Inspirasi dari Labuan, Daerah Paling Barat Pulau Jawa

137

Perkenalkan namaku Mohammad Gama Subarkah atau orang biasa memanggilku Gama. Aku mahasiswa semester 4 (empat) Jurusan Teknik Sipil di salah satu Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang ada di Jakarta. Ini adalah kisah dan pengalamanku berbagi inspirasi dengan anak-anak di Labuan, Padeglang daerah paling barat di Pulau Jawa.

Kisahku bermula dari sebuah postingan di salah satu media sosial pada tanggal 31 Desember 2016. Postingan tersebut berisi recruitment menjadi seorang relawan untuk kegiatan Kuliah Tak Gentar (KTG) 2017. Saat itu aku tak begitu saja mendaftar menjadi relawan, karena aku harus berpikir baik-baik dan mempertimbangkan dengan jadwal kegiatan lainnya. Karena waktu pendaftaran tidak berlangsung lama hingga 5 Januari 2017, akhirnya aku memutuskan untuk mendaftar dengan pilihan menjadi relawan inspirator. Tidak ada alasan khusus untuk pilihan ini, namun hanya ada alasan sederhana yaitu aku ingin membagikan apa yang aku dan pernah aku miliki kepada anak-anak sekolah menengah atas.

Sedikit informasi mengenai KTG, Kuliah Tak Gentar ini adalah gerakan nasional yanh diinisiasi oleh Beastudi Etos dalam rangka proses advokasi, sosialisasi, dan motivasi kepada adik-adik SMA untuk melanjutkan kuliah. Kegiatan ini dimotori langsung oleh penerima manfaat Program Beastudi Etos (etoser) di 14 wilayah yang tersebar di seluruh Indonesia.

Pesan baru masuk tepat di tanggal 10 Januari 2017, pesan tersebut berisi konfirmasi mengenai terpilihnya aku menjadi relawan inspirator untuk Kuliah Tak Gentar (KTG) 2017. Sesuai dengan pilihanku yang memilih wilayah Jakarta sebagai tempat berbagi inspirasi, maka setelah itu aku bergabung dengan teman-teman relawan lainnnya untuk wilayah Jakarta dengan Kak Soffa sebagai Person In Charge (PIC)nya. Kami digabungkan dalam sebuah grup WhatsApp, dimana disana kami saling berkenalan satu dengan lainnya. Ternyata setelah berkenalan, banyak di antara kami yang berasal dari kampus yang sama, bahkan se-fakultas hingga satu jurusan yang sama.

Perkenalan tersebut memberikan inspirasi tersendiri buatku khususnya. Karena begitu banyak anak muda yang ingin berbagi inspirasi untuk melanjutkan kuliah dengan sukarela kepada adik-adik SMA. Banyak diantaranya yang sudah dan sering berbagi seperti kak Sulaiman, yang ternyata sering mendongeng  untuk anak-anak korban bencana atau kak Wulan yang jauh -jauh dari Jambi dan ingin berbagi di Jakarta. Selain itu juga ada kak Ridha yang selalu muncul di setiap kali relawan sedang memperkenalkan diri. Dan masih banyak lagi inspirasi dari para relawan lainnya.

Semua relawan sudah masuk grup, dan selanjutnya ada pengenalan mengenai KTG dari PIC Kak Soffa. Setelah semua penjelasan selesai, kami pun harus memilih etoser beserta sekolah yang akan kami kunjungi. Pemilihan tersebut bisa dipilih berdasarkan domisili para relawan, dan wilayah – wilayah tersebut meliputi daerah depok, bekasi, jakarta timur, jakarta utara, jakarta selatan, dan daerah di sekitaran jakarta lainnya. Mataku saat itu tertuju pada daftar pilihan paling akhir dan itu belum ada satu pun relawan yang memilih, mungkin karena lokasinya yang jauh dan tidak ada relawan yang berdomisili di daerah tersebut. Saat itu pun aku tertarik, meskipun bukan sesuai dengan domisiliku, satu alasan yang membuatku ingin kesana adalah aku belum pernah mengunjungi daerah tersebut, hasrat petualangku mulai teraktifkan saat itu, serta berharap bisa bersilaturahim dengan saudara baru disana dan daerah itu adalah di  Pandeglang tepatnya di Labuan daerah paling barat Pulau Jawa.

