum menggosok gigi apalagi membersihkan tempat tidur, Etoser berangkat menuju puncak Great Wall untuk games bersama. Kekompakan panitia benar-benar tergambar jelas dilapangan, disaat Uni Rina dan Uni Asa berbagi peran memastikan Etoser tidak kelaparan, Dhila, Suci dan Nita turut mempersiapkan peralatan outbond, beberapa panitia alumni lain terlihat menjaga tenda, dilain tempat bergantian kedua pendamping rupawan (red: Taufik dan Irsyad) menghendel jalanya games dibantu dengan panitia alumni yang tersisa. Mulai dari permainan Kapal Pecah, Menara Manusia hingga puncaknya didalam permainan “Berhitung Etos” keluar sebagai juara yaitu M. Ariful Fikri (Etoser 2013). Peserta Student Exchange ke University of Malaya selama sebulan di tahun 2015 sekaligus Gubernur Fakultas Keperawatan ini, harus basitungkin menyudahi perlawanan Cania (Etoser 2014) dalam Grand Final setelah menyisihkan 60 lebih kontestan lainya. Tapi, tidak ada hadiah di dalam permainan ini selain ucapan selamat.

Foto bersama, kembali menuruni Great Wall, sarapan, materi pembinaan pun dilanjutkan menuju Survival Challenge dengan konsep outbond yang menguras tenaga. Diawali dengan penampilan yel-yel bersama, namun kali ini kreativitas Etoser belum mampu mengalahkan komposisi yel-yel kreasi panitia yang dibawakan ciamik oleh Uni Iie dkk.

Sesaat sebelum pertarungan dimulai, Wali Nagari (setingkat Lurah) Koto Gadang menyempatkan memberikan sambutan dan wejangan yang seyogyanya disampaikan dalam pembukaan kemaren, karena satu dan lain hal khirnya baru berkesempatan di hari kedua. “Inyiak Wali” berbagi nasehat tentang manajemen diri dan masa depan untuk menjadi generasi yang lebih berdaya. Tidak kurang setengah jam pejabat negara yang memimpin pemerintahan Nagari Koto Gadang itu berpidato. Nasehat yang bernas dan padat cukup membuat Etoser semakin menggeliat menyelesaikan tantagan menjadi yang terbaik.

Games pun dimulai. 10 kelompok siap memperebutkan hadiah bergengsi dari panitia. Pacu karung dengan menghadap kebelakang menjadi lomba pembuka, disusul kelereng sendok, merayap di lintasan tali hingga mengumpulkan bendera kertas yang menuntut skill memanjat Etoser. Meloncati tali jaring laba-laba hingga ditutup dengan menyeberangi sungai dengan karung berpacu di derasnya aliran cukup membuat Etoser kewalahan dan pastinya basah.

Tidak terasa survival challenge pun usai dan membawa kelompok merah sebagai jawara. Tim yang dimotori Adri, Mora, Dedi, Ria, Revi, Yulia dan Risma sukses menjadi tim tercepat menyelesaikan tantangan dan berhak atas hadiah yang sangat berkesan.

Panas semakin terik, setelah makan siang, shalat zuhur, bertukar kado dan foto bersama, para Negarawan Muda bersiap kembali ke Padang. Tentunya dengan semangat baru, para tokoh kampus yang berhimpun dalam generasi “More Than Excellent” ini telah menjelma menjadi penakluk mimpi yang tidak kenal lelah dalam perjuangan prestasi dan dakwah, untuk Islam, Indonesia dan umat manusia. (Taufik; 2014)

IMG_20160117_102859 IMG_20160117_101946 IMG_20160117_100233 IMG_20160117_095905 IMG_20160117_080920 12565503_941660065915916_4349378041995855216_n

SHARE