Ibu, Lembut dan Tabahnya Dirimu

261

Oleh: Endro Suliyanto, Etoser 2011, Padang.

“Berapa jauh lagi bu?”, tanyaku sambil mengendarai sepeda motor. “Tidak terlalu jauh ko’, paling 25 km saja”, jawab ibuku. “Ha?, 25 km lagi?. Dengan jalan berbatu-batu dan kerikil seperti ini?”, gumamku dalam hati. Ya Allah. Pagi itu aku mengantar ibu ke penginapan (camp) dalam PT.Incasi tempatnya bekerja. Jauh sekali rasanya. Sejauh mata memandang hanya kebun kelapa sawit yg terhampar. Benar, seluas 12.279 ha kebun kelapa sawit itu. Pegal badanku terasa. Tapi tetap harus aku tahan, meski bagaimanapun rasanya.

Dalam perjalanan yang panjang itu, aku banyak bercerita kepada ibu. Betapa senangnya ketika aku bercerita bisa naik pesawat ke jawa, makassar dengan gratis. Terus keliling pulau jawa. Ibu mendengarkan dengan seksama. Beliau hanya berkata ketika aku tanya. “Bu, pengen naik pesawat tidak?”, tanyaku. “Ya, kapan ya?” sambil tersenyum. “Insya Allah jika besok aku sudah sukses, ada penghasilan mandiri. Insya Allah kita jalan-jalan”, jawabku juga sambil tersenyum. Sedikit aku lirik ke belakang, menoleh ke arah ibu. Kulihat beliau tersenyum sambil menerawang membayangkan naik pesawat. Tapi batinku merasa lain. Saat dengan mudahnya diriku bisa pulang pergi naik pesawat, tapi ibu dan kebanyakan orang tiada pernah terbayang dirinya akan naik pesawat. Ya Allah,  jadikan hamba manusia yang bersyukur. Masih kulirik  ibu tersenyum dengan mata berkaca-kaca.

Berkali-kali aku bertanya ke ibu arah jalannya menuju ke camp. Karena sulit benar menghafal arah jalannya. Tapi ibu sudah hafal, karena berkali-kali beliau melewatinya kadang dengan kendaraan pengangkut sawit atau kadang bersama motor ayah tiriku. Jalan yang begitu jauh dan berbatuan itu membuat perjalanan menjadi lambat, terlebih aku belum terbiasa mengendarai di medan seperti itu.

Setelah melewati berpuluh-puluh tikungan dan perjalanan yang melelahkan, akhirnya kami tiba di camp itu. Sederhana. Rumah papan panggun, bersusun berderet. Ada sekitar 3 rumah bergabung di setiap petaknya, dan ada 3 petak rumah disitu.  Setiap rumah diisi oleh 1 keluarga. Jadi disitu berkumpul sekitar 6 keluarga. Tanahnya gambut hitam, setiap diinjak akan bergoyang. Jadi kalau ada gempa 2 SR saja sudah kayak 5 SR. Hehe. Ku pergi ke dapur. Perabotan serba ada karat, karena air di situ keruh dan agak berminyak. Untuk minum dan keperluan memasak, perlu menyaring airnya atau menadah air hujan. Untuk mandi dan keperluan MCK air seadanya. Alhamdulillah listrik sudah ada disitu, aliran dari pabrik sawit utama. Listrik hanya hidup pada malam hari. Dan anehnya terkadang listrik padam atau dikurangi intensitas waktu hidupnya, jika penghasilan kelapa sawit menurun. Itu mungkin konsep ekonomi, penghematan. Mungkin.

Tak kuasa aku membayangkan ibu harus tinggal disitu. Padahal ibu memiliki penyakit alergi diseluruh badannya. Dan beliau juga ada riwayat rematik. Namun beliau tetap sabar dan tabah, bagaimanapun keadaannya. Karena ya mau bagaimana lagi. Hidup di zaman sekarang serba susah. Apalagi bagi orang yang tidak mengecap pendidikan. Ibu sedari kecil hingga sekarang tidak pernah mengecap bangku sekolah. Wajar, beliau sulit membaca dan tidak bisa sedikitpun menulis. Bahkan tanda tangannya, hanya sekenanya saja. Ya, itu aku lihat di raportku. Itulah ibu, yang ummi, buta baca tulis. Tapi beliau tidak buta terhadap kehidupan. Dan beliau tidak buta mata hatinya. Beliau tulus menyayangi dan memberi. Berjuang dengan tanpa mengenal putus asa. Sabar ya ibu.

Di camp itu ada tetangga ibu yang sudah tua renta. Ia ditinggal anak cucunya. Karena belum punya ongkos, jadi ia belum bisa pulang. Entah kapan ia akan pulang, ataukah bisa pulang atau tidak. Tenaga untuk bekerja sudah tidak ada. Dan penghasilan tidak akan ada tanpa bekerja. Ibu merasa sangat iba. Diceritakannya perihal itu kepadaku. “Nak, disini ada seorang kakek tua. Sudah tua sekali. beliau tidak kuat lagi bekerja. Ditinggal anak cucunya pulang. Karena tidak punya ongkos, makanya beliau hanya tinggal di camp”, kata ibu. Mendengar cerita itu, perasaan halus merayap dalam hatiku. Rasa iba, dan kasihan menjalar di sekujur tubuhku. “Ada juga ya, orang sekarang yang tega meninggalkan ayahnya yang sudah tua”, gumamku dalam hati. “Semoga anak itu lekas Allah beri hidayah kembali.” Lanjutku dalam hati. “Ibu mau membantu, tapi adalah daya ibu juga tidak mampu. Penghasilan ibu kurang mencukupi. Gajian ayahmu untuk mencicil motor dan keperluan anak-anaknya,” ibu menyadarkan heningku. Ya, aku memaklumi itu. Ibu tiada berpenghasilan, dan ayah mempunyai tanggung jawab. Aku memiliki 3 orang saudara tiri. 2 orang masih dalam tanggungan ayah dan seorang sudah berkeluarga. Karena keadaan demikian, sehingga membuatku tidak mau meminta uang kepada ayah tiriku, terlebih kepada ibuku. Dan ibu juga memahami hal tersebut dengan baik. “Ibu, ini ada sedikit rezeki”, aku sodorkan uang Rp.200.000,00. “Untuk bapak tua itu 100.000 dan untuk ibu 100.000”, pintaku pada ibu, sembari menyerahkan uang yang aku dapatkan dari usahaku.

Itulah ketulusan dan kelembutan ibu, yang menurun kepadaku. Ya, kelembutan dan ketulusan itulah yang juga ada padaku. Ternyata itu didikan ibu. Terima kasih ya Allah. Tiada pernah selama ini ibu mengajariku dengan kata-kata, tapi beliau mengajari dengan perbuatan.

selengkapnya di..
https://endrosuliyanto.wordpress.com/2016/07/21/ibu-lembut-dan-tabahnya-dirimu/


***


Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044
SHARE