Ketika Seorang Lelaki Mendekati

0
597

Berbaurnya antara laki – laki dan perempuan dalam aktivitas sehari – hari cukup menjadi polemik di lingkungan sekitar tempat kita tinggal dan beraktivitas. Padahal, tanah air ini dikenal sebagai negara muslim terbesar di dunia. Jelas saja lingkungan yang tidak kondusif akan membuat penglihatan, pendengaran, dan perasaan seseorang menjadi tidak terkontrol. Terkadang pengamanan dari diri sendiri mampu kita kuasai, namun justru pihak – pihak lain yang tidak dapat kita sangka – sangka dapat menggoyahkan niat baik kita. Sebab godaan tidak hanya datang dari setan disekeliling kita, tetapi juga manusia yang berusaha mempengaruhi diri untuk berbuat maksiat lebih banyak.  Semakin banyak hal – hal yang mendorong kita berbuat maksiat dan semakin longgar pengamanan dari mengingat Allah SWT maka akan semakin sulit bagi kita untuk dapat menjaga diri dari pergaulan yang tidak baik. Itulah mengapa kita perlu terus berusaha dan berdoa agar senantiasa dilindungi dari segala godaan pergaulan yang berujung dosa.

Remaja identik dengan fase kehidupan dimana gelora percintaan sedang berapi – api. Hasrat yang besar akan kecenderungan terhadap lawan jenis tidak diiringi dengan kemampuan untuk dapat mengungkapkannya dalam bentuk lain. Jadilah remaja hanya dapat memendam apa yang dirasakannya. Beberapa kisah cinta remaja cukup sering kita temui dalam film ataupun buku bacaan remaja yang pastinya dinanti kawula muda. Berikut ini salah satu cerita yang mungkin pernah dirasakan oleh segelintir orang.

Pada suatu hari yang teramat sibuk, Ashka mengabaikan dering telfon genggamnya yang disimpan dalam saku rok. Dia tengah sibuk mengurus persoalan organisasinya lantaran baru saja memaparkan program kerja yang akan dilakukannya selama satu tahun kedepan. Bukan bermaksud mengabaikan, tetapi memang beberapa hari terakhir Ashka memprioritaskan untuk fokus pada persiapannya menjadi seorang ketua salah satu bidang di himpunan. Sampai seringkali dia agak lalai untuk membuka telfon genggam.

Singkat cerita, setelah Ashka selesai dengan urusan himpunan, ternyata dering telfon genggamnya berasal dari pesan singkat seorang kakak kelasnya di unit kesenian yang dia ikuti. Tidak ada yang berbeda pada saat itu. Pembicaraan hanya seputar pemindahan tanggungjawab yang seharusnya dipegang Ashka ke tangan kakak kelas tersebut.

Ashka mengikuti dua organisasi besar di kampusnya, yang pertama adalah himpunan mahasiswa jurusan dan kedua organisasi seni musik. Ashka adalah satu – satunya anak yang diproyeksikan menjadi ketua musik pada organisasi seni musik tersebut, namun Ashka lebih memilih untuk mengambil peran menjadi ketua bidang di himpunan jurusan dibandingkan organisasi seni musik. Hal tersebut yang kemudian menjadi topik penting pembahasan dengan kakak kelas yang telah diceritakan sebelumnya.

Linggar adalah kakak kelas Ashka di organisasi seni musik yang sebetulnya pertemanan mereka sebatas kakak dan adik kelas, bahkan bisa dibilang jarang sekali mereka berkomunikasi satu sama lain. Linggar adalah seseorang yang jenius dalam urusan akademik ditambah dia sangat jago bermain piano. Entah mengapa, belakangan ini Linggar memiliki ketertarikan terhadap Ashka. Dengan berbagai cara, Linggar mendekati Ashka untuk dapat mengenalnya lebih dalam. Linggar dengan caranya sendiri mulai menampakkan sesuatu yang tidak biasa dari hanya sekadar berbincang organisasi seni musik. Hal tersebut mulai diketahui oleh Ashka, dan dia sangat tidak nyaman akan hal itu. Ashka memang bukan anak yang lihai dalam urusan bergaul dengan lelaki, namun dia mulai merasakan kejanggalan. Ashka merasa ada kecenderungan yang berlebih yang ditunjukkan oleh kakak kelasnya itu.