Semua relawan terus mengisi daftar sekolah yang akan dikunjungi, dan belum ada relawan yang ingin berangkat bersamaku ke Pandeglang sana. Piiing.. ternyata pesan baru baru saja masuk, Indah yang merupakan PIC Pandeglang memasukkan relawan lainnya untuk wilayah Pandeglang. Dan relawan-relawan tersebut tidak terdaftar sebelumnya di wilayah Jakarta, ternyata mereka tersebut adalah relawan KTG dari wilayah Banten. Dibuatkannya grup untuk kelompok kami di Line tepat pada tanggal 17 Januari 2017, kami pun saling berkenalan dan tidak ada rasa canggung diantara kami karena ternyata mereka sudah saling mengenal satu sama lain. Aku sendiri orang baru di kelompok ini, namun aku mulai membaur dan menyesuaikan diri dengan mereka.

Persiapan mulai dilakukan, dan menyepakati untuk berkumpul pada tanggal 18 Januari 2017 di Labuan Pandeglang. Jelas saja aku tidak bisa ikut pada saat itu karena jarak dan waktu yang tidak memungkinkan. Aku pun memantau perkembangan diskusi kelompok melalui Line. Lama mereka tidak muncul dalam percakapan, dan ternyata mereka tengah asyik makan bakso dan mempostingnya di grup. Aku pun hanya bisa menyimak keakraban mereka, dan bertanya pada diri ini apakah aku bisa membaur dengan mereka dengan waktu yang begitu singkat ini. Setelah lama menunggu, mereka pun mengumumkan kalau eksekusi kunjungan ke sekolah di Labuan dilaksanakan pada senin 23 Januari 2017. Aku pun menyetujui hal tersebut, dan berencana untuk pergi kesana pada satu hari sebelum pelaksanaan yaitu hari minggu.

Hari yang ditunggu pun datang, minggu 22 Januari 2017 aku pun bersiap dari daerah Cipaku Kebayoran Baru. Meskipun kondisi saat itu sudah sangat lelah karena telah mengikuti acara dari sabtu malam hingga minggu siang disana. Aku pun bersiap dan ikut nebeng mobil temen ke daerah Kali Deres. Namun teman menganjurkan untuk naik bus di Slipi saja, aku pun menyetujui hal tersebut dan naiklah di bus Jurusan Kampung Rambutan – Merak. Ini adalah pengalaman pertamaku ke daerah Banten, terkecuali daerah Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang atau Tangerang Selatan yang sering aku kunjungi. Ternyata bus tersebut tidak bisa langsung ke Labuan, tapi aku harus transit terlebih dahulu di Kota Serang. Perjalanan Jakarta – Serang memakan waktu 1 jam lamanya. Dan kemudian setelah sampai disana aku berpindah bus ke jurusan Kali Deres- Labuan, ternyata di Kali Deres memang ada jurusan yang langsung ke Labuan  tapi tidak masalah yang penting ongkosnya sama saja.

Suasana kotanya memang asing, wajar saja karena ini adalah daerah baru bagiku. Namun jalanannya seperti jalan menuju kampung halamanku di Garut, jalan kecil, berkelok, naik turun, dan banyak lubang disana sini. Bus yang menuju Labuan terhitung banyak untuk daerah terpencil sana,  namun ternyata banyak juga mobil pribadi dari arah sana. Aku berfikir kalau disana pastilah ada daya tarik sehingga orang banyak yang datang dam pergi dari Labuan, aku pun menyimpan rasa penasaran tersebut hingga pada saat nanti aku bisa mengetahuinya dari rekan-rekan relawan lainnya yang merupakan orang asli sana.

