Kala “si Doel” Menjadi Insinyur Betulan

593

Oleh: Irfan (Teknik Mesin UI)

“Nak cepetan besar ya, biar bisa bantu Ayah menjadi penjahit!” tutur Ayah suatu hari. Encing (Paman) Sutrisno kala itu langsung memarahi Ayah. “Jangan bilang jadi penjahit ak Bair, justru anak-anak ini ketika besar nanti harus lebih baik kondisinya dibandingkan orang tuanya.”

Obrolan antara Ayah dan Encing ketika aku masih kecil demikian membekas dalam ingatanku hingga saat ini. Ayah yang bekerja sebagai penjahit kemudian beristighfar dan mendoakan kesuksesan anak-anaknya. Sejak saat itu pun aku diam-diam ber-azzam bahwa hidupku harus lebih baik sehingga bisa membanggakan dan membahagiakan orang tua.

Inspirasi dari Si Doel

Salah satu tayangan televisi yang menginpsirasiku ketika kecil adalah Si Doel Anak Sekolahan. Kisah anak Betawi dari keluarga sederhana yang berjuang untuk mewujudkan cita-citanya menjadi Insinyur Teknik Mesin. Si Doel tetap gigih meski hidup keterbatasan. Ia bekerja keras membantu orangtuanya menarik oplet untuk membiayai hidup dan sekolahnya. Ia pun membantu ibunya berdagang di rumah, juga menerima pekerjaan tambahan memperbaiki alat-alat elektronik. Dari hasil kerja kerasnya, Si Doel berhasil meraih gelar Insinyur dari salah satu kampus di Jakarta.

Si Doel kala itu begitu menginspirasi, sehingga sejak kecil  pun aku telah bertekad untuk menjadi insinyur. Terlebih, latar belakang kami sama: keluarga Betawi yang sederhana. Aku pun tergerak untuk mempunyai cita-cita tinggi, meneruskan sekolah hingga bangku kuliah seberat apapun tantangannya.

Aku adalah anak ketiga dari tujuh bersaudara. Lahir dari pasangan keluarga Betawi, yakni Zubair Seaman dan Diang Ningsih. Kami sekeluarga tinggal di perkampungan Jakarta di daerah Kampung Kecil, Sukabumi Selatan, Jakarta Barat. Ayah bekerja sebagai seorang penjahit dan ibu hanya ibu rumah tangga. Meski hanya menjadi penjahit, ayah mempunyai keinginan agar anak-anaknya sukses di masa depan. Oleh karena itu, ayah dan ibu senantiasa mengutamakan pendidikan untuk anak-anaknya meski kami hidup dalam keterbatasan.

Masa-masa sulit dalam memperjuangkan pendidikan telah sering kami lalui. Terlambat membayar uang bulanan sekolah, tak mampu membeli buku baru, dan lain sebagainya. Maka seringkali, pada saat pengambilan rapor, pihak sekolah menahan rapor itu hingga semua tunggakan biaya dilunasi. Tentu hal ini membuatku merasa sedih, saat teman-teman sudah mengetahui nilai rapornya, aku hanya bisa tersenyum tabah. Namun bagiku, justru kesulitan-kesulitan itu yang menguatkan langkah untuk terus dan terus belajar demi menggapai mimpi melanjutkan pendidikan bangku kuliah.

Meski hidup penuh keterbatasan, orang tuaku selalu menekankan anak-anaknya untuk mengutamakan pendidikan agama. Sejak SD hingga SMP, orang tua kami mengharuskan anak-anaknya untuk sekolah di sekolah agama atau madrasah. Dari sana kami mendapatkan pelajaran umum dan agama yang cukup lengkap, mulai dari Shorof, Nahwu, Tafsir, dan sebagainya. Semua ilmu itu cukup dapat dijadikan bekal untuk membentengi diri kami dalam pergaulan remaja. Maka selepas SMP, kami bebas mau masuk SMA Negeri atau melanjutkan di Madrasah Aliyah.

Untuk membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga juga sekolah anak-anaknya, ayah bekerja keras siang dan malam seolah tak kenal lelah. Yang membuatku kian terenyuh, ayah bahkan kerap kali meminjam uang ke tetangga dan saudara untuk membiayai tunggakan uang sekolah anak-anaknya. Sebagai seorang anak yang berbakti, sebisa mungkin aku berusaha membantu orang tua. Meski tak pandai menjahit namun aku berusaha membantu untuk mengobras, membuat kancing baju, merapikan benang-benang dan lain sebagainya.

