Investasi Dalam Kemampuan

234

Oleh: Norma Ayu S

Universitas Sebelas Maret Surakarta

 

DIFABEL (penyandang disabilitas) yang dimaksudkan bahwa orang yang memiliki perbedaan dalam melakukan sesuatu karena kehilangan atau berkurangnya fungsi salah satu anggota badannya. Bukan berarti tidak bisa melakukan aktivitas namun hanya berbeda saja cara melakukan aktivitasnya. Difabel dan disabilitas adalah persoalan mengenai cacat dan kecacatan, yang perlu disadari bahwa setiap orang mempunyai potensi menjadi difabel melalui musibah, kesehatan, kelahiran, konflik sosial, bencana alam, bahkan sampai keturunan.

Ketika orang memakai kacamata maka sesungguhnya orang tersebut sudah dikatakan difabel karena kemampuan pandangannya kurang dan harus memakai alat bantu (kaca mata). Persoalan difabel adalah persoalan setiap orang baik secara individu, keluarga, masyarakat maupun pemerintah. Pada perkembangannya orang disabilitas mengalami berbagai tahapan dalam penerimaan di masyarakat. Mulai dimusnahkan karena dianggap sebagai kutukan penyihir, anak berkebutuhan khusus dianggap gila, lalu diacuhkan, kemudian dikarantina dan akhirnya diterima. Diterima pun masih menggunakan syarat, yaitu harus dipisahkan alias segreasi. Masyarakat umum masih beranggapan bahwa anak berkebutuhan khusus itu berbeda, berbahaya, tak berguna dan memalukan. Tidak bisa mandiri hanya bisa menyusahkan masyarakat. Pandangan umum ini perlu koreksi.

Ketidaktahuan dan stigmatisasi mendorong isolasi anak cacat sehingga mereka “tidak terlihat,”. Di Eropa Timur, misalnya, pemerintah lazimnya menganjurkan orangtua untuk mengirim anak cacat ke rumah perawatan khusus daripada membesarkan sendiri di tengah keluarga.

Penghormatan, perlindungan, dan pemenuhan hak penyandang disabilitas sudah menjadi isu global saat ini, terutama pasca dikeluarkannya Resolusi PBB No. 61 tahun 2006  tentang Convention on the Right of Persons with Disabilities (CPRD). Resolusi ini membawa perubahan paradigma dan pendekatan.

 Recognizing that disability is an evolving concept and that disability results from the interaction between persons with impairments and attitudinal and environmental barriers that hinders their full and effective participation in society on an equal basis with others.

Dahulu, disabilitas dipandang sebagai suatu kekurangan atau kelemahan pada seseorang, dan pendekatannya pun melalui sisi medis, sehingga istilah yang digunakan lebih sering penyandang cacat. Namun saat ini, disabilitas lebih dipandang dari sisi sosial, yaitu sebagai suatu keberagaman manusia. Hambatan sebagai akibat dari kondisi lingkungan sekitar yang tidak memadai. Oleh karena itu saat ini pemenuhan hak disabilitas bukan semata karena belas kasihan saja tetapi sebagai pemenuhan hak asasi sebagai warga negara.

Diperkirakan terdapat satu miliar orang yang hidup dengan disabilitas di seluruh dunia yang menghadapi banyak hambatan untuk bisa masuk ke dalam banyak aspek penting di masyarakat. Akibatnya, para penyandang disabilitas tidak bisa menikmati akses di lingkungan masyarakat atas dasar kesetaran dengan orang lain, yang meliputi bidang transporasi, pekerjaan, dan pendidikan serta partisipasi sosial dan politik. Hak untuk bisa berpartisipasi dalam kehidupan publik sangat penting untuk menciptakan demokrasi yang stabil, kewarganegaraan yang aktif, serta mengurangi kesenjangan di kalangan masyarakat.

Mempromosikan agenda riset global bersama dengan disabilitas untuk menghasilkan data yang andal dan bisa diperbandingkan yang diperlukan untuk menuntut perencanaan dan alokasi sumber daya, dan untuk menempatkan anak-anak penyandang disabilitas secara lebih jelas dalam agenda pembangunan. Dengan mempromosikan pemberdayaan dan dukungan, peluang bagi orang-orang bisa nyata terwujud. Hal ini meningkatkan kapasitas dan dukungan dalam menetapkan prioritas mereka sendiri. Pemberdayaan melibatkan investasi pada mereka, dalam hal pekerjaan, gizi, pendidikan, dan perlindungan sosial. Ketika adanya pemberdayaan, mereka jadi lebih siap untuk memanfaatkan peluang, mereka bisa menjadi agen perubahan dan dapat lebih mudah merangkul tanggung jawab mereka di kalangan masyarakat.

