Ibu, Aku ingin Jadi Dokter

279

Oleh: Desyani Shalihah Setiadi, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran.

“Ibu, ketika aku besar nanti aku ingin jadi dokter!” itulah kalimat yang kuucapkan dengan penuh semangat ketika menghampiri ibuku sebari meluruskan topi toga yang kupakai di hari kelulusan Taman Kanak-kanak. Ibuku menyambutku dan langsung memelukku sebari berkata “Aamiin, semoga jagoan kecil ibu kelak bisa menjadi dokter yang hebat”. Mendengar hal tersebut mataku berbinar-binar dan anganku tak berhenti merangkai mimpi tentang bagaimana aku akan terlihat hebat dengan seragam jas putih. Sejak saat itu aku selalu mengidolakan sosok seorang dokter, bahkan ketika aku sakit dan orang tuaku membawaku ke dokter, aku menjadi sangat bersemangat karena akan segera bertemu dengan idolaku, yang kutahu secara ajaib dapat menyembuhkan penyakitku. Ketika pertama masuk ke Sekolah Dasar, Ibu Guru di kelasku meminta pada seluruh muridnya untuk memperkenalkan diri dengan menyebutkan nama dan cita-cita. Saat giliranku tiba, dengan lantangnya aku mengatakan bahwa cita-citaku adalah menjadi seorang dokter, mendengar hal tersebut ibu guruku memberikan semangat dan berkata bahwa agar bisa menjadi seorang dokter aku harus rajin belajar dan menjadi anak yang pintar. Mendengar hal tersebut aku bertekad untuk selalu menjadi yang terbaik di kelasku agar aku dapat menjadi anak yang pintar seperti yang Ibu guruku katakan.

Kali pertama ku berdiri dihadapan cermin dan melihat diriku mengenakan seragam putih biru, angan dan binar harapan yang kulukis sejak masih Taman Kanak-Kanak tersebut masih terpancar jelas di mataku. Dalam benakku tertulis dengan jelas bahwa aku siap memulai hari baru dan bersemangat untuk menambah bekalku demi mewujudkan cita-citaku, terlihat hebat dengan jas putih. Seiring dengan berjalannya waktu, mataku mulai terbuka dan aku pun mulai mengenal dunia, bagaimana kini duniaku mulai menua, dan penyakit menggerogotinya dari segala penjuru. Dan di dunia itu pun aku melihat sepasukan idolaku, para pahlawan dengan jas putih yang dengan gagahnya memberantas penyakit-penyakit dan merawat duniaku. Melihat itu tekadku semakin kuat, bahwa kelak aku akan berada dalam pasukan tersebut, berjuang bersama demi menyelamatkan dunia.

Ketika aku mulai menginjak bangku Sekolah Menengah Atas, anganku sempat terhentikan oleh kenyataan-kenyataan yang menggoyahkan tekadku. Yaitu kenyataan bahwa biaya yang diperlukan untuk bisa memasuki Sekolah Kedokteran tidaklah sedikit. Bahkan ketika salah satu perguruan tinggi berkunjung ke sekolahku dan mengenalkan program studi yang mereka miliki, harga yang mereka tawarkan untuk program studi kedokteran mencapai hampir keseluruhan harga rumahku jika dijual beserta isi-isinya. Sampai pada akhirnya setelah melakukan survei ke berbagai tempat, aku dapat menarik suatu kesimpulan, yaitu untuk dapat masuk ke Sekolah Kedokteran kamu harus menjadi antara sangat pintar atau sangat kaya. Jika kebetulan kau sangat pintar sebagian perguruan tinggi membuka kesempatan untuk bersekolah di Kedokteran dengan biaya yang terjangkau atau bahkan memberikan beasiswa bebas biaya, namun jika kebetulan kau sangat kaya sebagian perguruan tinggi lainnya membuka kesempatan untuk dapat bersekolah di Kedokteran dengan fasilitas penunjang pembelajaran yang menjanjikan. Dari kesimpulan ini aku memutuskan untuk berjuang belajar sekuat tenaga untuk dapat mencapai minimal satu derajat diatas batas ambang kepintaran mahasiswa yang diterima di program studi kedokteran.

Di saat yang sama ketika aku sedang berjuang, ternyata semesta turut mendukung. Dan masuklah aku ke dalam suatu wadah yang selama ini aku anggap sebagai gerbang start menuju angan dan mimpiku, Fakultas Kedokteran. Dan di sanalah, di gerbang itu, semua rasa yang ada di hatiku ini bercampur aduk, antara senang, bangga, terharu dan tentu saja bersemangat. “Jalanku sudah dekat!” pikirku. Aku tinggal melangkah melewati gerbang tersebut dan berlari menuju garis finish di mana aku akan mencapai anganku. Selangkah kulewati dan semuanya masih baik-baik saja, dua langkah, tiga langkah, empat langkah, dan akhirnya aku pun mulai sadar, untuk bisa bertahan, modal awal yang digunakan untuk mecapai jalan ini tidaklah cukup. Bukan lagi seorang yang sangat pintar ataupun seorang yang sangat kaya yang dapat bertahan di jalan ini, melainkan seorang yang sangat sabar dan pantang menyerah.

