Kegalauan Pemerintah dan Industri Rokok Kita

0
517

Oleh: Khoirul Fahmi, mahasiswa Pendidikan Dokter 2013, Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada.

World No Tobacco Day (WNTD), merupakan peringatan hari tanpa rokok sedunia yang dimulai sejak tahun 1988 oleh Resolusi World Health Organization (WHO). Setiap tahun, WHO akan membuat suatu tema kampanye agar bisa memberikan efek masif suatu informasi yang terfokus pada satu hal sehingga semua orang mudah memahaminya. Untuk tahun ini, WHO kembali membawa tema terkait packaging dalam penjualan rokok di masyarakat. Desain yang dibuat benar-benar simpel dan menekankan akibat buruk dari merokok melalui gambar-gambar yang lebih variatif dan “menakutkan”. Desain ini bisa dilihat dan diakses melalui laman WHO sendiri.

Di Indonesia, permasalahan penggunaan tembakau untuk bahan baku rokok masih menjadi pro dan kontra yang yang panas dibahas, utamanya di kalangan praktisi medis dan pemangku kebijakan publik. Isu ini tidak hanya dibahas dan dikampanyekan hanya ketika peringatan WNTD saja. Bahkan sudah banyak LSM-LSM, komunitas-komunitas anti rokok yang bermunculan di Indonesia.

Hampir semua orang bersepakat bahwa rokok merupakan kebiasaan buruk dan meningkatkan faktor risiko terhadap berbagai penyakit degeneratif seperti penyakit jantung, stroke, diabetes, kanker, dan lainnya. Selain berefek buruk kepada perokok aktif, asap rokok yang terbang bersama udara sekitar juga akan memberikan efek buruk kepada orang-orang sekitarnya yang tidak ikut merokok, kita menyebutnya sebagai perokok pasif. Bahkan dalam penelitian disebutkan, perokok pasif cenderung mendapatkan akibat buruk lebih besar dibandingkan perokok aktif.

Yang selalu menjadi pertanyaan adalah, bagaimana mekanisme rokok mampu meningkatkan faktor risiko terjadinya penyakit. Kebanyakan orang tidak memahami atau bahkan, yang menyedihkan, sudah memahami namun masih tetap merokok. Asap rokok mengandung beberapa senyawa kimia seperti nikotin, tar, karbonmonoksida, dan radikal bebas lainnya. Radikal bebas ini cenderung memiliki sifat merusak sel-sel tubuh. Kita bisa membayangkan, asap rokok yang dihirup oleh perokok, baik aktif maupun pasif, masuk melalui mulut atau hidung, kemudian tenggorokan, hingga ke paru-paru dan masuk ke aliran darah ke seluruh tubuh. Radikal bebas ini akan merusak sel-sel yang ada di permukaan saluran-saluran tubuh tersebut setiap melewatinya sedikit-demi sedikit.

Inilah mengapa, efek buruk rokok tidak bisa dilihat dalam jangka pendek. Tidak ada cerita, orang merokok sekali meninggal kecuali ketika merokok kemudian kecelakaan lalu lintas dan tewas. Namun, efek rokok menyebabkan penyakit degeneratif dan kematian akan terlihat kurang lebih selama dua hingga tiga dekade. Penurunan kualitas hidup perokok aktif maupun pasif akan mulai terlihat ketika kerusakan sel akibat radikal bebas dalam asap rokok semakin masif.

Di sisi lain, kalangan pro rokok di Indonesia gencar menyatakan bahwa asap rokok tidak seberapa besar bahayanya dibanding polusi asap kendaraan bermotor. Dalam buku Membunuh Indonesia tulian Abhisam dkk., beliau menjelaskan dengan sangat menarik bahwa ide stop smoking atau quit tobacco ini dianggap merupakan propaganda barat yang notabene kapitalis dan liberalis untuk melemahkan ekonomi Indonesia dengan mematikan industri rokoknya. Beliau beralasan, jika benar-benar hendak membersihkan udara Indonesia dan meningkatkan kesehatan masyarakat Indonesia, kenapa tidak kemudian melarang penjualan kendaraan bermotor yang notabene produk asing dan mematikan industri mereka di Indonesia.