Dalam membangun hal yang berkelanjutan, dunia inklusif untuk semua membutuhkan keterlibatan penuh dari orang-orang yang memiliki semua kemampuan. Menghilangkan rintangan-rintangan terhadap inklusi sehingga seluruh lingkungan anak, sekolah, fasilitas kesehatan, transportasi publik, dan lain-lain sehingga bisa memfasilitasi akses dan mendorong partisipasi anak penyandang disabilitas bersama dengan rekan-rekan mereka. Pada agenda pemerintah di tahun-tahun mendatang mencakup banyak isu yang menjadi perhatian bagi para penyandang disabilitas dan kita harus bekerja sama untuk mewujudkan komitmen ini menjadi sebuah tindakan nyata.

Kurangnya data dan informasi terkait disabilitas serta situasi penyandang disabilitas di tingkat nasional berkontribusi pada belum terlihatnya penyandang disabilitas dalam statistik resmi. Hal ini menyajikan suatu hambatan yang besar untuk mencapai perencanaan dan pelaksanaan pembangungan yang inklusif terhadap para penyandang disabilitas.

Menurut sebuah perkiraan yang banyak digunakan, sekitar 93 juta anak atau 1 dari 20 anak usia 14 tahun atau kurang, hidup dalam semacam disabilitas yang sedang atau parah. Estimasi global semacam itu sangat bersifat spekulatif. Estimasi itu yang ini telah beredar sejak tahun 2014 berasal dari data yang kualitasnya sangat bervariasi dan metodenya sangat tidak konsisten dan tidak bisa diandalkan. Guna memberikan sebuah konteks dan ilustrasi isu-isu yang dibicarakan, data harus dikumpulkan sesuai dengan standar internasional. Data yang dikumpulkan dapat digunakan sebagai acuan pelaksanaan dan pemantauan tujuan pembangunan yang disepakati secara internasional untuk para penyandang disabilitas.

Seperti yang kita lihat ke depan, kita perlu memperkuat kebijakan dan praktek-praktek pembangunan untuk memastikan bahwa aksesibilitas adalah bagian dari pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan. Hal ini memerlukan peningkatan pengetahuan kita tentang tantangan yang dihadapi semua orang penyandang disabilitas, serta memastikan bahwa mereka diberdayakan untuk menciptakan dan menggunakan peluang.

Transisi terjadi di banyak tahapan kehidupan. Misalnya, transisi dari masa remaja ke dewasa bisa sangat menantang. Ada banyak keputusan penting yang harus kita buat, seperti memutuskan apakah akan pergi ke perguruan tinggi, sekolah kejuruan, atau memasuki dunia kerja. Hal ini penting untuk mulai berpikir tentang transisi ini di masa kecil, sehingga rencana transisi dalam bidang pendidikan diletakkan pada tempatnya. Idealnya, rencana transisi dari masa remaja ke dewasa berada pada usia 14 tahun, tetapi tidak lebih dari usia 16 tahun. Hal ini membuat yakin anak tersebut memiliki ketrampilan yang dia butuhkan untuk memulai tahap berikutnya. Tahap ini juga melibatkan transisi pada pelayanan kesehatan seseorang dari dokter anak ke dokter yang biasa mengobati orang dewasa.

Bagi banyak orang penyandang disabilitas dan orang yang merawat mereka, dalam kehidupan sehari-harinya memang tidak mudah. Disabilitas bisa mempengaruhi seluruh keluarga. Memenuhi kebutuhan kompleks seseorang dengan disabilitas bisa memicu keluarga pada tingkat stress yang tinggi, baik secara emosional, keuangan, dan terkadang pada fisik. Atas dasar itu, perlunya dukungan terhadap pihak keluarga sehingga mereka bisa memenuhi biaya hidup yang tinggi dan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan penghasilan yang terkait dengan pengasuhan anak penyandang disabilitas.

Namun, menemukan sumber daya, mengetahui apa yang diharapkan, dan perencanaan untuk masa depan dapat meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan. Jika kita memiliki disabilitas atau merawat orang penyandang disabilitas, mungkin akan bisa lebih membantu untuk berbicara dengan orang lain yang dapat berhubungan dengan pengalaman kita.

Bersama dengan para penyandang disabilitas, kita dapat membantu dunia kita bergerak maju tanpa meninggalkan seorang pun di belakang. Walaupun anak penyandang disabilitas memiliki keterbatasan, mereka mempunyai kemampuan kecerdasan yang bisa digali dan ditingkatkan dalam bentuk kecerdasan majemuk.

(Sumber Foto : UNICEF)

 


***


Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044
SHARE