Hasto Wardoyo: “Mari Membangun Daerah Sendiri!”

0
335

Surabaya – Guna mengakomodasi kebutuhan para penerima manfaat Beastudi Etos akan penguatan pengembangan diri, pagi ini (05-08), mereka mengikuti “Seminar Inspiring Leadership Talk 2017” di Aula Kahuripan Gedung Rektorat Universitas Airlangga, Surabaya, Jawa Timur. Seminar Inspiring Leadership Talk 2017 ini merupakan bagian dari kegiatan Sociopreneur Camp 2017 yang diinisiasi Beastudi Indonesia.

Selain dihadiri para penerima manfaat Beastudi Etos, seminar inspiratif yang diisi tokoh-tokoh mumpuni di bidangnya seperti dr. Hasto Wardoyo, sp.OG, Bupati Kulon Progo; Emil Dardak, Bupati Trenggalek; Prof. Ir. Daniel M. Rosyid Ph.d, Pakar Kelautan Indonesia; Bambang Suherman, Direktur Mobilisasi ZIS Dompet Dhuafa; Muhammad Anwar, Founder Jelajah Kampung; Dalu Nuzulul Kirom, Founder Gerakan Melukis Harapan Dolly; dan Roisudin, Pimpinan Pondok Pesantren Baitussalam Bangkalan, juga dihadiri oleh tiga ratus peserta dari berbagai kampus di Jawa Timur.

Pada sesi pertama dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG,  Bupati Kulon Progo, didapuk menjadi pembicara utama untuk  membuka Inspiring Leadership Talk 2017. Hasto merupakan Bupati aktif Kulon Progo dengan prestasi segudang, ia baru saja menjabat kembali menjadi Bupati Kulon Progo untuk periode 2017-2022. Hasto dianggap mewakili mimpi serta harapan para pemuda karena keuletannya dalam membangun daerah Kulon Progo.

Sebelum dipegang oleh Hasto, Kulon Progo merupakan daerah tanpa tanda-tanda kemajuan. Dengan berbagai cara, ia mulai menyusun strategi guna membangkitkan potensi Kulon Progo yang lama tertidur agar perekonomian Kulon Progo kembali berjaya. Usahanya bukan tanpa halangan, berbagai hambatan hingga cibiran ia temui selama membangun daerahnya sendiri.

“Saya ingin agar masyarakat Kulon Progo mampu memberdayakan diri dan daerah mereka dengan kemampuan sendiri, tak bergantung kepada siapapun,” kata Hasto membuka seminar.

Hasto terus berjuang demi Kulon Progo lebih baik, ia menginisiasi berbagai inovasi dengan program “Bela & Beli Kulonprogo”. Gerakan dimulai dengan mengeluarkan kebijakan yang mewajibkan pelajar dan PNS di sana mengenakan seragam batik Gebleg Renteng, batik khas Kulonprogo, pada hari tertentu. Kebijakan ini mampu mendongkrak industri batik lokal dan membuat sentra kerajinan batik tumbuh pesat. Selain itu Hasto mewajibkan PNS membeli beras produksi petani Kulonprogo sebanyak 10 kilogram per bulan. Bahkan beras raskin yang dikelola Bulog setempat, kini menggunakan beras produksi petani Kulonprogo. Hasto juga membuat PDAM mengembangkan usaha, dengan memprodusi air kemasan merk AirKu (Air Kulonprogo). AirKu kini menguasai seperempat ceruk pasar air kemasan di Kulonprogo. Berbagai kebijakan lewat program Bela dan Beli, ternyata mampu menurunkan angka kemisikinan di Kulonprogo, dari 22,54 persen pada 2013 menjadi 16,74 persen pada 2014.

Usaha Hasto membangun Kulon Progo mendapatkan banyak apresiasi dari berbagai pihak, berkali-kali ia diganjar  ragam penghargaan seperti Penghargaan Bintang Jasa Utama Tahun 2016 dari Presiden Republik Indonesia, Penghargaan sebagai Kepala Daerah Inovatif Tahun 2016 Kategori Ekonomi Kreatif dari MNC Group, Penghargaan Reka Cipta Bhakti Nugraha atas Perencanaan Kabupaten Terbaik I Tahun 2016 atas Penyusunan Rencana Kerja Pembangunan Daerah Kabupaten Kulonprogo 2016 dari Gubernur DIY, Penghargaan sebagai Finalis Indonesia Digital Economy Award (IDEA) Tahun 2016 dari Menteri Komunikasi Dan Informatika RI, dan masih banyak lagi.

Menurut Hasto sangat penting membangun daerah berbasis ideologi dengan cara merebut pasar sendiri dan merebut produksi sendiri, hal tersebut dikarenakan sulitnya  bekerjasama dengan beberapa elemen.

“Saya ingin agar kalian bisa menghadapi MEA bukan hanya dengan teknologi, tapi juga dengan ideologi. Kita harus mengubah mindset untuk tetap maju, karena tanpa itu semua kemampuan yang kita miliki tak akan berarti,” tambahnya.

Hasto terus menekankan pada kekuatan untuk melawan teknologi dengan ideologi, sebab kekalahan Indonesia dalam bidang teknologi bisa diimbangi dengan penggunaan ideologi berkelanjutan. Ia menuturkan  jika lebih baik kelaparan daripada makan produk impor.

Sebagai penutup Hasto mengajak para peserta untuk menggaungkan jargon Bela dan Beli Indonesia demi kaum dhuafa agar Indonesia lebih maju nantinya. (AR).

BAGIKAN

LEAVE A REPLY