Jarak Serang dengan Labuan tidak terlalu jauh, waktu perjalanan sekitar 2 jam dan telat pukul 17.05 WIB aku nyampai di Terminal Tarogong Labuan. Aku pun mengabarkan ke Firzan akan ketibaanku disana, dia pun menjemputku di terminal. Alhasil kami pun berjumpa, dan itu saat pertama kali kita berjumpa yang sebelumnya hanya bertegur sapa di Line saja. Di perjalanan menuju rumahnya aku melihat sekeliling Labuan, kemudian  bertanya kepada Firzan mengenai Labuan, dan ternyata Labuan memang salah satu daerah wisata di Pandeglang. Terlihat papan informasi yang bertuliskan Taman Nasional Ujung Kulon (63 KM), Tanjung Lesung (30 KM), Pantai Anyer (44 KM), dan pantai-pantai terdekat lainnya termasuk Pantai Carita yang hanya berjarak 20 KM. Yess, aku memilih lokasi yang tepat karena disini harsat petualangan dan jalan-jalanku bisa terpuaskan.

Akhirnya kami pun tiba di rumahnya Firzan, tepatnya di daerah Caringin. Firzan sendiri adalah relawan asli sana yang berkuliah di Universitas Negeri Sebelas Maret (Surakarta) Jurusan Pendidikan Administrasi Perkantoran. Dia anak kedua dari tiga bersaudara, dan adiknya pun kelas dua belas sehingga kita banyak ngobrol dan sharing mengenai kuliah. Dan tidak lupa banyak ngobrol juga dengan orang tua Firzan. Rasanya aku mempunyai keluarga baru di Labuan, mereka begitu hangat dan menerima orang luar dengan baik padahal aku pun baru mengenal Firzan tidak kurang dari seminggu. Mereka pun menyuruhku untuk kembali kesana kalau liburan tiba.

Hari yang dinantikan pun tiba, 23 Januari 2017. Aku pun bangun pagi sekali pukul 4 (empat) dan bergegas menuju ke mesjid untuk melaksanakan shalat subuh. Setelah shalat, aku pun kembali mempersiapkan diri untuk memberikan inspirasi kepada adik-adik SMA. Malam hari sebelumnya aku pun telah membaca panduan dan materi yang diberikan panitia. Namun aku harus berpikir lain, karena materi tersebut bisa disajikan lebih maksimal apabila menggunakan porjector sedangkan kami disana tidak tersedia projector tersebut. Berpikir keras bagaimana aku menyampaikan materi dan inspirasi tanpa alat bantu tersebut. Aku pun mulai mencari beberapa games pengganti agar dalam penyampaian nanti tidak membosankan. Dan sedikit beberapa nasihat juga kata-kata mutiara, agar mereka tersentuh.

Mentari telang menyongsong, tanah pun basah karena hujan semalaman turun di daerah sana, aku pun bersiap untuk sarapan dan menu sarapan saat itu adalah ketan yang ditaburi kelapa parut dan beras yang disanggrai serta tidak lupa sambalnya, rasa sambalnya sih tidak terlalu pedas aku maklumi saja karena harga cabai yang mahal. Pokoknya mumpung disana, aku harus tahu kebudayaan, orang-orang, tempat wisata, juga kulinernya. Sambil sarapan aku pun berbincang dengan Firzan dan ibunya. Sesekali kami bergurau menggunakan bahasa sunda yang ternyata tidak jauh berbeda dengan bahasa sunda dari Garut, hanya beda dalam dialegnya saja. Setelah sarapan, aku pun berbegas untuk mandi dan ganti baju.

Waktu menunjukkan pukul 08.05 WIB, kami pun langsung bersangkat meninggalkan rumah. Firzan yang saat itu mengendarai motor menjalankan motornya dengan begitu cepat, tentu saja karena kami sudah ditunggu oleh yang lainnya. Di dalam perjalanan mereka, Ali, Indah dan juga Lulu terlebih dahulu. Dan untuk relawan wanitanya kebetulan semuanya mengenakan kerudung dan rok. Satu lagi yang membuat saya kagum adalah mereka sangat menjaga betul kebersihan, contoh kecilnya adalah pada saat masuk ruang guru atau pun kelas kami harus melepaskan alas kaki (sepatu).

