Keraton, Detak Jantung Mataram

301

Oleh: Christina Indrawati – BA 5.

Klenengan terdengar begitu nyaring di halaman keraton, para abdi dalem berlalu lalang kesana kemari menjalankan tugas mereka, ada yang sedang menyiapkan kereta, ada yang sedang membawa makan-minum dan tak sedikit yang sedang memasang anyaman bunga-bunga serta janur kuning di sekitaran keraton. Keriwehan yang tergambar jelas menandakan keraton sedang punya gawe. Terang saja, sang putri raja akan menikah hari ini.

Tak hanya keraton yang sedang kebungahan, seluruh rakyat bahkan satu negri sama antusiasnya merasakan kebanggaan dan kebahagiaan ini. Suatu tanda keistimewaan tempat ini masih diakui oleh khalayak ramai.

Keraton. Suatu tempat yang disimbolkan bagai jantung kehidupan, penjaga dan benteng terkuat atas nama budaya Jawa. Hingga tak heran apapun yang terjadi disana dapat menyita perhatian penjuru negri. Di negri Indonesia, keraton identik dengan Yogyakarta, namun sesungguhnya keraton masih berdiri kokoh didua tempat, yaitu di Yogyakarta dan Surakarta dengan tatanan pemerintahan Kesultanan dan Kasunanan.

Pada zaman dahulu Yogyakarta dan Surakarta bersatu dalam suatu wilayah bernama Mataram. Pembunuhan Mataram diresmikan dengan perjanjian Giyanti. Semenjak itu Yogyakarta dan Surakarta bagaikan dua saudara yang lahir dari Bumi Mataram yang terpecah akibat campur tangan para tamu berambut pirang.

Kini, mereka tetap tumbuh seperti saudara kembar. Faktor terbesarnya adalah karena rancangan dan tata kelola yang dibentuk sejak awal sama. Seperti keraton, alun-alun , pusat kota, pusat ekonomi, dan kebudayaan yang ada. Terlihat serupa tapi sesungguhnya tak sama. Misalnya saja tutup kepala pakaian khas Jawa yang disebut blangkon. Blangkon Yogya memiliki bentuk yang berisi dibagian belakang sedang Solo tepos. Atau motif batik yang berbeda dasar pewarnaan, pakaian pria beskap dan surjan dan masih banyak lagi.

Berdasarkan sejarah, Yogyakarta dan Surakarta memiliki nasib yang berbeda. Kala itu, kasultanan Yogyakarta sebagai penguasa wilayah dianggap mampu memberikan jaminan keamanan penuh yang didukung oleh seluruh masyarakatnya. Maka tidak heran jika Yogyakarta terpilih menjadi Ibu Kota Sementara Republik Indonesia saat negara dalam keadaan darurat atau bahaya. Sedangkan Surakarta justru terjadi penuh konflik. Apalagi dalam konstelasi politik tanah air pada waktu itu Surakarta menjadi Wild West yang diciptakan menjadi suatu daerah penuh huru-hara. Daerah Wild Westmemang sengaja diciptkan agar masyarakat tidak kembali lagi ke dalam suatu sistem swapraja (memiliki pemerintahan sendiri).Dia menambahkan, di Surakarta justru menjadidaerah yang penuh konflik. Apalagi dalam konstelasi politik tanah air pada waktu itu Surakarta menjadi Wild West yang diciptakan menjadi suatu daerah penuh huru-hara.

Hingga kini, bumi mataram yang telah terlahir sebagai dua anak telah berkembang sebegitu pesatnya. Keraton baik Yogyakarta maupun Surakara mampu memimpin jalannya gerak budaya yang ada di Indonesia bahkan eksistensinya masih diakui dunia. Yogyakarta tumbuh sebagai heart of Java dan Surakarta hidup sebagai spirit of Java, dua daerah yang memimpin pertumbuhan dan poros budaya di Indonesia, berdiri kokoh meski jaman terus bergerak sebegitu mengosak-asik tatanan bangsa.

SHARE