Usaha Ayah memenuhi kebutuhan kami tak berhenti sampai di meja jahit. Jika order menjahit pakaian sedang sepi, ayah biasa berladang di tanah lapang dekat rumah. Ia merawat sendiri tanah yang keras itu dan mengolahnya hingga tumbuh beraneka ragam tanaman pangan mulai dari singkong, jagung, pisang, dan lain-lain. Hasil dari berladang itu pun dijual kepada tetangga dan warga disekitar perkampungan kami. Aku tak tinggal diam, jika order di konveksi ayah sedang sepi, aku biasanya mencari tambahan uang dengan membantu di konveksi milik encing ataupun milik tetangga lainnya.

Selain Ayah, ada pula sosok ibu yang luar biasa perannya dalam mendidik anak-anak. Ibulah yang memberikan pelajaran kedisiplinan dan bekerja keras untuk meraih kesuksesan. Salah satu nasihat ibu yang begitu lekat dalam ingatan hingga saat ini adalah : “Orang sukses itu awalnya harus susah-susah dulu, harus kerja keras dulu, baru kemudian akan sukses,” demikian kata ibu saat menasihati kami anak-anaknya. Maka bagiku, ayah dan ibu adalah guru yang utama dalam menjalani perjuangan hidup. Dari ayah dan ibu, aku belajar arti kerja keras, pantang menyerah, dan sabar dalam menghadapi keterbatasan. Semua pelajaran itu akan selalu aku genggam kemanapun kaki ini melangkah.

Selepas SMP, aku melanjutkan di SMA Negeri 29 Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Di sana, aku mendapatkan pengalaman hidup yang sangat berarti. Saat itu aku aktif di kegiatan ekstrakurikuler Kerohanian Islam (ROHIS). Selama di ROHIS, aku banyak belajar pengalaman organisasi, menambah ilmu agama, juga mendapatkan hikmah persaudaraan yang luar biasa.

Banyak diantara kakak kelas ROHIS yang luar biasa prestasinya, hingga mendorong aku untuk bisa menjadi lebih baik atau minimal sama dengan mereka. Banyak  kakak kelas yang kuliah di PTN terkemuka di Indonesia, misalnya UI, ITB, IPB, UNPAD, UNJ dan lain sebagainya. Mereka inilah yang telah menginspirasi aku untuk belajar lebih tekun lagi.

Mereka pun selalu menyemangati. Mereka mengatakan bahwa kuliah di PTN itu  impian semua pelajar SMA, apalagi kuliah di UI. Sehingga persiapan pun harus lebih baik dan belajar juga harus lebih keras. Mereka juga meyakinkan bahwa biaya kuliah tak perlu terlalu dipikirkan, karena di luar sana banyak sekali lembaga pemberi beasiswa atau keringanan biaya kuliah. Pada waktu itu, aku pun teringat pesan orang tua yang pernah mengatakan kepada anak-anaknya agar  bisa masuk PTN khususnya UI. Sambil berkelakar orang tuaKU berkata bahwa jika kami anak-anaknya tak masuk UI maka kuliahnya tak akan dibiayai. Meski sambil berkelakar, pesan itu sangat memotivasi diri untuk menggiatkan belajar agar bisa lulus tes SPMB dan masuk UI.

One Step Closer.

Alhamdulillah! Pada saat pengumuman tes SPMB, aku berhasil diterima di program studi Teknik Mesin UI. Rasa syukur, haru dan bangga menyelimuti hatiku juga keluarga. Cita-cita untuk menjadi Insinyur (Sarjana Teknik) semakin terbuka lebar.

Meski diliputi rasa bahagia, namun rasa was-was akan biaya kuliah tetap menghantui. Apalagi  UI tak lepas dari stereotype biaya kuliahnya yang mahal. Aku pun segera mengumpulkan berbagai informasi dan peluang keringanan biaya kuliah serta beasiswa. Saat itu mampir pula padaku informasi beasiswa dari Beastudi Etos,  Dompet Dhuafa.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Pada saat registrasi pendaftaran ulang, aku mengajukan keringanan kuliah. Pada saat bersamaan terdapat pula stand Beastudi Etos. Maka tak pikir panjang, aku pun segera mendaftar dan melengkapi berkas-berkas yang diperlukan beberapa hari kemudian. Etos melakukan proses penyeleksian yang cukup ketat. Namun alhamdulillah, akhirnya aku berhasil mendapat beasiswa tersebut. Sungguh nikmat Allah yang luar biasa. “Fa bi ayyi aalaai Robbikuma tukadzziban : Maka Nikmat Allah yang manakah yang kamu dustakan?”