Kami pun masuk ke dalam kelas yang telah digabungkan menjadi satu. Saat pertama kali melihat mereka kata yang bisa aku katakan yaitu  “polos”, mereka begitu polos, sederhana, sangat begitu pemalu. Semua konsepan atau perencanaan yang awalnya sudah direncakan tidak berjalan dengan baik, tidak ada MC, tidak ada sambutan, kami pun langsung berkenalan dan sharing kepada mereka. Aku yang berperan sebagai inspirator pun mulai memainkan peran sebagai seorang inspirator. Ini bukanlah hal pertama buatku, sudah beberapa kali aku membagikan inspirasi atau sosialisasi ke sekolah seperti ini. Namun sangat berbeda dengan kali ini, karena yang kuhadapi kali ini adalah anak-anak yang benar tidak tahu apa-apa apalagi mengenai perkuliahan. Aku pun menguras otak, bagaimana caraku bisa diterima dengan baik oleh mereka. Aku buat suasana lebih hidup di dalam kelas, bertanya ke setiap siswa dan memberikan sedikit candaan – candaan ringan agar kelas semakin hidup.

Aku tidak tahu apa yang mereka pikirkan, apakah mereka benar-benar tidak tahu atau malu ketika aku melontarkan setiap pertanyaan kepada mereka. Mereka tidak menjawab apapun apalagi seputar perkuliahan, wajar saja karena di sekolah tersebut jarang sekali untuk melanjutkan kuliah. Kebanyakan dari mereka setelah lulus, melanjutkan ke pondok pesantren, bekerja, menikah atau menjadi pengangguran. Namun aku yakin bahwa mereka bisa, toh bukti nyatanya ada Ali kakak kelas mereka yang bisa masuk Universitas Indonesia. Aku pun mulai mengeluarkan kisah-kisah inspiratif yang pernah aku lalui atau inspirasi dari temanku yang lainnya. Salah satu kisahnya adalah seorang anak (temanku) yang di waktu SMAnya merupakan peringkat paling bawah bisa masuk 3 perguruan tinggi terbaik di Indonesia yaitu ITB, UI, dan UGM. Dan diakhir kelas, mereka pun setidaknya sudah banyak pencerahan dari apa yang kami berikan, dengan antusiasnya mereka bertanya dan keyakinan mereka bahwa mereka bisa melanjutkan kuliah.

Kami pun berpamitan dengan anak-anak, dan guru beserta kepala sekolah. Sebelum pulang, kami sedikit berbincang dengan guru disana, dan sedikit menceritakan kisah perjuangan Ali seorang anak desa dari Kananga Labuan yang berjuang masuk UI hingga untuk pendaftarannya saja dia harus pergi ke depok dengan motor darisana. Dan guru itu pun yakin, bahwa di sekolah tersebut akan ada Ali-Ali selanjutnya yang bisa masuk UI atau masuk perguruan tinggi lainnya. InsyaAllah. *#Inspiratif*

Perjalanan belumlah usai, kami pun melanjutkan ke sekolah kedua. Kami berjalan dari MA Malnu Kananga ke jalan besar untuk menaiki angkot. Namun aku kembali bersama Firzan mengendarai sepeda motor. Kami pun tiba di MA Mathlabul Falah, sambil menunggu waktu kunjungan kami pun shalat duhur terlebih dahulu, sedangkan relawan yang lainnya membeli bakso. Kembali mereka membeli bakso tanpa aku!!. Betul karena saat itu siang dengan terik matahari yang begitu panas membuat kami sedikit kelelahan, apalagi buat teman-teman yang menaiki angkot yang harus sedikit pusing karena bau yang tidak sedap.
Tepat pukul 13.00 WIB, kami bergegas ke sekolah dan disambutlah kami oleh pihak sekolah. Di sekolah tersebut pun tidak jauh berbeda kondisinya dengan MA Malnu Kananga tadi, tapi MA Mathlabul Falah ini masih dalam proses renovasi. Dan letaknya lebih dekat dengan pusat pemerintah Labuan sehingga akses kesana lebih mudah.