Sampai pada suatu ketika, Ashka memberanikan diri untuk mengutarakan kegelisahannya. Ashka memiliki prinsip untuk tidak berpacaran seperti kawan – kawan lainnya. Dia berfikir bahwa perasaan tidak sepatutnya diumbar oleh seseorang kepada lawan jenis yang belum menjadi pasangan sah nya. Ashka membertiahukan bahwa dirinya tidak akan mau menjalin suatu hubungan dengan siapapun kecuali tujuannya memang untuk menikah karena Allah SWT. Ashka juga sangat menghindari hubungan tak bernama lainnya yang sejatinya tidak berbeda dari istilah pacaran, yang mana laki – laki dan perempuan tetap saling berkomunikasi namun saling berkomitmen untuk tidak mencap hubungan mereka ‘pacaran’. Oleh karena itu, Ashka sangat berhati – hati untuk segera menyudahi perkara dirinya dengan Linggar, tentu dengan cara yang santun tanpa menyakiti hati Linggar. Ashka berhasil mengutarakan poin pemikirannya kepada Linggar bahwa dia tidak ingin didekati dengan cara seperti yang Linggar lakukan, terlebih dia sangat kontra dengan pacaran.

Pada beberapa hari setelah diskusi panjang tersebut, Linggar dapat menjaga diri. Namun, Linggar belum memiliki cara yang tepat untuk dapat mengenal lebih jauh seorang Ashka. Oleh karenanya Linggar tetap menjalankan rencananya untuk mendapatkan Ashka, dengan metodenya sendiri. Lagi – lagi Ashka merasa jengkel sebab nampaknya Linggar belum banyak belajar untuk mengubah sikap serta mencari metode lain untuk menjalankan pendekatannya terhadap Ashka. Akhirnya, Ashka beristikharah dan banyak bertanya kepada mama serta sahabat – sahabatnya. Perkara seperti ini sebetulnya sederhana, namun Ashka harus pintar dalam mengambil sikap dan membuat strategi penolakan yang sesuai.

Setelah memantapkan diri, Ashka pun memilih untuk mengambil sikap tegas kepada Linggar. Cara baik – baik yang telah dilakukannya tidak menghasilkan kondisi yang baik, oleh karenanya Ashka bersikap mengabaikan segala perbuatan yang dilakukan Linggar. Terakhir yang agak menyakitkan, Ashka mengambil langkah untuk mengatakan bahwa dirinya merasa tidak cocok dengan Linggar. Sontak Linggar memang merasa sangat bersalah, dan dia berjanji untuk belajar menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Ada beberapa poin yang dapat kita jadikan pelajaran dari cerita diatas. Bahwasannya penting untuk bersikap santun dalam menolak suatu keburukan. Jika tidak dapat dilakukan dengan cara yang lemah lembut, kita dapat melakukan metode lain tentunya yang baik dan sesuai yang digariskan oleh Allah SWT. Jangan pula kita memaksakan orang lain untuk satu faham dengan kita, yang bisa kita lakukan adalah menjaga diri kita dari keburukan tersebut. Kita harus bisa saling menghargai prinsip masing – masing orang, terlebih lagi memberikan saran atau bantuan atas kondisi orang lain Terakhir, jangan mudah terpengaruh. Bukalah diskusi kepada orangtua dan sahabat untuk menanyakan pandagan tentang suatu masalah yang dihadapi. Beranikan diri untuk mengomunikasikan setiap hal kepada orangtua.

Tidak mudah memang untuk dapat mempertahankan suatu prinsip dimana orang lain tidak dapat menerimanya. Namun, Ashka membuktikan bahwa konsistensi dan terus berdoa kepada Allah adalah cara ampuh yang harus selalu dijalankan. Apabila kita merasa berada diujung jalan dan tidak tahu harus melakukan apa, disitulah peran Allah SWT yang mampu mebolak balikkan kondisi dan hati seseorang. Kita hanya perlu berdoa dan memasrahkan diri agar Allah SWT tetap menjaga kita dari permasalahan yang dihadapi. Wallahu a’lam bi shawab, semoga penulis dan pembaca selalu diberkahi dan dimantapkan hatinya untuk melakukan kebaikan. Aamiin Ya Rabbal Alaamiin.

BAGIKAN

LEAVE A REPLY