Kenyangkan Perut Kami dulu, Pak!

311

Oleh: Medina Putri

“Lapar membuat lebih galak.” Nampaknya joke ini juga berlaku pada ruang lingkup makro, kehidupan masyarakat dalam sebuah negara. Menghendaki sebuah perubahan tatanan sosial dalam negeri apalagi sebuah transformasi, ternyata mengawalinya bukan dari sistem politik yang hebat, tapi dari ekonomi yang sejahtera.

Dalam sebuah tragedi krisis moneter Indonesia pada tahun 1998, kita dapat melihat bahwa ketika kesejahteraan hidup rakyat terganggu, maka mereka bersatu bergerak menumbangkan rezim orde baru. Saat itu, kondisinya memang begitu mencekik leher dan melilit perut, bahan baku pokok naik, nilai tukar rupiah jatuh, semuanya menjadi sangat mahal tak terjangkau. Akibatnya adalah rakyat sangat sengsara, hanya untuk sekedar memenuhi urusan perut saja terasa sulit. Maka semua rakyat melawan, satu suara, satu tekad, bersama satu tujuan menginginkan perubahan besar segera, dan sebuah revolusi pun terjadi.

Hal ini pun tidak hanya terjadi pada Indonesia, saat ini kita ketahui bersama bahwa UEA (Uni Emirat Arab) yang kini terdiri dari tujuh negara bagian, menjadi salah satu negara yang paling sejahtera di kawasan Timur Tengah. Dalam sejarahnya, Syekh Rashid penerus tahta Dubai dan Syekh Zayed penerus Emir Abu Dhabi berkolaborasi membangun federasi dengan mengedepankan ekonomi terlebih dahulu, bukan politik. Mereka percaya bahwa untuk bisa berpolitik secara beradab, masyarakatnya harus sejahtera. Bukan sebaliknya, untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, politik harus di depan. Mereka memulai langkah besar itu dengan memastikan kebutuhan pokok rakyatnya terpenuhi. Implikasinya menakjubkan, rakyat dengan sendirinya bergerak teratur seirama bersama pemerintah menuju perubahan yang sama-sama diinginkan. Hasilnya, pembangunan mereka sungguh mengagumkan. Burj Khalifah, gedung tertinggi di dunia dan Mall of the World yang luasnya mencapai 4,4 juta meter persegi kini kokoh berdiri. UEA menjadi destinasi pariwisata dan pusat bisnis dunia yang profesional dan terdepan.

Melihat hal di atas, pikiran pertama kita akan tertuju pada sektor pertanian. Dimana pertanian menjadi sebuah kebutuhan pokok utama kehidupan manusia. Pertanian juga bisa menjadi salah satu indikator kesejahteraan rakyat Indonesia, mengingat potensi pertanian yang dimiliki negeri ini begitu besar. Indonesia pada perjalanannya telah mengalami berbagai macam perubahan kebijakan pertanian demi meningkatkan kesejahteraan petani dan seluruh masyarakat Indonesia. Pada masa SBY misalnya, menggaungkan tentang revitalisasi pertanian dan kini masa Jokowi-JK menargetkan swasembada pangan Padi, Jagung, Kedelai (Pajale) dalam kurun waktu tiga tahun. Tentu setiap kebijakan memiliki tantangannya masing-masing, dalam hal ini dibutuhkan sinergi antara stakeholder dan pemerintah. Keduanya harus memiliki inisiatif, pemerintah sebagai pihak yang dengan budget besar semestinya mampu untuk bertindak sebagai fasilitator dan promotor bagi stakeholder kecil seperti petani. Membangun infrastruktur dengan cepat dan tepat sebagai solusi bagi masalah logistik pertanian dan mendirikan kelembagaan yang fokus melayani serta mendampingi petani dan organisasinya. Hal-hal lain yang dapat menstimulus pertumbuhan pertanian antara lain seperti menyediakan serta memperlancar distribusi kredit, penggunaan pupuk, benih berlabel, pengendalian hama dan penyakit, perbaikan irigasi, juga perbaikan pascapanen. Pemerintah juga harus pandai dalam mengelola proteksi kebijakan perdagangan internasional.

Setidaknya itulah beberapa hal yang harus mampu dibuktikan oleh pemerintah kepada rakyatnya terlebih dulu, bukan hanya mengawalinya pada perdebatan sistem politik pemerintahan sebatas amandemen konstitusi atau segala jenis hukum yang berlaku. Rasanya sulit diterima jika pemerintah hanya menetapkan berbagai peraturan yang tidak berdampak pada kesejahteraan rakyatnya lantas beranggapan bahwa langkah itu mampu memajukan Indonesia.

Sebuah cita-cita untuk menjadikan Indonesia menjadi negeri yang maju bukan lagi dipandang sebagai retorika pada saat kontestasi politik saja, tapi menjadi cita-cita yang jelas dan nyata dalam perealisasiannya. Pada kenyataannya, rakyat akan mudah digerakkan ketika mereka sejahtera, ketika mereka tidak kelaparan, mereka bisa berpikir jernih dan bersedia melakukan apa yang diperintahkan. Karena mereka telah percaya, bahwa pemerintahnya membawa pada kesejahteraan, bukan hanya pada aturan-aturan yang menyulitkan.

***


***


Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044
SHARE