Sebagaimana kita paham, industri rokok nasional merupakan penyumbang devisa negara terbesar bersama industri Tenaga Kerja Indonesia. Bahkan salah satu kota di Indonesia, kota Kudus yang merupakan homebase salah satu perusahaan rokok nasional menahbiskan diri sebagai Kota Kretek. Hal ini disebabkan karena hampir semua penduduknya hidup dari rokok dengan menjadi karyawan pabrik. Gajinya mungkin tidak seberapa, namun banyak jaminan yang didapat dengan bekerja disana seperti kesehatan, tunjangan pendidikan anak, dan lainnya. Industri rokok nasional juga banyak memberikan sponsorship dan kegiatan pelatihan dan pengembangan masyarakat seperti beasiswa, yayasan amal, dan program pemberdayaan masyarakat lainnya.

Melalui cara seperti diatas, industri rokok ini mampu merambah berbagai kalangan masyarakat yang sangat luas, mulai dari petani tembakau dan karyawan pabrik di pedesaan, anak-anak muda, pelajar, atlet, hingga pejabat dan konglomerat di kantor yang gemar jalan-jalan ke mancanegara. Konsekuensinya, ketika industri ini dimatikan atau hanya dilemahkan saja, maka akan memberikan dampak ekonomi yang luar biasa terutama bagi para petani dan karyawan yang mengandalkan biaya hidupnya dari industri ini.

Faktor lain yang menghambat adalah iklan-iklan rokok yang kerap kali memperlihatkan pria-pria tangguh dan keren yang berjiwa pemberani dan petualang. Barangkali pesan yang ingin disampaikan adalah, “Jika ingin menjadi keren, merokoklah.” Hal ini dilakukan untuk menyiasati kebijakan Pemerintah yang melarang gambaran orang merokok dalam iklan rokok dan efek buruk rokok yang sudah diketahui banyak orang. Padahal kenyataannya, mereka yang merokok cenderung sulit mengontrol emosi, rentan sakit, dan akan meningkatkan risiko timbulnya penyakit bagi dirinya dan orang di sekitarnya di masa depan.

Beberapa isu pro dan kontra diatas, rasanya menjadi isu yang menghalangi dan membingungkan Pemerintah untuk meratifikasi kebijakan Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) yang sudah dikeluarkan WHO sejak Mei 2003 untuk negara-negara anggota PBB yang memiliki basis industri rokok dan tembakau. Indonesia pun ikut aktif dalam pembuatan draft committee-nya. Diantara kesepakatannya adalah kebijakan pengalihan tanaman dari tembakau ke tanaman lainnya, pengurangan subsidi pertanian tembakau, menaikkan bea-cukai rokok, pelarangan bank-bank untuk memberikan pinjaman pada industri rokok dan poin penting lainnya yang intinya melemahkan untuk mematikan industri rokok. Bahkan sempat ada isu ketegangan pemerintah di kementerian terkait ratifikasi kebijakan FCTC ini, yaitu Kemenperin dan Kemenkes. Namun yang luar biasa, meski sedikit banyak mulai diberlakukan, industri rokok kita tetap bertahan dengan gagahnya.

Terlepas dari pro dan kontra diatas, isu ini sangat menarik untuk dikaji dan dicarikan solusinya. Kita sangat menyayangkan belum ada penelitian terkait manfaat dan penggunaan tembakau selain bahan baku rokok yag memberikan keuntungan setara atau hampir mencapai keuntungan industri rokok. Dengan adanya alternatif seperti itu, diharapkan industri rokok bisa diarahkan untuk mengalihkan produksi ke arah sana. Kita tidak bisa melarang industri rokok dengan mematikannya begitu saja, karena ini tentang nasib ribuan buruh dan pedagang yang terlibat didalamnya. Kebijakan pelarangan rokok juga terkait dengan kebiasaan hidup masyarakat Indonesia yang sudah mendarah daging sejak zaman penjajahan konglomerat Belanda mengajarkan budaya merokok di Indonesia.

Ke depannya, kita semua tentu berharap, Pemerintah lebih serius dalam menangani isu penggunaan tembakau untuk rokok ini. Jika dibiarkan terus menerus, maka tentu akan menjadi bom waktu bagi Indonesia, terutama terhadap kesehatan masyarakat Indonesia. Kebijakan terkait isu ini tentu diharapkan menjadi win-win solution bagi semua pihak, meski tentu akan ada pihak yang merasa dirugikan. Namun sekali lagi, ini bukan tentang ego siapa yang menang-kalah atau untung-rugi, ini tentang bagaimana memberikan kemaslahatan untuk masyarakat umum.

Selamat Hari Tanpa Tembakau Sedunia! Semoga Tembakau bisa memberikan manfaat lebih untuk dunia selain melalui rokok.

BAGIKAN

LEAVE A REPLY