Aku pun mulai melihat sekelilingku dan diriku. Hampir setiap waktu yang kami miliki kami habiskan dengan berada di depan laptop ataupun di depan setumpuk buku tebal, hampir setiap malam yang kami miliki kami gunakan untuk mencoba memahami materi atau menghapal, dan hampir setiap pagi dan siang yang kami miliki kami gunakan untuk berdiskusi ataupun berpraktikum. Terkadang kami pun rindu akan waktu untuk bermain dan bersenang-senang yang sekarang ini sudah sedikit sekali kami dapatkan. Jika kau bertanya apakah kami lelah atau tidak, secara logika ya memang sudah seharusnya kami merasa lelah, namun pada kenyataannya ada satu hasrat dan cita-cita luhur yang kami simpan di dalam hati yang senantiasa menjadi penyemangat kami untuk dapat berkata “Tidak, kami tidak lelah!” yaitu keinginan yang kuat untuk dapat menjadi penyelamat hidup banyak orang dikemudian hari. Kami sadar, hidup seseoranglah yang menjadi taruhan kami apabila kami tidak belajar dengan serius, dan kami pun sadar bahwa untuk menjadi seorang yang berseragam jas putih bukanlah tentang kehebatan, keyakinan ataupun kebanggaan, tapi tentang kesabaran, perjuangan dan pengorbanan.

Dengan berbekal kekuatan hati dan semangat para rekan sejawat disekelilingku, perjalanan ini pun terus kutempuh hingga akhirnya garis finish itu mulai terlihat, dan mulai jelas terlihat pasukan jas putih berdiri di belakang garis tersebut. Namun, disaat aku mulai mengencangkan tali sepatu agar dapat berlari dan bergabung bersama mereka untuk memberantas penyakit, ternyata pasukan tersebut kini mulai melemah, bahkan sedikit demi sedikit mulai menghilang.  Idola-idolaku yang dulu mungkin mulai lelah. Mereka lebih memilih menunggu umpan yang tepat baru melakukan tindakan alih-alih menciptakan keajaiban yang dapat menyembuhkan. Dan langkahku pun mulai melamban, aku mulai merasa ketakutan, takut pada akhirnya merekalah yang justru terjangkit suatu penyakit berbahaya yang dinamakan materialistik, suatu  penyakit yang dapat menggerogoti jiwa sosial mereka. Dari melamban pada akhirnya langkahku pun terhenti, hati ini merasakan atmosfer yang tidak beres. Dan aku pun segera mengecek sekelilingku dan mencoba menghentikan rekan-rekan sejawatku, ”Tidak kawan tunggu, berhentilah dulu, perhentian terakhir kita memang sudah dekat tapi lihatlah, pada kenyataannya di sana terdapat wabah penyakit berbahaya, dan kita harus mengumpulkan cukup banyak pertahanan untuk bisa terhindar dari penyakit tersebut. Wahai kawanku cobalah kalian lihat ke sebelah kanan jalan ini, tidakkah kalian lihat sesosok lemah yang berdiri dengan payah? Ketahuilah kawan dia adalah negara kita, lihatlah sinar matanya kawan, dia sungguh berharap, berharap para pahlawannya segera datang untuk menyelamatkannya dari berbagai penyakit yang menghancurkan. Dan wahai kawanku cobalah lihat di sebalah kiri jalan ini. Di sana terlihat ibu dan ayah kita sedang berjuang, berjuang membanting tulang yang tidak lain untuk membiayai kita agar dapat bertahan di jalan ini. Wahai kawanku sadarlah, lelah kalian tak akan terganti dengan lembaran Rupiah, tapi dengan manisnya harapan kehidupan, wahai kawanku percayalah, bahwa perjuanganmu ini bukan untuk meraih kejayaan pribadi tapi untuk mengukir senyuman penuh arti. Maka tanamkanlah rasa nasionalisme dan rela berkorban di dada kalian wahai rekan sejawatku, jadikanlah mereka vaksin untuk melindungi kita dari wabah penyakit materialistik”. Dan lambat laun dada kami pun serasa penuh sesak namun nyaman, karena kini rasa nasionalisme dan rela berkorban telah menjalar di hati dan pikiran kami. Dan kami siap kembali berlari menuju angan kami.

Memutuskan untuk mengambil studi Kedokteran berarti memutuskan untuk rela berjuang dan berkorban. Karena berjalan di jalan ini tidak semanis yang orang kira, bahkan setelah mencapai akhir dari perjalan ini pun perjuangan dan pengorbanan masih terus berlanjut. Dalam menempuh perjalanan di studi kedokteran bukan hanya hard skill yang dibutuhkan tapi juga diperlukan soft skill yang terasah. Mereka yang bertahan dan pada akhirnya berhasil bukanlah seseorang yang bernilai sempurna atau seseorang yang terkenal dengan popularitasnya. Jika nilai gemilang dan popularitas yang kalian cari, aku sarankan kalian untuk tidak memilih studi Kedokteran. Karena di sini, yang dibutuhkan bukanlah nilai A, IPK 4.00 ataupun popularitas yang tinggi, namun yang dibutuhkan adalah jiwa sosial yang tinggi, hati yang ihklas dan bertekad kuat, serta otak yang tanpa lelah siap untuk terus bekerja mengolah informasi yang didapat untuk bisa menjadi  suatu tindakan yang menyembuhkan.

Dan di sinilah aku, masih terus memupuk semangat dan menguatkan hati utuk menempuh sisa-sisa perjalananku. Dengan tekad yang kuat dan hasrat yang selalu kujaga, akan kuteguhkan cita-citaku untuk menyelamatkan negaraku dan membuat bangga ibu dan ayahku. Tunggulah ibuku, ayahku dan negaraku, perjuangan ini akan kuteruskan hingga pada saatnya nanti aku dapat berkata “Wahai orangtuaku wahai negaraku, kini aku telah menjadi seorang dokter dan aku siap merawat kalian”.


***


Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044
SHARE