Etos, Oase Perjuangan

Etos laksana oase di tengah padang tandus nan gersang. Etos memuaskan dahaga perjuangan dengan berbagai hal penuh manfaat yang ia berikan. Selama tiga tahun pertama masa kuliah, Etos memfasilitasi asrama sekaligus program pembinaan mulai dari organisasi, spiritual, kewirausahaan, culture, dan lain sebagainya. Nuansa kebersamaan dan persaudaran pun begitu terasa.

Aku pun mendapatkan pembinaan Beastudi Etos yang berkesinambungan. Beberapa diantara pembinaan itu antara lain  pelatihan organisasi dan kepemimpinan, pembinaan rohani berupa ceramah agama dan tahsin, juga pelatihan enterpreneurship. Tak hanya itu, kebersamaan pun selalu dibiasakan setiap hari mulai dari Shalat Shubuh berjamaah di masjid, makan bersama, olahraga bersama, dan lain sebagainya.

Salah satu hal paling menyenangkan di Etos adalah bertemu dengan berbagai Etoser (sebutan untuk penerima manfaat Etos) dari seluruh Indonesia pada acara Temu Etos Nasional (TENS). Di sana kami bertemu dengan tokoh-tokoh terkemuka juga penggiat social entrepreheurship. Diantaranya adalah Bapak Eri Sudewo, Bapak Parni Hadi, Bapak Hotman Zainal Arifin (alm), serta beberapa tokoh lainnya yang sangat memberi inspirasi dalam kehidupanku. Terima kasih, Etos!

***

Kini setelah lima tahun menjadi alumni Etos, ada begitu banyak kenangan juga harapan bagi Beastudi Etos. Kenangan indah akan kebersamaan dan persaudaraan  di asrama bersama para Etoser lainnya juga kegiatan-kegiatan Etos yang begitu banyak manfaatnya. Betapa bersyukur diri ini pernah menjadi bagian dari keluarga Etos. Selain itu, ada pula harapan agar Etoser dapat menjadi iron stock para pemimpin di berbagai stake holder pemerintahan, BUMN, swasta dan lembaga-lembaga lainnya. Semoga para alumni Etos dapat melipatgandakan kebaikan dengan ilmu dan pengalaman yang telah Etos berikan selama ini. Banyak ilmu dan pengalaman dari pembinaan Etos yang menjadi bekal saya dalam memasuki dunia kerja. Mimpi masa kecil untuk menjadi insinyur telah terwujud, tentu tak lepas dari kontribusi dan bantuan Etos.

Alhamdulillah kini saya bekerja di BUMN Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang bergerak dibidang pembangkitan. Sebelumnya, saya juga sempat ditawari bekerja di perusahaan minyak asing yang cukup bonafit, tapi saya lebih memilih PLN. Alasan saya cukup sederhana—meski beberapa orang menganggap idealis—saya ingin semua masyarakat Indonesia bisa merasakan listrik. Saya tahu bagaiamana susahnya hidup tanpa listrik. Bagaimana anak-anak bangsa ini akan pintar jika malam hari mereka kesulitan belajar karena tak ada cahaya lampu yang memadai yang menemani mereka belajar. Bagaimana mereka akan menjelajah dunia lain melalui internet jika komputer tak tersambung listrik dan jaringan internet.

Dengan bekerja di PLN alhamdulillah aku mendapatkan kesempatan keliling kota-kota di Indonesia untuk  mengetahui daerah mana saja yang masih belum dialiri listrik. Adalah tugas dan PR besar kami di PLN untuk membangun kesejahteraan bangsa melalui penyediaan listrik ke seluruh pelosok daerah di Indonesia.  Maka Bismillah, kini Si Doel (Si-Irfan) anak Betawi siap berkarya untuk membangun bangsa dengan membangun dan menyediakan jaringan listrik ke seluruh Indonesia. Mohon doanya!

 

 


***


Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044
SHARE