Kami pun memulai acara sharing dan sosialisai kepada adik- adik kelas 12 MA Mathlabul Falah tersebut. Di sekolah ini tidak ada kelas IPA, semuanya adalah bidang IPS. Diawali dengan perkenalan seperti biasanya, dan kebetulan relawan Mita bergabung bersama kami. Setelah perkenalan usai, aku pun sebagai inspirator memulai aksiku di hadapan mereka. Sama halnya dengan sekolah sebelumnya, mereka pun sama sekali tidak tahu mengenai perkuliahan.

Bahkan ketika kami bertanya mengenai SNMPTN, SBMPTN, atau pun Bidik Misi tidak ada pun yang tahu mengenai informasi tersebut. Siapa yang salah dalam hal ini? Itulah pertanyaan yang terlontar di dalam hatiku. Namun tidak harus menyalahkan siapa pun disini, “karena batu bata sudah menjadi rumah”, tidak ada yang bisa dirubah lagi melainkan hanya bisa diperbaiki.

Kami pun kembali memancing rasa penasaran mereka, dan tidak sedikit pertanyaan dari mereka meskipun orangnya hanya itu – itu saja. Kembali lagi aku bangkitkan semangat mereka untuk kuliah dengan kisah inspiratifku. Dan aku pun mulai menggali setiap cita-cita dari mereka. Dan ternyata mereka pun mulai mampu mengungkapkan keinginan mereka, ada yang ingin masuk Hukum, Sastra Arab, Universitas Indonesia bahkan Pesantren. Diakhiri dengan pembuatan video menekin challege dan beryel-yel beastudi etos, kami pun pamit dan saling bersalaman.

Sebelum mengakhiri perjumpaan dengan relawan lainnya, kami pun melaksanakan evaluasi terlebih dahulu di mesjid seberang sekolah. Satu hal yang menjadi PR bagi kami adalah, bagaimana informasi tentang kuliah seperti ini bisa masif dan bisa menyeluruh tanpa ada sekolah atau anak-anak yang tidak tahu lagi mau melakukan apa kedepannya setelah lulus MA/SMA. Disitu kami juga saling mengenal kembali satu dengan lainnya. Dan ternyata Firzan, Ali, Mita, dan Lulu adalah teman dari MTs/SMP hingga Firzan, Lulu dan Mita sesekolah bareng lagi di MAN.

IMG-20170125-WA0002Obrolan pun berlanjut, dan kami langsung merencanakan pergi ke pantai. Sebagai apresiasi dan hadiah dari mereka untuk kedatanganku ke daerah mereka Labuan. Kami pun bersiap dan bergegas untuk berwisata ke Pantai Carita yang letaknya tidak jauh dari sana. Namun Ali dan Mita tidak ikut bersama kami, karena mereka harus pulang terlebih dahulu. Sesampainya di pantai kami saling mengobrol dan mengenal satu dengan lainnya, melepas kelelahan seharian bersosialisasi di dua sekolah tadi. Dan momen tersebut harus kami abadikan, maka tidak lupa kami berselfie ria di Pantai Carita hingga waktu petang datang atau sunset time di daerah paling ujung Pulau Jawa, Labuan Pandeglang, Banten. Itulah akhir cerita ku berbagi inspirasi di Labuan yang diakhiri dengan kenangan manis di Pantai Carita.

IMG-20170125-WA0003
Labuan, Pandeglang-Banten
24 Januari 2017

Mohammad Gama Subarkah
Relawan Inspirasi *#KuliahTakGentar* 2017


***


Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2881 2881 26

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044
SHARE