Konsistensi Penyajian Laporan Keuangan

1755

Pembahasan ini mengenai penjelasan tentang prinsip-prinsip akuntansi. Akuntansi berfungsi sebagai penyedia data untuk menyusun laporan keuangan, yang data tersebut harus bersifat objektif dan informatif. Untuk memenuhi fungsi-fungsi tersebut maka sangat dibutuhkan prinsip-prinsip akuntansi dalam pencatatan guna penyusunan laporan keuangan. Di mana laporan keuangan ini akan memberikan informasi akuntansi terhadap investor dalam mengambil keputusan. Untuk memudahkan dalam pemahaman suatu konsep dasar akuntansi yang baik maka disusunlah prinsip akuntansi yang menjadi patokan dalam mempelajari ilmu ini.

Para pengguna laporan keuangan harus dapat memperbandingkan laporan keuangan perusahaan antar period untuk mengidentifikasi kecenderungaan (tren) posisi keuangan dan kinerja keuangan. Pengguna juga harus dapat memperbandingkan laporan keuangan antar perusahaan untuk mengevaluasi posisi keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan dari transaksi dan peristiwa lain yang serupa harus dilakukan secara konsisten untuk perusahaan tersebut, antar period perusahaan yang sama dan untuk perusahaan yang berbeda (IAI, 2007).

Di dalam akuntansi terdapat beberapa metode yang dipergunakan, misalnya dalam menilai persediaan, menafsir kerugian piutang tak tertagih, penyusutan aktiva tetap. Sekali suatu metode telah terpilih, secara konsisten harus dipertahankan dari period ke period selanjutnya. Dengan demikian, laporan keuangan dapat diperbandingkan di antara interval waktu tertentu. Hal ini tidak berarti bahwa akuntan mengabaikan sama sekali kemungkinan adanya perubahan. Apabila terjadi perubahan ke metode lain, catatan kaki harus dibuat, yang ditunjukkan pengaruhnya sebagai akibat dari adanya perubahan metode tersebut (Arief, Yanuar, & Synthia, 2009).

Konsistensi merupakan prinsip akuntansi yang menuntut diterapkannya standar secara terus-menerus, tidak diubah-ubah kecuali dengan alasan yang dapat dibenarkan. Perubahan kadang dimungkinkan dan dibenarkan agar laporan keuangan dapat menyajikan posisi keuangan organisasi yang sebenarnya dan untuk menghindari informasi yang menyesatkan (Bastian, 2005).

Dari hasil penelitian Akuy, (1999) dalam perbandingan laporan keuangan terhadap 15 perusahaan go publik di Jawa Timur, menyatakan bahwa hanya ada 2 perusahaan yang menyajikan laporan audit secara konsisten sedangkan 13 perusahaan lainnya menyajikan laporan audit secara tidak konsisten. Ketidakkonsistenan pada 13 perusahaan ini disebabkan ketidakkonsistenan auditor dalam menilai dan menyajikan akun-akun. Adapun akun-akun yang disajiikan secara tidak konsisten adalah: (1). akun “Aktiva tetap dalam penyelesaian” (2). akun “Pajak dibayar dimuka” (3). akun “Piutang” dan “Hutang” serta “Hutang bank” (4). akun “Hutang hubungan istimewa” (5). pembayaran kas untuk bunga dan pajak penghasilan.

Dari hasil penelitian Christiawan dan Sawarjuono (2000) menunjukkan adanya ketidakkonsistenan penyajian pada laporan keuangan auditan tahun 2000 perusahaan publik. Hal ini tentunya akan membuat laporan keuangan tidak dapat diperbandingkan oleh para pengguna laporan keuangan di BEJ yaitu investor, kreditor, penjamin emisi ekfek, dan agen penjualan efek menyatakan bahwa laporan keuangan perusahaan publik di Bursa Efek Jakarta cenderung menyajikan informasi yang kurang relevan serta kurang dapat diperbandingkan.

Dari hasil penelitian Handoko, (2009) menyatakan bahwa masih banyak perusahaan publik yang menyajikan secara tidak konsisten laporan keuangannya, tidak adanya catatan yang diberikan terkait dengan adanya ketidakkonsistenan dalam catatan atas laporan keuangan, serta masih adanya akuntan publik yang tidak memberikan penjelasan terkait dengan ketidakkonsistenan yang terjadi dalam opini auditornya. Hal ini memberikan indikasi bahwa telah terjadi pelanggaran dalam menyajikan laporan keuangan konsolidasi dimana seharusnya laporan keuangan harus menerapkan konsep konsistensi serta akuntan publik yang menerapkan standar profesionalnya untuk memberikan catatan apabila terdapat ketidakkonsistenan dalam penyajian sebuah laporan keuangan.

Dari hasil penelitian Ciputra, (2011) keseluruhan atau ke-13 perusahaan yang termasuk dalam industri pertambangan telah menyajikan keuangan dengan memegang konsep konsistensi. Walau demikian, penyajian laporan keuangan yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang diteliti mengalami perubahan.

Dari teori dan fakta yang telah dipaparkan oleh penulis diatas, menunjukan bahwa ada hubungan negatif antara keduanya. Yang dipaparkan dalam teori tidak sesuai dengan hal-hal yang ditemukan oleh peneliti-peneliti dalam karyanya. Teori mengatakan bahwa dalam penyusunan laporan keuangan harus menerapkan konsep konsistensi, dan apabila ada perubahan dalam metode harus dijelaskan dan dicatat dalam catatan atas laporan keuangan. Namun ditemukan oleh beberapa peneliti bahwasanya masih banyak perusahaan-perusahaan yang tidak konsisten dalam penyusunan laporan keuangan. Juga tidak adanya keterangan dalam perubahan metode yang dilakukan dalam catatan atas laporan keuangan.

Ketidakkonsistenan dalam penyajian serta penyusunan laporan keuangan akan menyesatkan pemakai laporan, juga berpengaruh bagi investor untuk mengambil keputusan dalam menginvestasikan dananya. Dan secara otomatis juga dapat mengurangi nilai perusahaan tersebut.


***


Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044
SHARE