Kapsul Waktu

555

Oleh: Firdaus Zulfikar – UNS

Di penghujung tahun 2015, kita disuguhkan sebuah berita tentang kapsul waktu Indonesia. Sebuah program yang diinisiasi oleh panitia gerakan nasional ayo kerja yang berupa kapsul waktu yang berisi harapan dan juga impian masyarakat Indonesia akan negaranya 70 tahun ke depan. Kapsul ini kemudian berkeliling di 43 kota di 34 provinsi di Indonesia guna mengumpulkan harapan dan mimpi masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Pada penghujung tahun 2015, tepatnya pada 30 Desember 2015 kapsul waktu yang sudah berkeliling Indonesia hampir 24.089 kilometer tersebut akan disimpan di Merauke dan nantinya akan dibuka pada 2085, persis 70 tahun mendatang pasca dirgahayu Indonesia yang ke-70 yang jatuh pada tahun 2015. Ditempat peletakan kapsul itu pula, dibangun tugu sebagai penanda adanya kapsul waktu tersebut.

Yang menarik, salah satu dari sekian banyak penulis mimpi yang ada di dalam kapsul waktu tersebut adalah Presiden Indonesia ke-7 yakni Jokowi. Di dalam suratnya Jokowi menuliskan beberapa mimpinya untuk Indonesia. Mimpi yang ditulis oleh Jokowi memang seakan normatif dan “general”, tidak spesifik mengingat beliau adalah presiden rakyat Indonesia yang mempunyai logika berpikir yang luas juga, tidak parsial. Tetapi ada salah satu mimpi yang ditulis Jokowi berbunyi masyarakat Indonesia yang menjunjung tinggi pluralisme, berbudaya, relijius dan menjunjung tinggi nilai-nilai etika.

Tidak ada yang saah ketika kita pertama kali membaca salah satu mimpi Jokowi ini. Mimpi yang terdengar sangat mendukung tentang kebebasan dan toleransi beragama. Tetapi apabila kita cermati lagi, disana Jokowi lebih memilih kata pluralisme, dibanding pluralitas. Dua kata yang mempunyai dasar kata yang sama yakni “plural” namun memiliki makna yang jauh berbeda. Pluralismee berarti kondisi masyarakat yang bebas, tidak ada batasan yang jelas dalam masalah keyakinan, sedangkan pluralitas adalah kondisi masyarakat yang berasal dari latar belakang yang berbeda beda. Di sini kita bisa sedikit memahami, mengapa presiden kita lebih memilih kata pluralisme ketimbang pluralitas.

Makna Pluralismee

Pluralismee adalah paham yang kini sedang marak dikampanyekan, terlebih ketika wacana terorisme dan juga radikalisme agama mencuat ke permukaan. Pluralisme dianggap dapat menjadi penawar radikalisme yang megatasnamakan agama, karena ruh utama dari pluralismee ialah kebebasan dan juga toleransi dalam melakukan ekspresi beragama. Terdengar bagus memang, kebebasan dan juga toleransi dalam beragama memang menjadi resep utama dalam membina masyarakat madani, akan tetapi apabila kita telisik lebih jauh lagi pluralisme mempunyai makna yang cukup “mengerikan” untuk kita pahami.

Pluralisme dalam spektrum yang lebih luas lagi mencakup kebebasan dalam segala hal termasuk dalam hal peribadatan suatu agama. Hal tersebut termasuk memungkinkanya terjadi suatu peleburan (fusi) dan juga pencampuradukkan nilai nilai keagamaan yang bahkan bisa merujuk kepada sinkretisme. Pluralisme yang tumbuh subur di Eropa sejatinya sejalan dengan spirit sekulerisme dan juga liberalisme yang tumbuh subur di Eropa.

Bukanlah rahasia apabila kita berbicara mengenai agenda liberaisasi di Indonesia, terutama yang terjadi pasca turunya presiden Soekarno pada tahun 1967. Soeharto yang saat itu berkuasa, berusahan untuk menggeser paham sosialisme komunisme yang dibawa oleh parta Komunis Indonesia dan menggantinya dengan ideology liberal yang membawa semangat pluralisme di dalamnya. Proses infiltrasi ideologi dan nilai yang dilakukan oleh Soeharto lewat berbagai kendaraan, baik pers, kebudayaan, maupun kebijakan.

Cetak biru liberalisasi Indonesia tercatat mulai gencar dilaksanakan pada medio 60-an akhir ditandai dengan berjamurnya sastrawan yang berkiblat kepada PSI (Partai Sosialis Indonesia). Sebut saja Goenawan Mohammad yang vokal berbicara lantang mengenai kebebasan berpendapat dan juga nilai-nilai liberal yang termaktub dalam majalah TEMPO. Ekspansi budaya liberal memang menjadi agenda utama pemerintahan Amerika Serikat melalui LSM bernama CCS (Congress for Cultural Freedom) guna membendung arus komunisme yang semakin menjamur di Indonesia pasca Soekarno terlihat sangat mesra dengan soviet sebagai representasi komunis internasional. Bagaikan pedang bermata dua, upaya intervensi budaya yang dilakukan oleh amerika serikat mempunyai efek samping di mana masyarakat Indonesia mulai berpikir kebarat-baratan. Gagasan liberalismee yang pada awalnya digunakan Amerka untuk membendung komunisme di Indonesia lambat laun malah menjamur menjadi budaya dan worldview bagi sebagian besar masyarakat Indonesia.

Penyebaran liberalismee pun menjadi bermacam-macam. Tidak hanya di bidang ekonomi pemerintahan, liberalismee menampakkan efeknya di ranah sosial budaya, bahkan agama. Dasar pemikiran yang membolehkan segalanya “serba bebas” menyebabkan pemikiran ini ikut menginfiltrasi nilai-nilai peribadatan di agama, sehingga munculah termin Islam Liberal (muncul di awal tahun 2000-an), yang diawali oleh para aktivis liberal semacam Ulil Abshar Abdala dalam rubrik Utan Kayu yang muncul tiap Jumat di Koran Kompas. Para aktivis yang gemar menghujat agama tersebut kemudian kompak untuk mendirikan sebuah organisasi bernama Jaringan Islam Liberal (JIL).

Mengharapkan masa depan Indonesia

Seharusnya, sebagai muslim yang baik, kita patut cemas dan prihatin melihat keadaan negara kita. Kondisi ekonomi dan juga pemerintahan yang masih carut marut, masih diperparah dengan menjamurnya ideologi liberal yang sampai saat ini masih menjadi agenda besar para penjaja westernisasi. Kembali kepada impian Jokowi yang dituliskan didalam kapsul waktu. Satu pertanyaan besar kemudian mencuat, apakah Jokowi menginginkan adanya pluralisme dan juga liberalisme menyeluruh kepada bangsa Indonesia?


***


Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044
SHARE