Kontemplasi Diri di Hari Pertama Perjalanan

155
Kami kumpul setelah 2 tahun. Terkumpul 18 dari 20 anak. Saya bangga sama pasukan ini

Halo, Nama saya Tiara Annisa, Mahasiswi salah satu kampus negridi Indonesia yang katanya terbaik di negri pertiwi ini. Pada tanggal 15 Desember saya memutuskan untuk melakukanberjalanan singkat emnutup semester 7. Ya, seperti memberikan hadiah kepada diri sendiri setelah melewat 7 semester dan siap mengadapi semeste akhir dengansebaik-baiknya persiapan. Mungkin yang saya maksudkan disini adalah persiapan mental dimana saya siap menjadi pribadi yang lebih … hmm saya juga bingung jika ditanya lebih seperti apa.

Mungkin inilah salah satbukti manusia masih menjadi makhluk yangsombong lagi angkuh. Bahkan setelah melewati semster dengans edikit terseok-seok saya masih mengatakan saya bingungjika harus memperbaiki diri seperti apa. Untuk itulah saya memutuskan untuk melakukan prjalanansendiri, 7hariinsya Allah melewati purwokerto, semarang untuk transit, lalu kemudian ke malang dan kediri. Perjalanan yang panjang menurut saya karena disini saya merupakan gadis, seorang diridan ini kali pertama saya menggunaka carrier besar bukan travel bag ataupun koper seperti biasa.

Ugh, duduk ditengah sedikit tidak nyaman ternyata, pekikkudalam hati. Aku berusaha, tidakmari ganti, aku memaksa diriku untuk menikami segalamomen di kereta serayu pagi ini. Aku memaksakan diriku karena aku sadar, memaksa diri sendiri merupakan salah satu cara untukmeatih diri menjadi lebih baik. Baiklah, saya mengakui saya bukanlah orang yang bisa diminta, dibujuk dan diajarkan secara teoritis soal mengembangkan diri. Alhamdulilalh, semester kemarin sayamengikuti beberapa acara pengembangan diriseperti Future leader camp,  Young leader indonesia, Nutrifod Leader Award dll. Dan yak, walaupun diajarkan mengenai berapa teori, saya mengakui bahwa belajar yang paling baik adalah mencobanya sendir. Dan itu yang diberikan oleh program-program yang saya ikuti secaratidak langsung melaluiprject yang diberikan. Ahh benar, saya menyadari bahwa saya merupakan tipikal orang yang bisa berkembang jika dipaksa oleh keadaan. Jika sayamerasa dan dirasa perlu untuk mengambil keputusan. Baik, sayamendapatkan sesuatu hal yang harus saya targetkan dikemudian hari,

Walaupun saya perempuan, saya harus bisa lebih berani mencoba karena siatusi yang mendesaklah yang mendorong dan melatih saya lebih.

Ditengah getaran kereta api ini, saya kebali teringat kegiatan yang begitu melatih saya pada tahun 2014. Kita menyebutnya Orientasi Studi Mahasiswa atau yaa teman-temanmenyingkatnya OSKM.

Pertama kali, saya masuk kedalam divisi lapangan dan terpilih menjadi salah satu calon medik untukteam lapangan tahun itu. Berat? Hm baiklah saya akui berat. Kami angkatan 2013 ditempa untuk menjadi lebih baik secara fisik, mental serta knowledge soal ke- medik- an. Fisik dirasa perlu karena kami akan menjadi pasukan yang menjaga kesehatan serta dituntut untuk bisamelakukan evakuasi (memindahkan) pasien secara bersama maupun (jika sedang tidak beruntung) sendiri jika memang perlu untuk diselamatkan lebih cepat. Knowledge, jelas kami harus memberikan penanganan yang tepat terkait beberapa penyakit di lapangan karena tidak sellauadadokter diacara tersebut. Dan mental, kami dituntut untuk sellau tenang dalam hal apapun, karena panik tidak aan menyelesaikan apapun.

Ahh, sambil melihat keluar jendela kereta, aku mengingat-ingat kembali apa  saja yang sudah akulalui 2 tahun yang lalu itu. Tidak , bukan 2 tahun tapi 2,5 tahun. Kereta yang aku tumpangi sudah memasuki monajaya (jika tidak salah). Aku kembali melihat jadwal perjalannku. 7 hari, sendiri, dan sekarang bahkan aku sudah mengeluh soal pegalnya kaki dan tanganku di perjalanan yang baru kutempuh 3 jam ini. Aduh tiara, kotemplasi diri macam apa ini jika kamu masih menyalahkan keadaan.

Baik, saya lanjutkan saja soal nostalgia 2014.

Kembali saya teringat bagaimana saya untuk pertama kalinya memilih mengambil formulir sekolah perangkat. Sekolah ini melatih setiap-tiap peserta yang ingi menjadi komandan ata pemimpin regu. Ahh coba-coba saja fikirku. Aku emang tergolong suka mencoba buktinya saja perjalanan random 7 hari ini. Walaupunsuka mencoba,aku memang memaksa diriku untuk tetap melakukan perencanaan.  Karena meminimasi risiko terditraksi akan suatu hal bodoh di tengah perjalanan. Namun, setelah saya ingat kembali, mengambil formulir sekolah tersebut merupakan hal yang paling tidak meiliki perencanaan di mata saya.

Kotemplasi diri ini dilanjutkan dengan bodoh dan lemahnya saya ditengah proses pembelajaran tersebut. Pagi hingga sore harus melakukan sekolah medik normal dengan push up yang mungkin melebihi jari tangan lalu malam sehabis isya saya dituntut untukmengikuti seklolah perangkat. Bukan, bukan dituntut, ahh kembali saya mengingat bahwa itu merupakan sebuah keputusan yang saya ambil dengan kepala dingin. Saya harus lebih bertanggung jawab.

Sekolah medik(baik normal ataupun perangkat) mengajarkan kepada saya bahwa menjadi pemimpin merupakan hak tiap manusia. Tidak peduli bagaimana kamu dilahirkan dibesarkan atau apalah. Pemimpin yang saya tau bisa didapatkan dengan 2 cara. Dari lahir dan juga sebuah proses pembelajaran. Di sekolah medik tersebut, saya menemui adanya teman yang bsia membawa pasukan dengan mudahnya, dengan cara yang santai atau bisa disebut sedikit guyon atau lucu. Namun di tahun 2014 itu sendiri, saya masih kelabakan mencaribagaimana sosok pemimpin yang saya inginkan untuk diterapkan dalam diri?

Sedikit demi sedikit proses sekolah medik dan perangkat mengajarkan saya mengeai arti sebuah tanggung jawab atas sebuah keputusan. Sama, seperti keputusan saya mengambil kuliah di teknik buakn di kedokteran. Walaupun dengan berbagai tekanan, termasuk dari beberapa sahabat SMA dan jug dari berbagai pihak, saya akhirnya mengambil teknik.saya tidak bisamenyalahkan keadaan luar. Saya mengakui, segala pa yang ada dan kita rasakan merupkan buah dari tangan kita sendiri.

Saya kembali teringat ketika pertam kali saya memegang tim. Tim berisikan 18orang dan kami bertugas untuk menjadi tim medik dikala upacara pembukaan/peresmian mahasiswa baru oleh rektor di sabuga. Kami yang (belum dilantik) untuk menjadi medik masih bersikap biasa, sesuai metode dan cara yang diajarkan oleh pendikalt kami. Kami santai saja karena ambulance sudah ada, berbagai alat medik sudah ada. Bahkan seoran susterpun sudah ada. Ah yaa tabung oksigen besarpun sudah ada di pojok ruangan. Aku yang kala itu menjdi komandan pun santai saja. Hingga datang bapak satpam dan seorang ibu-ibu yang terpogoh mendorong kursi roda masuk ke ruangan kami.

Pasien itu merupakan pasien ke entah ke berapa mungkin pasien ke belasan hari itu. Dia tertidur. Aku up siapa namanya namun yang jelas pasien tersbeut mengeluh pusing. Aku minta salah satu anaku untuk mengurusinya. Ah, dia terkena vertigo ternyata. Sambil menenangkan ibu dan bapak satpam yang datang, anak ku (salah satu tim) mengurusi anak tersebut.

Masih biasa,  aku merasa aku sudah baik menjadi pemimpin (kala itu) hingga tiba-tiba si gadis vertigo tersebut ditengh tidurnya sesak nafas. Wah apa yang harus saya lakukan?!

Tiba tiba saya panik sendiri. Saya yang kala itu masih awam saya panik.segera saya minta salah satu anak saya untuk mencari suster yang dikirimkan oleh medika kampus. Aah, suster tersebut tidak ada. Ternyata beliau sedah makan.

Kembali aku panik. Aku akui, disaat seperti inilah aku bisa lebih melihat diriku yang masih bolong-bolong dalam hal ilmu maupun mental. Akhirnya aku dan tim menggunakan oksigen tub kecil untuk memenangkannya. Untuk beberapa lama, pasien tersbeut lebih tenang da dapat tidur dengan tenangnya.

Lalu selang beberapa menit pasien tersbeut kembali sesak nafas. Sayapun panik.  Salah satu anak timku mendesakku untuk segera mengambil keputusan. Segera tiara, segera! Atau kita bisa membawa anak ini ke klinik kampus!

*****

Di dalam kereta aku masih mengingatnya bagamana saat itu, egoku dan saran dari salah satu timku bertarung. Bagaimana jika pasien ini dibawa keklinik dan aku dan tim dianggap tidak berkompeten menyelsaikan masalah ini. Bagaimana jika dunia mengatakan bahwa aku tidak pantas menjadi pemimpin dan malah melimpahkan pasienku ke klinik. Aduh, inikan seharusnya tanggung jawab kami, bukan malah ke klinik.

Persetan dengan ego

Saya mengakui, pelajaran besar yang saya dapatkan kala itu adalah, pemimpin adalah orang yang dapat mengendalikan egonya, dan mendengarkan timya.

Alhamdulillah, saya bersyukur memiliki tim yang bisa menekan saya untuk segera mengambil keputusan dan yak,sayakembali bersyukur saya bisa belajar menghapuskan ego kala itu. Bodoh tiara bodoh, kenapa harusberfikir seperti itu sih dulu?! Haha

Di kereta saya kebali mengingatkan diri, bahw menjadi pemimpin adalah hak setiap orang dan hal tersebut dimulai dari mendengarkan semua orang dan menekan ego serta segala keanggapan bahwa diri ini tausegalanya.

Pasien verigo seska itu akhirnya dibawa ke klinik. Saya meminta salah satu tim untuk menemaninya hingga selesai. Ahh berakhirlah hari itu, namun bagaimana hari kedepan? Pikir saya kala itu.

Ternyata setelah dilantik menjadi komandan, dna membentuk tim, saya semakin yakin bahwa kata pemimpin dan komandan tidak memiliki korelasi yang terlalu kuat. Apakah di tim, hanya komandna yangmemiliki kepemimpinan?

Kontemplasi otak saya kembali berjalan di kereta. Saya mengingat betul bahwa bisa saya katakan, tim saya (Base sarkania) bisa menjadipemimpin atas dirinya sendiri melalui melakukan berbagai tanggung jawab. Lalu apa yang saya lakukan?saya berusaha menempatkan mereka sesuai dengan kecocokan dengan sifat dan perilaku di job yang sesuai. Saya hanya berusaha membuat suasana  base kami santai dan yaa, bisa membuat tertawa jika perlu. Saya tidak ada apa-apanya dibandingkan tim saya yang telah menjaga pasien hingga sore, menunggui pasien di rumah sakit jika harus dilarikan ke rumah sakit dll. Saya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan mereka.

Pelajaran berikutnya yang saya dapat adalah

Tiap orang memliki kelebihan dan potensi masing-masing. Seorang pemimpin adalah pribadi yang bsia memimpin dirinya sendiri. Ketika ia mendapatkan kesempatan memimpin tim, maka keajibannya lah untuk menempatkandan mengembankan potensi tiap personil.

Kereta serayu pagi ini sudah memsuki malam dan akhirnya sampai di purwokerto.  Kontemplasi diri di kereta masih mengenai diri saya saat ini, namun mungki berikutnya saya akan menceritakan pengalaman saya di bis dan bertemi rida, teman seperjalanan hingga ke Banjarnegara dan sampai dengan selamat tengah malam. Ataupun mengenai mama dan eyang yang bertemu teman-teman lamanya, menjalin kembali tai ukhwah diumur 80 tahunnya.

Kontemplasi sesi satu ini, saya dedikasikan untuk tim Base Sarkania Medik OSKM 2014 yang megajarkan pada saya segala hal, banyak hal serta para angkatan nara harsaya dan semua jajaran pendiklat

As we know, we all are leader no matter what

Pemimpin adalah sebuah pribadi tangguh di tengah proses belajar

 

Salam hangat

Tiara Annisaa

Foto pasukan kala itu (2014)
Foto pasukan kala itu (2014)

***


Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044
SHARE