Guru: Semangat Perubahan dari balik Tumpukan Sampah dan Gempuran Ombak

0
546

“Karena saya merasa banyak kekurangan dalam mendidik anak-anak di kelas… oh ya, ternyata masih banyak yang harus diperbaiki cara mengajar saya.”, adalah ungkapan salah seorang guru dalam pelatihan “PAIKEM” di SD Dukuh II, Desa Galuga, Kecamatan Cibungbulang, Bogor.

Pelatihan guru telah diselenggarakan di Bogor dan Surabaya dalam dua hari berturut-turut. Pelatihan guru tahap I “PAIKEM” di Bogor dihadiri oleh guru dari 2 SD dan 1 MI pada tanggal 28 April 2012. Pelatihan guru tahap II dengan tema “Display Ruang Kelas” diselenggarakan di Balai Diklat PU Surabaya tanggal 29 April 2012 dengan jumlah peserta 19 guru dari 12 sekolah SD di Keluarahan Kedung Cowek dan sekitarnya. Pelatihan tersebut telah memberikan gambaran baru kepada guru dalam mengembangkan metode pembelajaran kepada siswa-siswanya di kelas. Penyelenggaraan acara ini merupakan wujud nyata peran penerima beasiswa Etos wilayah Bogor dan Surabaya sebagai bagian upaya kerasnya dalam berbagi memberi manfaat.
Galuga, Bogor terkenal sebagai dua icon yaitu “sampah” dan “ayam bakar”, dimana dua hal yang sangat bertentangan. Namun demikian, berbicara mengenai pembelajaran keduanya tidak berhubungan. Sampah menjadi icon yang sangat melekat di Desa Galuga, sebagai tempat pembuangan akhir (TPA) maka dapat dibayangkan bahwa desa ini bukan tergolong desa yang bersih. Sedangkan Kedung cowek adalah wilayah pesisir yang berkarakter masyarakat nelayan miskin dengan tingkat pendidikan dan penghasilan rendah. Keadaan ini lebih memprihatinkan dengan kondisi lingkungan yang kumuh, buangan limbah, sanitasi kurang memadai dan sampah berserakan. Galuga dan Kedung Cowek adalah desa binaan SDP yang didampingi oleh mahasiswa penerima beastusi Etos, Beastudi Indonesia, Dompet Dhuafa.

Jika boleh meminjam satu ungkapan “hidup segan, mati tak mau”, begitulah keadaan pendidikan di Galuga dan Kedung Cowek, dimana dihadapkan dengan keterbatasan multi aspek. Pendidikan menjadi salah satu roda penggerak untuk menggeliatkan perubahan. Pembelajaran merupakan interaksi yang mempertemukan sumber ilmu, siswa dan guru. Guru menjadi aktor penting untuk menjaga peluang bahwa anak Galuga dan Kedung Cowek akan merubah keterbatasan menjadi kemanfaatan. Keterbatasan yang dihadapi guru tidak mengurungkan niat mereka untuk tetap memberi ilmu kepada siswanya. Selain ungkapan di atas, guru menyampaikan “Cukup merasa puas dan sangat banyak memberi pengetahuan yang belum saya ketahui. Banyak hal baru yang bisa saya terapkan kepada anak didik saya”. Artinya, semangat guru untuk menyampaikan pembelajaran kepada siswa dengan metode yang baru menjadi titik awal perubahan metode pembelajaran yang selama ini masih konvensional.

Perubahan sosial tidak akan terjadi jika hanya menunggu tanpa melakukan aksi apapun, kalaupun perubahan terjadi maka kecenderungannya adalah sebuah distorsi. Satu langkah untuk menjaga asa tetap membara di balik keterbatasan adalah satu tahap aksi untuk sebuah perubahan. Hal ini tidak akan terwujud jika hanya satu pihak yang bergerak, maka sangat penting untuk mempertemukan ikatan multi stakeholder. Menciptakan guru yang kreatif semakin membuka peluang menuju pendidikan yang berkualitas.

“Sangat baik sekali karena untuk menunjang kegiatan belajar mengajar, kalau bisa kegiatan ini harus berkelanjutan”, kesan guru saat menutup pelatihan guru (Eko)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY